Tokyo Revengers: Why Me?

Tokyo Revengers: Why Me?
Bagian 4



...Rindou x Reader...


...Karakter milik Ken Wakui...


...****************...


Rindou termenung dikasur [name] sambil tiduran, dia teringat perkataan [name] beberapa hari yang lalu tentang dirinya yang terikat dengan sosok wanita yang diceritakan [name] sebagai penyebab diri nya sulit kembali kepada tubuhnya. Jujur saja dia kesal karena tidak bisa melihat sosok itu, dan tidak bisa mengusirnya bahkan [name] sendiri mengatakan cukup sulit untuk mengusir sosok wanita itu karena aura sosok itu begitu kuat dibandingkan dirinya. Tetapi Rindou sangat bersyukur [name] mau membantunya lagi, dia benar-benar penyelamat bagi dirinya.


"Tuhan, gini amat sih liburan. Bukannya santai malah banyak tugas." keluh [name] yang sedang focus dengan tugas kuliahnya yang menumpuk.


Rindou yang mendengar hanya bisa memperhatikan dikasur [name]. Gadis polos yang terpaut umur 4 tahun dari Rindou itu terlihat cukup frustasi, gerakannya dari yang menidurkan kepalanya di meja sampai bernyanyi tak karuan pun dia lakukan. Pikirnya itu lucu, Rindou hanya tersenyum samar dengan tingkah gadis absurd itu.


Terdengar getaran HP [name], disana tertera nomor baru.


"siapa sih? Mengganggu saja. " Diangkatlah telpon itu, mungkin saja penting pikirnya.


"Hallo, ini siapa ya? " Tanya [name].


"Hallo nona, kau tidak ingat padaku? Aku Haitani Ran, kakaknya Rindou." jawab Ran disebrang sana.


"ha?" sejenak [name] terdiam kaget.


"ha??? ke.. kenapa Ran-san bisa tahu nomorku??" kata [name] histeris.


Ran tertawa disebrang sana, dia sedang berkumpul bersama rekannya Sanzu, Koko dan juga bosnya Mikey.


"Kau benar-benar gadis yang enerjik ya?"


"terserahlah, Ran-san. ada apa menelponku?" dengus [name].


"[name] bisakah kita bertemu? Bosku ingin bicara denganmu."


"ha? Bo.. bosmu?"


[name] terkejut setengah mati, Rindou yang melihat [name] bertingkah aneh saat mendapat telpon pun bertanya dan menghampiri [name]. kemudian duduk disebelahnya.


"dari siapa?" tanya Rindou.


"kakakmu, Rindou-san." bisik [name].


"coba kau loudspeaker, aku ingin mendengarnya."


[name] menuruti perintah Rindou dan mendengarkan percakapan antara kakaknya dan [name].


"[name] kau masih ada disana kan?" tanya Ran


"i.. iya Ran-san." Jawab [name].


"bagaimana? Apakah bisa kita bertemu?" tanya Ran lagi.


"baiklah, tapi tidak sekarang. saat ini aku sibuk, mungkin lusa aku bisa." Jawab [name] lagi.


"oh begitu, baiklah. nanti aku kirim alamat tempat kita janjian. sudah dulu ya, aku tutup telponnya." kata Ran menutup telpon nya. Dia menyampaikan hal itu pada Mikey bahwa lusa dia bisa bertemu dengan [name]. Sedangkan [name] yang berada di apartemen nya jadi cemas setengah mati.


"Rindou-san bagaimana ini?"


"tenanglah, kita temui saja nanti. Jika berbicara dengannya katakan apa adanya dengan jujur, dan sebisa mungkin aku akan membantumu bicara dengan Mikey walaupun tidak secara langsung."


"huh! ini membuatku cukup frustasi." kata [name] yang memijit kepalanya.


"istirahatlah dulu, nanti kau bisa lanjut lagi tugas-tugas mu itu setelah baikan."


...****************...


Hari pertemuan antara [name] dan anggota Bonten pun tiba. [name] dan Rindou akan bertemu anggota Bonten disebuah restoran mewah berbintang dikawasan pusat kota. Butuh waktu 1 setengah jam dari apartemen [name] untuk sampai sana. [name] yang baru saja sampai hanya bisa melongo, karena seumur-umur dia belum pernah masuk ke restoran mewah. [name] merasa insecure sampai-sampai Rindou yang melihat nya gemas dengan tingkah gadis ini.


"Rindou-san, balik lagi yuk!"


"ha?"


Rindou yang sudah tahu sifat gadis ini pun hanya bisa bersabar. Rindou berinisiatif menarik gadis ini masuk, dan mencari rekannya yang menunggu didalam.


"Ri.. Rindou san, jangan cepat-cepat."


[name] diseret tangannya oleh Rindou, perhatian orang yang melihatnya hanya memandangnya aneh karena melihat gadis kalangan kelas bawah bisa masuk ke restoran berbintang dengan sangat tidak elit.


Rindou dan [name] sampai didepan ruangan restoran khusus VIP, dimana mereka janjian.


"Rindou-san, sakit tahu. tuh lihat merah gini."


"jangan banyak ngomong, cepat temui."


"cih! "


[name] mengetuk pintu ruangan VIP itu, yang membuka pintu itu adalah Ran. Disana terdapat rekan-rekan nya Ran yang sedang bersantai dengan makanan dan minuman mewah.


"bos, ini [full name]. Gadis perantara yang menyampaikan pesan dari Rindou."


Mikey menatap [name] dalam, [name] beneran mati kutu saat Mikey menatap dirinya. Namun pandangan [name] terpacu pada sosok lain dibelakang Mikey. Sosok berambut sama dengan Mikey, yang membedakan adalah warna mata dan dia menggunakan anting hanafuda. Pria yang lebih muda darinya itu menatapnya, menyapanya dengan senyum aneh.


"jadi kau melihatku?" Kata Pria itu pada [name].


[name] cepat-cepat memutus kontak mata dengan remaja yang diperkirakan berusia belasan tahun dibelakang Mikey, Rindou hanya menatap [name] aneh. Rindou hanya bisa merasakan auranya saja, tapi tidak dengan wujudnya yang [name] lihat karena Rindou belum benar-benar mati.


"duduklah. Kau bisa memesan apa saja disini." tawar Ran.


"hehe.. tidak terima kasih." tolak [name].


"kau tidak boleh menolak. Tenang saja, kami yang bayar semuanya." Kata Ran lagi.


Jujur saja [name] tidak tahu akan memesan apa, dia hanya membolak-balikan buku menu. Ran yang melihat itu seolah mengerti jikalau gadis itu kebingungan. Ran memanggil pelayan restoran, dia memesankan makanan beserta makanan penutup untuk [name], dan tak lupa secangkir teh kualitas tinggi sebagai minumannya.


"padahal kau bisa peras uang nya Koko." bisik Rindou.


[name] yang mendengar ocehan Rindou yang sangat sesat menutup mulutnya Rindou menggunakan telapak tangannya, tapi gerakan [name] aneh dimata mereka yang tidak melihatnya.


[name] tetap saja enggan menerima jamuan ini, karena dia sadar ini terlalu mewah untuknya. [name] menghela nafas menenangkan dirinya agar tenang ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan dari mereka terutama Mikey.


"jadi, ada perlu apa denganku?" Tanya [name].


"wow kau cukup berani juga ya memulai pembicaraan." Kata Kokonoi yang sedang menenggak sedikit wine nya.


"dia wanita yang unik koko, kau akan terkejut nanti." kata Sanzu yang memakan cemilan.


"apa benar, kau dapat melihat rohnya Rindou?" Tanya Mikey langsung ke intinya.


" ya, aku memang melihatnya dan sekarang dia ada dibelakangku sedang memperhatikan kalian." jawab [name] jujur.


Rindou memang memperhatikan semua orang yang ada diruangan ini, terutama tingkah absurd nya Sanzu yang membuatnya kesal.


"apa kau tau penyebab Rindou tidak kembali ke tubuhnya?" Tanya Mikey lagi.


"fiuh.. Bagaimana menjawabnya ya, mungkin ini tidak masuk akal untuk kalian. Tetapi aku akan mengatakan jujur. Rindou-san tidak bisa kembali karena ulah sosok roh jahat yang berada disisi tubuh aslinya, dia berusaha menyerap jiwanya hingga benar-benar Rindou-san mati dan dibawa sepenuhnya oleh sosok roh jahat wanita itu." jawab [name] jujur.


Ran tercekat, Kokonoi menghentikan acara minumnya, sanzu terlihat tak percaya begitupun Mikey. Mikey tidak menampakkan ekspresi apapun, namun hatinya resah. Bagaimana pun Rindou adalah anggota Mikey yang terpilih.


"apa ada cara untuk menolong Rindou? " tanya Ran yang mulai kuatir dengan adiknya.


"aku tidak yakin tapi aku sudah berdiskusi dengan Rindou-san, aku akan membantunya. Hanya saja, kita harus mencari pemicu kemunculan sosok wanita roh jahat itu. mungkin untuk melawan mahluk itu, aku butuh seorang pendeta suci untuk mensucikannya."


Si sosok dibelakang Mikey mendengar secara seksama, dia tahu inti pembicaraan gadis itu saat ini. Pikirnya dia akan bertanya nanti lebih detailnya pada gadis itu.


"sekarang bagaimana denganmu Ran?" Tanya Mikey.


"aku ingin menolong adikku, bos." jawab Ran.


Mikey menghela nafas, dia mengerti dari sikap Ran yang mengkhawatirkan adiknya, jadi mungkin dia akan menugaskannya untuk membantu [name] menyelamatkan Rindou.


"imbalan apa yang ingin kau dapatkan dari kami jika ini berhasil?" Tanya Mikey pada [name].


"aku tidak akan meminta yang muluk-muluk, aku hanya minta kalian tidak membunuhku, anggap saja kita tidak pernah kenal dan tidak pernah bertemu. Aku hanya ingin hidup normal tanpa adanya keterkaitan dengan Bonten." jawab [name].


"Hanya itu?" tanya Mikey lagi


[name] mengangguk.


"baiklah." final Mikey.


Namun berbeda dengan Rindou, dia merasa tidak rela jika suatu hari harus berpisah dengan gadis ini.


"sial ada apa denganku?" batin Rindou sambil memegang dadanya yang terasa sakit.


...----------------...


[01-03-2022]