Thief From Silmarin

Thief From Silmarin
BAB 22. TEMAN



Kirt terus mencari jalan keluar dari dungeon Gorgor walaupun banyak lorong yang bercabang tapi saat ini pencarian jalannya menjadi lebih mudah karena Dwarf Grigorin yang bersamanya telah terbiasa hidup di kota bawah tanah tempat asalnya.


Grigorin tahu mana gua yang kemungkinan biasa di lalui para Dwarf dan yang mana gua yang kemungkinan adalah jalan buntu karena di tempat asalnya para penduduk Dwarf biasanya mendapatkan tugas bergantian untuk menggali terowongan ataupun menambang.


Kehidupan di kerajaan Dwarf memang berbeda dari ras lain karena mereka biasanya menambang sebagai biji logam dan mengolah juga menjualnya sebagai pemasukan utama kerajaan mereka dan Itulah para Dwarf meskipun mereka cukup kaya berkat kemampuan mereka untuk mendapatkan logam berharga tapi persaudaraan mereka sangatlah kuat hingga mereka secara suka rela bergotong royong demi membangun masa depan kerajaan Dwarfen.


"Nak sebaiknya jangan mengambil lorong yang sebelah Kiri." Ucap Dwarf Grigorin.


"Tapi bukankah lorong gua yang sebelah kiri menuju ke atas?" Tanya Kirt Johan.


"Lorong gua itu berkelok-kelok tidak menentu kadang ada lorong yang maik tapi setelah di lalui kemudian menuju turun jauh ke bawah itulah gua alami sedangkan gua yang biasa kami bangun juga tidak jauh berbeda karena kami para Dwarf biasanya akan mempertimbangkan struktur lapisan juga jenis tanah yang kami gali apakah tanah itu mudah longsor atau apakah gua itu terdapat sumber air atau yang memiliki mineral logam berharga, semua itu harus di perhitungkan." Terang Dwarf Grigorin.


Kirt juga baru mengetahui hal itu karena ternyata para Dwarf tidak sembarangan membangun lorong gua karena mereka harus memperhitungkan banyak hal untuk fungsi serta keamanan gua itu terhadap para Dwarf.


Butuh waktu cukup lama untuk mencari jalan keluar dari dalam gua apalagi terkadang mereka bertemu monster yang menghadang jalan tapi untunglah sebagian besar ancaman itu hanyalah monster lemah seperti Slime ataupun goblin hingga Kirt dapat mengalahkan mereka dengan mudah.


Setelah beberapa hari akhirnya cahaya matahari terlihat di ujung lorong dan mereka dapat kuluar dari dungeon gorgor yang cukup menyulitkan itu.


"Tuan Grigorin akhirnya kita dapat menikmati udara segar di permukaan dan apakah anda akan langsung pulang menuju kota Dwarfen."


"Aku akan melanjutkan perjalanan melalui lereng pegunungan menuju timur dan nak apakah kamu akan menuju ke wilayah padang rumput Tandora di selatan hutan?" Ucap Dwarf Grigorin.


"Benar tuan Grigorin saya akan menuju desa Droya di dekat hutan argamir meskipun di sana ada banyak orang yang memiliki niat buruk terhadap saya, tapi saya tidak punya pilihan karena hanya desa itu yang paling dekat dengan tempat ini." Jawab Kirt Johan.


"Begitukah perjalananmu memang terdengar sangat sulit dan aku juga tidak dapat mengajakmu ke tempat asalku saat ini karena kota kerajaan Dwarfen masih tertutup untuk orang dari ras lain, jadi maafkan aku padahal kamu sudah banyak membantuku untuk keluar dari dungeon gorgor yang di penuhi monster." Ucap Dwarf Grigorin.


"Anda tidak perlu meminta maaf karena sebelumnya anda juga telah menyelematkan nyawa saya jadi anggaplah kita sudah impas saat ini." Jawab Kirt Johan.


"Benar tapi nak sebelum kamu pergi ambillah sebagian harta yang aku temukan dari kota leluhurku karena mungkin itu akan dapat sedikit membantumu nanti." Kata Dwarf Grigorin yang menyerahkan sebagian harta yang ia temukan.


"Tapi bukankah itu adalah harta yang sudah susah payah anda kumpulkan dari kota leluhur anda, saya rasa tidak mungkin saya mengambilnya." Jawab Kirt yang merasa enggan untuk menerima harta yang di miliki Dwarf Grigorin apalagi semua itu ia dapatkan dengan mempertaruhkan nyawanya.


"Nak sudah aku katakan harta seperti itu bukanlah segalanya untukku, lagi pula kamu lebih bmembutuhkanya untuk perjuanganmu saat ini jadi ambillah kamu tidak perlu sungkan padaku." Ucap Dwarf Grigorin yang memaksa Kirt mengambil sebuah kantong berisi beberapa barang yang terbuat dari emas dan berhiaskan batu permata yang sangat berharga.


Kirt Johan akhirnya menerima sekantung besar harta dari Dwarf Grigorin dan kemudian merekapun berpisah di sana.


Kirt kemudian menuruni lereng pegunungan Wiwardin menuju ke arah selatan kemudian memasuki hutan Argamir untuk menuju negeri padang rumput Tandora.


Kirt berpikir sebagian besar orang yang memburunya pasti masih berada di dalam dungeon gorgor karena mengira ia masih di sana jadi kemungkinan di desa Droya saat ini sedikit lebih aman untuknya.


Sementara itu di pinggir hutan argamir Lucas Durman dan Salfira Artas tengah mencari tanaman herbal dan di bantu empat orang petualang tingkat perunggu yang memberikan pengawalan.


Ada beberapa monster yang sempat muncul saat Lucas sedang mengumpulkan tanaman herbal tapi para petualang yang memberikan pengawalan dapat menghadapinya apalagi Lucas juga ikut bertarung membantu para petualang itu.


"Nona Safira sebaiknya kita sudahi dulu mengumpulkan tanaman herbalnya." Panggil Lucas yang mengajak untuk menghentikan pencarian tanaman herbal di hari pertama pertama.


"Tapi Lucas masih banyak tanaman di sini dan sayang sekali bila kita tidak mengambilnya." Jawab Safira.


Safira akhirnya juga setuju karena sebelumnya memang sempat ada beberapa serigala yang muncul dan ia tidak dapat berbuat banyak selain berlindung di belakang Lucas yang bertarung bersama para petualang yang mengawal mereka.


Lucas keluar ke pinggir hutan dan mendirikan sebuah tenda sederhana untuk beristirahat, Ia juga memanggang umbi di api unggun untuk makan malam.


"Tuan Lucas sepertinya anda tidak mendapatkan cukup banyak tanaman herbal?" Kata Safira memperhatikan keranjang berisi tanaman herbal yang ia bawa.


"Iya saya memang mengetahui beberapa jenis tanaman herbal tapi mencarinya itu adalah perkara lain karena tanaman berharga itu tersamarkan dengan tanaman liar yang lain." Kata Lucas karena tanaman herbal memang hampir tidak berbeda dengan rumput liar yang tumbuh secara acak di lantai hutan.


"Apakah tidak masalah anda kembali dengan jumlah tanaman yang hanya sedikit, saya merasa tidak enak karena bahkan saya sendiri mendapatkan hampir dua kali lipat lebih banyak dari anda." Ucap kembali Safira karena sebagai seorang Alchemist ia lebih berbakat dalam tanaman herbal hingga mendapatkan hasil yang cukup memuaskan.


"Tidak perlu cemaskan hal itu karena dengan ini saja saya pikir sudah cukup untuk menutupi modal yang saya keluarkan." Kata Lucas sambil berpikir untunglah ia mengajak Safira yang menanggung sebagian biaya mencari tanaman herbal hingga ia tidak mengalami kerugian.


Sementara itu seorang petualang kelas ranger yang menggunakan panah memberikan sinyal untuk yang lain bersiaga.


"Isac apakah kamu melihat sesuatu?" Tanya seorang petualang wanita rekan dari Isac.


"Entahlah Lalia tapi aku sempat melihat ada sesuatu yang bergerak di balik pepohonan di pinggir hutan tidak jauh dari tempat kita." Jawab Isac.


Kedua petualang rekan Isac yang lain juga segera bersiaga karena mungkin apa yang di lihat Isac adalah monster berbahaya dan tak lama kemudian sesuatu benar-benar terlihat bergerak keluar dari hutan tapi mereka tidak dapat melihatnya dengan jelas karena kondisi yang cukup gelap.


"Isac apakah itu monster?" Tanya Lucas yang juga berdiri bersiap dengan pedangnya karena ia juga dapat bertarung.


Tapi sosok yang mereka perhatikan mendekat dari arah hutan mulai tampak jelas kalau itu tidak mirip seperti monster melainkan berwujud manusia tapi para petualang itu masih tetap waspada karena siapa orang yang cukup gila berkeliaran di dalam hutan Argamir yang berbahaya di tengah malam seperti ini.


"Berhenti siapa kamu cepat katakan?" Ucap Isac sambil membisikkan panahnya ke arah orang yang mendekat.


"Isac, Lilia ternyata benar itu adalah kalian." Jawab pria misterius yang mendekat itu.


"Suara itu, apakah mungkin?" Ucap ucap Lilia yang kemudian langsung mendekati pria itu sambil membawa obor sebagai penerangan.


"Lalia tunggu jangan mendekatinya!" Teriak Isac karena kawatir Lalia langsung mendekati pria misterius itu.


"Ternyata benar, Isac dia adalah tuan Kirt Johan yang dulu pernah menolongmu saat misi penyerbuan ke desa Asbek." Ucap Lalia dengan bersemangat karena ia bertemu kembali dengan Kirt Johan yang cukup ia kagumi sebagai petualang hebat dari Silmarin.


"Kirt Johan bagaimana anda bisa berada di tempat seperti ini sendirian?" Tanya Isac.


"Tadi saat aku melihat api unggun dari kejauhan aku berencana untuk memeriksanya dan tidak sengaja melihat Isac yang berjalan berpatroli di sekitar, apakah kalian sedang menjalankan quest pengawalan?"


"Benar kami sedang menjalankan misi pengawalan pencari tanaman herbal, tapi tuan Kirt bukankah seharusnya anda sudah pergi jauh bersama para prajurit milik bangsawan muda Jirdan?" Tanya Isac yang masih penasaran dengan kehadiran Kirt Johan di tempat ini.


Kirt Johan berpikir 'ternyata orang-orang di desa Droya tidak mengetahui yang terjadi mengenai diriku, kemungkinan bangsawan muda Jirdan memaksa para petualang tingkat emas yang dulu menyerangnya untuk menutup mulut agar rencana liciknya untuk mendapatkan imbalan dari nyawaku tidak di ketahui orang lain, bangsawan Jirdan memang orang yang cukup pintar untuk membuat dirinya selalu tampak baik di mata banyak orang.'


"Ini sedikit rumit aku akan menceritakan beberapa hal yang terjadi dan kebetulan sekali sepertinya di sini juga ada temanku Lucas Durman karena aku memang berniat menemuinya." Ucap Kirt karena ia juga melihat Lucas di tempat itu.