Themis, The Flower of Justice

Themis, The Flower of Justice
Chapter 30 — Ksatria Sihir(7)



Setelah melihat kematian Allen, Selena menghela nafas berat. Ia tak menyangka bahwa ketidakhadirannya di medan perang akan membawa dampak sebesar ini. Meski ia datang tepat waktu, tetap saja ia tidak bisa menghentikan pasukan Chronos akan menyerang Kastel Windsor dari belakang.


‘Aku tidak menduga bahwa para prajurit Chronos berani menyerang dari garis belakang. Meski ini terlihat ceroboh, namun tampaknya efektif... Siapa yang menjadi dalang dari strategi Chronos?’


Selena bertanya-tanya dengan siapa dalang dibalik serangan garis belakang ini. Ia menduga bahwa orang tersebut adalah orang yang sangat cerdas.


Ia mampu berpikir bahwa keganasan di medan perang garis depan membuat para korban berjatuhan dan mulai menumpuk di garis belakang. Juga, akibat dari benteng-benteng sekitar yang hancur, ia berhasil mengecoh pasukan milik Medeia dan membuat mereka menghimpun pasukan di garis depan.


Hal tersebut membuat garis belakang Medeia menjadi minim penjagaan dan relatif mudah diserang. Sehingga mereka bisa dengan berani mengerahkan sejumlah kecil pasukan elite untuk memutus bantuan dari garis belakang menuju ke garis depan.


‘Cerdas... Jika bantuan dari garis belakang terputus, maka secara otomatis para prajurit Medeia tidak ada bedanya dengan seorang buruan yang masuk ke sebuah perangkap...’


Selena mengelus dagunya memikirkan betapa dalamnya strategi yang dilancarkan oleh musuhnya.


‘Namun, itu semua sia-sia jika serangan tersebut gagal. Mengakibatkan mereka kehilangan pasukan militer yang cukup kuat.... Bahkan mereka telah kehilangan perwira senior seperti Farmith... Aku penasaran, kira-kira reaksinya akan seperti apa...’


Selena menyeringai dan terkekeh memikirkan hal tersebut.


Ketika ia sedang sibuk dengan pikirannya, dari kejauhan secara samar-samar ia mendengar terdapat suara seseorang yang tengah memanggilnya.


Ketika ia menajamkan pendengarannya, dan samar-samar ia mendengar suara seorang pria yang memanggilnya ‘Yang Mulia’ sambil berteriak-teriak.


Selena memfokuskan penglihatan miliknya ke arah suara tersebut berasal. Dari kejauhan, ia melihat kepulan asap debu yang berasal dari satu orang pria.


Pria tersebut sepertinya berlari dengan kecepatan penuhnya sehingga wajahnya dari kejauhan tampak jelek dan menyeramkan. Wajah dan rambutnya dibasahi oleh keringat, seluruh tubuhnya penuh dengan debu dan kotoran, serta matanya yang melotot membuat pria tersebut terlihat menyeramkan.


Selena tergidik merinding ketika melihat pria tersebut sedang bergerak ke arahnya dengan kecepatan penuh sambil memasang wajah yang menyeramkan.


Setelah beberapa saat, akhirnya pria tersebut sampai di depan Selena. Ia tertunduk dan berusaha menenangkan nafasnya yang terputus-putus.


“YANG MULIA!!!!!”


Pria tersebut kini berteriak sambil memasang ekspresi wajah yang menyeramkan dan memelototi Selena.


“Oh? Rav, ternyata kau dapat menyusulku?”


“Menyusul? MENYUSUL APANYA?! KENAPA ANDA TIBA-TIBA BERGERAK DENGAN CEPAT DAN MENINGGALKAN PASUKAN?!”


Pria tersebut terus mengomel dan mengeluhkan kesulitannya ketika Selena tiba-tiba pergi secara mendadak meninggalkan pasukan.


“Ah itu? Firasatku mengatakan bahwa aku harus sampai ke lokasi lebih cepat lagi karena kita sudah terlambat, dan bergerak secara individu akan jauh lebih cepat sampai ke garis depan, menurutku. Seperti yang kau lihat, bukankah aku benar?”


“.... Memang benar keputusan Anda membuat kita berhasil menghentikan serangan dan mengganggu rencana musuh, tetapi....”


Pria yang dipanggil Rav oleh Selena itu tubuhnya gemetar, ia terlihat sangat geram dalam menjelaskan hal tersebut kepada Selena.


“Tetapi?”


“BUKANKAH MAJU KE MEDAN PERANG SENDIRIAN ITU BERBAHAYA?! ANDA ADALAH KOMANDAN TERTINGGI, JIKA ADA SESUATU YANG TERJADI KEPADA ANDA, MAKA DALAM PERANG INI KITA AKAN KALAH!”


“ADUH!”


Rav memukul Selena di bagian kepala karena ia sudah terlanjur kesal. Ia sudah kesal dengan Selena yang bertindak semena-mena padahal ia adalah seorang komandan tertinggi, dan ia menjadi tambah kesal ketika melihat raut wajah Selena tampak sangat menyebalkan ketika sedang mendengarkan penjelasan darinya.


“Kenapa kau memukulku Rav?!”


“Karena Anda tampak menyebalkan,”


“Apa?!”


Selena merungut.


“Kenapa? Apa Anda merasa kesal?”


“Tentu saja! Aku ini ratu kerajaan Medeia, sekaligus komandan tertinggi perang ini! Dengan kata lain aku ini atasanmu, A-T-A-S-A-N-M-U!”


Mendengar perkataan Selena, Rav mendengus.


“Huh, jika Anda memang seorang ratu dan komandan tertinggi, maka bersikaplah dengan semestinya!”


“Aduh!”


Rav memukul Selena sekali lagi. Selena terus berteriak-teriak kepada Rav, namun pria yang dipanggil Rav itu mengabaikannya. Rav melirik ke arah timur dan melihat sekelompok pasukan berkuda datang menghampiri mereka.


Sekelompok pasukan tersebut menghentikan kuda mereka ketika mereka sudah sampai di depan Selena, dan memperhatikan mereka berdua. Mereka bertanya-tanya, apakah wanita yang sedang mengomel itu adalah seorang Silver Queen yang legendaris itu. Namun mereka menghentikan pikiran mereka dan segera berlutut.


“Kami menyapa matahari kerajaan ini, Yang Mulia Ratu Selena!”


Mereka semua berteriak dengan serempak.


Selena menghentikan omelannya terhadap Rav dan melirik ke arah mereka.


“Oh? Siapa kamu?”


“Aku adalah komandan pasukan kedelapan, mewakili seluruh pasukan untuk menyapa Yang Mulia Ratu,”


Seorang pria berkepala botak memberi penghormatan kepada Selena sambil berlutut dan memandang ke tanah.


Melihat pria tersebut, Selena teringat sesuatu. Ia teringat dengan rumor seorang bangsawan yang terkenal di medan pertempuran. Bangsawan tersebut dijuluki Ksatria Void dari Medeia.


“Apakah kamu adalah pria yang mendapat julukan Void Knight di medan pertempuran?”


Selena bertanya kepada pria tersebut.


“Ya, Yang Mulia, nama saya adalah Ruden Vartz dari County Vartz. Saya merasa tersanjung sekaligus merasa malu dengan julukan tersebut, karena saya masih terasa belum pantas menyandang julukan tersebut,”


Melihat pria tersebut Selena menyadari bahwa ia dijuluki Void Knight karena kebotakannya, bukan hanya rambut, namun seluruh wajah dan tubuhnya tidak ada rambut sedikit pun. Selena berpikir bahwa orang-orang menjulukinya Void Knight karena kebotakannya yang di deritanya.


“Cocok kok, semangat ya,”


Tanpa sadar, Selena menjadi merasa simpati dan air matanya menetes.


“???”


Vartz merasa bingung dengan sikap Selena yang mendadak menangis.


“Botak—, maksudku Count Vartz, laporkan keadaan medan perang saat ini kepadaku,”


Selena berusaha keras untuk menahan kata botak dari mulutnya.


“Baik, Yang Mulia. Seperti yang Anda ketahui dari laporan sebelumnya, tidak ada perbedaan signifikan antara laporan terkini dengan yang sebelumnya. Namun ketika saya hendak meninggalkan garis depan, saya mendengar bahwa pasukan musuh menarik kembali pasukan mereka dari Kastel Windsor,”


Selena menunduk sejenak, lalu ia melirik ke arah mereka yang masih berlutut sekali lagi.


“Bangkitlah, siapkan kuda untukku dan pandu kami menuju pusat komando,”


“BAIK, YANG MULIA!”


Setelah menjawab perintah dari Selena, mereka langsung bergegas menyiapkan kuda terbaik untuk Selena dan Rav.


Setelah semuanya siap, Selena dan Rav langsung bergerak bersama Vartz dan pasukannya menuju ke pusat komando.


[KASTEL WINDSOR, PUSAT KOMANDO PASUKAN KERAJAAN MEDEIA]


*BRAK!!


“Bagaimana mungkin mereka bisa menyerang garis belakang?!”


Di dalam tenda barak markas pusat, seorang pria berotot dengan tubuh besar memukul meja dengan keras hingga meja tersebut rusak terbelah dua.


Ia adalah Marquess Luxe, komandan pasukan pertama dari pasukan Medeia.


“Bersabarlah Marquess Luxe, musuh kita adalah yang terkuat kedua dari 7 pedang chronos, Jack Crimson yang terkenal tak hanya kuat, namun juga cerdas. Bukan hanya itu, ia juga membawa Ordo Ksatria Crimson dan juga dua orang dari 7 pedang Chronos yang lain,”


Orang yang menenangkan Marquess Luxe adalah seorang pria berkacamata dengan tubuh yang ramping, Count Zedd, salah satu dari beberapa bangsawan yang menjaga perbatasan barat Medeia. Ia merupakan salah satu penyihir tingkat 7 yang ditunjuk menjadi salah satu ahli strategi markas pusat Medeia.


“Count Zedd benar, kita harus berhati-hati dengan setiap langkah yang kita ambil mulai saat ini. Karena Windsor adalah kota vital yang menjadi pintu gerbang menuju Medeia bagi para penjajah,”


Yang mengatakan hal tersebut adalah seorang wanita ramping berkulit gelap yang memiliki penampilan kasar, ia adalah Yelta, seseorang ksatria dari istana yang ditunjuk menjadi komandan kelima dari pasukan Medeia.


“Bah! Ini adalah perang! Meskipun lawan kita adalah pasukan chronos, kita harus maju melawan mereka dan menunjukkan kekuatan Medeia kepada seluruh dunia!”


“Hentikan celoteh bodohmu, meskipun kau sudah lama menjadi seorang count kau tetap bodoh ya?”


“Apa katamu?!”


“Apa? Kau mau berkelahi ya?”


“GRRRR”


Kedua orang yang berkelahi adalah komandan pasukan keempat, Count Genta, dan juga komandan pasukan keenam, Viscount Rufuz.


“Count Genta, viscount Rufuz, kita sedang berperang, hentikan pertengkaran kalian,”


Orang yang menyela pertengkaran mereka adalah Zedd. Meskipun Zedd berusaha menengahi pertengkaran mereka, namun mereka tetap bertengkar.


Suasana rapat markas pusat menjadi gaduh, beberapa komandan berdarah panas bersikeras bahwa saat ini pasukan Medeia harus maju karena Chronos pasti sedang terdesak karena mereka menarik pasukan mereka dari garis depan, namun beberapa komandan juga berpikir bahwa ini adalah jebakan.


Ketika semua orang sibuk dengan pertengkaran mereka, tubuh mereka mendadak bergidik ngeri karena suatu hal. Mereka semua secara serempak menengok ke arah pintu tenda, terdengar suara beberapa langkah kaki yang semakin mendekat.


“Sepertinya kalian sedang sibuk bertengkar ya? Ah, Zedd, aku sedikit kecewa padamu karena tidak mampu mengatasi situasi saat ini~”


Orang yang muncul dari pintu tenda adalah Selena, yang merupakan komandan tertinggi dari perang kali ini. Ia juga bersama dengan Vatz dan Rav yang berdiri sedikit di belakangnya.


“MENYAPA MATAHARI MEDEIA, YANG MULIA RATU SELENA!”


Mereka semua bangkit dari kursi dan berlutut dengan serempak.


“Wah, tidak perlu begitu ~. Kalian lanjutkan saja pertengkaran kalian~”


“KAMI MINTA MAAF, YANG MULIA!”


Mereka semua semakin menundukkan kepala mereka yang sudah tertunduk. Tubuh mereka basah dengan keringat dan sedikit bergetar. Mereka semua tahu, meskipun saat ini Selena tersenyum, namun aura yang dikeluarkannya tadi tidak main-main. Mereka semua yakin bahwa itu adalah peringatan dari komandan tertinggi mereka.


Ketika semua orang merasa takut, Zedd sebagai ahli strategi pasukan melangkah maju. Meskipun merasa tertekan dengan tekanan yang dipancarkan Selena, ia harus tetap menjelaskannya situasi terkini medan perang kepada komandan tertinggi.


“Yang Mulia Ratu—tidak, Komandan Selena, saya minta maaf karena telah memperlihatkan pemandangan yang memalukan ini. Izinkan saya melaporkan situasi terkini kepada Anda,”


“Jelaskan,”


“... Baik,”


Zedd menjelaskan bahwa saat ini situasi perang Medeia belum membaik, bahkan dengan kemunduran pasukan chronos. Mereka masih belum mampu untuk menghabisi para pilar pasukan Chronos, sementara mereka sudah kehilangan komandan kedua, ketiga, dan ketujuh yang juga merupakan seorang master aura. Kehilangan tiga master aura di awal perang merupakan kerugian yang signifikan bagi seluruh pasukan.


“... Juga, kita masih belum mengetahui apa motif dari kemunduran pasukan Chronos. Ditambah dengan situasi yang buruk di barisan belakang, yang membuat kita kehilangan banyak suplai makanan. Kita juga harus mempertimbangkan memberikan pasukan yang kuat untuk menjaga garis belakang, namun itu akan membuat garis depan kita melemah,”


Mendengar semua laporan dan pendapat dari Zedd, Selena termenung sejenak.


“.... Baiklah, sepertinya laporan dari garis belakang belum sampai ke sini. Kalau begitu, Ravin!”


Ketika Selena memanggil namanya, Ravin langsung maju ke depan.


“Baik, komandan Selena. Sebelum itu, perkenalkan nama saya adalah Ravin Dynema, adik dari Duke Dynema yang juga merupakan wakil komandan dari Ordo Ksatria Silver Wolf milik Ratu Selena,”


Ketika mendengarkan identitas dari Rav, mereka semua terkejut. Siapa yang menyangka bahwa komandan tertinggi mereka akan membawa Ordo Ksatria pribadi miliknya.


‘Ordo Ksatria Silver Wolf!’


‘Siapa yang mengira komandan tertinggi akan membawa Ordo Ksatria pribadinya...’


‘Ordo Ksatria Silver Wolf.... Aku pikir mereka sudah pensiun,'


Saat mereka semua masih terkejut, suara datar Rav menyandarkan mereka dari lamunannya.


“Saat ini berkat kedatangan Ratu Selena yang tepat waktu, garis pertahanan belakang sudah aman dan stabil. Kami sudah mengutus beberapa orang yang bisa dipercaya dalam menjaga garis belakang. Perihal mengenai alasan kenapa pasukan chronos mundur adalah karena mereka kehilangan salah satu sayap mereka, Farmith yang merupakan tangan kiri dari Jack telah dihabisi,”


Meski menjelaskan dengan suara datar, isi dari laporan yang disampaikan Farmith mengejutkan semua orang. Mereka tidak menyangka bahwa situasi yang mereka perdebatkan dari tadi telah diselesaikan.


Ketika Farmith selesai dengan laporannya, mereka semua saling memandang dan mengangguk dengan senyum yang terbuka lebar. Meskipun tidak mengatakan apa-apa, mereka semua yakin bahwa mereka semua memikirkan hal yang sama.


Kehilangan Farmith merupakan kerugian besar bagi prajurit Chronos. Meskipun ia bukan seorang master aura, namun ia adalah seseorang yang dihargai jauh melebih seorang master aura. Ia adalah salah satu anggota badan yang menggerakkan prajurit Chronos. Dengan kehilangan salah satu anggota badan miliknya Chronos jelas mengalami pukulan telak.


“Sepertinya kalian semua sudah paham, alasan mengapa Ordo Ksatria Crimson terkenal dengan kehebatannya adalah karena kedua orang ini, jika Yulius sang ahli strategi adalah otaknya, maka Farmith adalah anggota badan penggeraknya. Dengan kehilangan Farmith, mereka juga kehilangan seluruh rencana yang mereka rancang,”


Mendengar penjelasan Selena, semua orang yang berada di tenda markas pusat tersenyum lebar.


“Namun, karena musuh kita merupakan seorang ahli strategi yang hebat, maka kita harus memikirkan bahwa musuh pasti telah memikirkan hal yang sama dengan kita. Karena itu, daripada maju terburu-buru dengan seluruh kekuatan kita bukanlah pilihan yang bijak,”


“Komandan Selena benar, oleh karena itu kita harus merancang sebuah strategi yang bisa menghancurkan musuh kita sekaligus. Aku berpikir bahwa kita harus menggunakan strategi palu dan landasan. Kita akan mengerahkan sebagian besar prajurit kita untuk membuat musuh berkumpul di benteng Arland, lalu mengerahkan pasukan dengan mobilitas yang tinggi dan menyerangnya dari belakang,”


Para komandan yang berada di tenda mengangguk puas dengan strategi yang diajukan oleh Zedd, namun Selena tiba-tiba saja mendengus.


“Hmph! Itu merupakan strategi yang cukup hebat, namun aku yakin mereka sudah memperkirakan hal ini juga. Tetapi kita akan tetap menggunakan strategi ini, namun dengan sedikit perubahan,”


Ketika Selena mengatakan itu, semua komandan sedikit bingung dengan penjelasan dari Selena. Ia berkata bahwa musuh sudah pasti membaca strategi miliknya, namun kita tetap melaksanakan strategi ini meski telah dibaca? Mereka semua tidak bisa menebak apa yang direncanakan oleh komandan tertinggi mereka.


“Jika kita melakukan sedikit perubahan dari rencana ini, kita pasti akan berada di luar prediksi musuh dan membuat mereka bingung. Prajurit kita bukan hanya akan mengurung mereka, namun juga menghabisi mereka,”


Lanjut Selena menejelaskan.


“Komandan, kalau begitu bisakah Anda menjelaskan tentang perubahan yang Anda katakan?”


“Kalau begitu, dengarkan baik-baik~”