
Tak sulit bagi rombongan yang di pimpin Kirt Johan menemukan jalan di dalam dungeon gorgor karena Ia sudah memetakan lorong-lorong gua di bawah pegunungan Wiwardin itu.
Akan tetapi Kirt masih menyiagakan diri karena kemungkinan ia masih dapat berjumpa dengan bandit Scorpion ataupun pasukan kerajaan Arfen yang memburunya.
Sementara itu kelompok assassin yang bersama kapten Orlando mencoba mencari jalan keluar dari dungeon Gorgor, akan tetapi di salah satu lorong di depan mereka ada sekelompok orang yang sedang berkumpul dan jelas mereka dapat mengenalinya sebagai musuh.
"Mereka adalah rombongan bandit scorpion yang di pimpin oleh Rogret Wrimas." Ucap Bara Shindarty.
"Kita tidak dapat menghadapi mereka semua karena kita kalah jumlah, jadi lebih baik kita mencari jalan lain." Tambah kapten Orlando.
"Baiklah kurasa kita memang harus mencari jalan lain karena aku juga tidak mengingat kita pernah melewati lorong ini sebelumnya." Ucap Dirta Lamerta.
Para assassin itu memutuskan untuk kembali mencari jalan lain tapi tak begitu lama mereka berjalan, Estella merasakan ada beberapa orang yang berjalan mendekat dari arah depan dan tidak ada jalan bagi mereka untuk melarikan karena di belakang mereka ada lebih banyak bandit.
"Estella.." Kata Dirta Lamerta yang juga menyadari adanya beberapa orang yang mendekat.
"Tidak ada tempat untuk bersembunyi kita harus menghadapi mereka di sini." Jawab Estella yang segera mempersiapkan senjata mereka.
Kapten Orlando juga dua orang prajuritnya juga tidak punya pilihan lain selain bertempur bersama para assassin untuk menghadapi bahaya yang datang karena bekerja sama dengan mereka adalah kesempatan terbaik untuk keluar dari dungeon Gorgor dengan selamat.
Diander bersama dua belas orang bandit lainnya baru saja akan kembali ke tempat rombongan Rogret setelah berusaha mencari makanan dan sumber air di dalam gua, akan tetapi mereka langsung terlihat waspada ketika melihat lima orang assassin bersama tiga orang prajurit Arfen yang telah bersiap untuk menghadang mereka.
"Prajurit Arfenia, dasar bajingan ternyata kalian berada di sini!" Ucap Diander dengan kesal karena sebelumnya prajurit Arfenia telah banyak membunuh para bandit rekan Diander dan membuat yang lainnya mengalami masalah karena banyak bandit yang terpencar serta persediaan yang hilang saat terakhir kali mereka berhadapan.
Diander menyadari kalau tidak ada rombongan pasukan kerajaan Arfen yang lain dan orang-orang di hadapannya juga tidak mencoba kabur untuk mencari bantuan yang artinya rombongan utama pasukan Arfenia tidak ada di dekat wilayah ini.
Diander dan dua belas bandit yang bersamanya segera bersiap mencabut pedang mereka dan pertarunganpun tidak dapat di hindarkan.
"Serang mereka." Ucap Diander yang kemudian maju bersama dua belas bandit, akan tetapi meskipun pihak Diander memiliki lebih banyak orang kemampuan mereka tidaklah selevel dengan para assassin yang di pimpin oleh Estella, Kapten Orlando juga memiliki kemampuan bertarung yang setara dengan Diander dan hanya dua prajurit Arfenia yang berhasil mereka kalahkan.
Keadaan benar-benar sulit untuk pihak Diander karena semakin banyak bandit rekannya yang terbunuh dan Ia akan segera terkepung oleh para assassin itu.
"Kelihatannya hanya kamu seorang yang memiliki kemampuan bertarung yang lumayan bagus, tapi sebentar lagi semua rekanmu akan habis." Ucap Dirta yang berhadapan dengan bandit Diander.
Diander juga tahu apa yang di katakan gadis assassin yang Ia hadapi dan Ia juga sadar bila terus di biarkan maka dirinya juga akan segera terkepung dan kalah jadi Diander melakukan apa yang sering Ia lakukan saat dalam situasi yang tidak menguntungkan yaitu melarikan diri.
"Ini percuma saja, Hiaat.." Diander tampak akan menyerang tapi saat Dirta menghindari serangan itu Diander tidak berhenti dan langsung melarikan diri meninggalkan rekan-rekannya yang masih bertempur.
"Dasar pengecut kembali!" Teriak Dirta Lamerta tapi bandit itu tidak peduli dan terus berlari ke tempat Rogret Wrimas karena Ia berpikir lebih baik Ia memikirkan dirinya sendiri dari pada mempertaruhkan nyawa di pertempuran yang tidak menguntungkan.
Dirta akhirnya berhenti kemudian segera membantu yang lainya menghabisi para bandit yang masih tersisa di sana.
"Akhirnya mereka semua mati." Kata Orlando.
"Orlando maaf atas gugurnya kedua prajurit anak buahmu." Ucap Estella yang menyesal karena ada dua orang di pihak mereka yang gugur.
"Tidak masalah lagi pula kita memang kalah jumlah hingga kedua prajurit itu juga harus berjuang untuk hidup mereka." Jawab Orlando.
"Korban memang tidak dapat di hindari karena kedua prajurit itu tidak memiliki kemampuan bertarung seperti kita." Ucap assassin Yura.
"Benar tapi sebaiknya kita segera kabur karena pasti para bandit itu akan kembali dengan lebih banyak orang." Kata assassin Shasa.
Para assassin dan Orlando akhirnya segera bergegas pergi meninggalkan lokasi itu, Semenra itu di tempat Rogret Wrimas para bandit sudah sangat frustasi karena tidak hanya mereka semakin lemah karena kekurangan persediaan makanan tapi mereka juga tidak kunjung menemukan jalan keluar dari dungeon terkutuk itu.
"Bos Rogret lorong gua yang mengarah ke atas ternyata hanyalah lorong buntu saat aku memeriksanya, jadi apakah kami juga harus memeriksa lorong yang satunya, meskipun aku tidak yakin itu adalah lorong menuju pintu keluar karena mengarah lebih dalam ke bawah." Ucap Tirlo salah satu bandit bawahan Rogret.
"Tempat ini benar-benar sangat memuakan, tapi Tirlo sebaiknya kita tetap memeriksa lorong yang menuju ke bawah karena siapa tahu di sana ada sesuatu seperti jamur atau monster molpox lagi yang dapat kita makan." Ucap Rogret Wrimas.
Para bandit meskipun mereka sangat menyesal mengikuti boss mereka masuk ke dungeon gorgor tapi mereka masih berusaha menahan diri karena keempatan terbaik mereka untuk dapat selamat adalah dengan tetap bersama-sama.
Sementara itu akhirnya Diander telah kembali dari mencari persediaan tapi Rogret sedikit mengerutkan dahinya karena Diander hanya sendirian tidak kembali bersama dua belas orang yang Ia bawa.
"Diander apa yang terjadi dan di mana yang lainnya?" Tanya Rogret kepada Diander yang masih berusaha berbicara sambil mengatur nafasnya yang masih terengah-engah.
"Mereka semua kemungkinan sudah mati karena ada pasukan kerajaan Arfen bersama beberapa gadis assassin yang sangat kuat menghadang jalan kami." Jawab Diander.
Rogret dan Tirlo yang mendengar kalau ada pasukan kerajaan Arfen di dekat wilayah itu membuatnya semakin frustasi karena orang-orangnya tidak mungkin dapat berhadapan dengan mereka yang memiliki jumlah yang lebih besar.
"Apa katamu prajurit Arfenia berhasil menyusul kita sampai di sini?" Sahut Rogret kemudian Tirlo berbicara menambahinnya.
"Bos Rogret lebih baik kita segera pergi mengambil lorong yang belum kita periksa karena siapa tahu saja itu menuju ke suatu tempat di mana kita dapat menghindari pasukan kerajaan Arfen." Kata Tirlo tapi Rogret tidak menjawab dan Diander kemudian berbicara.
"Aku pikir pasukan kerajaan Arfen yang menyerangku tidaklah membawa banyak pasukan, karena hanya tiga prajurit Arfenia di sana apalagi lorong ke arah lain dari tempat ini juga telah aku lewati saat mencari persediaan." Kata Diander.
Rogret berpikir itu cukup aneh karena mengapa pasukan kerajaan Arfen juga terpencar seperti sebagian bandit anak buahnya, tapi itu adalah keempatan untuk Rogret dapat kembali dan keluar dari tempat di mana mereka masuk, tapi sebelum itu Rogret berpikir untuk menangkap prajurit Arfenia yang tersisa itu untuk di mendapatkan informasi juga membunuhnya sebagai balas dendam.
Kelompok bandit segera melakukan pengejaran kepada orang-orang yang sebelumnya berhadapan dengan dianter dan batal memeriksa lorong yang Tirlo katakan, padahal lorong itu sebenarnya adalah jalan yang sebelumnya di gunakan Kirt Johan bersama Dwarf Grigorin saat keluar dari dungeon Gorgor.