Themis, The Flower of Justice

Themis, The Flower of Justice
Chapter 25 — Ksatria Sihir (2)



Setelah melakukan kegiatan ‘sesi makan’ dengan Dorothy, Luminas lanjut pergi menuju ke kamar Selena. Karena tepat sebelum ia pergi, Selena membisikkan sesuatu padanya.


“'Mama telah menyiapkan sesuatu untukmu, periksalah di kamarku karena itu akan sangat membantumu’”


Itulah yang dikatakan Selena sebelum ia pergi menuju medan perang. Luminas cukup penasaran apa yang ditinggalkan Selena di kamarnya sampai ia harus berbisik seperti itu.


Setelah beberapa saat berjalan, ia akhirnya sampai di depan kamar Selena. Ia mengeluarkan kunci yang diberikan oleh ibunya dan langsung membukanya.


Luminas melihat sekeliling untuk memeriksa apakah ada yang berbeda dari kamar ibunya dan ia sembunyikan di sekitar kamarnya. Namun setelah memeriksa sekeliling, Luminas tidak mendapatkan apa pun. Kamar Selena dalam keadaan normalnya. Lalu Luminas terbesit akan suatu hal.


‘... Apakah yang ibu maksud ada di dalam ruangan rahasia?’


Ketika memikirkan hal tersebut, Luminas langsung menuju meja tempat Selena biasa duduk. Ia masih mengingat dengan jelas, buku mana yang Selena gunakan untuk membuka ruangan rahasia. Dengan cepat ia membalikkan halaman buku tersebut dan memasukkan sebuah kunci di dalamnya.


*KLAK!


Luminas ingat, bahwa Selena memasukkan sedikit mananya ke dalam kunci tersebut untuk membuka ruangan rahasia.


*DRRRR!


Seperti dugaan Luminas, rak-rak buku tebal bergeser dan menampilkan sebuah lorong yang menuju ke ruangan rahasia.


Luminas berjalan memasuki ruangan rahasia tersebut. Ia tidak lupa melihat sekeliling, memastikan apakah ada yang melihatnya atau tidak, lalu kembali menutupnya.


Ketika Luminas sedang menuruni tangga menuju ruang latihan, dari kejauhan ia melihat sebuah buku tipis yang berada di atas sebuah altar pada tengah ruangan.


Luminas langsung menyadari bahwa buku itu adalah hal yang ibunya maksud akan sangat membantu Luminas jika ia mempelajarinya.


Luminas langsung bergegas menuju ke altar tersebut dan mengambil bukunya. Luminas merasa gugup, ia penasaran dengan apa yang dimaksud ibunya bahwa isi dari buku ini akan sangat membantu dirinya. Namun—


Ketika Luminas membuka buku tersebut, isinya tidak ada. Luminas bingung dengan lembaran kosong yang berada di buku tersebut dan mencoba membalik halamannya. Tapi usahanya sia-sia, bahkan sampai halaman terakhir yang ia balik hanya berisi lembaran kertas kosong.


Luminas yang bingung memutuskan untuk menenangkan dirinya. Ia terdiam dan berpikir sejenak.


‘.... Apa yang harus kulakukan? Apakah ada sebuah mekanisme rahasia? Atau jangan-jangan—‘


Luminas melirik altar yang tadinya menampung buku tersebut. Ia menengok dan memeriksa altar tersebut dengan rinci. Setelah beberapa saat ia menemukan sebuah celah yang berada di sebuah tatakan yang menampung buku tersebut.


Ia kemudian menarik celah dari altar tersebut dan mencoba membukanya. Ia merasa bahwa suatu rahasia tentang buku ini berada dibalik tatakan altar ini.


Namun usaha Luminas sia-sia. Ketika ia dengan keras menariknya, tatakan tersebut bahkan tidak bergerak satu senti pun. Ia berpikiran bahwa dari dalam celah tersebut harus memasukkan aura miliknya.


Tanpa menunggu lama Luminas langsung mencoba hal tersebut. Ia menarik aura dari seluruh tubuhnya dan memusatkannya di ujung jari. Lalu ia memasukkan jari miliknya yang sudah diselimuti oleh aura.


Beberapa saat setelah Luminas memasukkan sebuah aura ke dalam altar tersebut, sebuah cahaya hijau yang tampak seperti akar merambat dari celah tersebut hingga cahaya hijau tersebut melingkupi seluruh altar.


Altar tersebut sekarang tampak seperti penuh akan retakan yang memancarkan cahaya berwarna hijau. Tak lama kemudian, dari retakan tersebut cahaya hijau bersinar semakin terang.


*KRAKKRAK!


Tatakan milik altar tersebut bergeser, menampilkan isinya yang tampak seperti sebuah kotak kayu kosong. Namun di dalam altar tersebut berisi sebuah guci yang ditutupi dengan sehelai kain.


Luminas lalu menarik kain tersebut, dan isi dari guci yang berada di dalam altar adalah air. Melihat air tersebut, Luminas terdiam sejenak lagi. Setelah diam beberapa saat, ia mencelupkan kedua jarinya ke dalam air yang berada di guci. Lalu ia membuka halaman pertama buku tersebut, dan menempelkan tangannya yang basah karena air dalam guci ke lembar halaman pertama dari buku tersebut.


“!!!”


Ketika mengoleskan air dalam buku, sebuah tulisan akhirnya muncul dari buku tersebut. Luminas berseru, karena semua hal tersebut sesuai dengan dugaannya.


Setelah mengetahui rahasia tersebut, Luminas mengoleskan air ke seluruh lembar halaman pertama buku tersebut. Ia tidak menyiram atau pun menaburkan air ke semua halaman dalam buku tersebut karena ditakutkan isinya akan rusak.


Sebuah paragraf muncul ketika ia menorehkan air ke atas kertas buku tersebut. Ia membaca judulnya, itu adalah ‘Dragon Speech’.


‘Dragon Speech? Apa ini?’


Luminas lanjut membaca paragraf di bawahnya.


‘M-mustahil!’


Luminas sekali lagi terkejut, karena ia tidak menyangka akan ada teknik seperti ini di dunia ini. Teknik itu bernama Dragon Speech, itu adalah teknik untuk mempersingkat waktu merapal sihir.


‘Ini bukan sekedar meringkas merapal sihir, tapi benar-benar menghilangkan waktu merapal sihir!’


Teknik Dragon Speech adalah sebuah teknik yang di mana pengguna teknik tersebut hanya akan menyebutkan nama mantra yang ingin dia gunakan maka mantra tersebut secara ajaib akan selesai tanpa merapal.


Luminas terus membaca buku tersebut, dan dikejutkan dengan fakta-fakta yang berada di dalam buku.


Dari yang tertera di buku, bahwa teknik Dragon Speech ini merupakan sebuah teknik yang berasal dari cara naga mengeluarkan sebuah sihir.


Buku tersebut menceritakan, pada suatu hari seorang penyihir genius yang diakui oleh semua orang di dunia merasa bosan dengan kehidupannya. Ia kemudian mencoba untuk memulai sebuah petualangan, ketika sedang bertualang ia menemukan sebuah gua naga yang berisikan naga yang sedang tertidur pulas.


Ketika sang penyihir mencoba untuk mengendap-endap keluar dari gua naga, tiba-tiba saja naga itu bangun dan meraung padanya. Ia tidak bisa bergerak dan tiba-tiba saja api keluar dari udara di sekitar naga tersebut.


Penyihir itu menyadari bahwa itu adalah mantra fireball, namun naga tersebut melakukannya tanpa sebuah rapalan. Demi memuaskan rasa penasarannya, ia mulai bertarung dengan naga tersebut demi meneliti bagaimana cara dia menggunakan sihir tanpa mantra.


Ia pergi ke gua naga hanya untuk bertarung dengan naga tersebut, lalu kembali lagi ke rumahnya untuk mencatat kemajuannya, lalu ia mencobanya secara praktik. Ia mengulangi proses itu setiap hari selama puluhan tahun. Hingga suatu saat ia bisa memahami sedikit dari teknik naga tersebut, dan menciptakan teknik Dragon Speech ini.


Membaca cerita tersebut Luminas merasa terkagum dengan sang penyihir yang berada di dalam cerita. Ia rela bertarung dengan entitas mengerikan hanya demi memuaskan rasa penasarannya. Ia juga berpikir tentang naga.


‘Apakah di dunia ini juga ada naga? Itu masuk akal di mana dunia ini berdasarkan latar belakang sihir. Tidak mengejutkan bahwa naga benar-benar ada di dunia ini,'


Menghiraukan cerita tentang naga, ia kembali membalikkan halaman buku tersebut dan membacanya lagi. Karena buku tersebut sangat tipis, selain cerita panjang tadi sisa isinya adalah cara untuk melakukan teknik Dragon Speech.


‘Meskipun buku ini singkat... Tapi isinya detail sekali...’


Luminas membaca sisa isi buku tersebut dengan singkat, lalu menutup bukunya dan meletakkannya kembali di atas altar.


Secara mendadak Luminas menjatuhkan dirinya ke tanah dan duduk bersila. Ia kemudian memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam.


‘Dari buku tersebut, teknik Dragon Speech ini mempunyai tiga aspek penting. Pertama adalah komposisi mana, imajinasi, dan juga lisan sang pengguna...’


Luminas menghela nafas sekali lagi, ia mulai mengalirkan mana murni yang ada dalam tubuhnya menuju ke tenggorokannya. Untuk menggunakan Dragon Speech, pengguna harus mengetahui seberapa banyak energi sihir yang digunakan dalam mantra tersebut. Karena itu mustahil untuk menyebutkan mantra yang belum pernah ia pelajari.


Setelah mengumpulkan mana di tenggorokan miliknya, Luminas membayangkan bagaimana proses dan formula yang membentuk sebuah mantra air.


Sebuah formula mantra air sudah terbayang di kepala Luminas, ia melanjutkannya dengan mengucapkan mantra yang ingin dia gunakan secara lisan. Karena mana yang berada di tenggorokannya secara otomatis suara yang dikeluarkan Luminas tampak bergema dan memiliki energi sihir di dalamnya.


““[Water Arrow]””


Sejumlah air mendadak muncul di udara dan membentuk sebuah panah. Luminas lalu mengarahkan panah air yang ia buat ke arah dinding batu ruangan tersebut.


*SPLASH!


“....”


Luminas terdiam dan melihat ke arah dinding yang terkena panah air miliknya. Meskipun itu tidak tergores, tetapi ia merasakan dampak yang jauh lebih kuat dibandingkan ketika ia tidak menggunakan teknik Dragon Speech.


‘.... Apa yang terjadi jika aku menambahkan lebih banyak mana di dalamnya?’


Ketika Luminas memikirkan hal tersebut, tanpa menunggu lama ia langsung mencobanya. Kali ini ia akan menggunakan mantra yang sama, namun dengan jumlah mana yang berbeda.


““[Water Arrow!]””


*WUSWUSWUS!


Sejumlah air yang lebih banyak muncul begitu saja di udara. Kali ini, jumlah panah air yang muncul sangat banyak. Luminas terkejut ketika ia bisa membuat mantra tunggal menjadi sebuah serangan massal hanya dengan meningkatkan jumlah mana yang digunakan.


‘Bagaimana jika seranganku terpusat ke satu titik yang sama?’


*SPLASHSPLASHSPLASH!


Puluhan panah air tersebut melesat dan menghantam dinding batu pada titik yang sama. Setelah semua panah air telah menabrak dinding batu tersebut, Luminas mendekati dinding batu tersebut dan mengecek apakah terdapat kerusakan walaupun itu kecil.


Namun saat melihat dinding batu tersebut tidak tergores satu inci pun, Luminas menghela nafas kecewa. Ia memang sudah menyangkanya, tetapi merasakannya secara langsung tetap saja membuat dirinya sedikit kecewa.


Luminas lalu melangkah mundur dan berjalan menuju tengah ruangan. Ia kembali memejamkan matanya, lalu mengulurkan tangannya seolah sedang memegang sesuatu.


“”[Ice Blade]””


Dalam sekejap sebuah pedang es yang tajam dan indah terbentuk di tangan Luminas. Ia lalu membuka matanya dan melesat ke arah depan.


*SLASHSLASHSLASH!


Luminas mengambil pose berpedang, lalu ia mengayunkan pedang es miliknya dengan sangat cepat. Ia menebas habis altar yang berada di tengah ruangan hingga menjadi potongan-potongan kayu yang kecil.


Luminas menghentikan langkahnya dan ia memandangi pedang es indah yang terbentuk di tangannya.


‘Ini tidak sekuat pedang asli, namun tetap sangat kuat, tetapi...’


Luminas menghela nafas panjang, ia merasa sedikit kecewa karena perlu menggunakan banyak mana hanya untuk mempertahankan pedang ini.


‘Yah, dengan jumlah mana milikku kurasa itu bukanlah masalah dan masih bisa untuk membuatnya lebih kuat lagi... Tetapi aku penasaran dengan satu hal...’


Luminas menghunuskan pedangnya ke arah samping. Selang waktu beberapa saat, sebuah aura putih biru keluar dari tubuh Luminas dan mulai merambat juga ke pedang yang ia pegang.


Ia tersenyum puas karena mengetahui bahwa ternyata senjata yang ia buat dari sihir es dapat dialirkan aura miliknya. Setelah mengibaskan pedang itu beberapa kali ia juga mengetahui bahwa pedang itu tampak jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya.


“Aku rasa, aku harus kembali berlatih dan membiasakan diri,”


.


.


[Kota Arland, Medeia]


Di kegelapan malam kota Arland, sekumpulan prajurit yang memiliki lambang sabit maut di baju besi mereka terlihat sedang berpesta. Mereka duduk di depan api unggun sambil memegang gelas yang berisikan minuman keras.


“Ayo, bersulang!”


“”Ya! Demi kejayaan Kekaisaran Chronos, bersulang!””


Para prajurit tersebut pun meminum minuman mereka dengan sangat cepat, seolah-olah tampak tidak ada hari esok untuk mereka.


“Abang, menurutmu bagaimana perang kali ini?”


“Yah, seperti biasa. Kekaisaran Chronos pasti bisa menang dengan telak seperti yang sudah-sudah,”


Prajurit tersebut membalas pertanyaan rekannya dengan suara sengau sambil cegukan. Wajahnya tampak sangat merah, sepertinya ia terlalu banyak minum dan sudah mabuk berat.


“Aku dengar bahwa malam ini panglima tertinggi akan datang dari Kekaisaran,”


“A-ah? Mana kutahu? Itu mah urusan para petinggi militer. Yang penting, kita nikmati saja minuman malam ini! Karena siapa yang tahu bahwa mungkin kau akan mati besok kan? Hahaha!”


Prajurit tersebut tetap meneguk minuman kerasnya meskipun sudah mabuk berat.


“A-abang! Jangan katakan hal seperti itu!”


Sekumpulan prajurit tertawa dengan keras melihat pria yang ketakutan tersebut.


“Hahaha! Kalau begitu, ayo lanjut minum!”


“”YA!!””


Ketika para prajurit sedang sibuk dengan minuman mereka, para petinggi militer Chronos yang berada di kamp ini tidak terlihat di mana pun dalam kota tersebut.


Dalam gelap gulitanya malam di hutan, dari luar tembok perbatasan Arland terlihat banyak obor yang menyala dan sekumpulan prajurit yang sedang berbaris sejajar dan terlihat membentuk sebuah jalan.


Mereka mengenakan baju besi lengkap mereka dengan peralatan yang mengkilap. Para prajurit tersebut adalah para prajurit elite dari pasukan Kekaisaran Chronos. Mereka berdiri sejajar sambil mengacungkan pedang dan mengibarkan bendera mereka ke atas.


Seorang pria kurus dan juga wanita bertubuh besar terlihat memimpin para prajurit tersebut. Mereka merupakan dua dari 7 Pahlawan Chronos, yaitu Granger Graziette dan juga Marsha Benwith. Serta di belakang mereka terdapat ajudan dan juga penasihat pada perang kali ini, Yulius sang ahli strategi dan Farmith.


Di malam yang gelap tersebut, mereka terus memperhatikan ke arah hutan seperti sedang menunggu sesuatu sambil memasang ekspresi cemas.


Setelah beberapa saat, suara kaki kuda yang berjalan dengan pelan terdengar dari arah hutan tersebut.


Dari kegelapan, muncul sebuah siluet seorang pria yang tengah menunggangi kuda. Pria tersebut memiliki wajah yang garang dan juga rambut keriting berwarna coklat dengan panjang sedada.


“Kami menyambut komandan tertinggi!”


“”Kami menyambut komandan tertinggi!!””


Suara teriakan mereka memecahkan kesunyian hutan pada malam itu.


Setelah mendengar sambutan dari para prajurit di depannya, pria tersebut mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah Yulius.


“Yulius, bagaimana situasi perang saat ini?”


Pria tersebut bertanya kepada Yulius.


“Ya, komandan tertinggi. Situasi perang kali ini tetap terkendali, musuh sudah dipukul mundur ke arah Benteng Giant. para prajurit juga sedang berada pada moral tertinggi. Jika tidak ada masalah, seharusnya kita akan memenangkan perang kali ini,”


Yulius menjelaskannya dengan sopan sambil sedikit menunduk.


“Apakah kamu sudah mendapatkan informasi mengenai siapa yang memegang komando tertinggi musuh?”


“Maafkan saya, tetapi pihak musuh tampaknya tidak membiarkan para mata-mata untuk mengetahui siapa yang memimpin perang tersebut,”


Yulis menunduk meminta maaf.


“Hmm,”


Pria tersebut mengelus dagunya dari atas kudanya.


“Tapi, seharusnya para musuh sudah bisa menebak kedatangan Anda, dan mengirimkan orang yang sama kuatnya dengan Anda atau lebih banyak master untuk menghadang Anda,”


Yulis lanjut menjelaskan.


“Seseorang yang sekuat diriku di medan perang? Apakah itu mungkin Ludwig Dynema?”


Pria tersebut tampak tersenyum dan melihat ke arah langit-langit malam.


“Yah, tidak masalah, siapa pun yang akan datang, aku akan membunuhnya,”


Pria tersebut mengatakannya dengan penuh percaya diri.


“Tentu saja, komandan tertinggi,”


Pria yang percaya diri bisa menghabisi siapa pun musuh yang datang dengan kekuatannya adalah, yang terkuat kedua dari 7 Pahlawan Chronos, komandan tertinggi dari perang ini, Jack Crimson. Salah satu grand master milik Chronos terjun langsung menuju medan perang.


.


.