
Suara bising dari palu yang menghantam lempengan besi terus terdengar dari sebuah bangunan di sudut kota Dwarfen tebing Hoval, tempat itu merupakan gedung pengolahan logam dimana pandai besi Grigorin bekerja membuat senjata.
Empat Dwarf lain juga bersama Grigorin dan mereka masih terus sibuk dengan pekerjaan menempa mereka hingga tidak menyadari apa yang tengah terjadi di kota mereka.
Sementara itu Gardarin salah satu menteri kerajaan Dwarfen terlihat sedang sangat tergesa-gesa dan Ia langsung membuka pintu gedung penempaan senjata tempat Grigorin bekerja.
"Grigorin di mana black smith Grigorin?" Panggil menteri Gardarin mencari Grigorin hingga para black smith atau pandai besi di sana langsung menghentikan pekerjaan mereka karena melihat seorang yang cukup penting di kerajaan datang dengan raut wajah yang terlihat begitu panik.
"Gardarin ada apa mencari aku dan kenapa kamu terlihat sangat panik?" Ucap Grigorin saat melihat temannya yang datang dengan wajah pucat dan napas yang masih terengah-engah.
"Grigorin kamu harus segera ikut aku ke depan istana!" Pinta Gardarin.
"Iya tapi tenangkan dirimu terlebih dahulu dan katakan sebenarnya apa yang terjadi, apakah Raja Hulgorin masih menginginkan senjata dengan rune sihir, kalau benar aku sedang berusaha membuat salah satunya." Kata Grigorin karena memang raja Hulgorin pernah meminta para pandai besi di kotanya untuk membuat senjata dengan rune terbaik, tapi black smith Grigorin masih berusaha membuatnya dengan caranya sendiri setelah ia gagal mendapatkan perkamen tentang cara membuatnya karena perkamen seperti itu telah lama hilang di reruntuhan kota Gorgor.
Gardarin terlihat mulai menenangkan diri kemudian berbicara. "Grigorin apakah kamu tidak tahu kalau saat ini seekor naga hijau telah mendarat di depan istana kerajaan?" Tanya Dwarf Gardarin.
"Naga kamu bilang, kami di sini sama sekali tidak tahu karena terlalu fokus menempa senjata." Jawab Dwarf Grigorin.
"Untuk itulah kamu harus ikut aku ke depan istana sekarang juga sebelum naga itu marah karena terlalu lama menunggu." Kata Gardarin sambil meraih tangan Grigorin dan berusaha menariknya tapi terlihat Grigorin menahannya karena siapa Dwarf bodoh yang mau di ajak menemui seekor naga yang mampu menelannya hidup-hidup.
"Grigorin apa yang kamu katakan jika ada naga di sana bukankah lebih baik kita bersembunyi karena bila naga itu mengamuk bahkan seluruh pasukan di kerajaan kita tidak akan mampu menghadapinya, aku tidak mau kesana." Jawab Grigirin yang menolak ajakan Gardarin.
"Grigorin tapi ini sangat penting dan naga itu cuma ingin mendapatkan informasi mengenai kota Gorgor yang sebelumnya kamu datangi, jadi kamu tidak perlu khawatir karena raja Hulgorin juga berada di sana dengan naga Gorhan dan kita tidak boleh membuat mereka berdua tersinggung atau kita dalam masalah besar." Terang Dwarf Gardarin.
"Gardarin ucapanmu sangat membingungkan kamu bilang tidak perlu khawatir tapi kita semua bisa celaka, tapi sudahlah aku akan ikut denganmu karena memang benar aku belum lama ini kembali dari kota leluhur kita itu."
Grigorin akhirnya setuju untuk ikut dengan Gardarin menemui naga Gorhan di depan istana kerajaan dan Ia menjelaskan apa yang telah terjadi di sekitar reruntuhan kota Gorgor termasuk para manusia yang terjebak di sana karena sedang memburu seorang buronan yang pernah membantu Dwarf Grigorin.
*****
Sebelumnya di dalam gua atau dungeon gorgor orang-orang yang memburu Kirt Johan masih terus melakukan pencarian karena mereka semua sama sekali tidak tahu bahwa Kirt sudah tidak berada di tempat itu lagi.
Estella Hardin juga kelompok assassinya terus maju hingga sampai ke dekat reruntuhan kota Gorgor tapi mereka di hadang ratusan undead skeleton yang mendiami tempat itu hingga mereka memilih bertahan di benteng di dalam gua pintu belakang kota mati Gorgor.
"Estella bukankah lebih baik kita kembali saja karena hampir tidak mungkin Kirt Johan masuk ke dalam kota yang di penuhi undead itu."Kata Bara Shindarty kepada Estella kemudian Dirta juga berbicara.
"Benar yang di katakan Bara aku juga tidak suka menghadapi undead-undead itu, meskipun mereka lemah tapi jika jumlahnya sebanyak itu pasti kita akan kelelahan dan kalah." Ucap Dirta.
Undead memang adalah mayat hidup yang akan menyerang bentuk kehidupan apapun karena di gerakan oleh sihir kegelapan dan mereka tidak akan kelelahan karena tubuh mereka yang memang sebenarnya sudah mati dan hanya bisa di hentikan dengan menghancurkan tubuh mereka atau di sucikan dengan sihir suci yang biasanya di kuasai oleh priest atau paladin dari kuil.
Sementara itu pasukan kerajaan Arfen yang di pimpin komandan Piere Zagarna juga telah mendekati benteng di dalam gua itu dan memperhatikan ada beberapa orang di atasnya.
"Hohoho.. bukankah kalian yang di sana adalah para gadis assassin yang sebelumnya berada di hutan Argamir, tidak aku sangka kita dapat berjumpa lagi di sini." Kata komandan Piere saat melihat para assassin di atas benteng itu.
"Komandan Piere sepertinya kita tidak dapat lewat karena benteng itu terkunci dari dalam." Kata kapten Orlando setelah memeriksa pintu gerbang di benteng itu.
"Saya rasa itu sedikit sulit karena pintu itu sangatlah kokoh meskipun begitu kemungkina di balik benteng yang memblokir lorong gua ini ada sebuah kota kuno yang di bangun para Dwarf di masa lalu karena di katakan ada kerajaan Dwarfen kuno di sekitar wilayah ini." Kata Kapten Orlando.
"Reruntuhan kota Dwarfen kamu bilang, jika benar itu adalah keberuntungan karena pasti ada sangat banyak harta di sana." Kata Komandan Piere yang terlihat cukup senang tapi Ia harus melewati benteng di depannya terlebih dahulu sebelum ia bisa sampai ke reruntuhan kota Dwarfen itu, jadi Ia pun berbicara pada para Assassin yang ada di atas benteng.
"Estella Hardin sebaiknya kalian bekerja sama dengan kami dengan membiarkan kami semua melewati benteng ini." Kata komandan Piere kepada Estella pemimpin kelompok assassin yang berada di atas benteng.
"Bekerja sama dengan kalian memangnya apa untungnya bagi kami?" Balas Estella kepada komandan Piere yang berada di bawah benteng itu.
"Ah kalian para Assassin pasti juga kesulitan berada di dungeon ini bukan, bila kalian mau bekerja sama dengan kami, kami bisa melindungi kalian dari penjahat ataupun monster yang banyak terdapat di sini, kami juga membawa cukup banyak bekal jadi kalian tidak perlu kawatir kehabisan persediaan makanan." Ucap komandan Piere menawarkan perlindungan dan persediaan untuk kelompok Estella.
Estella memikirkan penawaran para prajurit dari kerajaan Arfen itu karena memang benar persediaan yang di bawa kelompoknya hampir habis, apa lagi dengan bahaya monster juga undead yang menghadang mereka di reruntuhan kota Dwarfen Gorgor, bantuan dari pasukan besar yang di miliki komandan Piere memang sangat mereka butuhkan agar dapat terus maju.
"Estella sebaiknya kita terima saja bantuan mereka lagi pula kita tidak bisa ke reruntuham kota itu sendiri." Kata Dirta Lamerta.
"Dirta benar kita harus menerimanya karena mereka punya makanan dan aku sudah sangat lapar saat ini." Tambah Bara Shindarty.
"Baiklah aku mengerti lagi pula mereka menawarkan perlindungan karena sebelumnya kita juga sempat kesulitan saat berhadapan dengan beberapa anak buah penjahat Rogret Wrimas." Kata Estella yang kemudian melihat ke tempat komandan Piere yang sudah menunggu jawaban dari Estella.
"Bagaimana apakah kalian sudah bersedia membuka pintu benteng ini kami?" Tanya komandan Piere kepada Estella yang Berada di atas.
"Komandan Piere kami akan menerima penawaran anda tetapi anda juga harus membiarkan kamu mengambil harta yang kami temukan di reruntuhan kota Dwarfen yang ada di balik benteng ini." Kata Estella Hardin.
Komandan Piere sedikit berpikir tapi Ia merasa itu tidaklah masalah karena kelompok assassin yang di pimpin Estella hanyalah lima orang, prajurit kerajaan Arfen yang komandan Piere bawa pasti akan dapat menemukan lebih banyak harta di sana.
"Oh jadi benar ada reruntuhan kota Dwarfen di depan sana, kalau begitu baiklah kami tidak masalah dengan permintaan itu, kalian boleh mengambil harta yang kalian temukan untuk diri kalian sendiri jadi cepat buka pintu gerbang benteng ini." Jawab komandan Zagarna kemudian Estella berbicara pada dua Assassin bersaudara rekannya.
"Yura, Shasa kalian berdua pergilah buka pintu gerbang benteng ini." Pinta Estella kepada Assassin Yura dan Shasa.
Pintu gerbang besar yang terlihat sangat berat itu terlihat perlahan terangkat dan pasukan kerajaan Arfen yang di pimpin komandan Zagarna mulai masuk ke dalam benteng.
"Hahaha terimakasih karena membiarkan kami masuk, tapi aku ingin bertanya mengapa kalian berdua masih di sini bukankah kalian juga sedang memburu Kirt Johan, apakah penjahat itu tidak masuk ke dalam reruntuhan kota Dwarfen di depan kita?" Tanya komandan Piere yang sedikit curiga karena dengan mudahnya kelompok Assassin Estella menerima penawaran kerjasama dari komandan Piere padahal akan lebih menguntungkan bagi kelompok Estella bila mencari harta di reruntuhan kota mati itu sendiri.
"Tidak kami memang menemukan beberapa petunjuk di tempat ini saat kami pertama kali sampai seperti bekas api untuk memasak dan beberapa kain dengan bercak darah sepertinya ada seseorang yang sebelumnya merawat lukanya di sini." Jawab Estella.
"Benarkah jadi kemungkinan itu adalah jejak yang di tinggalkan Kirt Johan, lalu mengapa kalian tidak langsung pergi mengejarnya." Tanya kembali komandan Piere.
"Kami memang sudah mencarinya di reruntuhan kota Gorgor yang tidak jauh dari sini tapi yang kami temukan malah ratusan undead yang menyerang dan mengejar kami hingga kami terpaksa kembali lagi ke tempat ini." Terang Estella.
"Undead, mahkluk terkutuk seperti itu ada di reruntuhan kota Dwarfen yang kita tuju, huh mereka memang cukup merepotkan kalau dalam jumlah besar dan sekarang aku mengerti mengapa kalian menerima bantuanku yang membawa cukup banyak prajurit." Kata komandan Piere.
Estella Hardin dan kelompoknya memang terpaksa menerima bantuan dari prajurit kerajaan Arfen karena rintangan yang menghadang di depan mereka.