Thief From Silmarin

Thief From Silmarin
BAB 41. KESATRIA KEMATIAN



Kapten Orlando terus berlari sekuat tenaga dari para undead yang terus mengejarnya, sebelumnya ia memang sangat yakin dapat menghadapi setiap undead yang ada di reruntuhan kota Gorgor, tapi setelah kemunculan Elder Lich Ashura yang bersama Death Knight akhirnya Orlando sadar kalau Ia telah salah besar.


Death Knight atau kesatria kematian adalah undead yang tidak mudah untuk di hadapi tapi entah sekuat apa Elder Lich Ashura yang bahkan dapat menciptakan Death Knigh itu serta mengendalikannya.


Prajurit yang berlari di belakang Kapten Orlando mulai gugur satu persatu saat Death Knith dengan cepat terus mengejar sambil mengayunkan pedangnya ke punggung mereka dan akhirnya mereka semakin dekat dengan tempat komandan Piere Zagarna berada yang bersama pasukan utama.


Komandan Piere yang masih bersenang-senang dengan harta yang prajuritnya kumpulkan seketika menoleh saat mendengar teriakan keputusasaan yang datang dari kapten prajurit Orlando yang berlari dari arah istana kota.


"Komandan Piere tolong selamatkan aku, ada Death Knight di antara undead yang mengejar kami!" Teriak Kapten Orlando meminta pertolongan pada komandan Piere.


Komandan Piere cukup terkejut ternyata juga ada undead kuat di reruntuhan Gorgor karena sebelumnya yang ia lihat di kota mati ini hanyalah undead jenis skeleton ataupun zombie yang sangat lemah.


"Prajurit bersiap ada undead kuat yang datang mendekat!" Perintah komandan Piere.


"Komandan itu adalah Death Knight apakah kita perlu memberikan sinyal terompet agar semua pasukan kita yang masih menyebar datang berkumpul." Tanya seorang prajurit karena ia kawatir dengan jumlah pasukan yang berada bersama komandan Piere saat ini yang kurang dari lima puluh orang karena sebagian besar dari mereka masih tersebar dan sibuk mencari harta karun di reruntuhan kota Gorgor.


"Itu tidak perlu karena membunyikan terompet perang di tempat seperti ini adalah tindakan bodoh dan hanya akan memancing seluruh undead yang tersebar di kota ini!" Jawab komandan Piere.


Terompet perang adalah terompet yang terbuat dari tanduk hewan dan sering di bunyikan untuk banyak hal dalam militer seperti memberi tanda kedatangan musuh atau memberi aba-aba penyerangan jadi terompet itu memiliki suara yang sangat keras hingga dapat terdengar sampai jauh.


Komandan Piere berpikir akan sangat merepotkan bila undead yang tersebar di seluruh kota bawah tanah ini juga akan mendengar suara terompet itu dan berkumpul mengepung mereka.


Tidak ada pilihan selain menghadapi Death Knigth dan beberapa skeleton yang datang mengejar Kapten Orlando dengan prajurit seadanya saat ini jadi komandan Piere juga mengambil pirisai besarnya dan berniat untuk ikut turun tangan sendiri.


"Prajurit kalian tahan skeleton-skeleton lemah itu, biar aku yang tangani undead besar itu!" Kata komandan Piere Zagarna yang dengan berani maju untuk menghadapi Death Knight seorang diri.


"Siap komandan!" Jawab serentak prajurit Arfenia dengan semangat mengtahui komandan perang mereka akan menunjukan kemampuannya di medan tempur.


Piere Zagarna bukan hanya seorang komandan yang tahu cara memberi perintah, tapi Ia juga memiliki kemampuan bertarung yang sudah terasah di banyak medan perang, meskipun usianya sudah tidak muda lagi tapi ia masih sanggup menggenggam tombaknya dengan kuat.


Pasukan Arfenia berbaris dengan perisai serta tombak di depan tubuh mereka dan komandan Piere langsung memberikan perintah ketika para undead sudah berada di jarak yang cukup dekat.


"Dorong perisai kalian..!"


"Maju..!" Teriak pasukan Arfenia yang maju berlari dengan barisan perisai menghadap ke depan menabrak dan mendorong puluhan skeleton ke belakang.


Formasi barisan perisai pasukan Arfenia membuat puluhan sekeleton seperti tidak berdaya tapi barisan itu kemudian terbelah saat tubuh Death Knight yang jauh lebih kuat dari undead biasa menahan dan langsung menghempaskan beberapa prajurit sekaligus.


Komandan Piere segera maju karena pasukannya berhasil menjauhkan undead lemah lainya dari Death Knigh yang akan Ia hadapi.


"Kau adalah bagianku, hiaat...!"


Komandan Piere maju menghujamkan tombaknya dengan kuat ke arah tubuh Death Knigh yang mengenakan armor besi hingga mahkluk kematian itu terlihat sedikit terdorong mundur, tapi Undead memiliki kekebalan terhadap rasa sakit dan hanya bisa di kalahkan hanya dengan menghancurkan tubuhnya.


Death Knigh juga membalas serangan dari komandan Piere dengan pedangnya tapi dengan sigap komandan Piere dapat menahan serangan itu dengan perisai besar yang Ia bawa di tangan kiri kemudian kembali menusukan tombaknya ke arah wajah dari Death Knight hingga undead itu meraung keras dengan kemarahan.


Tidak ada darah yang keluar dari tubuh Death Knigh yang memiliki keunggulan dengan tubuh abadinya yang tidak akan pernah mengalami kelelahan.


Komandan Piere terus melakukan serangan fatal bertubi-tubi tapi Death Knigh itu berhasil menghindari serangan terakhirnya, Death Knigh berbeda dengan undead skeleton karena ia masih memiliki tehnik bertarung layaknya prajurit karena jenis undead itu memang hanya dapat tercipta dari jasad warrior kuat yang bangkit dari kematiannya.


Komandan Piere terlihat sedikit mundur untuk menjaga jarak tapi Death Knight itu terlihat terus maju dan menekan, komandan Piere menusuk tombak ya ke tubuh undead itu hingga cukup dalam tapi itu bukan merupakan keuntungan karena jelas Piere Zagarna menyadari kalau Death Knight itu memang sengaja melakukanya.


"Sial aku tidak dapat menarik tombak kembali." Ucap komandan Piere.


Tombak komandan Piere terlihat tersangkut di tubuh Death Knigh yang tertutup armor besi dan seketika Death Knight itu mengayunkan pedangnya memotong tombak milik komandan Piere menjadi dua bagian.


Komandan Piere kehilangan senjata andalannya tapi Ia masih memiliki pedang biru yang tersarung di pinggangnya, jadi Ia segera mencabut pedang pendek itu meskipun ia akan sedikit kesulitan menggunakannya karena jangkauan pedang itu tidak seperti tombak yang biasa ia gunakan.


Death Knight terus menyerang memaksa komandan Piere terus bertahan dengan perisai, tapi komandan kerajaan Arfen itu tahu kalau Ia tidak mungkin menang bila tidak dapat melakukan serangan balasan jadi Ia menunggu kesempatan dan saat Ia berhasil memantulkan pedang Death Knigt itu keatas, Piere Zagarna segera menerobos kebawa sambil mengayunkan pedang birunya sekuat tenaga ke arah salah satu kaki dari Death Knigh itu.


Death Knigh langsung tersungkur jatuh karena salah satu kakinya terpotong tapi komandan Piere juga terkejut karena ternyata pedang adamatium yang ia gunakan sangatlah tajam bahkan kaki Death Knigh yang terlindungi armor besi dengan mudahnya terpotong.


"Hahahaha ternyata ketajaman pedang ini sangatlah luar biasa, senjata yang terbuat dari logam paling langka di dunia ternyata memang jauh berbeda dari pedang murahan." Ucap komandan Piere sambil tertawa karena sekarang akan jauh lebih mudah untuknya mengalahkan Death Knigh yang sudah tidak sanggup berdiri lagi.


Death Knight masih berupaya melawan tapi gerakannya menjadi sangat terbatas sementara Komandan Piere dengan semangat melompat dan memotong-motong tubuh Death Knight dan mengakhirinya dengan memenggal kepala undead itu.


"Hahahaha lihatlah aku yang hebat ini bahkan Death Knight yang merupakan undead tingkat tinggi berhasil aku kalahkan seorang diri!" Ucap komandan Piere yang tertawa menyombongkan diri meskipun sebenarnya Ia hanya sedikit beruntung karena kemampuan berpedangnya tidaklah sebagus saat ia menggunakan tombak.


"Komandan Piere anda sangat luar biasa."


"Benar kita sangat beruntung berada di bawah komando komandan Piere yang hebat."


"Di tambah lagi kita juga akan mendapatkan cukub banyak uang dari harta yang kita temukan."


"Sudah kubilang kita tidak salah mengikuti misi yang komandan Piere pimpin ini."


Para prajurit yang juga telah mengalahkan para undead lemah lainya terlihat memberikan pujian kepada komandan Piere karena mereka juga akan mendapatkan keuntungan dari harta yang mereka temukan selama misi mereka di dengeon dan reruntuhan kota Gorgor.


Para prajurit kerajaan Arfen tidak begitu peduli dengan rekan mereka yang gugur atau menghilang karena mereka mengira akan mendapat lebih banyak pembagian harta bila ada semakin sedikit orang.


Tapi tak lama kemudian komandan Piere terlihat bingung karena tidak melihat lagi Kapten prajuritnya yang sebelumnya telah Ia selamatkan jadi Ia bertanya pada para prajurit di sana.


"Hei di mana Orlando bukankah ia bertarung bersama kalian?" Tanya komandan Piere.


"Kapten Orlando saya tidak melihatnya dari tadi bagaimana dengan kalian?"


"Kapten juga tidak bertarung bersama kami, saya kira dia bersama kalian tadi."


"Oh tadi saya melihatnya, Ia melarikan diri ke arah kota bersama beberapa prajuritnya yang sebelumnya di kejar Death Knight itu." Jawab para prajurit di sana.


Komandan Piere menjadi sangat kesal dan kecewa dengan Kapten prajuritnya yang malah pergi melarikan diri meninggalkannya, padahal kemampuan bertarung Orlando sangatlah bagus hingga komandan Piere memberikan posisi Kapten dan wakil komandan padanya.


"Dasar tidak berguna, tidak pantas seorang prajurit melarikan diri dari medan pertempuran selama komandannya masih bertarung, Ia akan aku berikan hukuman dan juga tidak akan mendapat jatah pembagian harta nanti." Kata komandan Piere yang kesal terhadap sikap dari Kapten Orlando.