
Rindou x Reader
Karakter milik Ken Wakui
......................
Beberapa hari setelah kejadian, Rindou menuju apartemen [name]. Dia yang baru saja pulang dari Misi penting Bonten dan baru bisa menemui sang kekasih.
Rindou segera beranjak keluar dari ruang kerjanya. Dilorong, dia berpapasan dengan Sanzu yang akan menuju ruangan Mikey. Sanzu melihat Rindou terburu-buru akan pergi, sekedar berbasa-basi dia menyapanya tanpa rasa bersalah.
"Oi.. Rin, kau buru-buru sekali. Mau kemana? " Tanya Sanzu.
"tentu saja aku akan pergi menemui kekasihku. " ujar Rindou yang sedikit membenarkan jas nya.
"oh.. kau sungguh bucin sekali " ucap Sanzu yang bertolak pinggang.
Rindou hanya memutar bola matanya malas, rekannnya ini sungguh menyebalkan pikirnya. Rindou agak curiga dengan luka-luka yang didapat Sanzu setelah beberapa hari yang lalu mendengar cerita dari kakaknya Ran kalau Sanzu bertarung dengan seseorang dan dia menyembunyikan identitas orang yang menjadi lawan bertarungnya.
"kenapa dengan wajahmu? " tanya Rindou penasaran.
"ah ini, tidak apa-apa. ini hanya bekas luka bertarung dengan orang yang menarik perhatian ku. " jawabnya sambil melipat tangannya kebelakang kepalanya.
Rindou tak lagi banyak bertanya, dia akan segera pergi menuju tempat kekasihnya.
"ya sudah, aku mau pergi. " ucap Rindou yang melewati Sanzu.
Sanzu cuma melambaikan tangannya, dia melihat punggung Rindou yang menjauh, tatapannya tajam ketika memperhatikan arah perginya Rindou.
Rindou menaiki mobil sport hitamnya, dia segera tancap gas untuk segera menuju apartemen [name] yang menempuh waktu 1 jam dari markas Bonten. Tak lama, dia pun sampai di depan parkiran apartemen kecil [name]. Rindou langsung menuju blok apartemen [name]nya.
...*****...
Rindou memencet bel apartemen [name], tak lama si penghuni rumah muncul. Ternyata itu bukan [name] yang membuka tetapi Ruki.
"Rindou-san? " Tanya Ruki.
"Aku ingin bertemu [name]. Apa dia ada didalam?" Ucap Rindou yang bertanya balik.
"Ya, [name] sedang beristirahat. Dia sedang sakit. " Jawab Ruki
Rindou mengernyit kan dahi, dia tidak tahu apa yang terjadi dengan gadis itu selama beberapa hari tidak menemuinya.
"Sakit? " Ucap Rindou tersentak kaget.
"Masuklah, akan aku jelaskan didalam Rindou-san. " Kata Ruki mempersilahkan masuk.
Rindou masuk ke apartemen [name], dia melihat [name] yang tertidur. Bahkan dia juga dia melihat perban dileher serta kedua telapak tangannya dan juga beberapa luka-luka lebam dibeberapa bagian. Hatinya sangat marah, siapa yang berani menyakiti nya.
"Sebenarnya siapa yang melakukan ini? " Tanya Rindou yang tangannya mengepal.
"Huh! Dia tidak cerita apapun. Tapi dia menangis ketika menelponku. Begitu aku sampai diapartemennya, dia sudah tergeletak dilantai tidak sadarkan diri, dan sekarang mengalami demam, Rindou-san. "
Rindou duduk disamping tempat tidurnya, dia mengelus kepala [name] dengan penuh rasa sayang dan rasa bersalah.
"Rindou-san, aku tak menyalahkanmu. Tapi aku hanya minta padamu tolong, jangan pernah menyakitinya. apalagi dia menjadi seperti ini."
Rindou terdiam, apa maksud dari perkataanmu Ruki?"
"Aku sangat kesal Rindou-san, apa salah [name] harus mengalami seperti ini. Dia hanya orang biasa. tapi kenapa dia harus mengalami seperti sekarang. bahkan dia tak mengatakan apapun kepada orang tuanya dalam hal ini karena dia menghormatimu. " keluh Ruki pada Rindou yang menatap sendu kekasih nya yang terbaring di ranjangnya.
Ruki menghela nafas, sebenarnya dia tak mau mengatakan hal itu kepada Rindou. Tetapi, Ruki tidak ingin [name] terluka lagi, sebagai seorang sahabat yang sudah dia anggap [name] adalah adiknya, Ruki sangat cemas.
"Aku hanya ingin dia bahagia, Rindou-san. Sudah cukup orang-orang memandang nya sebelah mata dan menyakiti nya. "
"Ruki tolong percayalah padaku, aku tidak akan menyakiti nya. Aku akan menjaganya, aku berjanji padamu, Ruki. "
Rindou mencium tangan [name] yang diperban. Ruki yang melihat keseriusan Rindou akhirnya mengalah.
"Baiklah, aku akan percaya padamu untuk saat ini. " Ucapnya yang segera menyajikan minuman untuk Rindou.
"Terima kasih, Ruki. " Rindou tersenyum dan menerima sajian dari Ruki.
Ruki mengangguk, kemudian dia duduk lesehan dengan menyangga kepalanya di kotatsu.
Suasana menjadi hening, Rindou masih memperhatikan [name] yang tertidur.
"Ruki, tolong izinkan [name] tinggal di tempat ku hingga sampai dia pulih."
"Heh? Tapi itu akan merepotkan mu, Rindou-san. "
"Tak masalah, aku tak merasa kerepotan. Setidaknya dirumahku ada yang menjaga nya, dokter pribadi ku mungkin akan mengobatinya dengan baik. "
Ruki hanya tak percaya, sekaya itukah seorang eksekutif? Ya walaupun Ruki tahu Rindou adalah seorang kriminal kelas atas tapi setidaknya dia masih memiliki hati sebagai manusia.
"Hm gimana ya, aku sih tak masalah. Cuma kalau [name] bangun dia akan syok berkali-kali lipat atau aku yang kena imbas amukan nya. " Ucap Ruki yang mengelus tengkuknya.
"Tenang saja, aku akan menjelaskan nya. Aku akan bertanggungjawab. "Ujar Rindou.
...*****...
Akhirnya [name] berada dirumah keluarga Haitani, ketika sadar ternyata hari sudah pagi dan [name] tertidur seharian karena efek obat. Saat sadar, dia tak mengenali tempatnya sekarang. Dia merasa asing, ruangan yang luas serta banyak perabotan mewah yang menyertai ruangan ini dan tak lupa [name] berada dikasur yang bukan miliknya.
Tentu saja [name] panik setengah mati, ini dimana pikirnya. Tak butuh waktu lama, muncul Rindou yang masuk kekamar [name] saat ini dengan menggunakan pakaian santai sambil membawa nampan yang berisi makanan dan minuman serta obat dari dokter.
"Kau sudah bangun, syukur lah demammu sudah turun. " Ucap Rindou yang memeriksa suhu tubuhnya menggunakan tangannya.
[Name] hanya mengangguk, dia masih celingak celinguk melihat ruangan yang bukan miliknya ini.
"Aku membawamu kerumahku karena sangat kuatir padamu. " Ucap Rindou yang mengelus pucuk kepala kekasihnya.
"heh? rumahmu? " ucap [name].
Rindou mengangguk, [Name] sendiri mencoba untuk bangun. kemudian Rindou membantu nya dan mendudukkan [name] sambil memberi ganjalan bantal dipunggung [name] agar dia merasa nyaman.
"Makanlah, lalu setelah itu minum obatnya. " Ucap Rindou.
"Te.. Terima kasih. " Ucap [name] gugup, jantungnya berdebar diperhatikan Rindou.
[Name] mengambil makanan yang bawa Rindou tadi. Dia sungguh senang Rindou memperhatikannya dengan baik. [name] sangat bersyukur bisa menjadi kekasihnya, meskipun dia tahu apa yang menjadi profesinya saat ini.
Rindou memperhatikan [name] makan dan setelah nya dia meminum obat. Rindou memperhatikan setiap gerakan gadis yang dicintainya. [Name] yang merasa diperhatikan semakin gugup, dan salah tingkah.
Rindou mengusap jejak air yang tersisa di bibir [name] dengan jemarinya. Menahan kedua bahunya, Perlahan Rindou menunduk menyentuh bibir gadis itu. Rindou mencium bibirnya dengan penuh perasaan.
Rindou melepas ciumannya, dia mengelus pipi [name] dengan jemarinya.
"Aku sungguh mencintaimu [name]."
[Name] tak bergeming, jantung nya berdebar kencang, wajahnya sungguh panas dan memerah. Dia tak percaya Rindou menciumnya bahkan mengatakan perasaannya lagi. Sungguh dia malu sekali sampai menutup wajahnya yang memerah.
"Aku juga mencintai mu, Rindou-san." ucap [name] kemudian Rindou memeluknya erat.
"[name], panggil aku Rin. Rasanya aneh jika kau memanggilku terus-terusan dengan memakai embel-embel " Ucap Rindou lagi sambil mengelus kepala [name] dan mengecup pucuk kepala nya.
"b.. baiklah. " ucap [name] yang masih memeluknya.
.
"Ehm.. Pagi-pagi aku sudah melihat pertunjukan drama percintaan. " Ucap Ran.
Rindou yang melihat kakaknya bersandar didepan pintu hanya bisa menatap datar. Imaginernya mengatakan jika kakaknya ini adalah pengganggu.
[Name] yang di dekapan Rindou, wajahnya sudah memerah karena kepergok Ran, dia bersembunyi didada bidangnya Rindou. Dia sungguh malu.
"Maaf menganggu, aku kesini hanya ingin menanyakan barang yang kau pinjam kemarin Rin. "
"Cih! Kau kan tinggal kekamar ku nii-san. Biasanya juga begitu. "
Ran hanya nyengir tanpa dosa.
"Njirr beneran malu kepergok Ran-san" Batin [name].
"[Name] bagaimana keadaanmu? " Tanya Ran.
[Name] melepas dekapan Rindou, dia masih menunduk malu dan salah tingkah.
"A.. Aku sudah membaik, Ran-san. "
"Syukur lah. Ya sudah kalian boleh lanjutkan. Aku pergi dulu. " Ucap Ran pamit dan menutup pintu kamar yang [name] tempati.
[Name] merasa lega, dia sungguh gugup tak tahu harus menjawab apa. Rindou tertawa kecil melihat tingkah [name] yang sekarang, dia manis dimatanya.
...*****...
[Name] dan Rindou sekarang berada di pekarangan rumah keluarga Haitani. Mereka berdua duduk di kursi teras saling berhadapan, [name] dengan secangkir teh herbal beserta camilan sedangkan Rindou sendiri lebih memilih meminum kopi. Mereka berdua membicarakan hal random selama mereka tidak bertemu beberapa minggu, hingga akhirnya Rindou menanyakan perihal luka-luka [name].
"[Name] kau harus jujur, siapa yang melukaimu sampai seperti itu. " Tanya Rindou dengan raut serius.
[Name] yang mendengar itu terhenti sejenak ketika akan meminum tehnya. Dia memainkan cangkirnya, tidak tahu harus menjawab apa dengan masalah ini sebab yang melukai dirinya adalah rekannya Rindou sendiri. Dia tidak mau Rindou berseteru dengan rekannya sendiri. Dia tahu Bonten merupakan organisasi yang solid dengan tujuannya masing-masing meskipun didalamnya banyak kekejaman yang tak terbantahkan.
"Jawab aku, [full name]." Tanya Rindou dengan penuh penekanan.
[Name] mengeratkan kedua tangannya di cangkir yang terasa hangat. Dia merasakan Rindou menekan pertanyaan itu.
"Sa.. Sanzu-san. Be..beberapa hari yang lalu aku bertarung dengannya. " Jawab [name] menunduk.
"Bertarung? Kau serius? Sampai seperti ini? " Tanya Rindou dengan nada yang sedikit meninggi.
Name hanya mengangguk tak menjawab. Rindou naik pitam, dia emosi. Sanzu sudah kelewat batas bahkan dia sudah menganggu dan melukai kekasih nya.
"Aku terpaksa, jika aku tak menerima tantangan itu dia akan membunuhku. Dia akan memenggal kepalaku. "
"Sanzu! Si psikopat sialan itu! " Emosi Rindou meledak.
Rindou akan beranjak pergi, namun [name] menahan tubuh Rindou yang emosi untuk tidak pergi. [Name] memeluk Rindou dari belakang untuk menahan kepergiannya.
"Tidak, jangan! Aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu. Jangan lakukan apapun, sanzu-san adalah rekanmu di Bonten. "
"Tapi dia sudah keterlaluan, dia bahkan melakukan itu tanpa sepengetahuan Mikey yang jelas-jelas tidak mungkin Mikey akan melibatkanmu dalam persoalan dengan Bonten. "
"Aku tahu, Rin. Tolong jangan lakukan apapun, aku mohon. " Ucap [name] yang mengeratkan pelukannya dibelakang.
Rindou sebenarnya marah dan emosi, dia hanya bisa mengepalkan kedua telapak tangannya itu. Rindou mencoba menenangkan dirinya, dia menarik nafas dan hatinya luluh saat [name] menyandarkan kepalanya di belakang punggungnya.
Kemudian Rindou berbalik membalas pelukan [name] yang sudah menjadi kekasih nya.
"Huh! Baiklah, kali ini aku turuti keinginanmu. Tapi jika si psikopat itu berbuat ulah lagi, aku tidak segan-segan menghabisinya karena melibatkanmu. " Ucap Rindou yang mengelus rambut kepalanya dan menciumnya.
"Terima kasih. " Ucap [name] tersenyum.
..........
[04-04-2022]