Themis, The Flower of Justice

Themis, The Flower of Justice
Chapter 20 — Permulaan Perang(2)



“Aku kemari sebagai Duke Dynema dan juga utusan Yang Mulia Raja,”


“.... Kalau begitu, kita kembali ke kediaman,”


Setelah Selena mengatakan hal tersebut, mereka berdua beserta Ordo Ksatria Black Panther masuk ke kediaman.


.


.


Suasana di aula tamu Kediaman Selena sangat menegangkan. Selena dan Ludwig duduk saling berhadap-hadapan, dengan orang kepercayaan masing-masing berdiri di samping mereka, dan tidak ada satu pun ksatria di ruangan tersebut. Yang ada di ruangan tersebut hanya para pelayan yang berdiri dengan rapi di sepanjang ruangan.


Ludwig dan Selena masing-masing memasang ekspresi serius di wajah mereka.


“.... Seperti biasa, pelayan di kediaman ini tidak pernah mengecewakan,”


Ludwig memandangi para pelayan yang berbaris secara teratur mengelilingi ruangan tersebut.


“Hmm? Apa maksudmu?”


“Kau pikir kau bisa menyembunyikannya? Meski mereka mengenakan pakaian pelayan, tetapi mereka adalah ksatria aura tingkat tinggi yang melatih teknik pembunuhan, mereka masih tidak bisa menipuku,”


Ludwig memandangi Selena dengan senyum sinis.


“.....”


“Dan juga seorang pelayan dengan tingkatan master aura, kau sungguh menyembunyikan banyak hal,”


Mendengar pernyataan tersebut mata Selena menyipit.


“Haha, ini sungguh kebetulan. Orang kepercayaanku baru-baru ini memasuki tahap master aura,”


“Kau pikir aku akan mempercayai hal tersebut?”


“Tentu saja, karena memang itulah kebenarannya~”


*Bzzzttt


Suasana ruangan tersebut semakin berat karena pertengkaran mereka, sekilas dari kejauhan terlihat percikan kekuatan sihir yang keluar dari mereka.


Seluruh ruangan tersebut bergetar, lantai-lantai mulai retak, dan benda yang terbuat dari kaca di sekitar mereka pecah. Intensitas sihir yang dikeluarkan oleh mereka berdua semakin kuat. Suasananya sangat menegangkan, seakan pertarungan bisa terjadi kapan saja.


Ketika suasana ruangan tersebut semakin menegang, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar. Seorang dua orang gadis dengan rambut perak dan merah terlihat, itu adalah Luminas dan Dorothy.


Luminas dan Dorothy yang memasuki ruangan terkejut dengan suasana ruangan ini. Selain ruangan yang hancur karena percikan sihir, tatapan mereka berdua yang memandang Luminas ketika ia memasuki ruangan benar-benar membuatnya tidak nyaman. Dia mungkin sudah terbiasa dengan tatapan ibunya, tetapi seorang pria asing berambut hitam yang duduk di hadapan ibunya menatapnya dengan tajam.


“Pria berambut hitam tersebut.... Apakah dia Duke Ludwig Dynema?”


Luminas menebak identitas pria berambut hitam tersebut berdasarkan perawakannya. Selain itu hanya sedikit orang yang bisa duduk berhadap-hadapan dengan ibunya seperti itu, sudah pasti orang tersebut merupakan orang penting yang bisa duduk setara dengan seorang ratu.


“.... Apakah dia putrimu?”


Tanya Ludwig.


“Tentu saja, bukankah dia sangat mirip denganku?”


Selena mengangkat dagunya tinggi-tinggi, ia menjawabnya dengan penuh kebanggaan.


“.... Tidak, ia sangat berbeda dengan dirimu ketika masih kecil,”


Ludwig menjawabnya dengan nada yang mengejek.


“A-apa maksudmu?”


Selena bangkit dari tempat duduknya, seakan ia tidak percaya dengan apa yang didengar olehnya.


“Apakah kamu lupa betapa liarnya dirimu ketika masih kecil? Ah aku ingat bahkan ayahmu Eizen, selalu mengeluhkan kesulitan yang dialaminya kepadaku ketika membesarkanmu,”


Ludwig tertawa keras ketika menceritakan hal tersebut.


“A-ah,”


Wajah Selena memerah, ia malu dan panik karena Ludwig menceritakan hal tersebut di depan orang lain, apalagi di depan putrinya tersayang.


“HAHAHAHA! Ah, aku jadi teringat juga. Kau tahu betapa pusingnya ayahmu, ketika kamu membuang nama Eirene Argaient karena sangat tidak ingin jadi pewaris?”


Tawa Ludwig terdengar semakin keras, ia tampak sangat menikmati ketika ia mengejek Selena di depan putrinya.


Selena yang semua aib masa lalunya dibongkar oleh Ludwig di depan putrinya merasa sangat malu, sampai-sampai ia meringkuk di pojok ruangan.


“Selesai sudah, di depan putriku masa kelamku terbongkar,”


Selena mengatakannya dengan nada murung.


Luminas yang melihat bagaimana Ludwig dan Selena saling bercanda merasa heran. Ia mengira suasana di sini berat karena mereka saling tidak menyukai.


‘Apakah mereka bertengkar hanya karena saling mengejek?’


Ia menggelengkan kepalanya ketika mengingat posisi kedua orang ini. Mereka berdua menempati posisi penting di kerajaan Medeia, tetapi mereka malah suka bercanda dan saling mengejek.


‘Apakah semua orang yang memiliki posisi penting di Medeia seperti ini? Atau hanya kedua orang ini yang tidak normal?’


Mengingat perilaku ibunya selama ini, dari pilihan tersebut Luminas menyimpulkan itu adalah yang kedua.


Luminas menggeleng-gelengkan kepalanya dan memutuskan untuk mengabaikan hal tersebut. Ia lanjut mengamati orang yang dipanggil Duke Ludwig Dynema, ia mendengar bahwa Duke Ludwig adalah salah seorang Ksatria terkuat di benua, dan kedua terkuat di Medeia. Luminas yang mendengar hal tersebut mau tidak mau menjadi penasaran.


Duke Ludwig Dynema memiliki tubuh yang sangat besar. Walaupun ia tengah duduk, Luminas bisa tahu bahwa dia memiliki tubuh yang sangat besar dari lebar bajunya.


Ia memiliki rambut berwarna hitam kelam yang memiliki panjang seleher. Wajahnya yang tirus dan tegas, matanya yang tajam dan menusuk, serta hidungnya yang besar dan lancip. Semua komponen tersebut menyatu dengan sempurna sesuai perawakannya dan membuat wajah Ludwig terlihat tampan sekaligus menyeramkan.


Luminas merasa aura yang dikeluarkan Duke Ludwig sangat intens, ia terasa seperti seorang bangsawan yang bermartabat, tetapi ia juga terasa seperti seorang penjagal yang sudah membunuh banyak orang. Selain tubuh besarnya, aura itulah yang membuat Duke Ludwig terasa menyeramkan.


‘Aku dengar dia sudah berusia 150 tahun, tetapi ia masih terlihat muda...”


Luminas sudah menduganya bahwa Duke Ludwig akan terlihat muda dari wajah ibunya. Meski ibunya berusia 80 tahun tetapi wajahnya masih terlihat diawal 20 tahun. Walaupun ia sudah menduganya, Luminas masih terkejut.


‘Kukira dia akan terlihat lebih tua karena usianya yang mencapai 150, tetapi ia terlihat sangat muda...’


Luminas merasa bahwa jika ia tidak mengetahui informasi mengenai Duke Ludwig, ia pasti hanya akan mengira bahwa Duke Ludwig hanyalah seorang pria bangsawan tampan yang memiliki tubuh besar.


Ludwig yang sadar bahwa Luminas sedang menatapnya segera berdiri. Tidak ingin kehilangan muka di depan Luminas, Selena juga langsung bangkit dan berdiri di samping Ludwig.


Luminas terkejut ketika melihat Ludwig berdiri. Ia mungkin sudah menduga bahwa tubuh Ludwig sangat besar. Tetapi ia tidak menduga bahwa tubuh Ludwig tingginya hampir mencapai tiga meter. Selain itu, tubuhnya juga memiliki otot yang sangat tebal sehingga perawakannya sangat besar. Jangankan Luminas, bahkan Selena yang berdiri di sampingnya saja terlihat seperti anak kecil.


Ludwig menatap tajam ke arah Luminas, mulutnya bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu.


“Kamu.... Namamu....”


“?”


Luminas bingung ketika Ludwig memotong kalimatnya.


“.... Siapa?”


Selena dan juga ksatria yang berdiri di sampingnya menepuk jidatnya. Mereka bersikap seakan ini sudah sering terjadi.


“Hei pak tua, bukankah barusan sudah kuberitahu? Apakah ingatanmu semakin memburuk seiring bertambahnya usiamu?”


Selena mengatakannya dengan nada yang mengejek, raut wajahnya tampak sangat puas karena ia bisa membalas ejekan Ludwig tadi.


“.... Tunggu, biarkan aku mengingatnya,”


Ketika Ludwig sedang berusaha mengingatnya, Luminas maju ke depan Ludwig, ia mengangkat roknya lalu sedikit menunduk, ia memberi salam ala bangsawan.


“Luminas Von Medeia, putri kelima dari Yang Mulia Raja Elios Von Medeia, menyapa Duke Ludwig Dynema,”


Ludwig terkejut ketika Luminas secara tiba-tiba mengenalkan dirinya dengan sopan.


“... Haha sudah kuduga,”


“”....?””


Luminas dan Selena menatap sama-sama menatap Ludwig.


“Kamu memang sangat berbeda dengan Selena,”


“Apakah kamu tidak ada orang selain aku untuk dibandingkan?”


Selena merasa kesal dengan pernyataan tersebut.


“Haha, aku tidak bercanda. Kamu memang berbeda dengan Selena, adik Lani,”


Ludwig menatap Luminas dengan serius.


‘Lani? Apakah maksudnya aku?’


“Tuan, tapi namaku...,”


“Tapi aku harap kamu tidak memiliki bakat yang berbeda dari Selena,”


“!!!”


Luminas terkejut dengan pernyataan lanjutan dari Ludwig. Meskipun Ludwig hanya mengatakan sepenggal kalimat, namun Luminas dengan pasti memahami makna dari perkataan Ludwig


‘Awalnya kukira dia hanya bercanda saja, tetapi ternyata dia serius...’


Luminas menatap Ludwig dengan mata berbinar, ia mulai mengagumi Ludwig. Meskipun dia terlihat seperti orang yang suka bercanda, namun ketika ia serius, dia bisa menjadi sangat bijaksana.


Selena yang melihat Luminas menatap Ludwig dengan tatapan berbinar, merasa kesal.


Ludwig yang menerima tatapan sinis dari Selena merasa tidak nyaman.


“Uhuk! Tentu saja kamu tidak boleh memiliki bakat yang berbeda dari Selena! Apakah kau tahu? Ibumu di medan perang ini sangat kuat. Bahkan saking kuatnya dia sampai mendapatkan julukan Silver Queen!”


“Benar, tetapi meski ibumu ini sangat hebat Lumi, tetapi Tuan Ludwig ini lebih hebat, tahu? Bahkan hanya mendengar namanya saja, musuh di medan perang akan langsung gemetar ketakutan!”


Mereka berdua tampak bangga dalam saling memuji satu sama lain. Luminas agak heran dengan hubungan mereka, beberapa saat yang lalu mereka bertengkar dan saling mengejek hingga membuat ruangan ini hancur. Sekarang mereka saling memuji satu sama lain. Luminas jadi sedikit khawatir.


.


.


Setelah beberapa saat saling memuji, akhirnya mereka berhenti, mereka berdua pun kembali duduk saling berhadap-hadapan, dan Luminas mulai berbicara.


“Jadi, Ibu ada apa memanggilku kemari?”


“Ah, aku akan mengatakannya padamu nanti. Untuk sekarang duduklah di sampingku, dan dengarkan apa yang akan disampaikan oleh Pak Tua—maksudku Duke Ludwig ini,”


Ludwig bangkit dari tempat duduknya dan mengeluarkan sebuah kertas gulungan yang tersegel. Melihat kertas tersebut, Selena bangkit dari tempat duduknya dan segera berlutut.


Luminas yang melihat Selena berlutut, ikut berlutut juga.


“Atas nama Yang Mulia Raja Elios Von Medeia, Raja Kesembilan dari Kerajaan Agung Medeia, aku memerintahkan Selena Argaient untuk pergi ke medan perang di barat untuk menghadapi Kekaisaran Chronos!”


“”!!!!!””


Luminas terkejut mendengar pernyataan perang. Ia sudah menduga bahwa di abad pertengahan ini sering terjadi medan perang antara kerajaan, namun selama hidup di istana ia menjalani kehidupan yang nyaman sehingga tidak terpikirkan peperangan tersebut.


Mendengar hal tersebut yang bukan terkejut bukan hanya Luminas, tetapi Selena juga ikut terkejut. Ia sudah menduga jika Ludwig datang kemari adalah untuk mengajaknya ke Medan perang, tetapi ia tidak pernah menyangka bahwa yang dihadapi Medeia adalah Kekaisaran Chronos.


Luminas memandangi Selena yang terkejut, tentu saja ia terkejut karena yang dilawan Medeia kali ini adalah Chronos.


Luminas sudah mengetahui tentang kerajaan yang sering berperang dengan Medeia dalam memperebutkan teritorial, itu adalah Kerajaan Lyberion. Namun kali ini pernyataan perang datang dari Kekaisaran Chronos. Kekaisaran yang mendominasi hampir setengah benua hanya dalam 100 tahun semenjak berdirinya kerajaan.


Satu-satunya kerajaan yang memiliki wilayah sebesar itu dan dipromosikan menjadi kekaisaran dalam waktu singkat hanyalah Chronos. Karena itu sudah pasti kekuatan militer yang dimiliki Chronos sangat kuat.


“Menghadapi Kekaisaran yang sangat kuat seperti Chronos ketika kita sedang berperang dengan Lyberion bukankah akan sangat berbahaya?!”


Selena bangkit dari keadaan berlututnya dan berbicara dengan suara tinggi.


“Selena, aku sangat memahami hal tersebut. Yang Mulia Raja tidak bodoh, ia tidak akan menyatakan perang dengan Kekaisaran Chronos ketika sedang menghadapi Lyberion,”


“Lantas?!”


“Pernyataan perang datang dari Chronos, mereka telah menginvasi wilayah kita di perbatasan kota Arland. Saat ini ada tiga orang master aura dan juga adikmu, Eilyan Argaient sedang menghadang pasukan Chronos,”


Setelah menghela nafas berkali-kali, Selena tampak agak sedikit tenang.


“Kalau begitu, siapa yang memimpin invasi dari Chronos?,”


“Dua orang dari Tujuh Pahlawan Chronos, Granger Graziette dan Marsha Benwith, dan mungkin akan lebih banyak dari itu,”


.


.


[Perbatasan Medeia, Kota Arland]


Kota Arland, kota yang dikenal sebagai kota benteng militer Medeia. Meskipun belakangan ini kota tersebut menjadi sangat damai sehingga beralih fungsi menjadi kota transportasi dalam mengakses Medeia. Berkat Central Alliance yang menghalangi Medeia dengan kerajaan di wilayah barat, Medeia jadi bisa fokus untuk mengembangkan ekonomi transportasi.


Namun meskipun beralih fungsi, pertahanan Kota Arland tidaklah lemah. Saat ini militer Medeia sangat kuat sehingga mampu menempatkan para prajurit yang kuat di setiap perbatasan Medeia. Apalagi kota sepenting Arland di mana semua kota dapat diakses melalui Arland, tentu saja prajurit yang di tempatkan di sana sangat kuat.


Namun kini Kota Arland habis dilalap api. Reruntuhan bangunan dan rumah warga yang habis dilalap api, serta mayat dan darah yang berserakan di jalanan Arland, menciptakan pemandangan seperti sedang berada di neraka.


“Maju!! Jangan sampai menyisakan para keparat Medeia!”


“”WAAAAA””


Para prajurit yang di dadanya terdapat simbol sabit kematian berteriak dan membantai semua orang yang berada di jalanan. Entah itu para prajurit atau hanya warga sipil biasa.


“Bunuh!!!”


“Arghhhh,”


Suara jeritan putus asa yang menggema di seluruh kota dari orang-orang yang terbunuh, merupakan mimpi buruk bagi siapa pun yang mendengarnya


.


.


Di hutan di luar tembok Arland, terlihat banyak prajurit yang mendirikan sebuah kemah dan menyalakan api unggun. Di tempat yang penuh prajurit tersebut terdapat bendera dengan simbol sabit kematian, itu adalah lambang Kekaisaran Chronos.


Di kemah para prajurit Chronos terdapat sebuah barak pertempuran yang tampak telah berdiri sejak tadi. Tampaknya di dalam barak tersebut sedang mengadakan sebuah rapat penting.


Di dalam barak tersebut terdapat enam orang dengan masing-masing mengenakan baju besi perangnya, kecuali seorang wanita yang mengenakan pakaian ketat dan sebuah mantel berbulu.


“Tuan-tuan sekalian, mari kita mulai rapat strategi penyerangan Medeia,”


Seorang pria berkepala botak dengan baju besi lengkap membuka percakapan, ia adalah Farmith.


“Strategi? Strategi apa? Bukankah kita hanya akan menyerang seperti biasanya? Maju dan hancurkan semuanya! Hahaha!”


Seorang wanita dengan tubuh tinggi dan bertubuh besar tertawa dengan keras menanggapi pernyataan Farmith, ia adalah Marsha Benwith, salah satu dari 7 Pahlawan Chronos.


“Tidak bisa seperti itu Nona Marsha. Kita harus memikirkan strategi penyerangan agar bisa mengurangi sumber daya yang kita gunakan dalam perang ini,”


Seorang pria dengan rambut belah tengah berwarna hijau mengkritik Marsha, ia adalah penasihat strategi pada perang kali ini, Yulius.


“Kha! Kau dengar itu, otak otot idiot? Kau seharusnya menggunakan otak kecilmu itu, bukankah kau selalu membuat Yulius kesulitan, hah? Atau jangan-jangan kau sudah membuang otakmu demi otot-otot itu? Hahahaha!”


Yang mengejek Marsha sang 7 Pahlawan Chronos adalah salah satu dari 7 Pahlawan Chronos juga, ia adalah Granger Graziette.


“Hei, cungkring. Beraninya kau mengejekku, hah?!”


Marsha menggunakan kekuatan auranya. Kekuatan aura yang dipancarkan oleh Marsha kuatnya tidak main-main. Bahkan para petinggi militer di ruangan ini merasa sedikit kesulitan bernafas karena aura yang dikeluarkan oleh Marsha.


“Ha! Lalu kau mau apa? Apakah ingin bertarung di sini?”


Granger tampak tidak kesulitan menahan aura Marsha, ia bahkan memprovokasi Marsha agar bertarung dengannya.


“KAU!!”


*BAM!


Marsha memukul meja dengan kuat hingga hancur berkeping-keping. Kini sudah tidak ada yang membatasi antara dirinya dan Granger.


Niat membunuh yang dipancarkan Marsha membuat suasana menjadi menegangkan. Aura Marsha yang berbau dengan niat membunuh terlalu kuat, hingga membuat para penjaga yang berada di sekitar barak pingsan dengan mulut berbusa.


“Tuan-tuan, tenanglah,”


Seorang pria botak melerai mereka berdua yang tampak hendak berkelahi.


“Farmith, jangan menghalangiku atau kau juga akan ikut terkena akibatnya! Biarkan aku memberikan si kurus itu pelajaran!”


Marsha sambil mengepalkan tangannya dengan kuat ia menatap Farmith yang menghalangi dirinya dengan Granger.


Granger tidak merespons apa pun mengenai perkataan Marsha. Namun ia malah menampilkan raut wajah yang seakan mengejek Marsha.


Marsha yang melihat wajah menyebalkan dari Granger merasa semakin kesal dan hendak menerobos Farmith.


“Nona Marsha, tenanglah. Aku di sini dipercaya oleh Beliau, sang pemimpin dari 7 Pahlawan Chronos untuk menengahi ketika kalian berdua akan berkelahi,”


“Tetapi—“


“Atau haruskah saya mengabari beliau soal pertengkaran Anda kali ini?”


Ketika mengatakan hal tersebut, ekspresi Farmith berubah. Kini Farmith menampilkan ekspresi muram yang menyeramkan.


Marsha yang mendengar ancaman dari Farmith pun terpaksa mundur dan mengalah kali ini. Ia tampak takut ketika Farmith berbicara akan melaporkannya ke pemimpin dari 7 Pahlawan Chronos.


“Jika kalian sudah lebih tenang, masuklah ke tenda dan dengarkan strategi yang akan dikatakan Yulius,”


Farmith mengubah kembali lagi ekspresinya seperti semula.


“Ck!”


Marsha mendecakkan lidahnya dan bergerak memasuki barak.


“Booo! Dasar Farmith, kau sama sekali tidak menyenangkan,”


Granger mengeluh kepada Farmith dan berjalan memasuki barak kembali. Farmith yang mendengarkan keluhan Granger memutuskan untuk mengabaikannya.


Ketika Marsha, Granger, dan Farmith masuk kembali ke tenda, Yulis tampak sibuk mengeluarkan banyak gulungan kertas dari dalam tasnya. Ia tampak sudah menyusun rencananya sejak sebelum mereka menjejakkan kaki di medan perang.


“Tuan-tuan, pastikan kalian mendengarkan rencana ini dengan baik, agar semuanya dapat berjalan lancar,”


Yulius membuka salah satu gulungan kertas dan menggelarnya di meja. Ia juga membuka gulungan kertas yang berisi peta terperinci Medeia dan menempelkannya ke dinding.


“Meskipun kekaisaran kita memiliki militer yang sangat kuat, kita tetap tidak boleh lengah. Meski Medeia juga diserang oleh Kerajaan Lyberion, mereka tetap tidak lemah. Aku harap, semuanya dapat mempertahankan kewaspadaan masing-masing dan mampu menjalankan rencananya dengan baik!”


“”YAA!!””


.


.