
Rindou x Reader
karakter milik Ken Wakui
......................
"Sampai kapan aku harus melakukan kebohongan seperti ini, nii-san? " Ucap Rindou yang mengeluh diruangan Ran.
"Kau harus sabar, Rin. Sampai saatnya tiba kau tidak perlu melakukan itu lagi. " Ucap Ran yang mencatat laporan Rindou.
"Jujur saja, aku jijik pada wanita itu. Rasanya aku ingin membunuh nya. "
"Rin, jika kau gegabah rencana kita akan berantakan. "
Rindou sungguh kesal dengan misi ini, bahkan dia harus menjauh dari kekasihnya gara-gara misi ini. Dia hanya bisa bertemu saat [name] sudah tertidur.
...... ...
Semakin hari [name] semakin merasakan Rindou makin menjauh. Bahkan lebih pahit lagi dia harus menyaksikan kebersamaan Rindou dan Yuika seperti sepasang kekasih sampai disorot media.
[Name] sendiri hanya bisa menelan pahitnya kenyataan. [Name] hanya bisa menangis dalam diam, dia harus pura-pura tidak terjadi apa-apa didepan Ran ataupun yang lainnya dan tetap beraktivitas seperti biasa.
[Name] pun pergi membawa buku-bukunya dari restoran tempat makan siangnya. Dia sungguh lesu setelah melihat dari media internet tentang hubungan Rindou dan Yuika apalagi teman-temannya selalu membicarakan hubungan asmara tentang artis papan atas itu.
Sebenarnya [name] ingin menangis, tapi tak bisa dia lakukan. Apalagi [name] masih tinggal di rumah Haitani dan itu makin menyakitinya. Rasanya dia ingin pergi saja dan pulang ke rumahnya daripada harus selalu berpura-pura kuat dihadapan mereka.
Ruki sudah tahu itu, terkadang dia memberi support dan menyuruh [name] pulang saja kerumahnya daripada dia harus terus-menerus bertahan dan bersikap baik-baik saja disana.
Sedangkan Ran tak bisa berbuat banyak, dia serba salah disini. Dia selalu melihat [name] merenung dan terkadang menangis sendiri. Ran tak tahu harus berbuat apa, dia tak bisa mencampur adukkan antara misi dan masalah pribadi. Ini adalah tugas penting untuk kelangsungan organisasi agar tidak hancur. Ran sendiri sungguh ingin meminta maaf pada adiknya dan [name] karena harus mengorbankan hubungan mereka.
...... ...
[Name] berada ditaman untuk sekedar mencari udara segar. Tidak cuma fisik tapi hatinya sangat lelah.
[Name] duduk dibawah pohon yang rindang, mencoba untuk memejamkan mata sekedar untuk mengusir rasa lelah.
Baji baru saja datang dan ikut duduk disamping [name]. [Name] sendiri bisa merasakan kehadiran seorang roh dari Baji Keisuke disampingnya.
"Kau terlihat tak baik hari ini, apa ini karena si Haitani itu? "
[Name] tak menjawab, dia langsung duduk dengan posisi memeluk lutut.
Baji yang melihatnya hanya bisa menghela nafas. Pikirnya cinta itu sungguh rumit.
"Kau tidak pulang? Ini sudah sore loh. " Tanya Baji.
"Aku merasa asing dirumah itu sekarang, aku ingin pulang kerumahku sendiri Baji-san. "
"Huh! Jujur saja aku tak mengerti masalah percintaan, tapi melihatmu seperti ini membuatku kesal. "
[Name] mengerucutkan bibirnya, dia seperti anak kecil yang ingin merengek pada orangtuanya.
"Aku harus bagaimana donk! Baji-san!"
"Ya pulanglah sonoh, ngapain kek bocah hilang gitu. "
"Cih! Kau tak membantu Baji-san. "
[Name] bangkit dan merapihkan pakaian nya dan menepuk-nepuk tanah yang menempel dibelakang roknya.
Baji mengikuti kemana [name] melangkah sambil mengobrol, dia membicarakan masalah keanehan disekitar nya. Baji bercerita bahwa dirinya seperti diincar sesuatu kekuatan gelap, dan berusaha memakan jiwa miliknya.
[Name] yang mendengarkan secara seksama hanya bisa menyarankan Baji untuk sementara berlindung di kuil ditempat temannya Ruki, setidaknya dia bisa menjaga eksistensi nya sebelum urusannya selesai. [name] mengatakan akan membantu Baji sebisa mungkin dari sosok yang menganggu rohnya.
...... ...
Langit pun sudah terlihat gelap, [name] saat ini duduk di halte bus untuk menunggu bus yang akan datang sesuai jadwal. Perutnya sudah keroncongan, dia pergi ke supermarket sebentar sekedar membeli makanan untuk mengganjal perutnya yang lapar.
Ketika di supermarket, [name] memilih makanan ringan kesukaannya dan memasukan nya dalam keranjang belanjaannya.
Tak terduga, [name] bertemu dengan Sanzu Haruchiyo di supermarket sedang membeli minuman bir kalengan. Mereka berdua bertemu tempat kasir
"[Name] kau disini? Kenapa belum pulang?"
[Name] hanya menggaruk pipinya, Sanzu melihat [name] memegang keranjang yang isinya beberapa snack dan makanan ringan lainnya serta dua minuman jus jeruk kalengan.
Sanzu pun menghampiri nya dan mengambil keranjang belanjaan [name].
"Sekalian satukan dengan milikku. " Ujar Sanzu pada kasir didepannya.
"Eh? Tidak usah sanzu-san. " Ucap [name] yang ingin merebut keranjang nya.
"Sudah jangan protes. Ini. " Ujar Sanzu yang menyodorkan plastik belanjaan milik [name] yang sudah dibayarkan olehnya.
"Terima kasih. Lain kali aku akan menggantinya " Ucap [name] membungkuk dan merasa tak enak.
"Ya sama-sama. Tidak perlu kau ganti, anggap saja itu permintaan maafku untuk kejadian kemarin-kemarin. " Ucapnya yang mengambil minumannya.
"Ayo pulang denganku biar ku antar. " Ucapnya lagi mengajak [name].
"Tidak, kau akan kuantar sampai rumahnya si Haitani itu. Ini sudah malam." Ucap Sanzu yang langsung menarik lengan [name] keluar menuju mobil nya yang terparkir di luar supermarket.
[Name] sendiri tak bisa mengimbangi langkah Sanzu, bahkan dia sempat tersandung hingga menabrak punggung Sanzu didepannya.
Sanzu membuka pintu mobilnya dan menyuruhnya masuk, [Name] mau tak mau masuk.Dia menyimpan belanjaan nya di pangkuannya. [Name] sangat canggung dan waspada terhadap Sanzu. Sanzu sendiri tak terlalu peduli, asalkan gadis depannya baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa.
....... ...
Waktu menunjukkan pukul 20.00 malam, dia baru saja sampai ke kediaman Haitani bersama Sanzu. Saat Sampai [name] melihat Rindou berpelukan bahkan perempuan itu mencium bibir Rindou dengan berani. Disana terlihat tidak ada penolakan dari Rindou sendiri, hal ini membuat perasaan [name] kecewa ketika melihatnya.
"Dasar mereka tidak tahu tempat, kalau mau mesra-mesraan tidak usah diluar rumah juga kali. " Gerutu Sanzu, dia lupa kalau [name] disampingnya.
[Name] menunduk, airmata nya keluar. Dia berusaha menghapusnya sebisa mungkin. [Name] mengeratkan plastik belanjaan miliknya. Seketika Sanzu tersadar, jika [name] disampingnya.
"[N.. Name] jangan menangis. Aduh si Rindou ah benar-benar. " Sanzu benar-benar kelimpungan sendiri, dia berusaha agar tidak melihat [name] menangis.
"Terima kasih Sanzu-san. " Ucap [name] membungkuk dan keluar dari mobil. Sanzu sendiri khawatir pada [name], dia mencoba menyusul nya.
[Name] yang turun dari mobil Sanzu tak bicara apapun dia melewati mereka berdua, Yuika dan Rindou. Rindou sendiri kaget melihat [name] yang baru saja datang. Rindou melihat mata [name] yang penuh kekecewaan. [Name] segera masuk tanpa menyapanya.
Rindou mengejar [name] kedalam dan berusaha menjelaskan. [Name] sendiri tak mau mendengar penjelasan Rindou hanya menepis tangannya dan segera menutup pintu kamar dan menguncinya.
"Kau tidak tahu tempat ya. " Ujar Sanzu pada Yuika yang menatapnya datar.
"Kenapa? Bukankah ini bagus kan, Sanzu. " Ucap Yuika yang masuk kemobilnya dan pergi dari kediaman Haitani.
"Cih! Tidak tahu diri. Aku pasti akan mencincangmu nanti." Gumam sanzu yang ikut masuk.
Kakucho sedang membantu Ran dirumahnya. Mereka berdua sedang mengerjakan laporan project baru dari bisnis Bonten yang dikelola Ran. Dia dan Ran menyaksikan Rindou mengetuk pintu kamar [name] tanpa [name] membuka pintunya.
"Oi kakucho kau disini? " Sapa Sanzu sambil menyimpan bir kalengan yang tadi dibelinya di meja.
Kakucho sendiri tak menjawab, dia melihat Sanzu yang langsung duduk disampingnya.
"Kenapa dengan Rindou dan [name]?"
"Huh.. [Name] memergoki Rindou dan Yuika, si wanita licik itu."
Kakucho mengerti, wanita yang bernama Hasegawa Yuika itu memang tadi kesini. Apakah mereka bertemu [name] diluar tadi dan melakukan sesuatu, itulah pikirnya.
Ran sendiri kini menghampiri Rindou didepan kamar [name] dan menanyakan apa yang terjadi pada mereka.
"Apa yang terjadi, Rin?" Tanya Ran
"Nii-san, [name] marah padaku. sial!
" Huh! Kau seharusnya menjaga perasaan nya Rin, padahal aku mencoba mengalah loh tadinya. Tapi melihatmu memperlakukan nya seperti tadi aku jadi tak mau. " Ujar Sanzu bernada datar dan meminum sedikit bir kalengan yang tadi dibelinya.
"Sanzu! Jangan memperkeruh keadaan. " Ujar Kakucho.
"Tapi aku benar kan. " Ucap Sanzu tak peduli.
"Bukankah ini idemu, sialan! " Ujar Rindou bernada tinggi.
"Ya memang, tapi bukan berarti kau pasrah seperti tadi kan. Bahkan sampai jadi berita media tentang inisialmu. Apa yang mempengaruhimu sebenarnya? Biasanya kau tak seceroboh ini untuk mencari informasi dari orang yang kau benci, Rindou." Ujar Sanzu menatap tajam.
Rindou tak bisa menjawab, pikiran dia seolah ada yang menganggu tujuannya. Ini tak seperti dirinya yang dulu, bahkan dia sudah melukai hati kekasihnya.
[Name] membereskan barangnya, dia sungguh tidak tahan dengan semua ini. Jujur saja [name] merasa terkhianati. Apalagi perempuan itu adalah orang yang sudah menghancurkan impian nya, merusak kepercayaan dirinya bahkan meracuni dirinya dimasa lalu.
[Name] keluar dari kamarnya dengan membawa barang miliknya yang seadanya. Rindou dan yang lainnya terkejut melihat [name] akan pergi dari kediaman Haitani.
"Kau akan kemana [name]." Tanya Ran yang mulai cemas.
"Aku akan pulang kerumahku, Ran-san. Terima kasih sudah menampung ku disini. " Ucap [name] membungkuk.
"[Name] tolong dengarkan aku! Tolong! Jangan pergi. Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini. "
" Cukup Rin! Aku sudah tidak tahan dengan semua ini! Sampai kapan aku harus berpura-pura tak melihat dan mendengar tentangmu dengan wanita itu. "
Air mata [name] keluar bahkan [name] berusaha menghapusnya dengan kasar.
"Tolong dengarkan aku, aku terpaksa melakukan nya, ini demi misi Bonten. Aku tak menyukai wanita itu, percaya lah padaku."
"Huh! Aku mengerti. Tapi aku tidak bisa Rin. Tolong lepaskan tanganmu. Aku butuh waktu untuk menerima ini semua. "
[Name] melepas tangan Rindou, dan dia pun beranjak pergi dari rumah Haitani. Sanzu menyusul gadis itu, dia khawatir takut-takut terjadi apa-apa.
Rindou sendiri kesal terhadap dirinya sendiri, dia sungguh ceroboh. Ran dan kakucho tidak bisa berbuat apapun sebab ini misi penting yang ditugaskan Mikey kepada Rindou.
Kakucho mungkin akan mendiskusikan ini pada Mikey agar dia berusaha bicara pada [name] tentang masalah Rindou. Mungkin ini saatnya membantu [name] sebagai balas budinya. bagaimana pun Kakucho sendiri sudah berhutang nyawa pada [name] saat peristiwa dikuil.
....... ...
[18-04-2022]