
“Apa?! Tuan Putri ingin berlatih tanding denganku?!”
Scott terkejut dengan permintaan yang baru saja dilontarkan oleh Luminas.
Meski Luminas sudah sering meminta Scott untuk melatih dirinya, ia juga sering untuk berlatih tanding dengan ksatria biasa di tempat latihan ini. Tapi baru kali ini ia mendengar Luminas meminta untuk berlatih tanding dengan dirinya.
“Ya, Kapten Scott. Aku mendengar bahwa kamu adalah ksatria aura terbaik yang berada di kediaman ini saat ini,”
Scott bergidik ketika mendengar kata saat ini dari Luminas. Ia sedikit tersinggung karena ia terbaik di kediaman ini karena hampir seluruh ksatria di sini pergi dengan Selena.
“Jika ingin berlatih tanding denganku, setidaknya Anda kalahkan dulu Ksatria aura yang lain,”
Scott mengatakan hal tersebut dengan nada yang sedikit kesal, namun masih sopan.
Ia lalu menunjuk salah satu orang yang sedang berlatih di tengah tempat latihan dan menyuruhnya untuk mendatanginya.
“Tuan Putri, jika kamu ingin berlatih tanding denganku, coba lawanlah dulu orang ini,”
“Apa?! Tapi kapten, kenapa harus—“
“Diamlah, merupakan sebuah kehormatan berlatih tanding dengan tuan Putri, kau tahu?”
Scott menutup mulut rapat-rapat ksatria yang ia seret ke sini.
“Y-ya Kapten! Sebuah kehormatan untuk saya, Tuan Putri!”
Ksatria tersebut menundukkan tubuhnya 180°, ia cukup terkejut dengan kehadiran Luminas karena ia diseret ke sini tanpa mengetahui hal tersebut.
“Jadi Tuan Putri, Anda harus melawan bocah ini. Dua tahun yang lalu dia menerobos ke Ksatria Aura tingkat menengah di umurnya ke 25. Aku yakin dalam beberapa tahun lagi bocah ini sudah melamapuiku,”
Scott mengusap-usap kepala ksatria tersebut seakan dia adalah adiknya sendiri.
“Jadi, Tuan Putri. Apakah kamu masih ingin melawannya?”
Scott bertanya dengan sopan, ia menanyakan hal tersebut hanya karena murni khawatir terhadap Luminas.
“Hmm? Tentu saja! Cukup mengesankan melihat Scott mengakuimu. Apakah kamu mau jadi lawanku?”
Luminas cukup tertarik dengan ksatria tersebut, dan ingin mencoba untuk melawannya.
“Ya, Tuan Putri! Sesuai dengan perintahmu!”
“Kalau begitu, siapa namamu?”
“Namaku adalah Arga, Tuan Putri!”
“Kalau begitu, ayo kita langsung berlatih tanding,”
“Suatu kehormatan untukku, Tuan Putri!”
Setelah mereka semua selesai berbincang, Scott meminta mereka untuk pergi dan mengosongkan tempat latihan. Ia ingin memberikan Luminas tempat bertarung yang luas sehingga ia bisa bergerak dengan leluasa.
Ketika mereka disuruh menyingkir oleh Scott, mereka berkumpul di pinggir lapangan tempat latihan dan membentuk sebuah lingkaran. Bukan hanya para ksatria yang berlatih di situ, tetapi ksatria yang sedang tidak berjaga serta para pelayan ikut mengitari tempat Luminas akan berlatih tanding.
Scott melirik Luminas yang berdiri di tengah lapangan sambil berhadap-hadapan dengan Arga, ia tampak tersenyum lebar dan penuh percaya diri.
Ia cukup heran mengapa Luminas bisa tampil dengan percaya diri seperti itu setelah ia mengenakannya dengan seorang ksatria paling potensial di kediaman ini.
Ia mengenalkannya dengan Arga agar membuat Luminas merasa tidak ingin bertarung lagi. Scott memberi tanda kepada Luminas bahwa bertarung dengan ksatria aura masih terlalu dini untuk dirinya.
Setelah itu, Scott kemudian berdiri di tengah-tengah mereka berdua yang saling berhadap-hadapan. Ia mengulurkan kedua tangannya untuk memberi tanda kepada mereka berdua.
“Apakah kalian siap?”
Atas pertanyaan dari Scott, keduanya mengangguk sebagai tanda persetujuan.
“Bersedia, siap,”
Scott mulai menjauhi mereka berdua.
“DAN MULAI!!”
Ketika tanda mulai sudah diberikan Scott, mereka berdua langsung melesat maju.
‘Aku harus mengakhiri pertarungan ini secepat mungkin tanpa membuat Tuan Putri terluka,'
*BRAK!!
Kedua pedang mereka berbenturan dan menciptakan sebuah suara yang keras. Arga sedikit terkejut karena Luminas yang tidak terdorong sedikit pun meski Arga memakai banyak kekuatannya.
Meskipun terkejut, ia dengan cepat dapat mengembalikan ketenangannya. Arga dengan agresif mulai menyerang Luminas. Ia mengayunkan pedang kayunya bertubi-tubi ke arah Luminas untuk membongkar pertahanannya.
Dihujani serangan oleh Arga, Luminas terpukul mundur sedikit demi sedikit.
‘Bagus!!’
Arga merasa senang karena melihat Luminas yang kesulitan dalam menanggapi serangannya. Meskipun ini sedikit di luar perkiraannya, tapi ini masih berjalan sesuai dengan keinginannya.
Arga sebenarnya sangat mengagumi Luminas, meskipun dengan tubuh kecil seperti itu dia dapat menanggulangi serangan Arga.
Seperti yang semua orang tahu, fisik seorang Ksatria aura berbeda dengan fisik Ksatria normal. Sehingga dapat menahan serangan dari Arga adalah salah satu bakat fisik luar biasa yang dimiliki oleh Luminas.
Scott melihat Luminas yang terdesak dan berpikir bahwa pertandingan ini akan segera berakhir, bukan hanya Scott tetapi semua orang yang menonton pertandingan tersebut berpikir demikian. Mereka berpikir bahwa Luminas tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk menghadapi Arga saat ini.
‘Ini sudah berakhir...’
Scott memahami bahwa lawan yang dilawan Luminas kali ini cukup berat, karena Scott tidak pernah melihat Luminas berlatih dengan ksatria aura sebelumnya.
Meskipun Luminas sangat berbakat, tetapi yang dilawannya adalah seorang ksatria aura tingkat menengah. Dengan tubuhnya yang masih kecil, bahkan Luminas akan kesulitan melawan Ksatria aura tingkat rendah ataupun ksatria biasa.
‘Bahkan bisa bertahan melawan Arga... Anda memang luar biasa Tuan Putri...’
Namun ada satu hal yang tidak diketahui oleh Scott dan semua orang.
Luminas kini adalah seorang ksatria sihir. Ia sudah memiliki aura dan fisiknya pun telah berubah.
Luminas melihat Arga yang terus menyerang dirinya untuk mengakhiri pertandingan ini. Ia mulai tampak telah kehilangan fokusnya, ia kini meremehkan Luminas.
Senyuman licik tersungging tipis di bibirnya. Setelah terus bertahan dan mencari kesempatan untuk Arga lengah, Luminas akhirnya menemukan sebuah momen.
Arga yang sedang sibuk mencari cara untuk mengakhiri pertandingan, ia akhirnya menemukan sebuah celah. Luminas pada saat itu terlihat sudah lemas dan pedang yang ia pegang di tangannya sudah mengendur, Arga berpikir bahwa Luminas sudah lelah dan tangannya sakit ketika menerima serangan yang terus-menerus. Tanpa berbasa-basi ia langsung mengambil kesempatan untuk menyerang.
Ia mengayunkan pedangnya dengan kuat secara lurus membentuk sebuah garis vertikal.
*BUUGH!
Luminas terkulai mundur ketika menerima serangan kuat dari Arga. Melihat Luminas yang pertahanannya telah terbuka dan penuh celah, Arga berniat ingin langsung mengakhiri pertandingan ini. Tanpa berbasa-basi ia langsung menyerang Luminas yang sudah tidak berdaya. Namun—
“!!!”
Arga terkejut ketika sebuah angin yang cukup kuat mendorong lengannya dari bawah sehingga tangannya terangkat ke atas dan memperlihatkan celah yang cukup besar.
Arga bingung dengan hal yang baru saja terjadi. Ia bertanya-tanya bagaimana angin itu bisa muncul, ia tidak tahu kapan Luminas menggumamkan sebuah mantra.
Namun ia merasa cukup tenang melihat jarak dirinya dengan Luminas. Dengan jarak seperti itu, tidak mungkin Luminas bisa bergerak secepat itu kemari. Ia merasa bahwa masih ada cukup waktu untuk bertahan bahkan jika Luminas menyerangnya dengan mantra. Tetapi —
“”[Wind Step]””
*WUSSSS
Dalam sekejap Luminas berada di depan Arga. Ia mengalirkan aura di seluruh tubuhnya agar bisa bergerak lebih cepat, bahkan ia menggunakan mantra angin untuk memperingan langkahnya sehingga kecepatan Luminas saat ini benar-benar luar biasa cepat.
*BUGGHH
Sebuah serangan mendarat di perut Arga. Tanpa sempat merespons, Arga terkena serangan telak dan memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Arga bahkan tidak menyadari bahwa Luminas telah bergerak mendekat.
Luminas juga mengalirkan aura ke pedangnya sehingga serangannya cukup kuat untuk membuat seorang ksatria aura tingkat menengah pingsan.
Pertandingan berakhir dalam sekejap, semua orang yang menonton pertandingan tersebut menatap Luminas dengan mata terbelalak dan tidak bisa menutup mulut mereka.
Selama beberapa saat, suasana di tempat latihan tersebut menjadi hening. Bahkan Scott yang melihat hal tersebut terkejut dan tidak mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.
“”WAAAHHH!!!!””
Mereka semua berseru dengan keras setelah tersadar dari keterkejutan mereka. Mereka semua bersorak-sorai atas Luminas yang berdiri di arena terakhir kali dan menjadi pemenang dalam pertarungan tersebut.
“Kamu memang hebat, tetapi sayangnya karena lengah, kamu jadi kalah,”
Luminas memuji lawan bertandingnya, Arga. Luminas merasa bahwa pertarungan kali ini cukup mudah karena lawannya meremehkan dirinya. Seandainya mereka berdua bertarung dengan kekuatan penuh dari awal, pertarungan ini tidak akan berakhir semudah itu.
Luminas belajar untuk membuat lawannya lengah dari Selena. Ia masih sangat ingat ketika ia ditipu oleh ibunya, dan kalah tidak berdaya karena ibunya menggunakan sihir secara mendadak. Setelah kejadian tersebut, Luminas belajar bahwa akan lebih baik bertarung sambil sebisa mungkin menyembunyikan kartu miliknya.
‘Yah, meskipun kita bertarung dengan sekuat tenaga, aku tetap bisa menang kok,'
Luminas berpikir demikian dan mengangkat hidungnya tinggi-tinggi. Sepertinya ia bukan hanya belajar cara bertarung dari Selena, saat ini ia bahkan meniru kepercayaan dirinya. Saat ini Luminas tampak semakin mirip dengan ibunya.
Luminas melirik ke arah Scott yang tampak masih tidak percaya dengan pemandangan yang ada dihadapannya. Ia tersentak begitu Luminas menatapnya dengan tatapan yang menantang.
‘Aku masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi di depanku ini... Sebenarnya apa itu? Bagaimana Tuan Putri bisa bergerak secepat itu? Apakah dia sekarang bisa menggunakan aura? Tidak, itu mustahil untuk bergerak dengan kecepatan seperti itu ketika masih baru menjadi seorang ksatria aura...’
Scott memperkirakan bahwa Luminas menjadi ksatria aura adalah baru-baru ini, karena beberapa hari yang lalu ia masih melihat Luminas sedang berlatih pedang di tempat latihan bersama dengan Dorothy dan juga dirinya.
‘Tetapi apakah dia bisa menjadi ksatria aura secepat itu? Hanya sekitar 4 hari? Aku bahkan melatih dan mendedikasikan diriku selama bertahun-tahun hanya untuk menjadi seorang ksatria aura tingkat rendah!’
Saat Itu, Scott tidak mengetahui bahwa Luminas menjadi seorang ksatria sihir yang tingkatannya lebih sulit dibanding ksatria aura biasa hanya dalam dua hari.
‘... Atau dia menggunakan sihir? Sihir macam apa yang bergerak secepat itu dan membuatnya berada di depan Arga dalam sekejap? Apakah Yang Mulia mengajarkan sihir khusus? Dan lagi, aku selalu memperhatikan Tuan Putri sejak tadi, dan aku tidak pernah melihatnya merapal mantra!’
Banyak pertanyaan terbesit di benak Scott sekaligus. Namun bahkan setelah memikirkannya dalam-dalam, ia tidak bisa memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ia bahkan tidak pernah melihat hal yang seperti itu di medan perang.
‘Itu mungkin jika orang tersebut adalah seorang ksatria aura tingkat puncak, tapi Tuan Putri masih....’
“Kapten Scott...”
Ketika ia sedang tenggelam dalam pikirannya, suara dari Luminas menarik dirinya kembali ke dalam kenyataan. Ia tidak menyadari kedatangan Luminas yang menghampiri dirinya karena terlalu fokus dalam berpikir.
“Ya, Tuan Putri. Ngomong-ngomong, Anda sangat hebat. Saya bahkan tidak tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya,”
Scott mengucapkan selamat kepada Luminas, sambil menundukkan kepalanya karena sebagai bawahan ia terlalu meremehkan Luminas dengan membuatnya merasa ingin menyerah. Namun Luminas mengakhiri pertarungannya dengan brilian. Ia mampu mematahkan semua prasangka yang mengarah padanya.
“Tidak perlu merasa malu, Kapten Scott. Aku hanya ingin menagih janjimu,”
“Janji saya?”
Scott bingung dengan pernyataan dari Luminas.
“Ya, bukankah jika aku menang melawan Arga, aku bisa langsung melawanmu?”
“!!!!”
Scott terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Luminas. Ia tidak menyangka bahwa setelah bertarung dengan Arga ia masih meminta pertarungan melawan dirinya.
Scott tertegun sejenak dan tidak menjawab Luminas.
Ia lalu menarik sebuah nafas panjang dan menghembuskannya untuk mengembalikan ketenangannya.
“Tuan Putri, Anda telah bertarung dengan Arga. Apakah Anda yakin ingin bertarung dengan saya lagi?”
“Tentu, kenapa tidak?”
“Tetapi selain karena Anda kelelahan, saya juga telah mengetahui rahasia Tuan Putri yang merupakan seorang ksatria aura juga. Tentu saja trik yang Anda lakukan pada Arga tidak akan berlaku lagi pada saya,”
Scott mengungkapkan perasaannya dengan jujur, ia berkata demikian bukan untuk mengejek Luminas, tetapi karena ia tidak ingin melukai Luminas.
Mendengar pernyataan dari Scott, Luminas menghela nafas. Ia tahu sikap Scott saat ini atas dasar kekhawatiran dirinya pada Luminas. Namun ia juga ingin bertarung melawan Scott dan menguji sejauh mana kemampuannya.
“Dengarkan aku, Kapten Scott. Meskipun Arga mengetahui kemampuan asliku, hasilnya tidak akan berubah,”
Luminas mendekati Scott dan mengatakannya dengan nada yang penuh kepercayaan diri.
Scott tertegun ketika melihat Luminas yang seperti itu. Sikap yang Luminas tampilkan bukanlah sebuah kesombongan, melainkan sebuah kepercayaan diri yang percaya berdasarkan kekuatan miliknya. Scott pernah melihat yang seperti itu dalam hidupnya, itu adalah ketika ia melihat Selena pertama kali.
Ketika ia baru menemui Selena di medan perang saat masih menjadi prajurit biasa, Scott heran mengapa Selena bisa mengatakan hal yang meyakini bahwa dirinya pasti akan menang. Awalnya dia merasa ragu dan menganggap Selena sangat sombong. Namun ketika ia maju langsung ke medan perang, semua perkataannya dibuktikan ketika dia mulai menunjukkan kekuatannya.
Saat itu Scott berpikir, bahwa itu bukanlah sebuah kesombongan tanpa dasar, melainkan sebuah kepercayaan diri yang sangat yakin dengan kekuatan yang dimilikinya. Mulai saat itu, Scott berlatih dengan sangat keras agar bisa diakui oleh Selena dan bergabung dengan Ordo Ksatria miliknya.
‘... Dia sangat mirip dengan ibunya...’
Saat Scott memikirkan Luminas yang sangat mirip dengan Selena, ia tersenyum hangat.
Scott lalu sedikit menunduk dan menyatukan kedua tangannya.
“Mohon bimbingannya, Tuan Putri,”
“Aku juga, Tuan Scott,”
Luminas merasa sangat senang ketika seorang ksatria hebat seperti Scott menerima tantangannya.
.
.