Tokyo Revengers: Why Me?

Tokyo Revengers: Why Me?
Bagian 5



...Rindou x Reader...


...Karakter milik Ken Wakui...


......................


Setelah pertemuan beberapa hari yang lalu dengan pemimpin Bonten beserta anggota Eksekutif nya, Rindou jadi terlihat diam dan bengong dengan keputusan akhir yang dikatakan [name]. Rindou memang ingin kembali pada tubuh aslinya tetapi perasaan tidak rela muncul ketika [name] dengan tegas ingin memutuskan keterkaitan dengan Bonten yang berarti Rindou tidak akan bertemu dengannya lagi setelah dia kembali.


[name] yang baru saja sarapan hanya melihat Rindou bengong diatas kasurnya sambil memandang keluar jendela dan memangku dagunya.


"Rindou-san kenapa sih? keknya sedang galau." gumamnya tak ingin mengganggu Rindou, [name] hanya membiarkannya saja kemudian membereskan peralatan makan seusai sarapan.


[name] bersiap untuk berangkat kuliah, tak lupa dia berpamitan pada Rindou. semenjak mereka bersama dalam satu apartemen, [name] jadi terbiasa berpamitan pada Rindou ketika akan pergi.


...****************...


Hari menjelang malam, sesosok remaja bersurai putih beranting hanafuda sedang memandang langit malam. Disebuah pemakaman, dia merenung di depan batu nisannya sendiri. Kurokawa Izana, hanya bisa tersenyum miris akan jiwanya yang tak dapat tenang. Dia sungguh merasa berdosa karena keegoisan nya dimasa lalu, hal itu menjadikan malapetaka untuk dirinya saat ini. Izana tahu Tuhan telah menghukumnya selama beberapa tahun pasca kematian dirinya. Bahkan Izana harus menelan pahit ketika menyaksikan teman-temannya bahkan Mikey adik tirinya menjadi seorang Kriminal seantero Jepang. Dia tahu ini salahnya, andai saja waktu bisa kembali ke masa lalu dia ingin sekali memperbaikinya.


Kemudian Izana beranjak pergi, dia harus menemui gadis itu. Setidaknya mencari cara untuk membuat dirinya pergi dengan tenang untuk menghadap Sang Pencipta dan menolong mantan rekan satu geng nya dulu yaitu Haitani Rindou.


Saat ini, [name] sedang bekerja dibagian gudang supermarket, dia sedang membereskan barang-barang serta mengecek stok barang bersama sang manajer.


ketika [name] memindahkan barang, [name] dikejutkan oleh sesosok roh remaja yang beberapa hari lalu bertemu saat pertemuan Bonten di restoran.


"ternyata benar kau bisa melihatku." ucapnya.


[name] tak habis pikir, sekarang setan mana lagi yang mengganggunya.


"terus maumu apa? please.. gak usah ganggu. dunia kita udah beda dan kamu harus tahu itu." kata [name] sambil menyimpan barang yang sudah ditentukan.


[name] coba mengabaikan karena disini masih ada manajer nya yang sedang menghitung pemasukan dan pengeluaran barang.


"ya memang, tapi aku serius butuh bantuanmu."


"tidak! sekali tidak tetap tidak."


remaja itu tak hilang akal, dia sengaja menjatuhkan barang yang tadi dirapikan [name].


"oi.. apa yang kau lakukan." kesal [name]


"tentu saja, menakuti orang itu. agar dia tak mengganggu kita berbicara." nunjuk manager [name].


[name] berdecak kesal, hantu remaja didepannya ini sungguh-sungguh tidak tahu diri. Manajer [name] sangat ketakutan ketika melihat benda melayang karena ulah hantu remaja ini.


"[name] kau masih disana kan?" panggil manager [name] takut.


"diam jangan bicara atau aku akan membuat manajermu itu celaka." ancam remaja itu yang membekap mulut [name].


Si manager makin ketakutan ketika hantu remaja itu makin berbuat ulah, dia lari keluar gudang karena ketakutan. Karyawan lain yang melihat sang manajer ketakutan segera menghampiri nya dan menenangkan manajer nya itu.


[name] yang masih didalam dan dibekap remaja itu. Kini merapalkan mantra, sehingga lengan hantu remaja itu merasa kesakitan dan mengeluarkan asap di lengannya karena serangan mantra [name].


"kau jangan main-main denganku. aku bisa saja mengusirmu tanpa ampun." ucap [name] yang marah karena ulahnya.


Dia tertawa, meskipun dia merasakan lengannya panas dan sakit. [name] sungguh kesal melihatnya yang tak kenal jera mengganggunya.


"baik-baik aku menyerah. Perkenalkan, namaku Kurokawa Izana. aku serius butuh bantuanmu."


[name] menyerengit, dia tetap waspada pada izana didepan nya ini. Izana menghela nafas dan duduk ditumpukan dus yang tertata rapi.


"kau tak perlu se waspada itu padaku. aku serius butuh bantuanmu dan maaf kelakuanku tadi." ucap Izana.


[name] menurunkan tingkat waspadanya pada Izana dan kembali bekerja meskipun Izana duduk tenang ditumpukan kardus.


"huh! kau pikir semudah itu? kau tau, urusan orang mati itu berbeda dengan orang hidup. Sekuat apapun aku, aku tak bisa melawan yang namanya ketetapan Tuhan." Kata [name] yang merapikan kembali barang-barang yang Izana acak-acak tadi.


"aku tahu, tapi jujur saja aku perlu bantuanmu." ujar Izana berwajah sedih.


"sudah aku bilang tidak bisa, itu masalahmu dengan Tuhan bukan denganku." Final [name].


"Aku tahu, tapi ini penting bagiku. aku ingin mati dengan tenang. Kalau itu tidak bisa, izinkan aku membantumu melawan roh wanita jahat itu. Asal kau tahu Rindou adalah temanku. kami satu geng ketika masa remaja dulu."


"eh? serius?" kaget [name].


Izana mengangguk membenarkan. Izana menceritakan dirinya dimasa lalu pada [name], [name] yang menyimak begitu terkejut. mereka, orang-orang Bonten benar-benar saling terikat dengan Izana. Pantas saja dia ingin membantunya melawan roh jahat itu.


[name] sendiri tidak tahu harus menjawab apa, sungguh pikirnya dunia ini sangat sempit. bahkan [name] menyimpulkan masa remaja mereka sangat miris hingga harus saling membunuh tidak seperti dirinya dimasa remaja yang terbilang menyenangkan meskipun [name] sendiri dipaksa untuk mempelajari dan mempertajam kemampuan supranaturalnya dari sang ayah disebabkan [name] sering diganggu karena bisa melihat dan merasakan aura mahluk tak kasat mata.


"huh.. baiklah. apa yang harus aku bantu. tapi ingat jangan yang sulit, aku akan membantu sebisaku."


"tenang saja, permintaanku tidak akan sulit kok." ucap Izana yang tersenyum.


"baguslah. jadi, katakan apa yang bisa aku bantu." ucap [name] sambil membersihkan debu yang menempel diseragam kerjanya.


"tidak sekarang. Aku akan membantumu terlebih dahulu menyelamatkan Rindou. Itu paling penting sekarang."


[name] mengangguk setuju.


"kau bisa memanggilku [name] dan pergilah, Jangan mengangguku bekerja."


"haha.. maaf [name]. "


[name] mendengus sebal pada Izana karena sudah mengganggu [name] bekerja bahkan menakut-nakuti managernya tadi.


"oh ya Kurokawa-san, bisakah kau membantuku mencari pemicu wanita roh jahat itu muncul?"


"baiklah, aku akan berusaha mencarinya."


Izana membelakangi [name].


"oh ya, satu lagi. panggil aku Izana. Jika kau perlu aku, gunakan kemampuanmu untuk memanggilku, aku pasti akan datang. Sampai jumpa lagi, [name]."


Izana menghilang dari hadapan [name].


"huh! ini jauh lebih merepotkan." ucap [name] yang duduk dibawah tumpukkan kardus barang.


...****************...


Seminggu setelah pertemuan [name] dan Izana, akhirnya dia mendapatkan informasi penting dari Izana. [name], Rindou dan Izana berada di rooftop rumah sakit tempat Rindou dirawat. Rindou, tentu saja tidak bisa melihat Izana, tetapi [name]lah yang menjadi perantara mereka berdua.


Izana mengatakan, semenjak Koko menyita benda antik berupa lukisan kuno dari markas musuh, suasana markas Bonten jadi makin aneh. Bahkan Izana juga yang awalnya selalu bebas keluar masuk markas Bonten untuk memperhatikan kondisi mikey dan teman-teman nya, kini merasa sulit karena terhalang oleh aura dari lukisan kuno itu. Izana curiga dengan lukisan itu, tetapi saat ini dia hanya bisa memperhatikan dari jauh saja. Namun ternyata setelah izana memperhatikannya lagi, lukisan itu adalah lukisan terkutuk. Bahkan Izana pernah melihat sosok wanita yang [name] ceritakan wujudnya keluar dari sana.


"ya, aku ingat. lukisan itu 2 bulan yang lalu aku lihat didekat lorong menuju kamarku. lukisan wanita berpakaian kimono kuno yang didapat koko waktu kami sepulang misi." kata Rindou yang mendengar pemaparan [name] yang diceritakan Izana padanya.


"apa lukisan itu masih ada?" Tanya [name].


"entahlah, aku tidak tahu. coba kau tanya kakakku [name]. Aku takut koko sudah menjualnya ke pasar gelap." jawab Rindou.


...****************...


[name] menuju kamar rawat Rindou, dia mengetuk pintu kamar rawat Rindou. Ran yang berada didalam, membuka pintunya dan mempersilahkan masuk. [name] dipersilahkan duduk, aura kali ini tidak seburuk sebelumnya karena perlindungan dari mantra [name].


Namun, [Name] canggung karena pria yang saat ini bukan pria yang dikenalnya. pria yang memiliki bekas luka, dan memiliki mata heterocom, tampak menatap tenang dirinya tidak seperti pria cantik berambut pink yang selalu mengejeknya ketika [name] datang berkunjung ke sini.


"silahkan diminum, [name]" kata Ran.


"Terima kasih, Ran-san. "


[name] meminum jus kalengan yang disajikan Ran. [name] menatap roh Rindou yang melihat keluar jendela sedangkan Izana sendiri duduk bersebelahan dengan [name].


"Ran-san aku ingin bertanya, apakah ada lukisan kuno di markas Bonten? "


"hm.. lukisan? " kata Ran sambil mengingat-ingat.


"memang ada apa dengan lukisan itu. " Tanya Kakucho Hitto yang tadinya tenang.


"begini, hmm.. "


"panggil saja aku Kakucho."


"ehm.. begini kakucho-san, sebenarnya aku mendapat informasi dari seseorang kalau lukisan kuno yang dimiliki Koko-san itu adalah pemicu roh jahat itu tapi aku belum yakin sih kalau belum melihatnya sendiri. kalau diizinkan, bolehkah aku melihat lukisan kuno itu?"


"akan kucoba tanya pada Koko nanti."


"ah Terima kasih, kakucho-san."


"ternyata Kakucho-san jauh lebih baik daripada Sanzu-san. " gumam [name] dan itu terdengar oleh Izana disebelahnya.


"Kakucho memang seperti itu [name]. Sebenarnya dia adalah orang yang baik" kata Izana membenarkan sambil melihat Kakucho yang menyandarkan tubuhnya disofa.


"benarkah? " tanya [name] pada Izana.


Izana mengangguk, Kakucho hanya melihat interaksi [name] meskipun dia tidak tau siapa yang diajak interaksinya. Bagi Eksekutif Bonten yang sudah tau [name] sudah tidak aneh jika [name] berbicara sendiri seperti orang gila.


......................


[02-03-2022]