
“Karena kedua belah pihak sudah tidak bisa bertarung lagi, maka hasilnya diputuskan seri!!,”
“”WOAHHHH””
Mereka semua bersorak atas hasil dari pertarungan Luminas dan Dorothy.
Javis yang tadi melarang keras Luminas untuk bertarung terdiam, ia tak menyangka bahwa hasilnya akan menjadi seperti ini.
‘Tuan Putri.... Sangat luar biasa, aku bahkan sampai kehabisan kata-kata melihat bakat yang dimilikinya.... Siapa yang dapat menyangka bahwa ini merupakan pertandingan perdana Tuan Putri setelah berlatih sebentar? Tentu tidak akan ada yang percaya jika mereka tidak menyaksikan ini secara langsung....’
Javis melirik Luminas tengah berbicara santai dengan Dorothy meski ia sedang terluka.
‘Dan juga, gerakan menghindar Tuan Putri dan serangan terakhir tadi..... Aku harus melaporkannya ke Yang Mulia Ratu...’
Scott dan Javis memikirkan hal yang sama. Mengenai serangan terakhir yang dilancarkan Dorothy, mereka merasa bahwa itu adalah serangan fatal yang tidak bisa ditangkis, bahkan oleh mereka sendiri. Namun Luminas berhasil menangkisnya, itu membuktikan bahwa Luminas memiliki Indra bertarung yang luar biasa.
Gerakan menghindar yang dilakukan oleh Luminas dari jarak sedekat itu juga brilian. Siapa yang akan menyangka bahwa dia akan menghindari serangan tersebut dengan menekuk tubuhnya secara ekstrim?
Javis menggelengkan kepalanya dan bergegas menuju Luminas yang sedang terluka
“Tuan Putri!!! Bagaimana luka Anda?! Apakah Anda tidak apa-apa?!”
Javis dengan panik memeriksa kondisi Luminas, ia tadi tertegun sejenak karena keahlian yang ditunjukkan oleh Luminas sehingga ia tidak memperhatikan bahwa Luminas terluka cukup parah.
“Tidak apa-apa Javis, luka yang kumiliki tidak terlalu parah, dan mengesampingkan luka tersebut pertarungan ini membuatku puas...”
Luminas tersenyum cerah menanggapi kekhawatiran Javis.
“Tuan Putri...”
Javis menatap Luminas yang tersenyum cerah padanya, ia masih memiliki ekspresi kekhawatiran di wajahnya.
Javis menghela nafas berat.
“Fuh, baiklah Tuan Putri .... Jika Anda merasa senang apa boleh buat, tetapi...”
“Tetapi?”
“Apa yang akan kusampaikan pada Yang Mulia Ratu?! Jika Anda terluka seperti ini bukankah Anda bisa membayangkan apa yang akan ia lakukan?!”
Javis memprotes kepada Luminas, ia mengeluh dengan apa yang akan dilakukan Selena jika ia melihat Luminas terluka.
“Ahahaha... Kapten Javis, kamu tidak perlu khawatir akan hal tersebut! Perihal apa yang dilakukan oleh ibuku, aku akan mengurusnya!”
Luminas tertawa sambil menggaruk belakang kepalanya.
“Benarkah?”
Javis menatap Luminas dengan tidak percaya.
“Hahaha, mungkin...”
Mendengar tanggapan Luminas membuat Javis terpuruk dan menghela nafas berat, ia semakin putus asa. Ia merasa bahwa ia akan mati karena mengizinkan putrinya bertarung dan terluka.
Semua orang yang sedang menonton pertarungan tersebut menatap Javis yang terlihat linglung. Sepertinya mereka semua dapat memahami apa yang dirasakan oleh Javis jika ia berurusan dengan Selena.
‘Aku mengerti apa yang kau rasakan....’
‘Semangat, Kapten!’
‘Bersemangatlah, Juniorku...’
Merasakan tatapan iba dari sekitarnya, Javis seperti dapat mendengar apa yang mereka katakan dari raut wajah yang mereka tunjukkan ketika memandang dirinya.
‘Kalian ini.... Awas saja kalian!’
Javis menatap balik dengan tatapan yang membara.
Para ksatria yang pangkatnya lebih rendah dari Javis tiba-tiba merasa merinding. Mereka merasa bahwa latihan yang seperti neraka akan datang pada mereka.
“UHUK! Baiklah Tuan Putri, sebaiknya Anda mengobati luka Anda terlebih dahulu,”
Javis bangkit dan membersihkan debu yang menempel di bajunya.
“Baik!”
Luminas menjawabnya dengan nada yang bersemangat.
“Dan kau Kieri, sampaikan ini kepada guru kesenian yang sedang menunggu Tuan Putri. Bahwa Tuan Putri tidak bisa menghadiri kelasnya dikarenakan ia sedang terluka,”
Javis menunjuk seorang ksatria berbaju besi lengkap yang tengah bertugas bersamanya untuk mengawal Luminas.
“Baik, Kapten!!”
Ksatria yang dipanggil Kieri tersebut menjawabnya dengan tegas.
“Kalau begitu, mari Tuan Putri,”
Javis mendekati Luminas dan berusaha untuk menggendong Luminas.
Namun Luminas menepisnya.
“Tidak apa-apa Javis, aku bisa berjalan sendiri,”
“Sesuai keinginan Anda,”
Javis membungkuk hormat kepada Luminas.
Meskipun Luminas menolak untuk ditolong oleh Javis, namun Javis tetap membantu Luminas yang sulit berdiri karena luka ditangannya yang menyebabkan ia kesulitan untuk menopang tubuhnya sendiri.
“Kalau begitu senior, aku pergi dulu,”
Javis membungkuk hormat kepada Scott sebelum ia pergi.
Di sepanjang jalan menuju dalam istana, senyum tidak lepas dari wajah Luminas. Ia tampak sangat senang dengan pertarungan barusan. Melihat hal tersebut Javis menjadi penasaran dan bertanya pada Luminas.
“.... Tuan Putri, mengapa Anda terlihat sangat senang?”
“Hm? Ah tidak ada apa-apa, aku hanya senang karena pertarungan tadi~”
“Apa yang membuat Anda senang dengan pertarungan tadi?”
Dengan jawaban yang diberikan oleh Luminas, Javis semakin penasaran.
“Bukankah menyenangkan bertarung dengan seseorang yang memiliki kekuatan setara? Selain itu, kita juga dapat memeriksa apa yang kurang dengan diri kita melalui pertarungan tersebut,”
“..... Apakah Anda mendapatkan sesuatu dari pertarungan perdana Anda?”
“Tentu, dari pertarungan barusan aku jadi memiliki kesempatan untuk memeriksa apa yang aku punya, dengan begitu aku bisa memanfaatkan kelebihan yang kumiliki dengan lebih maksimal. Ditambah, dengan pertarungan tadi aku bisa mengetahui apa kekurangan pada diriku dan memperbaikinya,”
“Jadi begitu....”
Javis mengangguk paham
“Juga...”
“?”
“Bukankah sangat luar biasa bila talenta dan bakat milik Dorothy berkembang? Itu akan sangat membantu untuk memperkuat militer kerajaan,”
Mendengar apa yang dikatakan Luminas, Javis sangat terkejut. Javis merasa semakin ia mengenal Luminas, maka akan semakin asing keberadaannya. Meski masih berumur enam tahun, Luminas mampu menunjukkan kecerdasan kognitif dan linguistik yang luar biasa. Dari perkataan, pola pikir, sampai perbuatan yang ia lakukan terasa seperti bukan seorang gadis kecil.
‘Tuan Putri sangat luar biasa.... Dari kekuatan maupun kecerdasan tidak ada yang kurang darinya. Bahkan kecerdasan yang dimilikinya tidak sesuai dengan usianya. Seakan-akan ia...’
Merasa tidak nyaman dengan tatapan yang dipancarkan dari Javis, Luminas memprotes.
“Kapten Javis, ada apa? Kenapa menatapku terus?”
“Ah! Maafkan saya telah membuat Anda tidak nyaman Tuan Putri! Saya hanya merasa bahwa Tuan Putri sangat luar biasa,”
“Benarkah? Kamu terlalu berlebihan,”
Luminas mengibaskan tangannya, menunjukkan seakan itu adalah hal yang sepele
“Benar Tuan Putri! Anda terlalu merendah. Dari kecerdasan maupun kekuatan, Anda tidak kekurangan apa pun sama sekali! Anda seperti sosok sempurna yang digambarkan di cerita-cerita dongeng. Bahkan terkadang saya merasa....,”
“??”
Mendengarkan kalimat Javis yang terpotong, Luminas menengok ke arahnya.
“Saya merasa bahwa terkadang kecerdasan dan perilaku Tuan Putri tidak sesuai dengan usia Anda, Ah bukan berarti saya mengejek Anda! Tetapi saya hanya merasa bahwa Tuan Putri seperti makhluk dari dimensi lain yang menjadi seorang gadis kecil...”
“!!!!”
Luminas terkejut mendengar pernyataan dari Javis.
Melihat sorot mata Javis yang serius, serta ucapannya yang penuh keyakinan, seakan-akan ia sangat yakin dengan spekulasinya bahwa Luminas adalah seorang dari dunia lain yang merasuki tubuh anak kecil.
“Apakah itu benar Tuan Putri?”
Mendengar pertanyaan tersebut wajah Luminas dibanjiri oleh keringat. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
‘Apa yang harus kukatakan? Apa yang harus aku jawab? Apakah tidak apa-apa jika membocorkan mengenai identitasku padanya? Atau malah....’
‘Aku akan dihukum karena telah secara tidak langsung ‘membunuh’ Luminas yang asli sebelum dia dilahirkan?’
Luminas dengan nada yang ragu bertanya balik kepada Javis. Dia memasang poker face terbaiknya, ia berusaha untuk tidak terlihat panik yang seakan membenarkan pernyataan Javis.
“....Benar apa?”
“Tentu saja kebenaran mengenai Anda adalah....”
Luminas menatap tajam Javis yang hendak menyelesaikan pernyataannya.
“Bahwa Anda adalah reinkarnasi dari leluhur yang memimpin puncak kejayaan Medeia? Kaisar terkuat sepanjang sejarah benua, seorang pemimpin yang hampir menyatukan seluruh benua?! Yakni Permaisuri Aria Von Medeia!!”
Javis meneriakkan pernyataannya dengan sangat lantang, sampai-sampai terdengar ke seluruh tempat latihan dan membuat semuanya menengok ke arahnya.
“.... Hah? Apa?”
“Ya! Saya berpikir bahwa Anda adalah reinkarnasi dari Permaisuri Aria, dengan ingatan dari kehidupan Anda sebelumnya yang Anda miliki tentu masuk akal mengingat kecerdasan Anda!”
“Tidak, Javis tunggu—“
“Atau jangan-jangan Anda merupakan reinkarnasi dari seorang Dewi langit?! Jika Anda merupakan seorang Dewi maka lebih masuk akal. Demi menyelamatkan Medeia dari keterpurukannya di era yang penuh gejolak ini, seorang Dewi turun untuk membela kerajaan ini!!”
“....”
“Huahahaha! Kerajaan ini diberkati hanya dengan keberadaan Anda! Selama ada Anda, maka kerajaan ini sudah dipastikan akan kembali ke puncak kejayaannya! Hahaha!”
Mendengar pernyataan sepihak dari Javis, Luminas menjadi terdiam. Ia merasa telah melakukan kebodohan dengan berpikir bahwa Javis mungkin membongkar identitasnya sebagai pelintas dari dunia lain, ternyata ia malah hanya memuntahkan omong kosong.
“Apa? Kenapa Anda diam? Apakah kediaman Anda menandakan bahwa semua spekulasi saya benar? Hahaha! Hidup Tuan Putri— tidak, hidup Sang Dewi!!”
“....”
Luminas merasa semakin kesal. Ia menjadi diam karena ia tidak mau menanggapi pernyataan bodoh yang dikemukakan oleh Javis. Tetapi ternyata ia malah semakin menjadi-jadi dan mengemukakan kebodohannya dengan lantang sehingga semua orang di sekitar dapat mendengarnya.
“.... Kapten Javis,”
“Ya, Dewi Yang Agung!
“Tutup mulutmu,”
.
.
Di sebuah ruangan di kediaman milik Selena, terdapat sebuah ruangan yang memiliki interior sangat mewah. Di ruangan yang cukup luas itu terdapat banyak sekali rak buku yang penuh akan buku-buku tebal dan tersusun rapi.
Pada malam yang sunyi ini, dari ruangan tersebut terdengar sebuah suara seseorang yang tengah membalik kertas demi kertas dari sebuah buku.
Di dalam ruangan tersebut terlihat seorang wanita dengan rambut perak tengah duduk di depan sebuah meja dengan jendela yang terbuka. Ia tampak tengah membaca buku yang hanya diterangi oleh cahaya dari lilin di gelap gulitanya malam dari luar jendela.
Angin malam yang bertiup dari luar jendela membuat rambutnya tertiup dan wajahnya tersibak. Ia adalah Selena Argaient, sang pemilik kediaman ini. Wajahnya yang seputih salju, serta cahaya lilin yang redup terefleksikan di mata hijau emeraldnya yang indah, menampilkan pemandangan yang menawan.
Ketika ia tengah fokus membaca buku, ia secara tiba-tiba berhenti membalikkan bukunya. Bukan karena ia fokus pada isi yang berada pada lembaran tersebut, namun fokusnya berada di tempat lain. Ia langsung menutup buku yang ia baca dan meletakkannya di pojok meja tempat buku tersusun rapi.
“Masuklah, Kapten Scott,”
Setelah ia mengatakan hal tersebut, sejenak ruangan tersebut terasa sunyi. Selama beberapa saat ia termenung menatap ke luar jendela, sampai tiba-tiba saja suara ketukan pintu memecahkan keheningan suasana tersebut.
*Tok Tok Tok!
“Saya mohon izin masuk, Yang Mulia
Setelah beberapa saat pintu terbuka, menampakkan seorang pria dengan penampilan rambut hitam yang acak-acakan, itu adalah Kapten Ksatria Scott.
“Anda luar biasa seperti biasa, Yang Mulia. Bahkan Anda dapat mengetahui identitas saya bahkan sebelum saya sempat mengetuk pintu,”
Scott mengagumi persepsi luar biasa yang dimiliki oleh Selena karena berhasil merasakan kehadirannya dari jarak jauh.
“Cukup basa-basinya. Kapten Scott, apa yang membuatmu datang malam-malam begini untuk menemuiku?”
“Ah, jadi begini Yang Mulia...”
“Apakah itu tentang Luminas? Apakah Luminas telah memulai latihannya dalam berpedang? Atau mungkin ada hal lain?”
“!!!!”
Scott cukup terkejut dengan tebakan Selena yang akurat
“Itu benar, Yang Mulia. Tuan Putri Luminas hari ini ia berlatih pedang dengan saya di tempat latihan,”
“Jadi begitu... Lebih cepat dari perkiraanku,”
Selena mengangguk dan mengelus dagunya.
“Apa yang harus saya lakukan, Yang Mulia?”
“..... Lakukan saja hal yang tadi kau lakukan. Jika ia memintamu untuk melatihnya, maka latihlah ia,”
Selena berpaling dan menatap ke luar jendela.
“Tapi apakah tidak apa-apa bila saya yang mengajarkannya berpedang? Saya tidak merasa memiliki keterampilan yang cukup untuk melatihnya,”
Kapten Scott tampak menentang perintah tersebut, bukan karena ia tidak suka, namun karena ia merasa tidak layak.
“Tidak apa-apa. Dari seluruh ksatria yang ada di sini, aku hanya mempercayaimu,”
“Tetapi Yang Mulia ....”
“Kapten Scott, jangan meremehkan dirimu sendiri. Mungkin dalam kekuatan kamu kurang jika dibandingkan dengan seorang Master Aura, tetapi mengenai keterampilan dan pengalaman aku yakin kau tidak kalah. Karena kau adalah salah satu ajudan kepercayaanku yang telah bertarung bersamaku dalam waktu yang lama,”
Selena memandangi Scott yang tengah tertunduk dengan ekspresi berat.
Ia memahami bahwa Scott merasa rendah diri karena ia masih seorang Ksatria Aura, bukan Master Aura. Sehingga ia merasa tidak layak untuk mengajar seorang genius seperti Luminas.
Selena secara tiba-tiba bangkit dari kursinya dan memberikan pernyataan.
“Aku memerintahkanmu Kapten Scott, sebagai ratumu dan juga sebagai pemimpin dari Unit Serigala Salju Perak, untuk melatih putriku Luminas dalam berpedang!”
“!!!!”
“Kapten Scott, apakah kamu akan melaksanakan perintah ini?”
Selena memberikan tatapan tajam ke arah Scott.
*Bam!
Scott berlutut dengan tegas sehingga membenturkan lututnya ke lantai. Suara yang ditimbulkan oleh lututnya yang terbentur sangat keras, membuktikan bahwa benturan tersebut tidaklah pelan.
“YA, YANG MULIA!!
Setelah beberapa saat Scott berlutut, suara ketukan pintu terdengar lagi.
“Masuklah, Javis,”
Pintu terbuka, terlihat Javis yang masih mengenakan baju besi lengkapnya.
“Maaf mengganggu Anda, Yang Mulia,”
Javis berjalan ke depan dan berlutut di samping Scott.
“Katakanlah keperluanmu Javis. Apakah itu tentang Luminas? Jika itu tentangnya maka Scott sudah mengatakannya padaku,”
“Ya, Yang Mulia. Namun ada satu hal yang dilewatkan oleh Senior Scott mengenai Tuan Putri,”
“Dilewatkan? Apa itu?”
Selena dan Scott menatap penasaran ke arah Javis.
“Ya, saya merasa bahwa Tuan Putri memiliki kecerdasan yang sangat tinggi, bahkan cenderung terlalu tinggi dibanding usianya sekarang,”
“... Ya, aku merasa memang terkadang ketika berbicara dengannya, seperti aku tidak sedang berbicara dengan seorang gadis kecil,”
Selena mengelus dagunya, ia setuju mengenai pernyataan Javis mengenai Luminas yang terlalu cerdas terlampau usianya.
“Javis, apakah kamu mengetahui sesuatu?”
Tanya Scott yang masih dalam posisi berlutut.
“Ya, senior. Aku rasa Tuan Putri adalah seorang yang mengalami reinkarnasi namun masih memiliki ingatan sebelumnya,”
““....Apa?!””
Mereka berdua terkejut hampir di saat bersamaan.
“Javis, jelaskan padaku mengenai apa yang kau katakan,”
Selena menatap tajam ke arah Javis, ia merasa tidak senang mengenai teori Javis mengenai putrinya.
“Ya, Yang Mulia. Mengenai hal tersebut bukankah masuk akal mengenai semua kehebatan Tuan Putri jika ia seorang reinkarnator dan masih memiliki ingatan masa lalunya?”
“.... Kupikir juga begitu,”
Selena mengangguk karena ia merasa pendapat yang dinyatakan Javis masuk akal.
“Jika dia sehebat ini, maka sudah tentu kehidupan sebelumnya yang dimiliki Tuan Putri juga luar biasa. Ia pasti merupakan seorang tokoh yang hebat di masa lalu,”
“.... Kalau begitu, apakah kau tahu siapa Luminas pada kehidupannya yang lalu?”
“Sudah pasti, tidak banyak seseorang yang memiliki bakat luar biasa yang bisa disandingkan dengan Tuan Putri dalam sejarah...”
Javis menampilkan wajah yang sangat serius seakan semua pernyataan yang ia katakan adalah sebuah kebenaran.
“Tentu saja Tuan Putri di kehidupan sebelumnya adalah....”
““??””
Bukan hanya Selena, Scott yang mendengarnya juga ikut penasaran.
Biasanya jika Javis mengemukakan sesuatu maka ia akan mengabaikannya. Karena ia sangat mengenal Javis yang suka berbicara omong kosong. Namun entah kenapa kali ini Javis terasa sangat masuk akal dan ia merasa itu layak untuk didengarkan.
“Adalah kaisar terhebat sepanjang masa, Permaisuri Aria Von Medeia!”
“”.....””
Setelah Javis mengatakan hal tersebut, suasana menjadi hening, Javis merasa bahwa Selena dan Scott sangat terkejut dengan pernyataannya yang cerdas hingga mereka tak bisa berkata-kata.
“....Scott,”
“.... Ya Yang Mulia,”
“Hukum dia.”
Mereka berdua tahu bahwa Javis adalah penggemar berat Permaisuri Aria.
.
.