Themis, The Flower of Justice

Themis, The Flower of Justice
Chapter 32 — Ksatria Sihir(9)



[Curt Mountain, Perbatasan Kekaisaran Chronos, tiga hari sebelum Medeia menyerang Chronos]


Di pegunungan timur perbatasan kekaisaran Chronos, terdapat gunung terjal yang menjadi benteng alami dari Kekaisaran Chronos, itu adalah Curt Mountain.


Gunung yang dijuluki gunung penghakiman, karena gunung tersebut telah menelan banyak sekali korban akibat dari ‘penghakiman’ yang dilakukan oleh Chronos. Banyak peperangan yang dilakukan oleh Chronos di gunung itu ketika mereka masih belum memperoleh status sebagai kekaisaran. Gunung yang tinggi dan terjal, di tambah kabut alam yang tak pernah menghilang dari pandangan, kondisi geografis tersebut menjadi senjata alami yang kuat bagi Chronos untuk bertahan.


Selain untuk benteng pertahanan, mereka juga menggunakan gunung tersebut untuk menahan serta menghukum para tahanan dan para pengkhianat perang. Rumor mengatakan bahwa lebih baik mati di medan perang dibandingkan dengan menjadi tahanan di Curt Mountain.


Setelah peperangan usai dan tidak ada yang menyerang Chronos lagi, kekaisaran Chronos menggunakan benteng di gunung ini sebagai pusat pertukaran informasi. Dengan kabut yang sangat tebal dan ketinggian yang sulit di jangkau, hampir mustahil untuk menemukan pusat informasi Chronos ini jika ia tidak pernah ke sana sebelumnya.


Namun saat ini—


“Haah... Haah... Haah,”


‘Sialan... Bagaimana mereka bisa berada di sini’


Di tengah pegunungan yang terjal dan berkabut tebal ini, terlihat seorang pria sedang berlari dengan terengah-engah seperti tengah di kejar oleh sesuatu.


Penampilannya yang kotor dan compang-camping, serta armor dan pakaiannya yang sudah terkoyak, bisa dilihat bahwa pria itu sedang mengalami hal yang sulit.


Pria dengan penampilan yang compang-camping tersebut terus berlari meski ia kehabisan nafas. Menuruni pegunungan yang terjal tanpa memedulikan medan yang ia lalui, tampak seperti ia sedang dikejar oleh sesuatu yang mengancam hidupnya.


‘SIAL SIAL SIAL SIAL! Aku harus lari! Tinggal sedikit lagi sampai ke markas pusat informasi!’


Pria tersebut terus berlari dengan kecepatan penuhnya, ia menggunakan kekuatan aura miliknya untuk meningkatkan kecepatan berlarinya. Ia terus memfokuskan aura di kakinya agar bisa terus berlari dengan cepat di pegunungan terjal ini.


‘Terlihat! Itu markas pusat informasi!’


Ketika melihat sebuah atap yang familier bagi dirinya, pria tersebut langsung mendadak cerah. Ia semakin meningkatkan kecepatan miliknya menuju ke arah bangunan tersebut. Namun ketika ia terus berlari menuju ke bangunan tersebut yang menunggu dirinya bukanlah markas pusat informasi yang diharapkan oleh dirinya, melainkan sekelompok penyihir dengan jubah bersimbol matahari perak.


Melihat para penyihir, tatapan pria tersebut berhenti berlari, ia memandangi mereka dengan tatapan putus asa. Ia berlutut, dan tertawa sambil menangis.


“Haha... Mustahil,”


Ketika sedang meratapi akhir hidupnya, para penyihir tersebut terlihat sedang melakukan sesuatu. Sekelip cahaya bersinar di atas mereka, dan beberapa saat kemudian cahaya yang berkelip tersebut berubah menjadi sebuah bola api raksasa.


“”Fire ball!””


Melihat bola api yang mendekat, pria tersebut memejamkan matanya, ia merasa ini adalah akhir hidupnya. Ia memegang dada kirinya erat-erat yang terdapat simbol kekaisaran Chronos.


‘Hidup... Kekaisaran Chronos!...’


*BAAMM!


Bola api raksasa tersebut tepat mengenai pria tersebut dan meledak dengan dahsyat hingga menghancurkan lingkungan sekitarnya.


Setelah membuat bola api raksasa, para penyihir yang mengenakan jubah dengan simbol matahari tersebut pergi meninggalkan area dan menghadap kepada seorang pria paruh baya dengan rambut perak yang berkilau tengah duduk sambil menatap puing-puing bangunan yang terbakar.


“Tuan Eilan, tikus terakhir telah dimusnahkan. Operasi musnahkan sarang tikus telah berhasil,”


Salah satu dari kelompok penyihir tersebut menunduk sambil melaporkan apa yang sedang terjadi.


“Hmm,”


Namun hanya tanggapan singkat yang keluar dari pria berambut perak tersebut.


“Karena misi kita telah sukses, mari kembali ke markas,”


Pria tersebut bangkit dari duduknya dan berjalan melewati para penyihir tersebut. Dengan santainya, ia berjalan melewati reruntuhan bangunan yang tengah terbakar oleh api yang ganas.


“”[Freeze]””


Hanya dengan satu kata darinya udara sekitar tiba-tiba saja menjadi semakin dingin. Dalam sekejap, bangunan yang terbakar itu beku di dalam balok es.


“Ah, karena ini misi dari kakak, aku harus menyelesaikannya dengan lebih meriah,”


Setelah mengatakan hal tersebut, pria berambut perak itu tersenyum dan terus berjalan menjauhi reruntuhan, setelah berjalan cukup jauh, ia berbalik. Ia mengeluarkan sebuah tongkat panjang dari udara dan menunjuk ke arah reruntuhan bangunan yang tengah terbakar tersebut.


Setelah beberapa saat, sinar terang muncul dari ujung tongkat tersebut dan ia mulai membentuk sebuah lingkaran sihir yang seukuran dengan telapak tangan.


Pria tersebut mulai mengucapkan sesuatu yang aneh dari mulutnya sambil terus menggambar lingkaran sihir yang semakin besar.


“Sihir Ultima Argaient...”


“”[Ultimate Freeze]””


*FLASH!!


Setelah pria tersebut menyelesaikan mantra miliknya, sinar cahaya melesat keluar dari tingkat miliknya menuju ke arah bangunan-bangunan yang terbakar. Sinar cahaya tersebut bergerak dengan kecepatan yang sangat cepat, dan ketika sinar tersebut bersentuhan dengan bangunan-bangunan yang terbakar—


*DRRRRKK!


Dalam sekejap, bangunan-bangunan yang terbakar tersebut membeku. Seluruh area yang terbakar tersebut kini berada di dalam balok es. Bahkan api yang membakar bangunan tersebut tidak padam, namun api tersebut ikut membeku di dalam balok es.


Melihat pertunjukkan sihir yang ditampilkan oleh pria berambut perak tersebut para penyihir berjubah tidak bisa menutup mulut mereka karena saking terkejutnya.


Sihir yang ditunjukkan oleh pria berambut perak tadi adalah sihir Freeze, sihir yang bisa digunakan oleh penyihir tingkat 5 ke atas dengan segala afinitas.


Namun yang ditunjukkan pria berambut perak tadi adalah sesuatu yang sama kuatnya dengan mantra yang hanya bisa digunakan oleh di atas penyihir tingkat 8.


“Haha, mau berapa kali pun menyaksikannya keluarga Argaient memang luar biasa... Siapa yang menyangka bahwa keluarga Argaient memiliki sebuah metode peningkatan mantra sihir tanpa batas?”


Hal yang dilakukan pria berambut perak tersebut memang sangat mengejutkan bagi semua penyihir. Dari teori yang telah diketahui, peningkatan sihir itu hampir tidak memungkinkan dan hanya bisa dilakukan di mantra tingkat rendah seperti fire ball.


Bahkan jika peningkatan kekuatan mantra memungkinkan, maka hanya bisa ditingkatkan sebanyak satu sampai dua tingkat. Tidak ada sebuah catatan di mana seseorang melakukan penguatan sihir di atas mantra tingkat 4 dan juga melakukan peningkatan sihir sampai-sampai kekuatan yang dilancarkannya setara dengan sihir tingkat 9.


Setelah membekukan sebuah bangunan yang hampir sebesar kota beserta dengan api-apinya sekaligus, ia tidak terlihat lelah sedikit pun dan tetap berjalan dengan santai seolah sihir besar tadi bukanlah apa-apa bagi dirinya.


“Ayo kembali,”


“YA! TUAN!”


Setelah sepenggal kalimat pendek dari pria berambut perak tersebut, dalam sesaat ribuan orang yang mengenakan jubah dengan simbol matahari perak keluar dari balik kabut tebal di pegunungan tersebut seakan mereka sedang bersembunyi dan menunggu perintah dari pria tersebut sambil menyembunyikan keberadaan mereka.


Pria berambut perak tersebut adalah Eilan Argaient, adik dari Selena Argaient sekaligus pewaris dan calon kepala keluarga dari keluarga sihir agung Argaient. Ia dan pasukan khusus dari keluarga Argaient diberi peran untuk menghancurkan pusat informasi Chronos yang berperan untuk menghubungkan ibu kota dengan tentara Chronos yang sedang berada di luar.


Pusat informasi Chronos yang dikatakan sebagai benteng alam yang tidak pernah bisa ditembus, hancur diporak-porandakan oleh Eilen Argaient dan pasukan khususnya.


.


.


[Kota Arland, Medeia]


.


Bau amis darah dan juga bau busuk dari daging manusia yang terbakar berasal dari para prajurit yang telah gugur dari kedua belah pihak memenuhi kota Arland. Para prajurit yang saling menusuk dan menebas, juga para prajurit yang saling melontarkan panah dan sihir, kedua belah pihak mengeluarkan kekuatan tempur terbaik mereka.


Setelah Medeia mengumpulkan seluruh pasukannya di garis depan, Chronos juga melakukan hal yang sama. Mereka memfokuskan semua pasukan di satu titik kota Arland, yakni di mana prajurit Medeia menyerang.


Para prajurit Medeia yang berusaha memanjat tembok benteng atau menghancurkan tembok benteng dengan sihir, dan para prajurit Chronos yang tengah bertahan dari gempuran prajurit Medeia benar-benar menjadi sebuah pemandangan yang intens.


Tidak siapnya pasukan Chronos menjadi sebuah keunggulan bagi pihak Medeia. Prajurit Chronos yang telah lelah fisik dan mental, tidak bisa menandingi prajurit Medeia yang sedang berada dalam kondisi fisik prima dan moral yang tinggi.


Meskipun awalnya terlihat seimbang, namun semakin lama pertempuran berlarut, pihak Chronos semakin terdesak. Memegang keuntungan sebagai pihak yang bertahan tidak cukup bagi Chronos untuk memenangkan perang ini.


Para prajurit Chronos yang berada di luar dan di atas tembok mulai berguguran satu persatu. Meskipun pihak Chronos telah mengalami kerugian dalam hal prajurit, namun itu bukanlah menjadi sebuah hal yang menentukan pemenang dari perang ini. Di dunia yang di mana kekuatan merupakan segalanya, kuantitas bukanlah hal yang penting. Mau sebanyak apa pun para prajurit dan ksatria aura, mereka tidak akan bisa bertahan dari satu serangan seorang master aura.


Pertempuran yang sebenarnya akan di mulai jika salah satu petinggi dari kedua belah pihak turut campur tangan.


“Gah! Dasar licik! Beraninya para Medeia sialan itu mempermainkan Chronos?”


Seorang pria tinggi yang kurus terlihat memandangi seluruh medan pertempuran dari atas tembok, ia adalah salah satu dari 7 pedang Chronos, Granger Graziette.


“Tenanglah, Granger. Berbuat licik adalah kebiasaan orang lemah. Mereka berbuat licik karena mereka itu lemah,”


Seorang wanita bertubuh besar dan berotot yang berada di samping Granger menyeringai, Ia adalah salah satu 7 pahlawan Chronos juga, Marsha Benwith.


Mendengar tanggapan dari Masha, Granger menyeringai.


“Kalau begitu, aku akan turun langsung sekarang dan memberikan pelajaran pada bajingan lemah itu!”


“Jika kamu ingin ikut bertempur, setidaknya ajaklah 7 orang master aura dan habisi para bajingan lemah itu,”


Granger mengangguk setuju atas saran Masha untuk membawa beberapa master untuk terjun bersama dirinya menuju medan perang.


“Kekekeke, biar aku ajarkan apa yang terjadi jika mereka mempermainkan Kekaisaran Chronos!”


Granger terkikik dan langsung lompat dari tembok menuju medan pertempuran bersama dengan beberapa master aura yang ia bawa.


Melihat pihak Chronos yang semakin terdesak salah satu dari 7 pahlawan Chronos, Granger Graziette yang telah mencapai puncak dari master aura mulai terjun ke dalam medan pertempuran!


.


[Di sisi Medeia]


Zedd, yang biasanya berada dalam markas pusat sebagai otak dari pertempuran, kini ikut membantu dalam divisi sihir pasukan Medeia. Ia menjadi ketua penyerangan dan pertahanan sihir dalam perang ini.


Meskipun ia terjun ke lapangan, beban sebagai ahli strategi pasukan Medeia masih belum luput darinya. Sambil menyerang menggunakan sihir, ia tetap aktif berkontribusi dalam memberikan arahan kepada para pasukan yang sedang bertempur. Untuk itu, ia harus memperhatikan kondisi pertempuran dari lapangan dan juga laporan para prajurit dari kejauhan.


Meskipun Zedd adalah orang yang sangat cerdas, itu tetaplah hal yang hampir mustahil untuk dilakukan. Melakukan kalkulasi yang rumit ketika merapal sihir tingkat tinggi, serta mengobservasi dan memberikan arahan kepada para prajurit, semua hal tersebut hampir membuat otak Zedd pecah.


Ketika ia sedang disibukkan dengan banyak hal, satu laporan yang merepotkan datang ke telinganya.


“Apa? Granger Graziette bersama beberapa master turun ke medan perang? Jumlahnya 7 orang? Sialan! Chronos, kenapa mereka memiliki kekuatan tempur yang sangat kuat,”


Zedd menggeram dan melempar tongkat sihir miliknya ke tanah. Namun sebagai otak dari pasukan Medeia, Zedd tidak boleh terlalu larut dalam emosinya. Dengan cepat ia mengatur kembali emosinya dan siap memberikan arahan.


“Perintahkan untuk semua komandan yang tersisa terjun ke lapangan. Pastikan untuk menghabisi prajurit sebanyak mungkin ketika kalian berhadapan dengan para master Chronos. Untuk Granger, aku hanya bisa menyerahkannya padamu, Sir Ravin Dynema,”


Di kejauhan, Ravin yang sedang berdiri bersama unit Silver Wolf menerima pesan bahwa ia harus menghadapi Granger. Ravin tidak memiliki banyak tanggapan, ia hanya tersenyum dan menjawab—


“Dengan senang hati. Marishka, aku menyerahkan komando Silver Wolf padamu. Oh ya, jangan lupa mengawasi Mathilda agar ia tidak menimbulkan masalah,”


Wanita pendek berambut biru dengan topi penyihir besar mengangguk.


“Tentu, saya tidak akan membiarkan kekacauan timbul sekecil apapun,”


“Kalau begitu aku bisa mempercayakan ini padamu,”


Setelah mengatakan hal tersebut, Ravin dengan cepat melesat ke arah di mana Granger berada. Seperti yang diperintahkan kepada para Komandan, Ravin juga menghabisi musuh sebanyak mungkin sebelum bertempur dengan Granger.


Ravin dengan cepat membabat dan menghabisi para musuhnya seperti mesin pemotong rumput, tak perlu waktu lama, ia sudah berada di depan Granger yang terlihat sedang bersenang-senang dengan pedang pembunuh miliknya.


Granger Graziette, merupakan orang yang paling terkenal di medan perang dibandingkan dengan 7 pedang Chronos yang lain. Itu disebabkan karena kekejaman yang dilakukan olehnya. Ketika berperang, ia bahkan terkadang kehilangan akal dan membantai musuh serta sekutunya sendiri, bahkan ia sering menghancurkan desa sekitar yang tidak terlibat dengan apa pun.


Ia menggunakan dua pedang raksasa yang tampak seperti gigi hiu. Granger yang membantai ratusan orang dengan pedang itu seperti seorang penjagal, ia mendapatkan julukan Granger The Slaughter.


Melihat Granger yang terkenal akan kekejiannya, emosi Ravin menjadi meningkat. Ia yang biasanya merupakan orang yang datar dan tenang, namun kali ini ia merasakan perasaan benci yang teramat sangat. Ravin pun langsung berjalan mendekati Granger.


“Hei belalang, apa kau bersenang-senang dengan membantai para prajurit lemah?”


Ravin menyeringai dan memprovokasi Granger.


“Hah! Bukankah ini medan perang? Aku bisa berbuat apa pun yang aku mau!”


Granger berbalik dan melihat siapa yang mengatakan omong kosong itu kepadanya.


“Oh ya? Bukankah itu merupakan kebiasaan orang lemah? Orang lemah adalah orang yang suka menyakiti orang yang lebih lemah darinya bukan?”


“Sialan...”


Suara Granger bergetar karena marah dan dahinya mengernyit, mendengar provokasi dari Ravin.


“MAJULAH KAU!!!”


Tanpa menunggu lebih lama lagi, dengan penuh emosi, Granger melesat dengan cepat menuju ke arah Ravin. Ia mengeluarkan dua pedang pemotong raksasa khas mikiknya yang tampak seperti senjata belalang sembah oleh Ravin.


Melihat Granger yang sudah kehilangan kesabaran, Ravin mendengus.


“Hmph! Memang dasar belalang. Apakah kesabaranmu hanya sebatas itu?”


Melihat Granger yang tidak menanggapinya dan terus maju ke arahnya, Ravin mengeluarkan satu pedang panjang miliknya.


“Ini akan menjadi pertarungan yang menyenangkan,”


Ravin menyeringai memikirkan betapa menyenangkannya bisa menghabisi orang yang paling ia benci.


Tampaknya, salah satu panggung utama dalam perang ini, Ravin Dynema sang wakil komandan dari pasukan silver wolf melawan Granger Graziette, pedang pemotong dari 7 pedang kekaisaran Chronos!


.


.