Themis, The Flower of Justice

Themis, The Flower of Justice
Chapter 22 — Berlatih Aura



“Kalau begitu, mari kita mulai berlatih aura,”


“Ya, Ibu!”


Luminas menjawabnya dengan nada yang bersemangat.


“Sebelum kita mulai, ibu akan menanyakan satu pertanyaan kepadamu. Lumi, menurutmu apa itu ksatria sihir?”


Luminas menjelaskan, bahwa ksatria sihir adalah seorang ksatria yang melatih aura sekaligus sihir miliknya. Banyak ksatria sihir yang terkenal akan kekuatannya, termasuk Selena. Ia dikenal sebagai salah satu ksatria sihir terkuat dalam sejarah.


“Apakah menurutmu seperti itu? Apa itu berarti para ksatria sihir sangat kuat?”


Mendengar pertanyaan dari ibunya, Luminas memiringkan kepalanya karena bingung.


“Bukankah itu sudah jelas?”


“Ckck, sayangnya kamu salah. Lumi, kenapa semua orang di kediaman ini terkejut ketika berita tentang kamu yang akan menjadi ksatria sihir tersebar dengan luas? Dan kenapa mereka seakan menolak gagasan bahwa kamu akan menjadi seorang ksatria sihir?”


Luminas menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari ibunya.


“Sebenarnya, itu karena seorang ksatria sihir sebenarnya sangat lemah,”


Ketika mengatakan hal tersebut, ekspresi Selena yang tadinya tersenyum ceria berubah seketika menjadi serius.


“!!!!”


“Kamu pasti bertanya-tanya mengapa aku mengatakan bahwa ksatria sihir itu lemah? Sementara para ksatria sihir yang terkenal itu sangat kuat?”


Mendengar pertanyaan dari Selena Luminas mengangguk.


“Hal tersebut dikarenakan kapasitas sihir yang dimiliki oleh setiap orang,”


Selena menjelaskan, bahwa kapasitas sihir yang dimiliki oleh setiap orang itu berbeda. Para ksatria aura mendedikasikan seluruh kapasitas sihir mereka untuk membentuk aura. Sementara para penyihir menggunakan kapasitas sihir mereka untuk mengolah energi bumi menjadi sebuah mantra. Tetapi seorang ksatria aura harus membagikan kapasitas sihir miliknya antara aura dan energi sihir.


“Jika seseorang membagi kapasitas sihir mereka menjadi dua bagian, maka secara otomatis mereka akan melemah. Bukankah kamu bisa membayangkan betapa buruknya jika seseorang memiliki tubuh aura yang tidak begitu kuat, namun sihir yang mereka keluarkan juga sangat lemah? Mereka yang lemah di kedua sisi tentu akan sangat rentan terbunuh,”


“Selain itu, meningkatkan kekuatan seorang ksatria sihir juga sangat sulit. Mereka harus memperkuat aura mereka, namun di sisi lain mereka juga harus memperkuat sihir mereka. Jika kedua hal tersebut telah meningkat maka barulah tingkatan seorang ksatria sihir dapat meningkat,”


Lanjut Selena.


Mendengar penjelasan dari ibunya, Luminas mengangguk paham. Sekarang ia mengerti mengapa para penghuni kediaman ini begitu khawatir ketika mereka mendengar Luminas akan menjadi ksatria sihir.


Tentu saja banyak orang yang menentang ketika seseorang yang memiliki bakat untuk menjadi penyihir agung dipupuskan hanya karena ego Selena untuk melatih putrinya agar menjadi sepertinya.


“Kalau begitu, Lumi. Setelah mendengarkan hal tersebut, apakah kamu masih ingin menjadi seorang ksatria sihir? Tingkat kesulitannya sangat tinggi, namun kekuatan yang didapat tidak sepadan dengan kesulitan tersebut. Karena itulah, apakah kamu benar-benar yakin?”


Mendengar pertanyaan dari Selena, Luminas terdiam untuk sejenak. Ia menutup matanya dan menenggelamkan dirinya dalam pikirannya.


Setelah beberapa saat, Luminas membuka matanya dan mengeluarkan ekspresi yang penuh tekad.


“Aku bersedia menjadi seorang ksatria sihir, ibu,”


Dari penjelasan Selena, Luminas menjadi bimbang untuk sesaat. Ia mungkin saat ini mempunyai bakat untuk menjadi seorang penyihir terkuat, jika ia menjadi seorang ksatria sihir maka ia harus membuang prospek tersebut. Namun ia merasa bahwa menjadi seorang penyihir terkuat saja tidak cukup.


Luminas berpikir, bahwa jika ingin menjadi orang yang sangat kuat, ia harus mengambil sebuah risiko yang tinggi.


‘Untuk melindungi kehidupan yang aku miliki, aku harus menjadi yang sangat kuat!’


Meskipun jalan yang dipilih Luminas penuh akan risiko, namun disisi lain ia juga percaya dengan pertimbangan ibunya. Ia berpikir bahwa ibunya memintanya untuk menjadi seorang ksatria sihir karena Luminas memiliki sebuah potensi.


Melihat Luminas dengan wajah penuh tekad menyetujui permintaannya, Selena tersenyum.


“Bagus, kalau begitu, mari kita langsung mulai,”


“Ya, Ibu!”


Setelah itu, Luminas diminta Selena untuk duduk bersila di tengah ruangan batu tersebut. Lalu Selena duduk tepat di belakang Luminas sambil menyentuh punggungnya dengan telapak tangan.


“Putriku, ibu peringatkan terakhir kali. Ini akan sangat berbeda dengan memasukkan energi sihir ke dalam tubuhmu untuk menjadi mantra. Memasukkan energi sihir secara paksa ke dalam tubuh untuk menjadi aura akan sangat menyakitkan. Meskipun demikian, apakah kamu tetap bersedia?”


Mendengar pernyataan Selena, Luminas menjadi gugup dan menelan ludahnya.


“... Aku tetap bersedia,”


“Bagus, kalau begitu akan aku mulai sekarang,”


Setelah mendengarkan jawaban dari Luminas tanpa menunggu lama langsung mengalirkan aura dari dalam tubuhnya menuju tubuh Luminas.


Ketika sedang mengeluarkan energi sihir, tubuh Selena memancarkan aura perak keabu-abuan. Energi sihir yang dipancarkan oleh Selena tersebut mengalir menuju lengan dan terfokus di telapak tangan yang sedang menyentuh punggung Luminas.


Seluruh energi sihir yang dikeluarkan Selena dikumpulkan di telapak tangannya. Lalu kemudian ia menekan sedikit demi sedikit telapak tangannya ke punggung Luminas.


Tampak energi sihir keabu-abuan milik Selena sedang memasuki tubuh Luminas secara paksa.


“Ughhh,”


Luminas mengerang ketika energi sihir milik Selena memaksa masuk ke dalam tubuhnya. Punggungnya terasa sangat panas dan nyeri. Seakan-akan sebuah pisau yang dipanaskan sedang menusuk tubuh Luminas secara perlahan.


Dari punggung Luminas, energi sihir mulai tersebar ke seluruh tubuh Luminas. Energi sihir tersebut tampak menerobos paksa masuk ke tubuh Luminas dan membuka jalur aura miliknya.


Ketika energi sihir mulai tersebar ke seluruh tubuh, erangan Luminas mulai terdengar lebih kencang. Ia merasakan sakit yang luar biasa dari tubuhnya, rasanya seperti sesuatu sedang menggali di dalam tubuhnya.


Energi sihir yang sedang membentuk sebuah jalur di tubuh Luminas tampak menggali dan merobek daging yang dilaluinya. Mereka terus menerobos tanpa ada sesuatu yang menghalanginya.


Selena yang melihat Luminas kesakitan menjadi sedikit goyah, ia mendadak menjadi ragu apakah keputusan yang diambil olehnya tepat atau tidak. Ia merasa sangat bersalah ketika Luminas tampak kesulitan menahan rasa sakitnya hanya demi menerima permintaan dari Selena.


Karena aliran energi sihir yang sedang menerobos mulai melambat, Luminas sadar akan ibunya yang ragu dengan keputusannya. Wajah ibunya yang penuh keringat dan matanya yang tergambar kekhawatiran seorang ibu membuat hati Luminas menjadi hangat.


‘Jadi inikah kasih sayang seorang ibu?’


Memikirkan hal tersebut, Luminas tersenyum.


“Ibu!!! Apakah sekarang kamu merasa ragu?! Apakah kamu merasa ragu hanya karena melihat aku kesakitan?!”


Mendengar Luminas yang tiba-tiba membentaknya Selena menjadi tersentak.


“Ini bukan salahmu ibu!!! Ini adalah keputusanku untuk menjadi lebih kuat!! Aku akan menjadi seorang ksatria sihir terkuat dan melampauimu ibu. Aku akan menjadi lebih kuat, agar bisa melindungi semua orang yang kusayangi, termasuk dirimu, ibu,”


Ketika mendengarkan kata-kata dari Luminas, hati Selena menjadi terenyuh. Awalnya yang ia ragu-ragu karena perasaan pribadinya, kini wajah Selena menunjukkan bahwa dirinya penuh tekad.


‘Jika aku ragu-ragu di sini, maka aku adalah seorang ibu yang buruk karena tidak bisa memenuhi keinginan putrinya,'


Selena lalu menggerakkan giginya dengan kuat dan kembali mengalirkan energi sihir miliknya ke dalam tubuh Luminas.


“Akhhhh,”


Luminas mengerang lebih keras, ia merasa bahwa energi sihir masuk ke dalam tubuhnya mengalir lebih deras dari sebelumnya. Rasanya energi sihir tersebut kini menerobos dan membentuk jalur lebih cepat dari sebelumnya.


Energi sihir tersebut terus menerobos dan membentuk jalur aura di seluruh tubuh Luminas. Ketika sudah mencapai ujung dari jalur energi sihir yang dapat dibuat, energi tersebut mengalir menuju jalur yang telah dibuat oleh energi lainnya.


Energi-energi tersebut terus berputar di tubuh Luminas hingga membentuk sebuah jalan yang terhubung. Mereka seperti membentuk sebuah jalur yang terhubung langsung mengarah ke jantung Luminas.


“Dengarkan, Lumi. Pusat dari sebuah aura adalah jantung mereka. Ketika mana mengalir, maka mana tersebut akan disimpan di jantungmu, dan mana yang tersimpan di jantungmu akan diubah menjadi sebuah aura yang merupakan aura milikmu sendiri, karena itulah jantung merupakan pusat dari aura. Jadi, fokuskan dirimu dan kumpulkan semua mana yang tersebar di seluruh tubuhmu ke jantungmu,”


Setelah mengatakan hal tersebut, seluruh energi sihir di tubuh Luminas yang menyebar secara acak, secara mendadak energi-energi tersebut bergerak ke arah yang sama menuju jantung Luminas.


Seluruh jalur aura telah terbentuk, kini Selena bukan hanya memasukkan energi sihir miliknya, tetapi juga energi sihir murni dari alam.


Dari kejauhan, energi sihir murni yang berwarna kebiru-biruan tampak berkumpul menuju Selena. Namun mereka tidak memasuki tubuh Selena, melainkan menuju telapak tangannya yang sedang mengalirkan energi menuju Luminas. Energi sihir murni tersebut ditarik oleh Selena secara langsung dari alam menuju ke dalam tubuh Luminas melalui perantara telapak tangannya.


Bukan hanya energi milik Selena saja, kini energi sihir murni dari alam juga sedang menuju jantung Luminas melalui jalur mana yang terbuat. Mana dan juga energi milik Selena tersebut berduyun-duyun untuk memasuki jantung milik Luminas.


Luminas yang mendengarkan instruksi Selena langsung paham ketika energi sihir Selena dan juga sebuah mana murni memasuki jantungnya secara perlahan.


Ketika mana tersebut menyentuh jantung, dada milik Luminas terasa panas, juga dada tempat jantungnya berada berdenyut kesakitan. Ia merasa seperti jantungnya sedang diremas-remas.


Awalnya jantung milik Luminas hanya merupakan pusat dari mana murni yang tersimpan sementara dan akan diolah menjadi sebuah energi elemental. Namun ketika sebuah mana murni yang dipadukan dengan energi milik Selena memasuki jantung Luminas melalui jalur yang berbeda, Luminas merasakan sakit yang luar biasa.


Hal ini dikarenakan energi sihir dan mana murni tersebut memasuki jantung melalui jalur yang berbeda, sehingga energi sihir dan mana murni tersebut harus menerobos masuk lagi ke dalam jantung.


Ketika Luminas merasa bahwa energi sihir dan mana murni dari luar tengah berusaha memasuki jantungnya, Luminas tidak tinggal diam. Seperti instruksi dari Selena, Luminas mengumpulkan dan juga mengarahkan sendiri energi dan mana murni yang memasuki tubuhnya.


*SWOSHH


Ketika energi sihir dan mana murni tersebut memasuki jantung secara paksa, jantung milik Luminas bersinar dengan sangat terang. Tampaknya mana dan energi sihir yang berasal dari luar seperti saling berbenturan hingga mengeluarkan sebuah cahaya.


Luminas tanpa membuang waktu sedetik pun langsung memfokuskan dirinya terhadap mana dan energi sihir yang tengah memasuki jantungnya. Luminas menyerap semua aura dan mana murni dari luar dengan eksplosif.


Ketika Luminas mencoba berusaha untuk mengarahkan mana dan energi sihir dari luar, tiba-tiba saja kecepatan penyerapan energi sihir yang dimiliki oleh Luminas tampak tidak normal. Seluruh energi dari luar tersebut tampak tersedot dengan cepat.


Di belakang Luminas, wajah Selena juga tampak bersimbah keringat karena mengeluarkan mana yang besar secara terus menerus. Ia tidak menyangka bahwa putrinya akan menyerap mana alam dan energi miliknya sedahsyat ini.


Luminas yang tengah menutup matanya tidak menyadari perubahan apa pun pada situasi sekitar. Ia hanya fokus menyerap mana yang masuk dari luar lalu mengolahnya menjadi sebuah aura.


Wajah Luminas tampak lebih kesakitan, ia berusaha untuk menyatukan mana dari luar untuk membentuk sebuah pusat aura yang akan berdampingan dengan energi sihir miliknya.


Ketika Luminas sedang fokus mengolah mana menjadi sebuah aura, tiba-tiba saja tubuh Luminas memancarkan sebuah cahaya biru putih yang tipis. Aura putih biru tersebut memancarkan sebuah energi dingin yang membekukan sekitar serta hal yang disentuhnya secara langsung.


Luminas tampaknya secara tidak sadar mengeluarkan aura ketika sedang terfokus dalam mengolah aura miliknya. Seiring berjalannya waktu, aura yang dipancarkan oleh Luminas bertambah kuat seiring berjalannya waktu.


Aura yang terpancar kini lebih tebal, juga radius yang membeku karena aura miliknya juga melebar. Bahkan Selena kini ketika ia bernafas, udaranya mengeluarkan uap.


Selena merasakan dingin yang cukup hebat mengalir dari telapak tangannya ke seluruh tubuhnya. Selena ingin menghentikan penyaluran mana ini tetapi aura yang berputar di seluruh tubuh Luminas tampak belum stabil. Ia berpendapat bahwa setidaknya ia akan di sini sampai aura yang dimiliki oleh Luminas menjadi lebih stabil.


Setelah beberapa saat, Selena melihat aliran aura yang beredar di seluruh tubuh Luminas mulai terlihat stabil. Aliran aura tersebut terus mengalir membentuk sebuah sirkulasi aura yang berputar dari jantung menuju ke seluruh tubuh.


Ia pun melepaskan tangannya dari punggung Luminas dan menghentikan penyuplaian mana yang dilakukan secara terus-menerus.


Luminas tampak mengacuhkan seluruh hal yang terjadi di sekitarnya. Ia tetap memejamkan matanya tanpa memedulikan apa pun dan tetap fokus dalam sirkulasi mana yang baru ia bentuk.


Selena mundur beberapa langkah dan memperhatikannya dari jarak yang agak jauh. Aura yang terpancar dari tubuh Luminas tampak berangsur-angsur menjadi lebih baik. Auranya tampak lebih tebal dan kuat, juga terlihat lebih tenang dan stabil, tidak seperti tadi yang bisa membekukan segala sesuatu yang disentuh oleh aura tersebut.


Ketika Selena tampak asyik memperhatikan Luminas yang tengah berlatih, suara seorang pria tampak terdengar dari atas tempat kamar Selena berada.


“Yang Mulia, bantuan yang Anda minta dari Ordo Ksatria Istana telah sampai,”


“!! Baiklah, aku akan ke sana sebentar lagi,”


Selena sedikit terkejut dengan suara seseorang yang memanggilnya dari atas secara mendadak. Biasanya Selena sensitif dengan hawa kehadiran seseorang, namun di ruangan ini hawa kehadiran maupun deteksi mana telah diblokir karena efek dari batu tersebut.


“Sesuai keinginanmu, Yang Mulia,”


Dari luar kamar Selena, seorang pria yang mengenakan pakaian pelayan yang memanggil Selena pun berangsur-angsur pergi.


Selena pun berjalan menuju arah Luminas dan mengelus kepalanya.


“Aku akan segera kembali, Putriku,”


Dengan enggan Selena meninggalkan putrinya yang tengah berlatih. Wajahnya tampak sedikit cemberut karena ia sedang senang karena melihat putrinya yang berkembang dengan sangat cepat


.


.


Selena berjalan menyusuri lorong untuk kembali ke aula utama kediaman tersebut. Ketika Selena telah sampai di aula utama, ia melihat tiga orang pria tengah duduk di kursi tamu dengan banyak prajurit yang mengawal mereka berdiri di belakangnya.


Selena berjalan menghampiri mereka. Ketika Selena tengah menghampiri mereka, tiga orang pria yang sedang duduk di kursi tamu bangkit dari tempat duduk seketika, dan mereka langsung berlutut.


“Kami dari Ordo Ksatria Istana, menyapa Yang Mulia Ratu Selena sekaligus panglima tertinggi dari perang ini,”


Mereka bertiga adalah seorang master aura yang berasal dari Ordo Ksatria Istana.


Seorang pria dengan rambut pendek merah menyala ia adalah Count Corrintus. Di sebelah kanan Count Corrintus terdapat seorang pria dengan rambut berwarna coklat gelap dengan kumis tebal, ia adalah Count Harris. Di sebelah kiri Count Corrintus terdapat seorang pria dengan rambut berwarna biru yang bergelombang, ia adalah Count Tarius.


Melihat tiga orang dengan kekuatan master aura ini Selena mengamati mereka dengan ekspresi serius.


“Kalian bertiga sepertinya cukup menjanjikan,”


“Terima kasih atas pujiannya, Yang Mulia,”


Mereka khawatir melihat ekspresi Selena yang tidak puas. Meskipun Selena memuji mereka, ekspresi yang diperlihatkan oleh Selena malah sebaliknya. Mereka beranggapan bahwa mereka bertiga tidak memenuhi kriteria sang ratu dan sang ratu mengejek mereka dengan cara pujian.


Mereka khawatir bahwa mereka akan membuat Selena kecewa. Namun mereka tidak tahu bahwa Selena menampilkan ekspresi seperti itu karena ia telah diganggu ketika ia sedang melihat Luminas yang tengah berlatih.


“Pimpin pasukan kalian menuju medan perang sekarang. Aku akan menyusul kalian dalam waktu dua hari,”


Dengan ekspresi yang menyeramkan Selena mengatakan hal tersebut kepada mereka dengan suara yang rendah.


Karena takut semakin membuat kecewa Selena, tanpa banyak berbicara mereka langsung mematuhi perintah yang diberikan oleh Selena dan menjawabnya dengan keras dan serentak.


“”Ya, Yang Mulia!!””


.


.