Themis, The Flower of Justice

Themis, The Flower of Justice
Chapter 7 — Keputusan sulit (3)



“Delta-001, apa itu tadi perbuatanmu?


Pria tersebut menatap Nielson dengan tajam. Meski ia menanyakannya dengan suara datar, namun tekanan dari ucapan serta tatapannya membuat Nielson membeku.


“Ahahaha, apa maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang kau ucap—“


Sebelum Nielson menyelesaikan kalimatnya, ia langsung berputar 180° ke belakang dan menendang pelipis salah seorang yang menyerangnya. Karena tenaga Nielson cukup kuat untuk orang tersebut, tendangannya mampu mendorong kedua orang itu sekaligus. Nielson merasa ia tidak bisa membuang-buang waktu di sini jadi ia pasti akan mengambil kesempatan untuk menyerang setiap ada kesempatan.


‘Mereka hanyalah seorang pengawas, jadi mereka harusnya tidak begitu kuat,’


Setelah menumbangkan dua orang tersebut, Nielson langsung bergegas menuju ke arah Alice, namun terdapat dua orang berbadan besar menghadangnya. Mereka tampak terlatih dan seperti difokuskan hanya untuk bertarung. Nielson mengutak-atik jamnya sekali lagi. Kali ini jamnya tidak mengeluarkan jarum lagi, tetapi mengeluarkan sebuah pisau yang cukup panjang dan menempel di lengannya.


Nielson melesat dengan cepat ke arah mereka dan menusukkannya senjatanya ke arah perut mereka. Serangan pertama Nielson agak meleset dan hanya mampu menggores perut salah seorang pria tersebut. Namun Nielson melanjutkannya dengan serangan kejutan ia mengubah serangan tusukkannya menjadi tebasan ke arah samping sehingga ia melukai salah satu dari mereka cukup dalam.


Pria berbadan besar yang lain terkejut karena pola serangan tidak terduga dari Nielson. Melihat pria besar itu kebingungan Nielson tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia langsung melesat ke arah sebaliknya dan melompat. Nielson menebasnya dengan cepat dan kuat namun pria besar itu masih menangkapnya. Ketika pisaunya di tangkap Nielson langsung menarik senjatanya lagi ke dalam jamnya.


Kedua pria tersebut terkejut dengan perubahan jam tangan Nielson menjadi sebuah senjata jarak pendek sehingga mereka tidak dapat . Jika itu senjata jarak jauh, mereka bisa memperkirakannya karena melihat serangan tadi, sehingga mereka dapat menghindari serangan dengan baik. Namun meskipun mereka tidak bisa memperkirakan senjata Nielson mereka masih bisa bertarung dengan baik dan hanya menerima luka minimal.


Namun luka minimal bagi Nielson sudah cukup, karena memang itulah tujuannya. Nielson menghitung dalam hatinya dan tiba-tiba saja mereka berdua tampak seperti tercekik dan kejang-kejang, lalu mereka jatuh ke tanah seketika. Nielson tersenyum melihat kedua pria besar jatuh ke tanah secara bersamaan.


‘Bodoh, seharusnya kalian waspada jika aku menggunakan racun pada saat jarumnya aku lontarkan. Tetapi kalian malah hanya fokus pada pergerakanku dan mengabaikan jika ada kemungkinan senjataku di racun. Bahkan jika kalian adalah seorang ‘Beta’ yang dikhususkan untuk bertempur sekalipun kalian tidak akan bisa menahan racun dengan dosis mematikan ini,’


Nielson langsung melesat dan melanjutkan tujuan pergi ke tempat Alice. Alice yang dikerumuni oleh orang-orang yang mengerikan hanya meringkuk ketakutan di lantai. Melihat peluang menyerang, Nielson mengubah jamnya kembali ke mode tembakkan jarum. Ia mencari sebuah pijakkan dan melompat sangat tinggi ke atas mereka. Sambil berputar, Nielson membidik dan menembak mereka dalam posisi terbalik ketika dia di udara. Mereka yang terkejut dengan Nielson yang tiba-tiba berada di atas mereka tidak mampu menghindari jarum yang ditembakkan oleh Nielson sehingga 80% dari mereka tewas dalam satu lompatan Nielson.


Sisa dari mereka membeku ketika hampir dari semua rekan mereka tewas, Nielson melanjutkan serangannya dan menembakkan jarum kepada orang yang tersisa juga. Mereka tidak bergerak dan tampak seperti target latihan membidik bagi Nielson.


“Nona Alice! Kamu tidak apa-apa?”


“T-tuan Nielson? Apakah itu kamu?”


Alice yang tadinya meringkuk ketakutan, merasa lega ketika ia melihat Nielson. Ia langsung pergi dan memeluk Nielson.


“Huhuhu, Tuan Nielson!”


“Sudah, jangan membuang waktu di sini. Membuang waktu disini sama dengan membuang nyawa kita. Jadi ayo kita bergegas!”


Nielson menepis pelukan dari Alice, ia langsung menyuruhnya bersiap dan bergegas untuk pergi. Nielson langsung menarik lengan Alice dan pergi bergegas ke luar ruangan.


Ketika berada di lorong menuju luar pengadilan, Nielson menghadapi beberapa orang sekaligus, dan mampu menanganinya dengan cepat tanpa membuang amunisi. Karena Nielson merasa mereka tidak cukup kuat untuk membuatnya menggunakan persediaannya.


Nielson yang sedang terus berlari untuk keluar dari pengadilan, tiba-tiba saja mengubah arahnya dan menuju ke depan wastafel di sebuah lorong. Nielson beberapa kali mengetuk keran tersebut dan secara tiba-tiba muncul sebuah hologram pemindai yang memindai Nielson.


Ketika alat pemindai tersebut selesai memindai Nielson, pemindai tersebut mengkonfirmasi identitas Nielson dan tiba-tiba muncul sebuah pintu besi yang terbuka secara otomatis. Alice yang terkejut melihat lorong rahasia tersebut tidak bisa menahan rasa terkesannya. Namun tarikan kasar dari Nielson menariknya kembali ke kenyataan.


Nielson bergegas memasuki lorong rahasia tersebut bersama Alice. Saat mereka masuk dalam sesaat lorong tersebut langsung tertutup dengan cepat. Di dalam ruangan tersebut Nielson mengeluarkan sesuatu dari saku dalam jasnya. Ia mengeluarkan sebuah dua buah liontin dan menyerahkannya salah satu kepada Alice.


“T-tuan Nielson, apa ini?”


Menerima hadiah liontin dari Nielson, wajah Alice menjadi tersipu. Ia menyangka bahwa ini adalah pernyataan perasaan darinya ketika hidupnya ingin berakhir.


“Alat pengubah penampilan, pakai saja. Bahkan alat pemindai tidak akan bisa memindaimu,”


“A-alat pengubah penampilan? Bukankah benda ini sangat berharga? Ini bahkan belum pernah kujumpai di mana pun!”


“Pakai saja, dengan itu maka dirimu akan selamat. Pergilah menelusuri lorong ini. Di ujung lorong ini terdapat pintu keluar yang menuju ke selokan di pelabuhan. Kita akan bertemu di sana,”


“Apa?! Apa aku pergi sendirian? Apa kau tidak ikut denganku,”


“Aku harus menarik perhatian mereka, jika aku ikut denganmu maka mereka akan melacak rute pelarian kita dan kita berdua tidak akan bisa selamat. Namun jika kita berdua berpencar, maka kemungkinan kita selamat akan meningkat,”


Mendengar ucapan perpisahan dari Nielson, Alice merasa tidak rela. Ia tahu bahwa ucapan Nielson benar dan merupakan keputusan terbaik pada saat ini, namun memikirkan Nielson harus mengulur waktu untuknya agar bisa kabur membuat hatinya sakit karena sebab dirinya Nielson akan berada dalam bahaya.


“Baiklah, pastikan kamu menemuiku di sana,”


Ekspresi Alice menjadi gelap, dia sangat mengkhawatirkan Nielson. Meskipun mereka baru berbicara untuk pertama kalinya, namun karena sudah mengalami situasi hidup dan mati bersama mereka menjadi dekat.


“Tentu, aku akan menemuimu di sana,”


“Apa kamu bisa berjanji padaku?”


“..... Aku berjanji,”


Mendengar janji dari Nielson, Alice langsung bergegas pergi menyusuri lorong karena ia tahu bahwa mereka sudah kehabisan waktu. Ia mempercayai Nielson karena dirinya telah diselamatkan olehnya sekali, jadi pasti Nielson akan melakukannya lagi kali ini.


Namun, Nielson sempat diam sesaat ketika disuruh berjanji oleh Alice, karena ia tidak tahu apakah ia bisa menepati janjinya untuk bisa selamat kali ini. Ia merasa bahwa sangat sulit untuk bertahan hidup dalam situasi ini, meskipun ia sudah memperkirakannya dan membuat rencana, tetapi persentase keberhasilan rencana ini sangat rendah.


Nielson menggelengkan kepalanya dan menepuk kedua sisi wajahnya untuk meyakinkan dirinya. Karena ia harus fokus agar bisa selamat dari situasi ini, bahkan jika ia tidak selamat setidaknya Alice yang kutolong nyawanya selamat, maka ia tidak akan menyesal telah mengorbankan hidupnya.


‘Setidaknya Alice akan aman, karena di sana ada Zeta-003 yang menunggunya,'


Nielson menekan suatu tombol dan pintu rahasia yang tertutup terbuka kembali dan membawanya ke tempat tadi. Nielson berjalan ke luar dan melihat 2 orang yang tadi ia bunuh tergeletak di tanah.


Nielson menyeret salah satu mayat dan membuka kancing baju mayat tersebut. Ia mengorek-ngorek kantung dalam jasnya dan mengeluarkan sebuah liontin yang sama persis dengan yang ia berikan kepada Alice. Nielson membenturkan liontin tersebut ke tembok hingga pecah, lalu ia menyingkirkan pecahannya dan mengungkap bentuk dalam liontin yang berisi sebuah mikrocip. Nielson mengambil mikrocip tersebut dan menancapkannya di dalam tubuh mayat tersebut lalu menutup bajunya kembali. Ia menekan tombol di remote tersebut dan penampilan mayat tersebut tiba-tiba berubah menjadi berpenampilan seperti Alice.


‘Baik dengan ini tahap kedua dari rencana selesai’


Nielson kemudian mengangkat dan menggendong mayat berpenampilan Alice tersebut di punggungnya. Ia membuat seolah-olah Alice yang berada dipunggungnya telah mati dan membuat musuh memfokuskan perhatiannya pada Nielson. Ia berlari dan melanjutkan perjalanannya ke pintu luar. Sejauh perjalanan Nielson tidak menjumpai satu pun musuh lagi, namun pada saat di pintu masuk dia menjumpai seorang pria dengan pakaian formal dan rambut acak-acakan sedang menunggu dirinya di depan pintu masuk dengan 4 orang pria di belakangnya.


‘Dia pasti seseorang eksekutor, aku harus berhati-hati,'


Melihat pria yang berdiri di depannya Nielson langsung mengenali identitasnya. Dia adalah eksekutor, yang bertugas untuk mengeksekusi jika ada seseorang yang berkhianat di antara manusia ciptaan mereka. Di samping eksekutor terdapat pengawas, tidak seperti eksekutor, mereka hanya bertugas mengawasi seseorang dari Project Alphabet dan akan melaporkannya jika ada tanda-tanda mencurigakan.


Kedua unit tersebut adalah unit yang diciptakan khusus untuk Project Alphabet. Karena jika manusia hasil Project Alphabet berkhianat maka akan sangat berbahaya bagi organisasi. Mereka semua adalah individu yang luar biasa dengan setiap kemampuan yang berbeda di tiap abjadnya.


‘Keempat orang di belakangnya itu... Mereka pasti para Beta dengan peringkat yang cukup tinggi, mereka terasa berbeda dengan yang tadi. Namun, yang paling membuatku resah adalah—‘


Nielson melirik ke arah pria berpakaian formal dengan rambut acak-acakan tersebut. Ia merasa bahwa kemampuan dalam pertarungannya pasti cukup tinggi, ditambah dia adalah seorang eksekutor yang bertugas mengeksekusi, pasti ia memiliki peralatan canggih yang mampu mendukungnya dalam membunuh seorang Alphabet.


“Ah jadi kau pengkhianatnya? Kau seorang Delta bukan?”


Pria tersebut bertanya padanya namun Nielson diam dan tidak menanggapinya.


“Tidak mau menjawab? Ck, padahal hanya seorang Delta yang tidak tahu cara bertarung tapi mereka sampai mengirim diriku dan beberapa Beta tingkat tinggi. Mereka sungguh terlalu berhati-hati,”


Pria tersebut merendahkan Nielson sambil membakar rokoknya. Namun mendengar dirinya direndahkan Nielson tidak merasa kesal, justru ia merasa itu suatu keuntungan karena lawan akan lebih lengah dalam menghadapinya sehingga menambah peluang kemenangan.


“Kalian berempat urus saja dia, kurasa terlalu berlebihan untuk kita semua dalam menghadapi satu orang kutu buku,”


Keempat pria besar pun maju karena perintahnya. Nielson memfokuskan pandangannya, karena yang ia lawan adalah seorang Beta tingkat tinggi, tentu ia harus menghadapinya dengan segala yang ia punya.


‘Merupakan hal yang bagus jika ia benar-benar meremehkanku, tetapi untuk berjaga-jaga aku harus menyimpan kartuku sebaik mungkin. Karena bisa saja ia hanya berpura-pura merendahkan dan mengirim mereka kepadaku untuk menganalisis kemampuanku,'


Untuk meningkatkan peluang kemenangan, Nielson melancarkan tendangan memutar 180° nya sebagai serangan pertama kepada seorang pria besar yang berdiri di depannya. Namun pria tersebut hanya mengayunkan tangannya dan menepisnya dengan ringan seperti serangan tersebut bukanlah apa-apa baginya.


Karena serangannya tidak berhasil, Nielson mencoba melancarkan serangan baru. Ia mundur beberapa langkah menjauh dari pria tersebut dan memasang jarak. Melihat Nielson yang memasang jarak, pria besar tersebut kini memasang kuda-kuda.


Nielson menarik nafas dan menghembuskan nafasnya lewat mulut. Ia langsung melesat ke arah pria besar tersebut dan kali ini dia mencoba dengan menendang ke arah samping dari depan pria tersebut. Namun bukannya menangkis dia malah maju selangkah dan melancarkan pukulan ketika Nielson hendak menendang.


‘Tertangkap,'


Nielson dengan cepat mendaratkan kakinya yang sedang menendang dan menjadikannya sebuah tumpuan. Nielson kemudian menghindari pukulan pria tersebut dengan bergerak ke samping kemudian ia melesat dan memotong jarak. Lalu Nielson melancarkan pukulan yang sangat kuat ke ulu hati. Namun pria tersebut bahkan tidak bergeming ketika ia menerima serangan dari Nielson, seakan itu cuma serangan remeh dari seekor serangga.


Melihat lawannya yang dengan sengaja menerima serangannya Nielson tersenyum dan langsung menjaga jarak. Kemudian ia melesat ke arah orang kedua dan ketiga dengan sangat cepat, ia harus mengalahkan mereka berdua secepat mungkin sebelum racun yang ditempelkan pada pria tersebut bekerja dan mereka jadi waspada terhadapnya.


Sesaat sebelum pukulan Nielson mengenai pria itu, Nielson menyelipkan sebuah jarum kecil di ujung pukulannya sehingga saat tangannya membentur tubuh pria itu dengan kuat maka jarum pasti akan tertancap padanya walau badannya sangat keras.


‘Aku harus mengurangi jumlah mereka sebanyak mungkin sebelum mereka menjadi waspada terhadapku!’


Ketika Nielson secara tiba-tiba menyerang pria besar kedua, pria besar tersebut terkejut karena dirinya tidak menyangka bahwa Nielson akan menghadapinya bahkan ketika ia sedang berhadapan dengan rekannya.


Pria besar itu mengambil sikap untuk menghadapi Nielson. Berbeda dengan yang satunya, pria besar yang ini malah langsung melesat untuk melancarkan serangan kepada Nielson. Pria tersebut melayangkan tinjunya yang kuat namun ringan. Nielson cukup kesulitan ketika menghindari tinju tersebut karena walau memiliki kekuatan yang kuat, tinju itu dilayangkan dengan ringan dan cepat, dan lagi pola serangan tinju tersebut sulit dibaca sehingga menyulitkan Nielson untuk menganalisis serangan selanjutnya.


Nielson mengamati lawannya dengan saksama, dari postur tubuhnya, cara bernafas, hingga tatapan mata mereka sehingga ia dapat menghindari semua serangan tersebut. Ia bahkan tidak sekalipun mengalihkan pandangannya dari semua musuhnya, indranya masih mewaspadai seluruh lingkungan sekitar karena ia tahu bahwa mereka semua ikut campur dalam pertarungannya karena melihat rekannya dikalahkan satu persatu.


Ketika Nielson sudah mulai terbiasa dengan pola serangannya, pria berbadan besar itu merubah bentuk serangannya menjadi serangan super cepat dengan mengurangi kekuatan pada pukulannya. Pukulan tersebut melayang dengan cepat ke arah Nielson. Dirinya yang sudah terbiasa dengan serangan musuhnya, Nielson menjadi tidak bisa merespons dengan baik serangan cepat yang mengarah padanya.


‘Cih, tidak mungkin bisa dihindari. Kalau begitu...’


Nielson memutuskan untuk menerima serangan tersebut. Meskipun kekuatan yang digunakan dikurangi agar menambah kecepatan pukulan, kekuatan pukulan tersebut masihlah sangat besar untuk ditangani oleh Nielson mengingat seberapa besar kekuatan lawannya.


Nielson memanfaatkan pukulan lawannya yang mendarat di wajahnya untuk memperpendek jarak mereka. Nielson dalam sekejap mengeluarkan pisau yang menempel di tangannya dan menebas pria berbadan besar tersebut. Pria itu tidak mampu menghindari serangannya karena jarak yang begitu pendek dan tempo serangan Nielson yang cepat serta tak terduga. Serangan tersebut berhasil mengenai pria itu dengan cukup telak sehingga luka yang dihasilkan cukup dalam.


Tidak membuang kesempatan, Nielson menanjak dan menjadikan pria berbadan besar di depannya sebagai pijakan dan melompat ke udara sambil berputar. Ia membidik semua musuhnya dan menembak masing-masing dua jarum kepada setiap musuh. Kedua pria berbadan besar itu terkena serangan jarum Nielson, namun sang eksekutor berhasil menghindari serangannya seakan ia bisa melihat lintasan serangan jarum yang sangat kecil tersebut.


“Wah~, apa itu tadi? Apa kau berusaha menyerangku?”


“....”


Nielson tidak menanggapi atas pertanyaan yang dilontarkan oleh pria berpakaian formal dengan rambut acak-acakan atau sang eksekutor.


‘Serangan jarum tersebut tidaklah mustahil untuk dihindari. Walau jarum yang melambat di udara karena jarak yang jauh dan memungkinkan untuk melihat lintasan serangannya, tapi jarum yang sangat kecil serta serangan tak terduga yang terarah padanya seharusnya lebih dari cukup untuk mengenai dirinya,'


Nielson menggertakkan giginya. Ia merasa bahwa eksekutor tersebut sangat berbahaya, dan karena serangan kejutannya telah gagal maka ia akan lebih waspada terhadap Nielson jika ada serangan kejutan lain.


“Wah-wah~, aku tak menyangka bahwa mengurus seorang Delta akan sesulit ini. Aku tahu bahwa kau adalah nomor satu dalam abjadmu, tapi bahkan dirimu bukan seorang Alpha yang mahir di segala bidang. Bagaimana bisa kau sekuat ini?”


Pria eksekutor tersebut mengeluarkan seringai yang sangat lebar dan menyeramkan. Raut wajahnya menggambarkan bahwa dirinya seperti telah mendapatkan kesenangannya kembali setelah sekian lama.


Mereka berdua saling memandang satu sama lain selama beberapa saat. Pertukaran pandangan selama beberapa saat seolah menyampaikan sebuah pesan kepada mereka. Mereka harus bertarung dengan segenap kemampuan mereka dan menghabisi lawan di depannya.


“Ayo kita bersenang-senang, bocah!”


“Siapa yang bocah? Aku ini lebih tua daripada dirimu, dasar otak udang!”


Mereka berdua saling melontarkan ejekan satu sama lain dan melesat ke depan secara bersamaan. Mereka berdua melancarkan serangan secara bersama-sama. Serangan pertama mereka berbenturan. Dari pukulan masing-masing, mereka menyadari bahwa mereka akan kalah ketika mereka tidak bersungguh-sungguh dalam bertarung satu sama lain.


Merasa waspada dengan lawannya, Nielson segara melancarkan serangan pukulan dengan cepat dan membabi-buta. Nielson tidak ingin memberikan lawannya kesempatan menyerang dan harus mengakhiri ini secepat mungkin karena tahu bahwa lawannya sangat berbahaya.


“Wah-wah, dari awal sudah melancarkan serangan cepat ya,”


Pria eksekutor tersebut mengatakannya dengan nada yang mengejek. Ia mampu menghindari serangan cepat Nielson dengan mudah, seakan dia dapat melihat semua serangan tersebut, dan tubuhnya dapat menyesuaikan dengan penglihatannya.


‘Cih, ini akan sangat sulit. Aku masih memiliki satu jarum, karena serangan jarum habis-habisan sebelumnya aku rasa ia mengira bahwa aku telah kehabisan amunisi. Aku harus menggunakan jarum terakhir ini disaat yang tepat!’


Nielson mendesah di dalam hatinya. Ia sudah merasa lelah dengan segala pertarungan yang terjadi hari ini, sebelum kehabisan tenaga Nielson harus segera mengakhirinya.


Pria eksekutor tersebut menangkap salah satu serangan Nielson dan menarik lengan Nielson. Kemudian ia melancarkan serangan balasan dengan memukul bagian ulu hati Nielson dengan keras. Nielson yang tidak mampu merespons dari serangan dengan jarak sedekat itu mendapatkan pukulan telak di titik vitalnya.


“Ughh,”


Nielson mengerang, namun ia tidak mengendurkan posisinya. Sebaliknya, ia malah memanfaatkan serangan lawannya dengan menggenggam erat tangan musuhnya dan memukul balik bagian ulu hatinya dengan keras. Mereka berdua sama-sama terkena pukulan keras ke titik vital mereka. Namun pria eksekutor tersebut lebih diuntungkan karena Nielson dalam keadaan lelah fisik dan mental setelah menjalani itu semua.


Mereka berdua melanjutkannya dengan saling melancarkan serangan cepat. Serangan mereka sangat cepat bahkan hingga sulit diikuti oleh mata. Mereka bertukar serangan, mereka menyerang, menghindar dan menangkis. Mereka terus saling memukul dan menendang hingga pria eksekutor tersebut menyadari ada yang aneh dengan alur pertarungan dan juga Nielson.


‘Pria Delta ini.... Dia sedang meniruku?’