Thief From Silmarin

Thief From Silmarin
BAB 39. NECROMANCER



Raungan undead terdengar di antara puing-puing dan bangunan terbengkalai di reruntuhan kota kuno Gorgor saat kelompok assassin yang di pimpim Estella mulai memasuki wilayah itu.


Undead seperti sekeleton terus menyerang siapapun secara membabi buta tapi terlihat pasukan kerajaan Arfen yang di pimpin komandan Piere Zagarna dapat mengatasinya dengan perisai dan tombak mereka apalagi mereka juga menggunakan baju zirah dari baja yang cukup tebal yang dapat menahan senjata seperti pedang berkarat yang di gunakan sebagian sekeleton.


"Banyak sekali undead busuk di sini, prajurit terus maju kita harus memusnahkan mahkluk menjijikkan itu agar kita dapat dengan tenang mengambil harta yang tertinggal di kota kematian ini?" Kata komandan Piere Zagarna yang menyaksikan undead yang terus muncul dari gang dan reruntuhan bangunan di sekitar kota gorgor.


Kapten Orlando juga terus memimpin prajurit Arfenia untuk terus maju dengan menggunakan formasi kura-kura untuk menahan serangan sekeleton yang terus datang dari berbagai arah, sementara kolompok assassin yang di pimpin Estella berada di tengahnya bersama komandan Piere dan mendapatkan perlindungan dari prajurit.


Tapi terlihat semakin mereka memasuki kota mati itu jumlah undead yang muncul juga semakin banyak hingga tidak ada waktu bagi para prajurit Arfen untuk beristirahat.


"Komandan Piere apakah anda yakin kita harus terus maju seperti ini?" Tanya kapten Orlando.


"Tentu saja jika kita dapat terus mempertahankan formasi ini kita pasti akan mencapai pusat kota di mana tempat itu pasti terdapat lebih banyak harta karun." Jawab komandan Piere.


"Siap komandan meskipun para prajurit akan semakin kelelahan tapi mereka pasti dapat mengalahkan semua Undead busuk itu, bila berjuang lebih keras." Kata kapten Orlando meskipun Ia tidak terlalu senang karena terlihat jelas kalau undead yang mereka lawan bukan hanya undead yang bangkit dari mayat Dwarf melain di sana juga ada undead dari mayat manusia serta ras Elf bahkan beberapa mayat monster juga menjadi undead dan menyerang mereka.


Para Assassin yang bersama pasukan kerajaan Arfen juga merasakan kalau semua ini sangat tidak wajar karena mayat yang terabaikan terkadang memang bisa bangkit secara alami karena pengaruh energi sihir kegelapan, tapi undead di reruntuhan kota gorgor juga ada yang berasal dari mayat monster serta binatang di mana mahkluk seperti itu biasanya juga akan menjauhi tempat yang terdapat banyak mayat hidup atau undead seperti ini.


"Bara, Dirta dan Yura serta Shasa sebaiknya kita segera berpisah dari rombongan pasukan ini." Kata Estella.


"Eh tapi mengapa bukankah lebih aman bila kita terus berada bersama pasukan kerajaan Arfen, karena kita tidak perlu ikut bertarung melawan langsung skeleton yang mengerikan itu." Kata Dirta yang terlihat kurang setuju dengan ide kapten timnya.


"Dirta benar bila kita memisahkan diri kita pasti harus bertarung melawan para undead itu sendirian." Tambah Bara Shindarty.


"Tidak, kalau aku dan adikku setuju dengan ide Estella karena kita sama sekali tidak tahu apa yang menunggu kita di pusat kota mati ini." Kata Yura.


"Eh Yura, Shasa aku masih tidak paham memangnya apa yang ada di pusat reruntuhan kota ini?" Tanya Dirta.


"Jelas semua undead di tempat ini tidak terbentuk secara alami dan kalian pasti tahu penyihir apa yang dapat melakukan ritual untuk membangkitan mahkluk yang sudah mati menjadi mayat hidup." Jawab Shasa.


"Seorang necromancer, apakah ada magic caster yang menguasai sihir terlarang untuk menciptakan undead?" Tanya Dirta tapi terlihat Yura dan Shasa tidak menjawab karena mereka juga tidak tahu dengan pasti kemudian Estella berbicara.


"Entah itu seorang magic caster atau mahkluk kegelapan yang juga menguasai sihir seperti itu, tapi yang jelas mahkluk itu pasti sangat kuat karena dapat membangkitan mayat sebanyak ini serta mengendalikannya agar tetap berada di wilayah reruntuhan kota gorgor, jadi kita harus menghindarinya atau kita semua akan celaka." Kata Estella dan semua assassin rekan-rekannya mengerti dengan pemikiran itu.


Kapten Orlando menyaksikan kelompok assassin yang di pimpin Estella tiba-tiba pergi dari pengawalan para prajurit yang ia pimpin dan berlari menuju sebuah bangunan yang cukup besar di susut jalan utama reruntuhan kota gorgor.


"Benarkah mereka pergi, sungguh bodoh sepertinya mereka menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapat harta dari reruntuhan istana kota gorgor, hahaha kemungkinan mereka terlalu takut dengan mayat hidup di wilayah ini hingga memilih melarikan diri." Kata komandan Piere tapi kapten Orlando berpikir lain karena bila Estella dan kelompoknya memang kawatir dengan banyaknya undead di wilayah ini, pasti mereka akan lebih memilih untuk terus berada di bawah perlindungan pasukan kerajaan Arfen dan tidak pergi sendirian.


___________________________


Batu-batu besar yang di pahat dan di susun membentuk sebuah bangunan megah di pusat kota Gorgor terlihat sangat indah dengan banyak crystal sihir yang memancarkan cahaya, Crystal sihir merupakan sumber penerangan utama yang di pakai para Dwarf, karena kota mereka yang biasanya terletak di bawah tanah akan sangat gelap baik siang ataupun malam tanpa adanya benda sihir seperti itu.


Tapi crystal sihir seperti juga harus di isi ulang dengan energi sihir agar dapat terus membuat cahaya, tapi terlihat itu masih terus menyala di istana kota Gorgor yang artinya ada seseorang di sana yang masih memberikan energi sihir untuk crystal sihir itu.


"Komandan Piere lihatlah ada sesuatu yang aneh dengan istana itu karena ada banyak crystal sihir yang masih menyala di sana." Kata Kapten Orlando.


"Oh benar tapi bukankah itu bagus karena crystal sihir seperti itu juga cukup berharga, kita dapat mengambilnya dan menjualnya nanti." Kata komandan Piere.


"Komandan Piere bukan itu yang saya maksudkan tapi kemungkinan ada seseorang di sana yang mangisi crystal-crystal itu dengan energi sihir."


"Ada seseorang di tempat yang di penuhi undead seperti ini, tapi bagaimana bisa karena undead pasti akan menyerang bentuk kehidupan apapun." Jawab komandan Piere.


"Itu benar tapi itu juga pengecualian untuk orang yang dapat mengendalikan Undead dengan kata lain seorang necromancer." Kata Kapten Orlando.


"Necromancer katam, jadi ada orang bodoh yang masih nekat mempraktekkan sihir terlarang itu, ini tidak dapat di biarkan karena mempelajarinya saja sudah merupakan kejahatan yang dapat di hukum mati, kita harus segera menangkapnya." Kata komandan Piere.


Pasukan kerajaan Arfen terus maju mendekati istana kerajaan Dwarfen Gorgor meskipun ada semakin banyak undead yang muncul untuk membunuh mereka.


Sementara itu di dalam istana kota gorgor memang terdapat seseorang yang dapat merapatkan sihir kegelapan, tapi orang itu juga tidak dapat di katakan masih hidup karena Ia sudah sangat lama mati saat Ia ikut dalam penyerangan untuk menghancurkan kerajaan Dwarfen di pegunungan Wiwardin yang dulu di pimpin oleh raja Gorgorin.


Penyihir kegelapan Ashura Larko dari kerajaan gurun Arka di selatan, memang di masa lalu sihir kegelapan masih sering di praktekan baik oleh petualang ataupun pihak militer.


Kemampuan kelas penyihir necromancer yang dapat membangkitkan mereka yang sudah mati untuk di kendalikan sangatlah berguna di medan perang, namun praktek sihir itu kemudian di larang keras karena di anggap sangat tidak bermoral dengan membangkitkan mereka yang sudah mati untuk terus menderita sebagai undead dan di manfaatkan di medan perang.


Lima kepercayaan terbesar di benua barat seperti Kuil cahaya Glaria, kuil api Ayarama, kuil angin Arasia, kuil bumi Doronta dan kuil air Xandria juga menentang segala praktek sihir kegelapan hingga sihir itupun perlahan semakin punah karena siapa saja yang mempratekannya akan di anggap sebagai orang sesat dan harus di hukum mati.


Penyihir Ashura Larko yang mati mengenaskan saat berperang perlahan bangkit kembali dari kematiannya karena efek dari sihir elemen kegelapan yang ia pelajari, Tapi Ashura tidak kehilangan kesadarannya seperti mayat hidup pada umumnya yang akan terus menyerang segala bentuk kehidupan tanpa memiliki kesadaran.


Meskipun jelas keabadian yang Ashura dapatkan sebagai undead bukanlah hal baik untuknya, karena selama ratusan tahun terakhir penyihir Ashura Larko terus tersiksa dalam kesendirian dan kehampaan sebagai Elder Lich jenis undead penyihir tingkat tertinggi dan paling berbahaya.