Tokyo Revengers: Why Me?

Tokyo Revengers: Why Me?
Book 2 Bagian 3



Rindou x Reader


Karakter milik Ken Wakui


......................


Rindou berada diruang eksekusi bersama Ran dan Sanzu. Dia mengeksekusi beberapa penghianat Bonten tanpa ada rasa dosa. Ya dia bukanlah orang yang baik, dia memang pendosa Rindou akui itu.


"Sanzu kau urus yang terakhir. " Ujar Ran yang menendang si mayat penghianat untuk membuka jalan bagi dirinya.


Rindou lebih dulu keluar dari ruang eksekusi, dia membersihkan dirinya dari noda darah bahkan sampai harus mengganti pakaian mahalnya dengan yang baru sebab dia tak ingin [name] melihat ketika dia pulang kerumahnya.


Tak lama sanzu datang dan sudah terlihat rapi, dia melihat Rindou di lorong markas yang sedang terburu-buru akan pergi .


"Tidak biasanya kau akan pergi secepat ini. " Kata Sanzu.


Rindou hanya menatapnya malas, jujur saja dia sangat marah dan muak dengan Sanzu. Sanzy masih saja berbohong menutupi kejadian yang melibatkan dirinya dan [name].


"Huh! ternyata gadismu membuatku tertarik, Rin." Ucap Sanzu yang menyeringai dan membuat emosi Rindou terpancing.


Rindou yang mendengarnya mengepal tangannya, dia sungguh marah dengan  perkataan Sanzu.


"Mungkin lebih dari itu. " Ucap Sanzu yang memasukkan satu tangan nya ke sakunya sambil mengendikkan bahunya.


"Sialan kau Sanzu! Kau sudah menyakiti nya bahkan kau ingin merebutnya dariku. Brengsek! " Rindou menarik kerah Sanzu dan menodongkan pistol dari saku jasnya kekepalanya.


"Haha.. kenapa? Jadi kau mau membunuhku? Ayo lakukan. " Ucap Sanzu hanya menertawakan Rindou yang terbawa emosi.


"Ada apa ini? " Mikey lah yang datang dengan tatapan tanpa ekspresi bersama Kokonoi dibelakang.


Rindou melepaskan kerah Sanzu dan menurunkan pistol.


"Tidak bos,  Rindou hanya sedang badmood saja. Mungkin dia sedang dalam masalah. Ya jadinya terbawa emosi. " Sangkal Sanzu sambil mengedikkan bahunya santai.


"Cih!" Rindou hanya berdecak saat mendengar penjelasan Sanzu yang pandai bersilat lidah.


"Aku permisi bos. " Rindou pergi tanpa menjelaskan apapun, dia pamit membungkuk hormat kepada Mikey.


"Tak biasanya kalian bermusuhan sampai sejauh itu. " Tanya koko


"Entahlah,  aku tak merasa bermusuhan dengan Rindou. " Ucap Sanzu yang pergi keruangan nya sambil membungkuk hormat pada rajanya.


..........


Sudah seminggu lebih [Name] tinggal dirumah keluarga Haitani. [Name] makin membaik, beberapa lukanya sudah membaik meskipun masih tertutup plaster luka yang menempel dileher serta kedua tangannya.


[Name] sebenarnya tidak enak jika dia harus tinggal disini lebih lama, dia sudah banyak merepotkan Rindou kekasihnya. Padahal dirinya sudah membaik,  tapi Rindou terlalu overprotective padanya. Bahkan [name] terkadang tidak sengaja mendengar Rindou marah ketika asisten rumah tangganya melakukan kesalahan yang tak sengaja jika menyangkut dirinya.


"Aku akan meminta pulang saja pada Rin nanti. Aku jadi tidak enak disini. Ditambah aku juga terlalu lama bolos kuliah." Gumam [name] sambil menghela nafas.


[Name] melihat kedua tangannya, kondisinya membaik. [Name] duduk sendiri di sofa kamar sambil memandang keluar jendela menikmati suasana malam.


Tak lama ada seseorang masuk, dan mendekapnya dari belakang.


"Aku pulang. " Ucap Rindou mengecup pipi [name].


"Selamat datang. " Ucap [name] menyambutnya.


"Kau belum tidur? " Tanya Rindou


[Name] menggeleng, dan bersandar pada Rindou.


"Rin, aku akan kembali ke apartemen ku. "


"Tidak,  kau belum sembuh benar. "


"Huh! Rin,  aku tidak bisa meninggalkan kuliah. Ditambah apartemen ku saat ini juga kosong tak ada yang membersihkan. "


"Masalah itu tak perlu khawatir,  aku sudah menyuruh orang untuk membersihkan apartemenmu. "


"tuh kan akhirnya aku merepotkan . "


[name] mengerucut kan bibirnya, Rindou melihatnya sungguh merasa lucu pada gadis kesayangan nya ini.


Kini posisi [name] dan Rindou berhadapan. Rindou yang masih memakai jasnya duduk disamping [name]


"tetaplah disini, denganku dan kakakku. rumah ini terlalu besar untuk kami berdua."


"Tidak, aku menolak Rin. sungguh aku merasa tidak enak merepotkan dirimu terus dan Ran-san." Tegas [name].


"kau tak merepotkan buatku dan kakakku. justru aku senang kau tinggal disini. bahkan kakakku sudah setuju itu."


"Pokoknya tidak,  aku akan kembali ke apartemenku. " Ucap [name] yang langsung kekasur untuk tidur dan Rindou menyusul ke tempat tidur [name] dan mencekalnya. Rindou menindih tubuh [name].


"[Name] kau tidak boleh membantahku!"


[Name] mengernyit, dia berusaha melepas cekalan Rindou dan mendorong tubuh Rindou.


"Rin jangan seperti ini. "


"[Name], aku memaksa. Kau harus tetap disini bersamaku. "


"Kau itu kenapa sih, Rin? "


Rindou teringat perkataan Sanzu tadi ketika di markas, dia sungguh kesal dan marah. dia tidak rela gadisnya direbut Sanzu. Rindou sangat tahu sifat rekannya itu jika sudah terobsesi sesuatu, dia pasti akan melakukan apapun. Rindou sangat takut terjadi apa-apa dengan gadis kesayangannya ini.


Rindou melepas cengkraman nya dan dia memeluk [name].


"Aku hanya tidak ingin kehilanganmu. Aku tidak ingin kehilanganmu seperti aku kehilangan ibuku. "


Rindou menangis dibahu [name]. [Name] terkejut ketika Rindou menangis seperti ini.


"R.. Rin, kau menangis? "


Rindou tidak menjawab dia hanya mengeratkan pelukannya. [Name] tidak tahu harus berbuat apa,  dia hanya bisa memeluk balik Rindou. Menenangkan dirinya,  dan mengelus rambut Rindou yang kepalanya berada di bahunya.


"Baiklah aku akan tinggal bersamamu, tapi kau tak akan mengekangku kan? " Ucap [name] yang terpaksa menuruti kemauan Rindou sebab dia tidak tega melihat Rindou menangis seperti ini. Mungkin dia akan pikir kan alasan lain pada orangtuanya nanti.


Rindou tersenyum dibalik bahunya [name],  tentunya dia sangat senang.


"Mana mungkin aku mengekangmu. " Ucap Rindou yang mengecup leher gadisnya.


"Ih geli tau. Awas ah tubuhmu berat tahu, Rin!!" Ucap [name] yang sebenarnya muka dan kupingnya sudah memerah.


"Tidak mau,  aku akan tidur disini. " Ucapnya sambil mengendus-endus.


"Heh? Tidak boleh! Kita ini belum menikah. "


Rindou malah tertawa,  kekasihnya ini sungguh polos dan unik.


"Apanya yang lucu sih! " Tanya [name] mengerucutkan bibirnya


"Kau beneran sungguh polos sayang. " Jawab Rindou yang masih tertawa sambil menghapus air matanya.


"Tapi aku kan benar! " Ucap [name] yang masih mengerucutkan bibirnya


"Iya memang,  tapi kamu kan akan jadi calon istri dari anak-anakku kelak. Jadi tak masalah kan, lagipula tenang saja aku tidak akan apa-apain kamu kok cuma tidur saja. Kecuali kalau kamu mau melakukannya aku siap kapanpun. "


"Heh! mulutmu Haitani Rindou. "


Rindou bangkit dari tubuh [name], dia sungguh tertawa menggoda kekasihnya ini.


"Baiklah-baiklah aku kembali ke kamarku,  selamat malam. "


Sebelum beranjak pergi keluar,  Rindou mengecup bibirnya sekilas.


...****...


[Name] siang ini berada di kuilnya Ruki. Dia duduk di ubin pinggir kuil, menunggu Ruki selesai. Dia sedang melihat kegiatan Ruki yang sedang melayani jemaat disana.  Ketika ke arah lain, dia melihat ke arah dua orang pria yang sedang berdoa,  dibelakang nya [name] melihat sosok roh remaja berambut hitam panjang,  mengenakan jaket putih berlambang malaikat tanpa kepala.


Sosok roh itu hanya memperhatikan kedua pria itu,  dia tersenyum ketika melihat kedekatan mereka. Namun, sosok itu merasa ada sesuatu yang memperhatikan nya, ketika melirik kesana kemari. Dia curiga pada gadis yang sedang duduk diubin pinggir kuil.


[Name] yang sadar arah matanya yang mengarah kesini,  mengalihkan arah matanya sambil pura-pura bersenandung kecil.


"Jangan lihat,  jangan lihat. Jangan sadar,  jangan sadar. " Ucapnya dalam hati.


"Kau sebenarnya melihatku kan! " Ucapnya mengagetkan [name].


Otomatis [name] terjerembab kebelakang, dan kaget setengah mati. sosok roh remaja itu berdiri melihat dirinya dan tertawa melihat gadis didepannya terjerembab secara tidak elit. [Name] hanya berwajah kesal dan masam dengan sosok roh remaja laki-laki ini.


Kedua orang pria yang sedang berdoa tadi sadar gadis itu terjerembab. Selesai berdoa salah satunya segera membantu [name]. Begitu pun Ruki yang melihatnya  segera menghampiri.


"Kau tak apa-apa? " Tanyanya.


"Hm iya aku tak apa, cuma kepeleset. " Ucap [name] yang malunya setengah mati.


"Syukurlah. Lain kali hati-hati. " Ucapnya membantu [name] bangun.


"Iya Terima kasih. " Ucap [name] yang dibantu pria itu


"Chifuyu, cepatlah kita akan telat ke acara pernikahan nya pah. " Ucap pria satunya yang menunggu di tangga.


"Iya sebentar kazutora. " Ucap pria bernama Chifuyu.


"Kalau begitu aku permisi dulu. " Lanjutnya sekalian pamit.


[Name] mengangguk.  Mereka berdua pergi. [name] melihat sosok roh remaja itu, dia mengikuti mereka dari belakang. Sosok roh remaja laki-laki pun berbalik pada [name] sambil memeletkan lidahnya, dia mengejek [name] terjerembab tadi.


"Anjirr... setan kurang ajar! "


Ruki yang melihat hanya bisa menahan [name] yang mengamuk karena di ejek sosok itu.


"Sudah biarkan saja,  [name]."


"Kalau ketemu lagi akan kuberi pelajaran dia! " Gerutu [name]  merapikan bajunya yang sedikit berantakan.


.


Kemudian Ruki mengajak masuk [name] kerumahnya yang disebelah kuil. [Name] duduk didepan meja kotatsu milik Ruki. Tak lama, Ruki datang dengan hidangan minuman teh serta camilan.


"Jadi,  kau akan cerita apa [name]. " Tanya Ruki


[Name] memang sering bercerita apapun pada Ruki, begitupun dengan Ruki. Bagi [name],  Ruki memang sudah menjadi kakaknya bahkan tempat curhatnya, meskipun jahil dan terkadang tak bisa diandalkan tapi setidaknya Ruki selalu mendengar keluhan [name].


[Name] pun mulai bercerita pada Ruki tentang dirinya sekarang tinggal dirumah keluarga Haitani. Terkadang dia malu ketika Ran sering menggoda hubungannya dengan adiknya itu. Ruki yang menyimak hanya bisa senang bahkan menjahilinya.


Tapi ketika [name] menceritakan Rindou yang berani datang kerumah orangtuanya untuk meminta izin [name] tinggal dirumahnya,  Ruki sedikit terkejut bahkan menggodanya. Tapi Ruki tak menyangka Rindou akan seserius itu pada [name]. Dia bersyukur [name] menemukan orang yang benar-benar menerimanya.


"Aku merasa terbebani jika harus tinggal bersama di kediaman Haitani,  padahal aku sudah menolak. Tapi dia memaksa dengan wajah seram. "


"Aku bisa apa,  itu kan urusan mu dengan dia kan. Lagipula kalian kan sepasang kekasih, aku tidak bisa ikut campur juga."


"Iya sih. " Ucap [name] yang menyandarkan kepalanya di kotatsu.


Tak terasa hari menjelang sore, [Name] yang berada dirumah akhirnya pamit pada Ruki dan keluarga nya.


.


[Name] menaiki bus, dan duduk dipinggir dekat Jendela.


Kemudian duduk lah seorang penumpang disampingnya, [name] tidak tahu siapa orang itu. Dirinya hanya tertuju pada pemandangan luar.


"Ternyata kau semakin membaik ya [name]"


[Name] kenal suara ini, dia berbalik ke arah sebelahnya. Matanya melebar, benar saja dia adalah Sanzu Haruchiyo yang kini berada disampingnya.


..........


[07-04-2022]