Themis, The Flower of Justice

Themis, The Flower of Justice
Chapter 2 — Pesta Dansa



[33 Aquarius, tahun 1353 Kalender Helios (Malam hari)]


Pada keheningan malam yang biasa di istana kerajaan Medeia, terlihat orang-orang dengan pakaian mewah berlalu-lalang di sebuah mansion besar. Sepertinya mereka adalah para bangsawan dan utusan yang dikirim oleh kerajaan lain.


Setelah para utusan kerajaan lain memberi ucapan selamat pada raja kerajaan Medeia, di malam hari mereka diundang untuk pesta dansa. Pesta itu dilakukan di salah satu mansion pribadi milik sang raja.


Mansion itu cukup besar, bahkan masuk akal untuk dibilang kastil. Mansion itu terdiri dari 4 lantai. Kecuali lantai satu, setiap lantai terdapat puluhan kamar dengan masing-masing sepasang jendela di setiap kamarnya, dan tampilan depan mansion terdapat pilar-pilar berwarna putih dengan corak indah yang selaras dengan cat mansion tersebut.


Di depan pintu masuk, terhampar karpet mewah berwarna merah dan juga dua orang butler yang dipersiapkan untuk menyambut tamu. Dua orang butler tersebut bukanlah orang biasa, mereka adalah seorang Ksatria Aura berpengalaman dari kerajaan Medeia. Mereka juga dilatih menjadi pelayan untuk dipersiapkan dalam misi menyamar ataupun agar mampu melayani dan melindungi sang tuan sekaligus.


Ketika masuk ke dalam mansion, tampak sebuah aula besar dengan interior dan dekorasi mewah di seluruh penjuru. Lantainya dihias dengan karpet merah, ditambah dengan kap lampu tengah dan lampu dinding yang menyinari seluruh aula hingga ruangan tersebut tampak sangat elegan.


Di ujung aulanya terdapat sepasang tangga berwarna putih dengan pola indah serta di atas permukaan tangga juga dihampar sebuah karpet berwarna merah yang menunjukkan kesan bahwa bukan hanya aula saja yang dihias, tapi seluruh ruangan juga dihias dengan sangat baik.


Penghuni aula dipenuhi oleh orang-orang dengan pakaian mewah serta paras yang rupawan. Mereka adalah para bangsawan tingkat atas kerajaan Medeia dan para utusan dari kerajaan lain. Para ksatria yang datang dari kerajaan lain juga hadir tetapi tidak menggunakan armor mereka. Para ksatria didandani oleh para pelayan mansion dan mengenakan pakaian mewah yang sama seperti para bangsawan. Meskipun para ksatria bukanlah bangsawan, mereka diperlakukan dengan baik. Itu memberikan kesan bahwa kerajaan Medeia selalu menyambut para tamu dengan baik, meskipun mereka bukan bangsawan mereka tetap diberikan perlakuan yang baik.


Para bangsawan dari setiap utusan mereka bercengkerama dengan utusan kerajaan lain maupun bangsawan lokal. Mereka bercakap-cakap serta bersulang dan minum bersama. Setiap bangsawan yang saling berbicara di pesta selalu memiliki rombongan di belakangnya.


Rombongan di belakang para bangsawan adalah para ksatria dengan pakaian mewah yang tampak seperti bangsawan. Itu menandakan bahwa para bangsawan tidak percaya dan waspada terhadap lingkungan sekitarnya. Meskipun di dalam pesta dengan keamanan ketat, mereka senantiasa harus melindungi tuan mereka.


Para putri dari kerajaan Medeia bersosialisasi dengan para bangsawan serta utusan dari kerajaan lain untuk membangun hubungan mereka demi kelangsungan kerajaan, kecuali Luminas. Luminas lebih memilih menyendiri di sudut ruangan dan menikmati’ tehnya ketimbang harus bersosialisasi dengan orang lain, kecuali jika orang tersebut menyapa dan menghampiri Luminas, ia akan menyapa mereka balik dengan senyuman yang paling ramah. Karena itu meskipun Luminas penyendiri, ia tetap populer di kalangan bangsawan karena kecantikan dan keramahannya.


Ketika sedang menikmati teh, seorang pria dengan rambut hitam legam dengan mata kuning yang mencolok menghampiri Luminas, ia adalah pangeran Dustin Van Selene dari kekaisaran Selene.


“Dustin Von Selene menyapa putri Luminas”


Pangeran Dustin tersenyum dan sedikit membungkuk untuk memberikan penghormatan.


Kemudian untuk menyapa sang pangeran, Luminas bangkit dari tempat duduknya dan membungkuk untuk memberikan penghormatan kembali.


“Ah, Luminas Von Medeia menyapa kembali pangeran Dustin, silahkan duduk”


Luminas mengatakan hal tersebut sambil memberikan senyumnya yang menawan. Melihat senyum Luminas, pangeran Dustin tersipu.


“A-ah, suatu k-kehormatan bertemu salah satu kecantikan kerajaan”


Dustin yang tersipu, berbicara dengan tersendat-sendat. Melihat perilaku pangeran Dustin, putri Luminas meresponsnya dengan tertawa kecil


“Fufu, anda pandai sekali memuji pangeran. Suatu kehormatan dipuji oleh salah satu pangeran yang dikenal sebagai pangeran terupawan kekaisaran dan juga salah satu murid dari master Magic Tower”


“A-ah Anda terlalu menyanjung saya”


Pangeran Dustin menarik kursi dan duduk di depan Luminas, setelah Pangeran Dustin duduk barulah Luminas menyusul dan duduk. Ketika saling berhadapan dengan Luminas, Pangeran Dustin wajahnya semakin memanas, ia tampak seperti anak remaja yang baru jatuh cinta. Ia semakin tergagap ketika berbicara. Meskipun pangeran Dustin tergagap, percakapan tetap berjalan dengan lancar.


“Putri Luminas, apakah anda ingin minum dengan saya?”


Seorang pelayan datang menghampiri mereka dan membawakan berbagai minuman, Pangeran Dustin mengambil satu.


“Ah terima kasih atas niat baik anda. Tapi maaf, saya tidak meminum sesuatu yang beralkohol, saya hanya minum teh.”


Putri Luminas menolak halus dengan suara yang lembut. Mendengar suara meminta maaf Luminas, Pangeran Dustin tersipu kembali. Ia merasa tidak enak karena seakan ia sudah memaksa Luminas ke hal yang tidak ia sukai


“A-ah ? Maafkan aku tuan putri. A-aku bukannya memaksa tuan putri melakukan hal yang tidak disukai. A-aku hanya-“


Pangeran Dustin berbicara dengan tergagap, ia terlihat seperti telah melakukan dosa besar.


“Ah, tidak apa-apa Pangeran. Justru aku yang minta maaf, karena telah menolak kebaikan pangeran”


Luminas berusaha menenangkan pangeran yang terlihat seperti merasa bersalah.


“T-tidak itu bukan salah putri! Itu sepenuhnya salahku, tuan putri tidak perlu merasa bersalah!”


Sang pangeran malah semakin merasa bersalah. Kemudian secara tiba-tiba sang putri menggenggam tangan sang pangeran


“Tidak, bukan itu maksud saya. Pangeran juga tidak perlu merasa bersalah. Kenapa kita tidak berbincang sembari kita menikmati hal yang kita sukai masing-masing”


Luminas tersenyum cerah. Melihat senyum cerah Luminas, dan sambil dipegang tangannya. Pangeran Dustin kalut dalam kebahagiaan dan merasa dia adalah orang paling beruntung di dunia ini.


‘Ah, dia adalah seorang dewi. Dewi yang turun dari langit. Sangat menyilaukan'


Mereka pun berbincang sambil menikmati kesukaan satu sama lain. Pembicaraan berjalan sangat lancar, pangeran Dustin juga terlihat sangat bahagia. Setelah berbincang cukup lama dengan Luminas, pangeran Dustin memutuskan untuk pamit mengundurkan diri karena ia merasa tak enak dengan sang putri.


“Ah, sepertinya saya terlalu lama mengambil waktu sang putri”


“Ah tidak apa-apa, sungguh menyenangkan dapat bercakap-cakap dengan anda”


Pangeran Dustin bangkit dari kursinya setelah bertukar beberapa kata. Ia menunduk dan memberikan penghormatan sebelum mengundurkan diri, Luminas juga bangkit dari tempat duduknya dan memberikan penghormatan kembali. Sang pangeran melambaikan tangannya dan berbalik mengisyaratkan sampai ketemu kembali. Luminas merespons dengan tersenyum dan melambaikan tangannya kembali.


Setelah pangeran Dustin pergi, ekspresi Luminas menjadi dingin kembali. Seakan-akan Luminas ramah yang berbicara dengan pangeran Dustin tidak pernah ada. Ia bergumam di dalam hatinya


‘Dustin Von Selene...’


Dustin Von Selene, ia merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Diantara saudaranya, selain memiliki paras yang rupawan, ia juga memiliki bakat sihir yang hebat. Keluarga kekaisaran Selene selalu mencetak para warrior yang hebat sepanjang sejarah kekaisaran, bukan berarti tidak ada penyihir, sangat jarang keluarga Selene memiliki seorang penyihir yang berbakat.


Dustin adalah seorang penyihir dengan bakat langka, meskipun itu dibandingkan dengan seluruh penyihir yang ada, bakat Dustin tetaplah superior. Master dari Magic Tower menjadi tergiur melihat bakat Dustin dan ingin merekrutnya ke dalam Magic Tower, Ia menawarkan posisi menjadi murid langsungnya. Sang kaisar yang merupakan ayah Dustin, dengan sukarela menyerahkan Dustin kepada Magic Tower. Sang kaisar beranggapan bahwa merupakan kesempatan emas untuk menjalin hubungan antara Kekaisaran Selene dengan magic tower sehingga ia tak ragu untuk menjual putranya sendiri kepada Magic Tower.


Begitu pula dengan ayahnya Luminas, Elios Von Medeia. Ia berupaya untuk menjodohkan Luminas dengan Dustin demi menjalin hubungan dengan kekaisaran Selene sekaligus dengan Magic Tower.


Di mata politik, itu merupakan langkah yang luar biasa seperti mengenai dua burung dengan satu batu. Luminas juga mengakui bahwa itu merupakan keputusan terbaik, namun ia tetap tidak dapat menerimanya. Luminas menganggap, seperti kaisar Selene, ayahnya Luminas juga menjualnya kepada kekaisaran Selene demi kerajaan Medeia tanpa mempertimbangkan pendapat Luminas. Serta tak lama setelah acara ini, akan diputuskan pertunangan antara Luminas dengan pangeran Dustin dari kekaisaran Selene.


Mengingat hal tersebut, ekspresi Luminas semakin mendingin. Bukan karena ia tak menyukai keputusan ayahnya, tetapi ia menentukannya tanpa mempertimbangkan pendapatnya.


Ketika Luminas sedang tenggelam di dalam pikirannya, ia tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara kecil seperti seseorang menarik pedang dari sarungnya. Luminas menatap lebih tajam, ia melihat seorang pria dari rombongannya pangeran Dustin mendekati pangeran Dustin dengan hati-hati dan tanpa suara.


Melihat pemandangan yang janggal tersebut, Luminas langsung merespon dan melesat ke arah pangeran Dustin. Pria yang sedang mendekati pangeran Dustin tiba-tiba menerjang ke arah pangeran Dustin dengan pedang di tangannya. Ia menghunuskan pedang tersebut dengan sangat cepat. Namun-


*STAB


Darah menetes ke lantai. Namun, itu bukanlah darah dari pangeran Dustin. Melainkan itu darah yang menetes dari tangan Luminas yang menangkap pedang tersebut dengan tangan kosong. Ia melapisi tangannya dengan mana agar tangannya tidak terluka. Namun karena pisau tersebut dialiri mana juga, pedang tersebut mampu melukai tangan Luminas.


Pria tersebut pingsan hanya dengan dua serangan dari Luminas. Meskipun Luminas hanya seorang gadis yang memiliki fisik lebih lemah dibandingkan pria terlatih, ia adalah seorang Ksatria Sihir. Ksatria sihir adalah orang yang mampu mengimplementasikan sirkulasi mana aura sekaligus mengeluarkan sihir.


Seluruh tamu, terutama rombongan pangeran Dustin sangat terkejut. Rombongan pangeran Dustin mulai memasang sikap bertarung dan menghunuskan pedang mereka. Namun mereka bukan waspada terhadap penyerang, mereka mengambil sikap untuk menghadapi Luminas. Ternyata seluruh rombongan pangeran Dustin adalah pembunuh yang dikirim untuk membunuh pangeran Dustin di Medeia.


‘Mereka berjumlah 15 orang... Banyak sekali’


Luminas bergumam kepada dirinya sendiri, 15 orang pembunuh terlatih terlalu berlebihan untuk dihadapi oleh seorang gadis yang baru berusia 15 tahun. Namun karena itu terjadi di istana Medeia, para ksatria Medeia harusnya membantu tuan putri mereka yang sedang kesulitan. Luminas melirik para ksatria yang biasanya berdiri di sepanjang dinding aula, namun mereka tidak ada ksatria yang berjaga di aula. Lalu Luminas melirik ke arah saudarinya, Agnes. Agnes menyeringai sebagai respons terhadap tatapan yang diarahkan kepadanya dari Luminas.


Luminas langsung mengerti, bahwa ini adalah-


‘Pembuhan yang direncanakan’


Namun Luminas tidak panik, sebaliknya ia malah memasang ekspresi yang lebih dingin. Itu adalah ekspresi yang tidak seharusnya dimiliki oleh seorang putri, itu adalah ekspresi seorang pembunuh. Luminas memasang kuda-kuda, bersiap untuk menghunuskan pedangnya. Ia mengamati musuhnya dalam-dalam.


‘Mereka dalam kondisi waspada’


Musuh Luminas semuanya dalam kondisi siaga, yang artinya mereka sudah siap bertarung. Terlebih, mereka semua adalah pembunuh yang terlatih.


‘Kalau begitu aku harus...’


Luminas mencengkeram lebih erat pedang yang ia dapat dari musuhnya. Luminas memusatkan mana di kakinya, semilir angin berhembus. Kemudian Luminas bergumam dengan suara pelan.


“Wind Step”


Luminas melesat ke arah musuh-musuhnya. Langkahnya luar biasa cepat namun tanpa suara. Seperti orang yang berjalan diatas angin, cepat namun tak bersuara. Para pembunuh tersebut bersiaga dan memasang posisi bertahan.


*Tang


Pedang Luminas dan pembunuh tersebut berbenturan. Luminas mengalirkan mantra angin kepada pedangnya sehingga lebih tajam, namun pembunuh tersebut masih menahan serangannya. Tanpa mengurangi tenaga dari serangan pedangnya, Luminas melepas satu tangan pada pedangnya. Ia membentuk tangannya seperti memegang sesuatu. Luminas bergumam kembali


“Wind Blade”


Tangan Luminas yang kosong membentuk sebuah angin berbentuk pedang. Ia menghunuskan pedang angin tersebut ke arah pria tersebut. Karena terkejut, ia sama sekali tidak bisa merespons serangan mendadak dari Luminas. Ia tak mengira bahwa ada orang yang mampu bertarung jarak dekat sembari merapal sihir. Perutnya tertusuk, ia memuntahkan banyak darah. Namun, serangan belum usai. Pedang angin yang tertancap di perutnya mulai mengamuk dan merobek seluruh organ dalamnya dan menciptakan lubang besar di perutnya. Ia langsung tewas seketika.


Para pembunuh-tidak, seluruh tamu terkejut melihat Luminas yang membunuh pria tersebut dengan kejam. Karena beberapa dari mereka tak mampu bertarung, mereka hanya mampu berdiam diri sementara para ksatria mereka bersiaga melindungi mereka sehingga tidak ada yang menolong Luminas.


Setelah membunuh manusia, tatapan Luminas sama sekali tidak gentar. Normalnya, ketika seseorang yang tak pernah membunuh, apalagi seorang gadis yang belum dewasa, mereka pasti akan terkejut dengan pembunuhan pertama mereka, bahkan jika itu seseorang yang suka membunuh mereka setidaknya akan menunjukkan suatu reaksi. Namun Luminas tidak, ia malah menatap musuh-musuhnya semakin tajam. Seakan ia hanya fokus untuk menghabisi para musuhnya.


Para pembunuh yang terkejut rekannya mati begitu saja, mereka berteriak marah. Tiga orang melesat ke arah Luminas. Tiga orang tersebut adalah orang yang terbiasa bekerja sebagai tim, sehingga kesulitan yang dihadapi Luminas sangat tinggi. Orang pertama mengayunkan pedangnya dari atas, dan Luminas menangkisnya dengan satu tangan. Orang kedua melesat dari sampingnya dan menyayat pinggangnya Luminas. Namun Luminas mengulurkan tangannya dan sebuah dinding air muncul menghalangi dan menahan pedang tersebut. Orang ketiga bergerak sebagai orang yang mengeksekusi serangan. Ia muncul dari belakang Luminas dan menusukkan pedangnya ke arah Luminas. Namun-


“Ice Glacier”


Luminas bergumam. Udara menjadi dingin seketika, bahkan nafas seseorang mengeluarkan embun seperti di musim dingin. Sebuah bongkahan es tajam muncul dari belakang Luminas dan menusuk penyerang ketiga hingga tewas. Dua lainnya terkejut, kemudian Luminas kembali bergumam


“Water Thorn”


Air yang menahan serangan penyerang kedua berubah menjadi duri-duri tajam dan menusuknya tanpa ampun. Kemudian Luminas berputar 180° dengan kecepatan luar biasa dan menebas leher penyerang pertama hingga kepalanya terputus. Meskipun membunuh dengan cara yang mengerikan, Luminas tidak bergeming sama sekali. Orang-orang mengira Luminas sangat terkejut hingga tak mampu berkata-kata. Namun para pembunuh yang menatap mata Luminas merasakan perasaan berbeda, jangankan terkejut, matanya menandakan bahwa ia akan menghabisi musuh-musuhnya tanpa ampun.


“M-monster”


Para pembunuh tersebut terkejut melihat perbuatan Luminas. Dari kekuatan hingga aura membunuh, mereka semua kewalahan oleh Luminas. Para pembunuh tersebut menyerang secara bersama-sama sambil berteriak.


“M-MATI KAU MONSTER!!”


“MATILAH!!”


Diserang oleh 12 orang, Luminas masih tidak bergeming. Dia dengan sangat tenang membentuk kuda-kuda berperang yang berbeda. Luminas mengalirkan mananya ke tangan, serta merapalkan sihir tajam dan sihir angin yang menambah efektivitas pedangnya. Luminas memejamkan matanya.


‘Fokus’


Walaupun matanya terpejam, semuanya masih terlukiskan dengan jelas di kepala Luminas. Ia membuka matanya, Luminas melesat, dan mengayunkan pedangnya. Mereka semua terlihat lambat di mata Luminas, atau Luminas saja yang terlalu cepat? Luminas menyerang musuh seperti sedang menari diatas panggung. Gerakan pedang Luminas terlihat ringan dan indah, seperti tidak ada tenaga dalam gerakan tersebut dan hanya ditunjukkan untuk estetika saja.


‘Teknik Pedang Tarian Kupu-Kupu, Formasi Pertama-


[Beauty]'


*CHWAK CHWAK CHWAK


Dengan sangat cepat sebuah tebasan pedang merobek dan mengoyak banyak musuh sekaligus. Badan mereka terpotong dan terkoyak, mata dan mulut mereka masih terbuka, mereka seperti tidak sadar bahwa mereka telah mati karena saking cepatnya kematian mereka.


Dari serangan Luminas, hanya tersisa 2 orang yang hidup. Sebenarnya Luminas mampu untuk menghabisi mereka semua, namun Luminas sengaja menyisakannya untuk diintrogasi.


“M-mundur, j-jangan mendekat!!”


“T-tolong jangan bunuh aku. A-aku akan memberikanmu informasi”


Para pembunuh tersebut jatuh, mereka mundur perlahan karena sangat ketakutan. Mereka memohon agar tidak dibunuh dengan imbalan informasi.


‘Pembunuh yang rela memberikan informasi? Sepertinya mereka tidak profesional. Siapa yang mengirim orang rendahan untuk membunuh seorang pangeran?’ pikir Luminas


“Informasi? Apa kau berkata akan memberikanku informasi jika membiarkanmu hidup?”


Luminas maju perlahan mendekati mereka, nada bicara Luminas membuat mereka sangat ketakutan.


“Y-ya ya ya! Kami akan memberikanmu segala informasi!! Siapa yang mengirim kami, dan siapa dalan-


*SLASH


Kepalanya terjatuh. Mata dan mulutnya masih terbuka menggambarkan bahwa ia tak memperkirakan kematiannya.


“Kau kira aku akan setuju begitu saja? Sekarang giliranmu”


Setelah menghabisi seseorang tanpa berkedip sekalipun, Luminas mengeluarkan suaranya yang sangat dingin. Begitu dingin hingga membuat lawannya membeku ketakutan, seakan terdapat kematian di dalam suaranya.


“HIIIIIII!”


Seorang pembunuh yang tersisa pingsan dengan mulut berbusa karena ketakutan.