Tokyo Revengers: Why Me?

Tokyo Revengers: Why Me?
Book 2 Bagian 11



Rindou x Reader


karakter milik Ken Wakui


......................


"Baji."


Semua teman-teman nya memanggil seorang Baji Keisuke yang muncul dihadapan mereka semua. Baji yang terlihat masih remaja dimata mereka hanya bisa meneteskan airmata terutama bagi Kazutora, Chifuyu dan Takemichi. Bagi ketiga orang ini yang merupakan mantan anggota Divisi 1 Toman, melihat Baji Keisuke merupakan suatu kesempatan langka. Pasalnya Baji sendiri sudah lama tiada. Tapi berkat [name] mereka semua bisa melihat Baji.


"Oi..  Kazutora! Chifuyu!  Kalian cengeng sekali. Kau juga Takemichi. Oi.. kalian semua juga kenapa menatapku seperti itu???" Ucap Baji yang heboh sendiri.


[Name] yang melihat mereka sungguh merasa senang jika hal ini dapat membuat mereka bisa bertemu dengan orang yang mereka cintai meskipun waktu nya sangat terbatas.


"Baji kami sangat senang bisa melihatmu setelah sekian lama. " Kata Draken.


"Huh, ya. Aku juga sih. Sudah lama juga kita tak berkumpul meskipun tidak ada dua orang itu. "


Draken mengangguk dan faham apa maksud Baji dari dua orang itu.


"Aku hanya berharap dia kembali. Walaupun prediksi nya nol besar. "


Baji menidurkan dirinya dilantai sambil melipat tangan nya dibelakang kepalanya untuk menjadi tumpuan.


"Draken,  aku harap dari kalian semua disini bisa membawa nya kembali. Dia benar-benar sudah tersesat lebih jauh. "


Semua orang yang berkumpul menjadi sendu mendengar penuturan Baji.


"Ini semua salahku. Andai saja aku tak membunuh Shinichiro. "


"Oi Kazutora, tak perlu menyalahkan dirimu. Semua sudah terjadi. "


"Aku juga tak bisa merubah, meskipun mencoba beberapa kali memperbaiki nya.


" Huh! Takemichi tak perlu menyalahkan diri. Kau sudah berusaha dengan baik untuk menyelamatkan nya. Meskipun pada akhirnya dia tak bisa diselamatkan. "


[Name] yang menyimak mereka semua ikut merasakan apa yang terjadi disini. [Name] tak bisa menyangkal apa yang Baji katakan pada teman-temannya. Pikirnya menyalahkan diri sendiri pun percuma atas tragedi Ruki.


.


Pembicaraan Random baji bersama mantan member toman pun telah mencapai batasnya. Mereka semua masih ingin bersama Baji.  Namun mereka sadar dunia mereka dan Baji sudah berbeda. Baji Keisuke harus menghilang dari mereka semua dan kembali ke dunia yang semestinya.


"Jaga diri kalian ok!  Aku akan selalu bersama kalian semua. "


Senyum baji untuk terakhir kalinya pada semua teman-temannya.


Baji perlahan tidak terlihat oleh mereka.


Baji sendiri menangis dalam diam sambil membalikkan dirinya ketika mereka tak bisa melihatnya lagi.


[Name] sendiri hanya bisa meminta maaf padanya,  Baji sendiri menggeleng dan ini memang sudah takdir dia. Senju yang sedari tadi memperhatikan reuni mantan ketua toman itu,  hanya bisa ikut merasakan kesedihan yang baji rasakan.


.


"[Name] Terima kasih telah mempertemukan kami dengan Baji. Walaupun sebentar tapi itu sudah cukup bagi kami. " Ujar Mitsuya


"Sama-sama. Maaf waktunya tak bisa lama. "


[Name] tak bisa mengatakan jika hal itu menguras sebagian energi nya.


Mitsuya dan yang lainnya tersenyum dan tak mempermasalahkan itu semua.


"Aku mohon maaf,  aku harus pulang. Terima kasih atas jamuannya. "


[Name] membungkukkan badan,  dan pamit dengan mereka semua.


"Ayo aku antar. " Ucap chifuyu yang bersedia mengantarnya. [Name] sendiri merasa tak enak, namun Chifuyu yang memaksa. Dia mengatakan bahwa ini bentuk ucapan terima kasihnya telah mempertemukan dengan Baji meskipun Chifuyu berfikir ini tak seberapa. [Name] sendiri menghargai itu, dia menerima bentuk kebaikan Chifuyu ini dan diantar sampai kerumahnya.


.........


Rindou yang tertidur dengan tenang dikamar Yuika. Dia bermimpi melihat seorang gadis yang pergi meninggalkan kan nya.


"Siapa? "


Itulah yang ada dipikiran Rindou. Kemudian dia terbangun, hatinya terasa sakit, dia juga tak ingat apapun. Dirinya hanya lah orang yang dikendalikan roh jahat.


Dengan keadaan bertelanjang dada, dia duduk dikasur dimana Yuika tidur disebelahnya. Merasa terusik Yuika bangun dan memeluknya.


"Ada apa Rin? "


Rindou hanya menggeleng, kemudian melepaskan tangan Yuika dan segera kekamar mandi untuk membersihkan diri.


.


Ran sangat resah ketika tak sengaja mendengar penuturan Mikey dan Sanzu atas pengeksekusian Rindou. Sungguh dia tak rela jika adiknya harus mati dengan cara seperti itu. Rindou adalah adik satu-satunya yang dia miliki saat ini, dia tak mau kehilangan dirinya. 


Dia tak tahu harus berbuat apa sekarang,  padahal sudah jelas Rindou dikendalikan dan itu bukanlah salahnya.


"Apa aku minta bantuan, [name]? " Batin Ran.


Ketika dipikirkan lagi, tetap saja tidak bisa.  Gadis itu sudah jelas mendapatkan  teror dari Yuika sendiri. Ran hanya bisa berharap pada keajaiban, Ran hanya ingin Rindou kembali dan tentu saja sebagai seorang saudara dia ingin adiknya bahagia bersama orang yang dicintai nya.


..........


Seusai pulang kuliah, disore hari. [Name] teramat lelah dan ingin secepatnya pulang kerumahnya. Hari ini entah kenapa perasaan nya sungguh tak enak. Dia sangat resah,  pikirannya tertuju terus pada kedua orangtuanya dirumah.


Ketika sampai depan rumah,  keadaan sudah sangat ramai dengan adanya beberapa polisi berserta ambulans yang sudah pergi membawa korban.


[Name] terkejut dan segera berlari menuju rumah. Ketika berada diambang pintu, hawa rumahnya yang penuh dengan aura negatif dari roh jahat yang sama persis dengan Yuika kendalikan.


Garis polisi membentang di lokasi di TKP serta penuhnya bercak darah yang berceceran dilantai. [Name] ingin menerobos memastikan, tapi para polisi menahannya untuk tidak masuk ke TKP. [Name] memaksa masuk hingga menimbulkan perdebatan dengan pihak polisi.


Akhirnya polisi memberi penjelasan tentang korban ketika [name] mengatakan bahwa dirinya anak dari pemilik rumah ini.  [Name] sendiri terkejut dan sangat shock ketika orang tuanya sudah tewas di tempat.


[Name] tidak ingin menerima fakta yang terjadi. Dia menangis mencoba menampar dirinya sendiri untuk untuk memastikan ini adalah mimpi. Tapi faktanya ini bukanlah mimpi.


Seorang polisi muda yang melihat gadis itu shock hanya bisa menenangkan nya. Dia merasa kasihan pada gadis ini.


Polisi muda mengantar [name] kerumah sakit. Dia melihat gadis itu terlihat kosong dan melamun.  Polisi muda itu menghela nafas, dia tahu gadis itu benar-benar sangat kehilangan.


"Aku Tachibana Naoto,  untuk kasus pembunuhan orangtuamu kami akan menyelidiki nya. "


"Terima kasih Tachibana-san. "


Tak lama mereka pun sampai,  Naoto sendiri mengantarkan [name] kekamar mayat setelah bertanya pada pihak rumah sakit.


Setelah sampai, penjaga kamar mayat itu menunjukkan kedua jasad yang terbujur kaku, [name] membuka kain yang menutup jasad keduanya.


[Name] melihat kedua orangtuanya terbujur kaku, dia langsung menangis histeris.


"Kenapa harus kalian?  Ini tidak adil! "


..........


Yuika teramat sangat kejam, saat ini dia merayakan keberhasilannya. Rencana menghancurkan [name] memang sudah dimulai. Selanjutnya yang dia pikirkan adalah menghancurkan Bonten yang diawali memanipulasi satu persatu dari mereka.


"Inilah keuntunganku jika memiliki kemampuan seperti ini. Aku bisa mengendalikan roh jahat semauku supaya mereka semua tunduk padaku. " Gumam Yuika yang meminum wine.


"Bahkan anak asli Hasegawa saja berhasil ku singkirkan dari rumah ini.  Benarkan [yn], kau itu teramat bodoh untuk jadi adikku sama seperti wanita sialan itu." Ucap Yuika yang melihat foto [yn] kecil dan membakarnya tanpa tersisa.


Yuika sangat menikmati semua ini, dan akan terus seperti ini hingga mencapai puncak.


"Hah aku jadi ingin segera menikah dengan Rin, tapi aku harus memastikan wanita tidak tahu diri itu mati dulu. " Ucap Yuika yang sudah benar-benar mabuk, dia merebahkan diri dikasurnya.


.


Rindou yang duduk bersama Hanma hanya diam tak banyak bicara, dia hanya menikmati minuman alkoholnya sedikit demi sedikit. Sedangkan Hanma sendiri melirik Haitani bungsu yang terlihat kosong itu.  Pikir Hanma kenapa dia mau saja jadi boneka wanita gila itu, bukankah Bonten sedang mengawasi wanita sinting itu.


"Oi.. Kenapa kau diam terus. Tak biasanya seorang Haitani mau dikendalikan oleh wanita gila itu. "


Rindou tak bergeming, dia tak bicara seolah mengabaikan.


"Ck, kau tak asik. Kau tahu dia sungguh sinting sampai membunuh orang tak bersalah seperti itu. Padahal tinggal bunuh orangnya langsung apa susahnya.  Kalau saja aku tidak ditolong saat dikejar orang-orang mu, mana mau aku repot-repot membantu nya."


Hanma sudah terlihat sangat mabuk, hingga tertidur di tempat.


Sedangkan Rindou jauh didalam hatinya merasakan kesedihan yang mendalam, perasaannya bercampur aduk, dia sangat tidak suka perasaan ini.


Dia sendiri tidak tahu apa yang dilakukan nya. Mengapa setiap kali mendengar nama [name] seolah dirinya ingin menggapainya, dan ingin sekali memeluknya. Namun semua itu seperti ada halangan, dia tak bisa mengendalikan dirinya bahkan seolah-olah memori didalam dirinya seakan terhapus secara perlahan.


Jiwa Rindou ingin sekali terbangun tetapi tetap saja tidak bisa, roh jahat itu terus menerus menekannya sampai dirinya benar-benar tenggelam dalam kegelapan.


.


Kabar duka meninggal nya orang tua [name] tersebar hingga sampai ke telinga para petinggi Bonten. Mereka semua yang berkumpul merasa tak menyangka akan terjadi seperti ini.


Koko yang diperintahkan Mikey untuk mencari tahu siapa pelaku teror yang menewaskan kedua orangtuanya [name] akhirnya mengetahui dalangnya.


"Kita harus mulai waspada pada anak Hasegawa ini. Dia tak bisa diremehkan. " Ucap Kakucho


"Wanita itu jauh lebih sinting dari yang aku duga. Dia menggunakan Rin untuk menghabisi orangtua [name]. Itu membuatku kesal!  Ingin sekali menghajar si Rin agar cepat sadar! " Ucap yang terlihat sangat kesal.


Ran terdiam, dia shock adiknya pelaku sesungguhnya dari peristiwa pembunuhan orangtua [name]. Bagaimana jika [name] tahu semua itu, dia pasti akan sangat membenci adiknya. Bahkan Rindou sendiri akan hancur secara perlahan seperti sebelum mereka berdua bertemu.


.


Ran merasa bersalah ketika akan kerumah [name] untuk berbelasungkawa, dia dipaksa Sanzu untuk datang dan meminta maaf atas adiknya. Sanzu sendiri ikut untuk berbelasungkawa atas nama perwakilan teman-temannya di Bonten. Meskipun mereka kriminal mereka masih memiliki hati terhadap orang yang sudah banyak membantunya.


"Jujur saja aku ingin segera mengeksekusi nya, Ran. Aku tidak peduli kau itu kakaknya. "


Ran hanya diam,  tak menjawab semua perkataan sanzu. Dia sendiri sangat kesal terhadap dirinya yang tak bisa menyelamatkan adiknya.


.


Mereka berdua,  Ran dan Sanzu melihat [name] tampak berusaha tegar menghadapi kenyataan yang ada. Tapi dari sorot matanya terlihat sangat jelas akan kesedihan dan rasa kehilangan. [Name] tak terlihat menangis, dia hanya menatap peti mati kedua orangtuanya tanpa bergeming.


Ayah Ruki membantu proses upacara peristirahatan terakhir orangtuanya [name] hingga proses pengkremasiannya.  Sebagai ayah dari teman anaknya Ruki, beliau peduli pada gadis ini.  Apalagi harus mengalami tragedi yang tak diinginkan seperti ini.


Ayah Ruki hanya bisa menguatkan [name], beliau hanya bisa memeluk gadis rapuh itu layaknya anak sendiri.


.


Upacara pemakaman pun selesai, dia berterima kasih pada ayah Ruki yang banyak membantunya.  Ayah Ruki mengelus kepala [name].


"[Name] jika ada apa-apa atau kau perlu sesuatu datang saja kerumah paman. Kau harus kuat, nak.  Ini ujian untukmu. "


[Name] hanya mengangguk. Kemudian ayah Ruki pamit.


"Terima kasih paman. " Ucap [name] yang membungkukan badan.


.


Didepan pusara kedua orangtuanya, [name] berdoa untuk ketenangan mereka berdua.


"Ayah,  ibu aku berjanji akan memberikan keadilan pada kalian berdua. Karena kali ini aku tidak akan segan lagi, aku tidak ingin mengorbankan siapapun lagi. " Ucap [name] dalam hatinya.


Baji dan Senju yang dibelakang [name] ikut mendoakan. Begitupun dengan Ran dan Sanzu yang baru saja datang ke lokasi area pemakaman. Mereka berdua menunggu [name] selesai berdoa untuk orangtuanya.


.


Para pelayat yang berada dibelakang Ran dan Sanzu mulai meninggal kan pemakaman. Kemudian Seorang wanita muda melewati dimana posisi Ran dan Sanzu berada,  dia menghampiri [name] yang baru selesai berdoa.


Dia pun berdoa sejenak didepan pusara orangtuanya [name]. Wanita yang bernama Aragaki Kaho ini adalah teman Ruki yang pernah Ruki kenalkan pada [name] saat main ke studio musik. Setahu [name], Kaho adalah pemilik toko kue sekaligus rekan band Ruki. [Name] sendiri pernah berkunjung ke tokonya saat bersama Ruki ketika membicarakan project mereka sekalian mencicipi kue-kue ditempatnya.


"Aku turut berbelasungkawa [name]. Maaf, aku baru bisa datang kesini. " Ucap wanita seumuran [name] yang bersuraikan pink yang terurai panjang dengan bola mata yang senada dengan warna rambutnya.


"Tidak apa-apa. Terima kasih, Kaho."


..........


[25-04-2022]