
Darah tercecer di sepanjang lorong, suara tetesan darah yang jatuh ke lantai terdengar karena lorong yang begitu kosong dan sepi. Nielson merasa waktu sudah berlalu cukup lama, pandangannya menjadi buram. Ia sudah tidak bisa menghitung berapa lama waktu berlalu karena sudah terlalu banyak kehilangan darah yang membuat otaknya tidak bekerja dengan baik karena kekurangan oksigen.
Nielson menggelengkan kepalanya, ia merasa sangat mengantuk dan ingin memejamkan matanya untuk beristirahat. Namun ia tahu bahwa jika ia memejamkan matanya maka dirinya sudah selesai. Nielson menguatkan tekadnya dan tetap memfokuskan matanya. Ia kembali berjalan menyusuri lorong rahasia yang mengarah ke pelabuhan.
Tak lama kemudian, terdengar sebuah teriakkan wanita yang familier bagi Nielson. Ia kemudian bergegas dan berusaha berlari meskipun kondisi tubuhnya kritis, dirinya tampak sudah tak mementingkan kondisi tubuhnya lagi.
‘Alice!’
Intuisi Nielson benar, dari sebuah belokan di lorong, Alice tampak panik dan kebingungan. Menyadari Nielson dari kejauhan Alice tampak lega, i hendak berlari mendekati dirinya.
“Alice!”
“Tuan Nielson!”
Alice menghampiri dan langsung memeluk Nielson. Dirinya tampak compang-camping, penampilan yang berantakan, serta nafasnya yang tersengal seperti sedang dikejar oleh sesuatu, Alice terlihat seperti telah mengalami sesuatu yang berat sama seperti dirinya.
“Sudahlah, tenangkan dirimu. Aku disini,”
Nielson membelai kepala Alice untuk menenangkan dirinya. Alice kemudian melepaskan pelukannya dan mengamati Nielson. Ia sangat terkejut dan segera menghentikan tangisannya ketika melihat kondisi Nielson yang sudah diambang kematian.
“T-tuan Nielson?! Apa yang terjadi dengan dirimu?!”
“Sudahlah, tidak apa-apa. Bukankah yang penting aku masih hidup dan berada disini?”
Nielson berusaha tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa dengan dirinya untuk menenangkan Alice meskipun kondisi tubuhnya buruk. Ia mendekap Alice kembali ke pelukannya dan membelai kepalanya. Alice menangis kencang. Ia merasa sedih dan tak bisa membendung air matanya ketika melihat Nielson yang masih berusaha tetap mementingkan Alice meskipun ketika dia berada di ambang kematian.
“HUAAA, TUAN NIELSON! TERIMA KASIH! A-AKU, AKU AKU—“
Alice memeluk Nielson semakin erat sambil menangis tersedu-sedu, kata-katanya terpotong, ia tampak tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. Melihat Alice yang seperti ini membuat Nielson menjadi emosional, namun—
*STAB
Darah mengalir dari tangannya, Alice menikam perut Nielson.
“AKU MENGINGINKAN NYAWAMU,”
Ekspresi sedih Alice seketika berubah menjadi seringai keji. Nielson mendorong Alice dengan keras untuk menjauhkan diri darinya. Nielson menatap dan memegangi lubang yang berada di tubuhnya.
“KHHH,”
Nielson mengerang, darah mengalir semakin deras dari tubuh Nielson. Pandangannya semakin buram, tubuhnya menjadi oleng. Nielson tertusuk karena ia sudah kehilangan kewaspadaannya akibat darah yang hilang terlalu banyak dari tubuhnya.
Alice memainkan pisau yang telah menikam Nielson dan menjilat darahnya. Alice kemudian mengambil sesuatu dari balik bajunya yang terikat di lehernya. Ia mengeluarkan sebuah kalung liontin yang tampak familier bagi Nielson dan segera menghancurkannya.
‘Kalung itu!—‘
Seketika sosok Alice berubah menjadi bayangan biru kabur yang tampak seperti hologram. Dari balik hologram terlihat bayangan seorang wanita tinggi dengan tubuh ramping, dan rambut panjang yang terikat.
“Kau, Kau! Kau adalah seorang Epsilon!”
Nielson menggertak giginya dengan kuat sambil mengeluarkan pandangan yang menusuk.
“Ping pong, jawabanmu benar! Aku adalah seorang Epsilon-037 yang suka membunuh~, entah itu binatang atau manusia, aku suka semuanya! Kau tahu? Diantara Epsilon yang lain kepribadianku merupakan yang terbaik,”
Nada main-main terdengar dari ucapannya yang menanggapi pernyataan Nielson.
Nielson tak bisa berkata-kata dengan kejadian yang terjadi di depannya. Ia terkejut bukan karena ia ditusuk, tapi karena mengapa wanita tersebut mengenakan kalung yang hanya diketahui olehnya dan rekannya, Zeta.
‘Tunggu, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa alat pengubah penampilan itu bisa berada di tangannya? Apa organisasi sudah mengendus langkah kami dan menyitanya? Atau jangan-jangan...’
Saat Nielson sedang mencerna apa yang terjadi, seseorang yang muncul dari belakang wanita itu membuat Nielson terkejut. Seorang pria dewasa dengan wajah yang familier, muncul di belakang wanita tersebut. Ia adalah rekan terpercaya Nielson, Zeta-003 yang mengetahui dan membantu rencana kali ini. Kali ini dia tidak sedang menyamar menjadi orang lain, melainkan ia menjadi dirinya sendiri.
Nielson memberitahu rencananya dan meminta bantuannya karena ia merasa bahwa ia adalah rekan yang bisa ia percaya. Tetapi apa yang terjadi di depannya ini menjawab segalanya. Nielson ingin menyanggah dan tidak mempercayai hal tersebut, namun hal ini terjadi tepat di depan matanya.
“Zeta-003, kenapa... Kenapa kau di sini bersama dengan wanita gila ini?!”
Nielson berteriak kepada Zeta-003 yang bersembunyi di belakang wanita tersebut.
“Wah, menyebut seorang wanita dengan sebutan gila adalah tindakan yang buruk, Tuan Delta,”
Wanita yang disebut Epsilon ini menyela
“Tapi, karena yang melakukannya adalah seorang pria tampan seperti dirimu, aku rasa aku akan memaafkannya. Apalagi jika pria tampan itu sedang sekarat, aku merasa tidak bisa menahan diri lagi~ “
Lanjut wanita itu sambil menyolek darah yang berada di bibir Nielson lalu menjilatnya dan menatapnya dengan ekspresi menggoda.
Melihat hal tersebut, badan Nielson langsung merinding, ia langsung memalingkan pandangannya ke arah Zeta-003 seperti semula dan memilih untuk mengacuhkan apa yang dilakukan wanita tersebut.
Mendengar pertanyaan dari Nielson, Zeta-003 terdiam sesaat. Ia memalingkan wajahnya ke samping menghindari tatapan dari Nielson.
“Jawab aku Zeta!! Bukankan kita ini rekan?! Jika kau memang mengkhianatiku setidaknya jawab pertanyaanku!!”
Nielson membentak dengan suara yang sangat keras. Karena berteriak dikondisi yang kritis, Nielson langsung terbatuk-batuk, dan darah keluar dari batuknya itu. Melihat kondisi buruk Nielson, Zeta menatap dirinya dengan tatapan kasihan.
“Kasihan sekali, aku sudah memperingatkanmu hari itu bukan? Jika kau melakukannya bahkan aku tidak dapat menolongmu. Menyedihkan sekali mengorbankan nyawa untuk seseorang yang sudah mati,”
Tatapan kasihan Zeta berubah seketika menjadi tatapan yang merendahkan.
“!!!!”
“Maafkan aku Delta, tapi aku tidak ingin terlibat dengan kekacauan yang kau buat. Aku masih menyayangi nyawaku,”
Nielson terbelalak dengan pernyataan yang keluar dari mulut Zeta.
“Kau... Apa yang kau lakukan terhadap Alice? Apa yang terjadi padanya?”
Suaranya bergetar, ia terlalu terkejut mendengarnya sehingga ia tak lagi mampu untuk meninggikan suaranya.
“Alice? Ah maksudmu gadis ini?”
Zeta-003 mengeluarkan sesuatu barang berbentuk bulat yang dibungkus dengan kain dan diikat dengan ketat dari tasnya. Ia melemparnya ke arah Nielson dan Nielson menerimanya. Namun, ketika Nielson membuka bungkusannya—
“!!!!!”
Apa yang dilihat Nielson membuatnya kehilangan kata-kata. Tangannya bergetar hebat, matanya terbelalak seperti ingin keluar. Getaran hebat yang terjadi pada tangannya menyebabkan ia kehilangan tenaga pada tangan sehingga genggaman pada barang yang diberikan Zeta melemah dan barang tersebut jatuh menggelinding ke lantai. Ketika barang tersebut jatuh ke lantai, terungkap sebuah kepala gadis muda menggelinding di lantai menjauh dari Nielson.
“ARGHHHHHHH! AHHHHHHH! HARGHHHHHHH! AHHHHHHH”
Nielson berteriak tidak karuan ketika ia melihat bungkusan yang berisi kepala Alice, ia menjadi kehilangan kendali. Melihat orang yang ia berusaha selamatkan malah berakhir mengenaskan, Nielson tidak bisa menerimanya.
‘SALAHKU, SALAHKU SALAHKU SALAHKU, INI SEMUA SALAHKU. SEANDAINYA AKU TIDAK MENGIKUTI KEINGINAN IDEOLOGI BODOH INI MAKA IA TIDAK AKAN BERAKHIR MENGENASKAN SEPERTI INI’
Ia meraung-raung dan air mata mengalir deras dari matanya. Nielson menyalahkan dirinya sendiri ketika melihat kondisi Alice yang berakhir seperti ini. Ia berasumsi jika ia setidaknya dihukum oleh organisasi maka ia tidak akan mengalami kematian yang mengenaskan.
Zeta terkejut melihat kondisi Nielson saat ini. Ia tidak menyangka bisa melihat Nielson yang biasanya begitu tenang dan pandai menangani emosinya, menjadi meledak-ledak tidak karuan seperti ini. Melihat kondisi Nielson yang sangat menyedihkan ini, Zeta menjadi tenggelam dalam pikirannya.
‘Yah, memang wajar jika kau merasa kacau jika orang yang kau coba selamatkan malah berakhir mengenaskan. Tetapi dari awal memang takdir gadis itu sudah dipastikan, jika kau terlibat dengan organisasi maka tidak akan berakhir dengan baik. Jadi ini bukan sepenuhnya salahnya...’
“Ah, maafkan aku. Aku menyuruhnya untuk membuat mayatnya tetap utuh, tapi dia malah memenggal kepalanya dan memotong anggota tubuhnya,”
Zeta mengatakan itu dengan nada santai sambil mengusap belakang kepalanya.
“Eh?? Sekarang kau menyalahkanku?! Bukankah perintahmu hanya tidak melukai wajahnya agar dapat bisa diidentifikasi?!”
“Begitukah? Kalau begitu itu semua sepenuhnya salahku, maafkan aku,”
“Humph”
Mereka bercanda dan bercakap-cakap ringan. Mendengar mereka yang membicarakan kondisi Alice seakan itu adalah hal ringan membuat Nielson geram. Ia menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya yang tersisa sambil menatap mereka berdua dengan tajam.
“ARGHHHHHHH”
Nielson berteriak dan langsung maju menerjang musuh. Nielson yang badannya sudah sekarat dan emosinya tak stabil membuat serangannya tampak seperti anak-anak yang ingin berkelahi di mata mereka. Serangan Nielson tidak memiliki kekuatan ataupun kecepatan yang mengancam, bahkan tidak memiliki pola serangan yang rumit seperti sebelumnya. Ini adalah murni serangan dari emosinya. Emosinya yang meluap-luap membuat dirinya mampu berdiri meskipun diambang kematian.
Melihat serangan yang tampak seperti sampah di matanya, wanita Epsilon tersebut menangkap lengannya, lalu memotongnya dengan sebuah pisau hingga terputus. Nielson berteriak dan mengerang dengan putus asa di kondisi seperti ini. Baru pertama kalinya ia merasakan emosi tak berdaya seperti ini.
Meskipun sudah memotong lengan Nielson yang tersisa, wanita tersebut belum puas dan menebas seluruh tubuh Nielson namun tidak sampai memotongnya. Tubuh Nielson tercabik, darah mengalir deras di tubuhnya, namun ajaibnya ia masih bisa berdiri dan belum kehilangan kesadarannya.
Nielson tersungkur dan menggumamkan beberapa nama orang dengan putus asa. Melihat Nielson yang masih hidup, wanita tersebut menjadi geram dan ingin menyerangnya lagi. Ia merasa bahwa daya hidup Nielson sangat tinggi seperti kecoak, meskipun dia sudah diambang kematian sejak tadi, ia tetap hidup, dan mampu menahan semua serangannya. Zeta menahan lengannya ketika wanita tersebut hendak menyerang Nielson dan menyuruhnya untuk berhenti.
“Sudahlah, biarkan saja dia. Dengan kondisi itu kau pikir dia bisa selamat? Biarkan dia menikmati momen hidup terakhirnya dengan tenang lalu mengurus mayatnya. Bukankah kita harus setidaknya memberikan dia kebaikan di akhir hidupnya sebagai rekan?”
“Baiklah, kau benar. Setidaknya kita biarkan dia menikmati momen terakhirnya,”
Zeta dan wanita yang dipanggil Epsilon tersebut meninggalkan Nielson untuk menikmati momen terakhirnya.
Nielson yang tertelungkup tidak berdaya menatap kepala Alice yang tergeletak di tanah. Ia berusaha meraihnya, namun ia sudah tak punya lengan. Ia berusaha mendekatinya namun kakinya sudah tidak berfungsi lagi. Yang bisa ia lakukan hanya bergumam dan menatap kepala Alice yang memiliki ekspresi seperti tertidur lelap.
“G-Gretta. Maafkan aku, karena aku sudah tidak bisa menemuimu lagi. Mungkin kau tidak tahu apa yang terjadi denganku, tapi tolong jangan berusaha mencari tahu karena itu akan membahayakan dirimu. Kamu mungkin akan segera melupakanku tapi aku tidak akan,”
Nielson menggumamkan nama Gretta, ia tampak seperti ingin menyampaikan pesan terakhir, namun tidak ada seorang pun yang berada di sana.
“A-Alice, maafkan aku yang gagal melindungimu. Maafkan aku yang membuatmu berakhir seperti ini. Dari ekspresimu aku tahu bahwa kamu tetap menungguku meski di saat terakhirmu, maafkan aku tidak bisa menepati janjiku,”
Menggumamkan nama Alice, air mata Nielson mengalir. Baru kali ini ia dilanda oleh emosi sedahsyat ini dalam hidupnya. Dari awal persidangan hingga akhir hingga akhir hidupnya, Nielson mengalami emosi baru maupun yang telah lama hilang. Meskipun berakhir dengan mengenaskan, Nielson berbaring sambil menatap langit-langit bangunan dan tersenyum.
‘Jadi ini rasa pengkhianatan. Rasanya campur aduk, rasanya kecewa dan hampa. Aku bahkan sampai tidak bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan ketika teman kepercayaanku mengkhianatiku...’
‘Jadi ini rasanya kehilangan dan penyesalan... Rasanya sakit sekali, aku bahkan tidak sanggup menanganinya dengan benar, haha. Dan rasa bersalah ini.... Aku tak ingin melupakannya...’
‘Seandainya aku diberi kesempatan kedua....’
‘Dan diberikan kekuatan untuk melindungi serta memberikan keadilan pada orang-orang yang kukasihi....’
Mata Nielson menjadi berat, ia seperti sudah tidak mampu menahan matanya yang akan terpejam.
‘Tapi sepertinya itu tidak mungkin.... Permintaan yang bodoh sekali, haha...’
Mata Nielson terpejam, ia mati dengan senyum terpasang di wajahnya. Meskipun ia merasa sakit dan hampa, namun ia juga merasakan kelegaan karena di akhir hidupnya, ia menjadi manusia.
.....
.....
‘Apa ini? Di mana aku?...
‘Kenapa semuanya tampak gelap?...’
Seluruh Pandangan Nielson gelap, tidak ada satu pun benda atau cahaya yang berada di sini, hanya terdapat kegelapan sejauh mata memandang, namun kesadarannya tetap terjaga. Tubuhnya terasa ringan dan melayang, ia bahkan tidak bisa merasakan indranya lagi. Rasanya ia hanya seperti melayang-layang di atas awan dan mengikuti ke mana arah angin membawanya.
‘Gelap sekali.... Aku sudah mati ya.... Jadi ini adalah neraka...’
Melihat semuanya begitu gelap Nielson menyimpulkan bahwa ia sedang berada di neraka, karena terakhir dia ingat bahwa dirinya telah mati, dan orang sepertinya tidak mungkin masuk surga ataupun siklus reinkarnasi.
'Manusia....'
Nielson merasa ia mendengar sebuah suara yang tak tahu dari mana asalnya. Nielson mengabaikan suara tersebut, ia merasa bahwa dirinya sedang berhalusinasi, ketika ia mendengar suara di tempat setenang ini harusnya sumber suaranya pasti akan terlihat.
'Manusia...'
Nielson mendengar suara itu lagi. Ia kemudian mulai mencari dari mana arah sumber suara berasal. Ia menengok ke kanan dan kiri, namun sekitarnya tidak lebih dari sebuah kegelapan yang kosong.
‘Dari mana asal suara ini—‘
*badump
Tiba-tiba saja jantung Nielson berdegup. Nielson merasa heran kenapa jantungnya tiba-tiba berdegup karena sedari tadi suasana sangat hening sampai degup jantung atau nafas sekalipun dapat terdengar. Namun ia tidak merasa bernafas atau jantungnya berdegup sekalipun karena itu ia merasa aneh.
Kegelapan yang aneh perlahan menyelimuti tubuh Nielson. Dirinya mulai terasa aneh, rasa dingin yang tak dikenal menjalari tubuhnya. Rasanya sangat dingin, hingga tubuh Nielson meronta-ronta selama beberapa saat ketika rasa dingin tersebut menjalar ke seluruh tubuhnya lalu tenang kembali.
‘Perasaan apa ini?... Rasanya sangat dingin, namun memberikan ketenangan.... ‘
‘Rasanya sangat luas nan indah, seperti langit malam....’
‘Perasaan yang tak bisa kulukiskan ini.... ‘
‘Memenuhi seluruh tubuhku....’
*Patsss
Sebuah cahaya terang menyelimuti seluruh tubuh Nielson. Menyingkirkan kegelapan yang tadinya menyelimuti tubuhnya juga. Cahaya tersebut terasa sangat hangat sampai-sampai menghilangkan seluruh rasa dingin yang tadi menjalari tubuhnya. Rasanya sangat nyaman dan familier. Rasanya seperti...
‘Keadilan’
‘Ya, rasa familier ini... Tidak salah lagi, ini adalah rasa keadilan..’
Nielson yang tengah tenggelam dalam perasaannya, tiba-tiba mendengar suara dari dalam kepalanya. Suaranya terdengar ringan, namun juga tampak dewasa. Nielson mengira-ngira bahwa itu adalah suara wanita.
'Manusia.... Kamu adalah orang yang berusaha menegakkan keadilan hingga di akhir hidupmu... Namun kamu malah mengalami ketidakadilan paling pahit ketika sedang memperjuangkan keadilanmu untuk pertama kalinya...'
Nielson tertegun mendengar suara yang berasal dari kepalanya. Ia terkejut karena pernyataan singkat yang keluar darinya adalah ringkasan seluruh hidup Nielson.
'Manusia, aku akan memberikan kesempatan kedua padamu... Terserah padamu kau akan menggunakan seperti apa kesempatan keduamu ini.... Semuanya berada di tanganmu... Entah takdir apa yang akan kau ukir... Semua terserah padamu.... Aku harap, kamu menemukan keadilan yang kamu cari.'
*PATSSSS
Cahaya terang yang membutakan mata tiba-tiba bersinar terang dari seluruh ketiadaan ini. Cahayanya bersinar terang dari seluruh sudut sehingga Nielson tidak mampu melihat apa yang terjadi selanjutnya.
.....
“OEEKK OEEKK”
Suara bayi yang menangis memenuhi ruangan. Nielson perlahan membuka matanya, ia terkejut melihat sekelilingnya. Sebuah ruangan dengan interior mewah gaya klasik abad pertengahan terlihat. Wanita cantik berambut perak muncul di depan pandangannya ketika ia membuka mata untuk pertama kalinya. Di sampingnya terdapat seorang pria berambut pirang dengan janggut tipis yang menghiasi wajahnya.
‘Siapa mereka? Di mana aku? Wajahnya tampak sangat asing bagiku... Mereka seperti bukan bagian ras mana pun di dunia.... Mereka sangat elok seperti orang yang digambarkan di negeri dongeng,'
“Sayang, jadi kita beri nama siapa anak cantik ini?”
Wanita berambut perak yang berada tepat di depan mata Nielson bertanya kepada pria berambut pirang yang tampaknya adalah suami wanita tersebut.
“Hmmmm bagaimana dengan Jackson? Atau mungkin Pedro? Atau Ethan?
Pria berambut pirang tersebut menjawab pertanyaan istrinya dengan wajah bodoh
“Sayang! Kumohon sedikit serius, dia ini perempuan,”
“Eh? Apakah perempuan tidak bisa menyandang nama itu?”
“Tentu saja tidak! Padahal kau ini raja Medeia, Elios! Berhentilah memberikan nama asal-asalan kepada anak kita!”
Wanita berambut perak tersebut membentak suaminya yang dipanggil Elios karena memberikan nama-nama bodoh kepada anak mereka.
‘Anak? Anak apa? Apakah anak mereka adalah suara bayi yang sejak tadi menangis? Eh? Kenapa tubuhku terasa aneh? Kenapa aku tidak bisa menggerakkan tubuhku dengan benar?’
Nielson merasa aneh dan tak berdaya, ia sepertinya hanya bisa menggerakkan tubuhnya untuk berguling membalikkan tubuhnya. Ketika ia membalikkan tubuhnya ke arahnya pemandangan payudara wanita tersebut terlihat sangat dekat. Nielson refleks membalikkan tubuhnya dengan cepat dan menghindari pemandangan itu.
“Lihatlah, anak kita juga enggan diberi nama-nama bodoh oleh ayahnya!”
“Ehh?? Kamu jahat sekali Selena. Aku hanya berusaha memberi nama yang bagus pada anak kita. Lihat? Dia bukannya tidak menyukai namaku tapi dia hanya suka bergerak, hahaha!
Pria berambut pirang tersebut tertawa riang.
“Uhh, dasar orang bodoh,”
Menanggapi kelakuan bodoh suaminya, wanita berambut perak yang dipanggil Selena menggelengkan kepalanya.
‘Anak mereka? Eh? Aku sedari tadi sedang menangis? Jangan-jangan anak mereka adalah....
Nielson terus membalikkan badannya mencari sebuah cermin. Tak lama, ia melihat sebuah cermin mewah di dekat meja seberang ruangan yang tampak seperti meja rias.
‘Apakah bayi itu... Aku?’
“Baiklah, dengan ini aku memutuskan nama anak ini adalah...”
Wanita tersebut tampak seperti sudah mengambil keputusan.
‘Apakah aku telah bereinkarnasi? Lalu di mana ini? Apakah ini di dunia yang berbeda’
“Luminas, Luminas Von Medeia! Aku mengambilnya dari nama ibu kota kerajaan ini dan juga yang berarti bersinar! Aku ingin ia di masa depan menjadi orang yang menyinari kerajaan ini!”
‘Aku bereinkarnasi ke dunia lain menjadi seorang perempuan?!!’