Thief From Silmarin

Thief From Silmarin
BAB 26. MERCHANT



Kereta kuda milik Lucas mulai mendekati kota Lopak yang merupakan kota terbesar di bagian barat tanah Tandora.


Kota dengan benteng besar yang mengelilinginya itu masih sangat ramai dengan pendatang meskipun pasukan kerajaan Arfen dapat menyerangnya kapan saja.


Wilayah sekitar benteng Muerak yang berada di bagian barat adalah basis terbesar pasukan kerajaan Arfen di tanah Tandora begitu juga di bagian selatan dari wilayah Lopak yang juga berbatasan langsung dengan wilayah Silmarin yang telah jatuh ke tangan musuh, untuk itu pihak kerajaan Tandora akhirnya juga menempatkan pasukan dalam jumlah besar untuk membantu Lord Lopak mempertahankan kotanya.


Lucas Durman masih mengantri agar dapat memasuki gerbang kota Lopak dan para prajurit penjaga terlihat memeriksa barang-barang yang di angkut dalam kereta kudanya.


"Delapan koin perak anda dapat membayarnya di kasir dekat gerbang kota." Ucap prajurit yang mencatat barang dagangan yang di bawa dalam kereta kuda.


"Apa sebanyak itu, apakah anda tidak salah menghitungnya dan lagi pula aku adalah penduduk asli kota Lopak?" Protes Lucas karena nerasa pajak yang harus ia bayar terlalu mahal.


"Kami tidak peduli kamu berasal dari mana karena ini adalah aturan yang berlaku di sini, para pedagang harus membayar pajak untuk semua barang dagangannya yang di bawa memasuki kota." Ucap prajurit itu.


"Tapi delapan koin perak itu terlalu mahal untuk semua ubi yang aku bawa." Ucap Lucas kembali.


"Ubi katamu apakah kamu pikir kami buta, lihatlah semua kulit hewan dan benang wool yang kamu sembunyikan di bawah tumpukan ubi ini bahkan aku menemukan ada beberapa kulit serigala yang cukup berharga serta barang dagangan lainnya seperti rempah dan kotak berisi potion penyembuh!" Ucap prajurit itu dengan kesal karena Lucas berusaha mengelabuhi prajurit penjaga gerbang dengan menutupi barang yang lebih berharga dengan tumpukan ubi.


Lucas terlihat membuang nafas dan merasa kalau cara ini memang percuma untuk mengelabuhi para prajurit itu.


"Iya-iya baiklah aku akan membayarnya, huh.. pajak di kota Lopak semakin lama semakin tinggi saja."


Pedagang Lucas akhirnya membayar biaya pajak untuk membawa kereta kudanya memasuki gerbang kota.


"Akhirnya selesai juga Lalia, Isac dan kalian berdua sekarang kita dapat masuk ke dalam kota." Ucap Pedagang Lucas yang kemudian mengendarai kereta kudanya melewati gerbang kota.


Kereta kuda Lucas terus melaju lebih dalam memasuki kota besar itu sampai akhirnya mereka berhenti di tepi jalan wilayah perdagangan kota Lopak.


"Tuan Lucas apakah kita sudah sampai?" Tanya Priest Lalia.


"Benar ini toko kecil milik pamanku, dulu aku sering membantunya berdagang di sini sebelum memulai usaha sendiri." Jawab Lucas yang kemudian turun dari kereta kuda.


Sementara itu seorang pri paruh baya dengan kumis tebalnya keluar dari dalam toko kelontong itu dan langsung menghampiri keponakannya.


"Lucas kemana saja kamu pergi, kamu bahkan tidak mengabari ibumu, Ia bahkan terus datang kemari dan menanyakan kabar tentangmu!" Ucap pria itu yang langsung memarahi Lucas Durman di depan tokonya.


"Paman Supar maafkan aku karena pergi terlalu lama ke desa Droya, tapi nanti aku akan pulang menemui ibu." Jawab Lucas.


"Desa Droya kamu pergi sejauh itu, padahal aku sudah mengatakan untuk berdagang di desa Yolde yang tidak terlalu jauh!" Kata paman dari pedagang Lucas.


"Sebenarnya aku memang sempat berdagang ke Yolde tapi hasilnya sangat tidak memuaskan karena sudah terlalu banyak pedagang lain yang ke sana jadi aku memutuskan untuk pergi lebih jauh sampai ke desa Droya dan lihatlah aku membawa banyak barang dari sana." Ucap Lucas dan paman Supar langsung memeriksa isi dari kereta kuda milik Lucas dan langsung mengerutkan dahinya.


"Ubi apakah kamu hanya membawa ubi setelah berdagang sejauh itu, dasar bodoh ubi itu hampir tidak ada harganya di sini!" Ucap paman Supar yang terlihat sangat kecewa karena di kereta kuda Lucas terlihat seperti hanya di penuhi dengan ubi.


"Paman bukan ubinya tapi apa yang ada di bawahnya." Ucap Lucas yang dari tadi terus di marahi oleh pamannya yang cukup galak itu. Paman Supar pun langsung memeriksa semua barang yang ada di bagian bawah tumpukan ubi itu dan menemukan barang-barang yang Lucas maksud.


"Hm.. benang wool dan kulit binatang bahkan ada kulit serigala, ini adalah bahan untuk membuat pakaian yang cukup bagus, kurasa kita bisa mendapatkan banyak uang bila menjualnya ke toko yang membuat mantel." Kata Paman Supar.


"Benar paman dan paman juga boleh mengambil semua kulit dan benang wool yang aku dapatkan dari desa Droya itu." Ucap Lucas yang berniat memberikan barang-barang itu kepada paman Supar hingga pamannya itu terlihat menatap Lucas.


"Lucas apakah kamu serius akan memberikan barang-barang itu pada pamamu ini?"


"Tapi Lucas bukankah lebih baik kamu menjualnya sendiri untuk menambah modalmu, paman tidak masalah bila kamu melakukannya." Ucap kembali paman Supar karena iya merasa tidak enak bila mengambil barang dagangan yang di miliki keponakannya.


"Paman ambil saja lagi pula aku sudah mendapatkan sangat banyak uang dari berdagang di desa Droya." Ucap Lucas yang memaksa pamannya untuk mengambil semua barang itu.


Paman Supar terlihat sangat senang karena tidak menyangka kalau keponakannya cukup berhasil sebagai pedagang.


"Baiklah kalau kamu bersikeras aku akan mengambilnya dan sekarang sebaiknya kamu bantu pamanmu menurunkan semua barang itu dari kereta kuda untuk di bawa masuk ke dalam toko." Kata Paman Supar tapi Lucas terlihat tidak ingin melakukan pekerjaan berat itu jadi ia segera mendekat ke para kuli angkut yang ada di sudut pasar agar membantu menurunkan barang-barang itu.


"Kalian semua bantulah pamanku mengangkut semua barang dari kereta kuda di sana ke dalam toko dan kalian boleh membawa pulang semua ubinnya." Ucap Lucas Durman kepada para kuli angkut itu yang sebagian besar adalah gelandangan di kota Lopak.


Lucas pun kembali sambil membawa beberapa kuli tapi paman Supar terlihat kurang senang.


"Lucas kenapa kamu membawa mereka, bukankah kita bisa menurunkan semua ini sendiri, ingatlah meskipun kamu sudah mendapatkan sedikit uang tapi kamu tidak boleh boros karena itu adalah salah satu prinsip pedagang." Kata paman Supar.


"Sudahlah paman biarkan mereka membantu dan mengambil semua ubi itu, lagi pula sekarang aku butuh bantuan paman untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih penting." Ucap Lucas Durman.


"Tapi semua ubi itu sangatlah banyak, ah sudahlah sekarang katakan apa yang kamu butuhkan Lucas?" Tanya paman Supar meskipun ia sedikit menyayangkan semua ubi yang harus di berikan kepada gelandangan di sana tapi keponakannya pasti punya alasan tertentu.


Lucas kemudian masuk ke dalam toko bersama pamannya dan kemudian berbicara padanya.


"Paman bukankah paman punya banyak kenalan pedagang besar, tolong bantu aku menjualkan barang milik temanku." Ucap Lucas.


"Barang milik temanmu, apakah itu benang wool dan kulit hewan atau apakah kamu berhasil membujuk seorang peternak besar dari desa Droya agar mau menjual hasil peternakannya melalui dirimu, jika benar itu akan sangat bagus untuk mencari klien besar dan meningkatkan reputasimu sebagai pedagang."


"Paman Supar barang yang ingin aku jual bukan benang wool ataupun kulit hewan." Jawab Lucas yang kemudian memanggil seorang petualang yang sebelumnya memberikan pengawalan untuk sampai ke kota Lopak.


"Isac kemarilah bawakan barangnya kemari?" Panggil pedagang Lucas dari dalam toko dan Isac kemudian langsung masuk dan membawakan sebuah kontong yang cukup besar.


Para prajurit penjaga gerbang kota Lopak tidak memeriksa barang bawaan milik petualang yang memberikan pengawalan jadi Lucas menyuruh Isac untuk membawakan barang berharga itu saat memasuki kota, meskipun itu sangat beresiko tapi Lucas cukup percaya dengan kelompok petualang yang di pimpin oleh Isac.


"Lucas apa yang ada di kantong itu?" Tanya Paman Supar yang melihat kantong yang baru saja di terima oleh Lucas.


"Paman jangan terkejut ya karena semua ini adalah barang milik temanku untuk aku jualkan." Kata Lucas membuat paman Supar sedikit penasaran tapi iya juga ragu karena kantong itu terlihat tidak dapat membawa banyak barang,


Tapi kemudian Paman Lucas menunjukkan isi dari kantong kain itu dan pamannya terlihat cukup terkejut sampai-sampai langsung menutup kantong itu kembali dan melihat ke kanan-kiri dengan waspada kemudian membukanya sekali lagi untuk memastikan kalau semua itu benar-benar adalah benda-benda yang ia pikirkan.


"Heh semua ini benar-benar adalah perhiasan dan Lucas dari mana kamu mendapatkan semua ini, kamu tidak mencurinya bukan?" Tanya paman Supar dengan curiga.


"Paman aku bukanlah pencuri dan sudah aku katakan semua ini milik temanku untuk aku jualkan di kota agar mendapatkan harga yang jauh lebih baik." Ucap Lucas tapi pamannya terlihat masih curiga.


"Lucas katakan sejujurnya karena pamanmu pasti akan membantumu dan kamu pasti telah mencuri semua ini bukan, karena tidak mungkin ada orang yang dengan bodohnya menitipkan barang berharga miliknya seperti ini." Kata Paman Supar yang masih mencurigai Lucas.


"Paman temanku itu adalah seorang petualang dan ia mendapat semua harta ini dari dalam dungeon, temanku mempercayakannya padaku karena iya telah berjanji kalau aku yang akan menjualkan semua barang yang iya dapatkan dari dungeon yang sebelumnya telah aku beritahu padanya." Terang Lucas dan paman Supar terlihat semakin tenang.


"Begitukah pasti temanmu itu adalah orang yang sangat jujur, baiklah paman akan percaya padamu saat ini dan apakah kita boleh mengambil beberapa bagian dari penjualannya." Ucap paman Supar yang akhirnya setuju membantu keponakannya itu.


"Tentu saja temanku Kirt sudah mengatakan kalau aku boleh mengambil pembagian keuntungan dari penjualan harta miliknya ini." Jawab Lucas Durman.