Tokyo Revengers: Why Me?

Tokyo Revengers: Why Me?
Book2 Bagian 13



Rindou x Reader


Karakter milik Ken Wakui


......................


"Kau sudah sadar,  Rin? "


Rindou mengerjapkan matanya, dia melihat Ran duduk dengan saling berhadapan dikursi besi lipat diruang tahanan Bonten.


Rindou merasakan dirinya seperti habis terbangun dari tidur. Seluruh tubuhnya merasakan sangat sakit, dengan beberapa luka. Tubuhnya pun diikat dan tangannya juga diborgol. Dia tak mengerti apa yang terjadi, yang terakhir dia ingat adalah dia tidak sadarkan diri saat dibar ketika menjalankan misi terakhirnya.


"Apa yang terjadi, Nii-san? "


"Kau tidak ingat apapun,  Rin? "


Rindou menggeleng,  dia sungguh tidak ingat apapun. Ran menghela nafas,  ini sungguh miris pikirnya.


"Rin, selama ini kau dirasuki roh jahat. Kau bahkan tidak ingat aku dan [name]. Kau seperti boneka yang dikendalikan. "


Rindou sendiri terkejut, jadi selama ini dirinya sudah terjebak oleh Yuika, gadis yang sangat dia benci. 


"Ba.. Bagaimana dengan [name]? "


Ran berfikir sejenak untuk menceritakannya, dia mengalihkan pandangan nya kearah lain. Ran enggan menceritakan itu tapi Rindou harus tahu fakta sesungguhnya selama dia dikuasai roh jahat.


"Rin, kau sudah melakukan kesalahan fatal pada [name]. Kau sudah membuat Ruki celaka bahkan kau membunuh orangtua [name]."


Rindou mematung, matanya membola. Rindou baru kali merasakan tubuhnya gemetar. Terakhir kali tubuhnya merespon seperti ini ketika kematian sang ibu.


"K.. Kau serius nii-san? "


"Apa aku terlihat berbohong Rin. "


Rindou terdiam kembali,  dirinya merasa bersalah. Dia menunduk menyesali segala hal yang dia tidak ingat. Rindou menggigit bibirnya, dirinya sungguh kesal. Dia sudah menyakiti [name].


"Kau harus tahu,  [name] lah yang menyadarkan mu kembali meskipun dia enggan bertemu denganmu. Rin, dia sudah berbeda dari yang dulu. Dia jadi sedikit pendiam dan murung. Dia sudah kehilangan segalanya karena perbuatanmu."


Rindou merasakan hatinya sakit sekali, padahal dia sudah berjanji akan melindungi nya tapi dia sendiri yang menghancurkannya.


"Sekarang apa yang akan kau lakukan? "


"Aku ingin minta maaf padanya, nii-san. Kalau pun aku harus bersujud padanya aku tidak peduli. Aku benar-benar mencintainya. Aku tidak ingin dia membenciku. "


Mendengar perkataan itu, Ran sangat prihatin terhadap adiknya. Masalah mereka berdua sangatlah sulit dan rumit.


"Huh!  Itu butuh waktu yang lama rin, kau sudah menorehkan luka dihatinya. Aku sendiri tak tahu bagaimana menyakinkan nya tentang dirimu. [Name] berbeda dari wanita lain yang sering memuja kita. "


Rindou paham maksud dari perkataan kakaknya. Tapi hatinya tetap tak bisa,  dia ingin [name] tetap bersamanya.


.


Suasana menjadi hening mereka berdua berada dalam pikirannya masing-masing. Ran mengeratkan tangan nya, dia ingin mengatakan sesuatu pada Rindou terhadap dirinya yang akan dieksekusi.


"Rin, Mikey akan mengesekusimu. "


Rindou terkejut,  dia tak tahu apa salahnya kali ini.


"Maksudmu nii-san? "


"Selama kau dikendalikan, kau banyak membeberkan rahasia kita pada musuh. Mungkin kau tak ingat, tapi itu adalah fakta. Aku awalnya tak ingin percaya,  tapi kau terciduk oleh Sanzu dan Koko."


Rindou sungguh tak percaya,  dirinya yang dikendalikan sungguh konyol, Yuika si brengsek itu benar-benar sudah membuat dirinya menjadi semakin hancur dan membunuhnya secara perlahan. Dia hanya bisa pasrah pada kenyataan. Dirinya Bonten,  penghianat pantas dieksekusi itulah yang selalu dikatakan setiap anggota nya.


"Ah..  Begitu ya. Aku mengerti sekarang."


Rindou terseyum miris ketika mendengar dirinya akan dieksekusi oleh bosnya. Dia mengerti dirinya telah melakukan kesalahan. Yuika tak hanya menghancurkan hubungan dengan kekasihnya [name] bahkan dia menghancurkan diri Rindou juga.


Rindou mungkin disaat terakhir nya, dia akan meminta pada kakaknya untuk menjaga [name] ketika akan mati dieksekusi. Dia ingin gadisnya selalu bahagia seperti dulu. Setidaknya ini juga adalah hukuman untuk dirinya yang sudah ceroboh.


"Nii-san, jika aku mati. Aku tidak ingin [name] membenciku. Kau tahu,  itu rasanya lebih menyakitkan dari kematian. "


"Rin,  jujur saja aku tidak ingin kau mati dengan cara seperti ini. Kau tak sepenuhnya salah disini. Kau hanya terjebak oleh wanita itu. "


"Sudahlah nii-san. Aku akan terima ini, mungkin ini memang hukuman yang pantas buatku. "


Ran mengalihkan pandangan nya, dia sangat sedih melihat nasib adiknya seperti sekarang.


.


Tak lama, Mikey dan Sanzu datang menjumpai Rindou yang berada di ruangan tahanan Bonten. Mereka berdua menghampiri Ran yang masih duduk didepan Rindou, terutama Rindou yang sekarang ini dalam keadaan terikat dan tak berdaya.


"Aku tahu kau sudah kembali,  tapi kesalahanmu terlalu fatal Haitani Rindou. Kau sudah membeberkan beberapa rahasia kita pada pihak musuh." Ucap Mikey dengan nada datar.


Rindou hanya diam mendengarkan penuturan Mikey. Dia tidak akan menyangkal meskipun dia sendiri tak ingat apa yang dilakukannya.


"Tapi, aku akan mengampuni mu karena [name] yang memintaku untukmu diberi kesempatan setelah mendengar alasan yang logis darinya. Kau beruntung kali ini, Haitani Rindou. " Ucap Mikey yang pergi sambil mengambil bungkusan Taiyaki di dalam kantong plastik kecil yang dijinjing nya.


.


"[Na.. Name]?  Melakukan itu? " Ucap Rindou yang tak percaya.


[Name] menolong hidupnya lagi untuk kesekian kalinya. Rindou sudah banyak berhutang nyawa pada [name]. Sekali lagi Rindou tidak akan melepaskan gadis itu,  dia akan berusaha mengambil hati gadis itu lagi seperti dulu. Dia akan melindungi nya dan menebus semua kesalahan nya.


"Oh ya,  jangan lupa kau  akan ikut misi penyerangan keluarga Hasegawa. Persiapkan dirimu,  Rin. " Ucap Sanzu yang segera menyusul sang raja.


..........


Saat ini [name] sedang berada di area pemakaman. [Name] berziarah pada makam orangtuanya. Dia memanjatkan doa untuk ketenangan kedua orangtua. Dia berharap Tuhan selau memberikan tempat terbaik disisi-Nya.


Tak lupa dia juga akan mengunjungi pusara Kurokawa Izana. Dia tahu pusara Izana, meskipun agak jauh jaraknya dengan sekitar area pemakaman keluarga [name]. Dia berjalan menyusuri lokasi pusara nya Izana. [Name] sudah hafal betul kemana arah tempatnya. Setelah sampai didepan nisan Kurokawa Izana,  [name] sejenak menyimpan bunga untuk nya. Pusara Izana sendiri tampak bersih,  seperti seseorang selalu kesini untuk berziarah padanya. Kemudian dia memanjatkan doa untuknya. Dia berdoa agar Izana menemukan kebahagiaannya disana.


Tak lupa dia juga mengunjungi pusara Baji Keisuke dan Akashi Senju. [Name] melakukan hal yang sama berdoa untuknya.


Baji dan Senju sangat senang ketika [name] mengunjunginya, memberikan doa yang terbaik untuknya.


"Ayo kita pulang,  Baji-san, Senju-san. "


.


Ketika [name] akan menuju keluar area pemakaman. Dia melihat Aragaki Kaho yang sedang berdoa. [Name] menghampiri dan mencoba menyapanya. Ketika sampai, [name] melihat nisan didepannya bertuliskan marga 'Hasegawa'. [Name] terkejut, didalam pikirannya dia penasaran hubungan Kaho dan keluarga Yuika itu.


Baru saja Kaho selesai berdoa. Dia menyapa [name] yang sudah berada dibelakangnya yang terpaku. Kaho tersenyum, dan [name] sendiri membalas senyumnya sambil menggaruk pipi nya yang tak gatal.


Rasa penasaran [name] memuncak,  dengan sepenuh keberanian dia menanyakan hubungan Kaho dengan keluarga Hasegawa.


"Aku adalah anak dari mereka berdua, namaku Hasegawa Kaho. "


[Name] terkejut dengan penuturan Kaho yang tak terduga itu. Bahkan baji dan Senju saling bertatapan tak percaya.


Wanita berambut pink panjang itu mengatakan bahwa dirinya berasal dari keluarga Hasegawa,  dia adik tiri dari Yuika.


"Tapi mengapa kau menggunakan nama Aragaki? "


"Melarikan diri? Kenapa? "


"Yuika, kakakku. Dia berusaha membunuhku untuk menjadi anak tunggal dari keluarga Hasegawa. "


Ternyata Kaho sama-sama korban dari keserakahan wanita itu. Yuika benar-benar sudah buta akan kekuasaan bahkan dia buta terhadap cintanya terhadap Rindou.


"Apa kau membenciku setelah tahu aku dari keluarga Hasegawa? "


"Tidak,  aku tidak membenci Kaho. Kau tidak salah disini. Kau cuma korban kejahatan dari saudara tirimu. "


"Syukurlah kalau [name] tak membenciku. Tolong rahasiakan ini ya [name]."


"Ah..  Baiklah. "


Mereka berdua pun berjalan bersama menuju keluar area pemakaman.


Baji dan Senju yang daritadi memperhatikan Kaho, sepertinya ada rahasia besar yang dimiliki Kaho.


"Aku minta maaf atas perbuatan kakak tiri ku. "


"Untuk apa kau meminta maaf demi yuika? seharusnya dia yang harus minta maaf bukan kamu Kaho."


"Aku merasa bersalah, dia memakai nama marga ibuku untuk melakukan kejahatan padamu. "


"Aku memang marah padanya, bukan berarti aku membenci marga ibumu. Kau tenang saja, aku hanya berurusan dengan dia saja kok."


"Baiklah. Terima kasih. "


[Name] sendiri tak bisa menceritakan jika Bonten akan menyerang keluarga Kaho. Itu adalah rahasia besar yang tak bisa dia umbarkan. [Name] berharap Kaho tidak menjadi target. Sepengetahuan [name], mereka tak segan-segan membunuh semua yang berkaitan dengan penghianat. Jadi [name] juga berjanji akan merahasiakan rahasia Kaho dari Bonten,  agar Kaho bisa tetap hidup dengan normal tanpa adanya teror dari mereka. Apalagi Kaho adalah anak resmi keluarga Hasegawa.


..........


Yuika teramat murka dengan rencana nya yang sudah gagal. Rindou kembali sadar setelah dia susah payah menjebaknya. Hanma yang mendengar ocehan wanita itu sungguh risih dan berdecak kesal.


"Gagal ya gagal saja,  kau terlalu gegabah dan ceroboh. Masih jauh lebih baik aku mengikuti si Kisaki daripada kau. "


"Hanma! kenapa kau tidak mendukungku!? Lagipula temanmu sudah lama mati kan. "


"Cih malesin. Terserahlah! aku bosan. Bye!" Ucap Hanma yang meninggalkan Yuika yang makin uring-uringan.


"Oh ya, kau harus persiapankan dirimu. Bonten akan membumi hanguskan keluarga ini. " Lanjutnya yang kemudian menutup pintu.


"Kau pikir aku akan kalah dengan mereka. Tidak!  Justru merekalah yang akan tunduk padaku hanma sialan! " Ucapnya bernada tinggi.


"Cih!  Angkuh sekali. " Ucap Hanma dibalik pintu dan berlalu pergi dari kediaman Hasegawa.


...........


Hari dimana penyerangan Bonten terhadap keluarga Hasegawa telah ditentukan. Orang-orang Bonten sudah bersiap sesuai dengan rencana. Salah satu tim dari Kakucho dan Mochi sudah menyusup kesana. Sedangkan Sanzu tak tanggung-tanggung membuat keributan di depan gerbang. Dia cenderung terang-terangan dalam menyerang.


Koko dan dan Takeomi menerobos kebagian Ruangan kerja keluarga itu, dia mencari data-data penting disana.


Sedangkan Ran dan Rindou menembaki orang-orang yang berusaha menghalangi jalan mereka.


"Rin,  bisakah kau memberi jalan pada [name]? "


"Apa maksudmu, nii-san? "


"Dia disini. Dia akan menghadapi Yuika secara langsung. "


Rindou sungguh tak percaya apa yang kakaknya katakan. Dia melibatkan [name] dalam kondisi seperti ini. Rindou emosinya naik,  dan menarik kerah Ran.


"Nii-san, kenapa kau melibatkan dia tanpa sepengetahuan yang lain. "


"Itu adalah persyaratan ketika [name] mau menolongmu, Rin. "


Rindou terkejut, perlahan Rindou melepaskan kerah Ran. Dia mengepalkan tangannya, Rindou sungguh kesal pada dirinya yang tak bisa melindungi [name].


"Rin,  inilah saatnya kau melindungi nya.  Ini keputusan dia sendiri,  aku tak bisa menghentikannya. "


Ran memberi tahu di mana lokasi [name] berada, saat ini [name] bersembunyi disuatu tempat.


"Bantulah dia, inilah kesempatanmu Rin. "


Rindou mengerti, dia segera pergi ke lokasi dimana [name] berada.


.


.


"Bagaimana keadaannya Baji? "


"Masih belum bisa senju. Disini masih berbahaya. Si Haitani yang satunya juga belum datang. "


Tak lama muncul Rindou yang menembak kan peluru untuk membuka jalan. Dia segera menemui [name] yang bersembunyi.


"Kok dia bukan si Ran. " Ujar Baji yang masih kesal dengan Rindou.


"Sudah biarkan saja kenapa, yang penting rencana nya berjalan lancar. Ini genting Baji. " Ujar Senju.


[Name] tak percaya bahwa dihadapan nya ini Rindou yang dulu. Padahal [Name] tidak ingin bertemu lagi,  tapi kenapa Ran malah menyuruh Rindou yang datang untuk memberi jalan.


Rindou tanpa basa basi menarik gadis itu ke pelukannya sambil menembak musuh dari arah lain.


"Aku sudah tahu semuanya,  maafkan aku. "


Rindou memeluk erat [name]. Rindou sungguh menyesali perbuatannya, dia tak mau melepaskan gadisnya.


perasaan [name] sendiri sangat bercampur aduk. Tapi ini bukan saatnya untuk marah atau apapun itu. Dia harus segara menyelesaikan urusannya dengan Yuika.


"Rindou-san."


Rindou menurup mulut gadisnya dengan telapak tangan nya.


"Tetap panggil aku Rin. "


[Name] berdecak sebal, Rindou masih saja seenaknya.


"Ayo ikuti aku."


Rindou menarik tangan [name], dia melindungi [name] dengan seluruh kemampuan yang dia miliki. Menembak dan menghajar musuh yang datang dari berbagai sudut lorong rumah.


[Name] merasa ngeri melihat orang yang mati secara langsung dihadapannya. Terasa getaran ditubuh [name] membuat Rindou sadar kalau gadisnya ketakutan. Rindou memeluk menyenderkan kepala [name] di dadanya,  sambil menembak musuh didepan nya.


"Rin, jangan buat aku makin tidak bisa meninggalkan mu." Batin [name].


......................


[29-04-2022]