Themis, The Flower of Justice

Themis, The Flower of Justice
Chapter 17 — Pedang dan Sihir (3)



“Fuh... Jika memang keinginan kalian berdua begitu, maka baiklah,”


Scott menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya.


“Ambil posisi!”


Luminas dan Dorothy saling menjauh.


“Bersedia!”


Mereka berdua mengambil posisi bertarung.


Ketika mereka berdua saling berhadapan, sebuah senyuman tersungging di wajah mereka berdua, seakan mereka telah menantikan ini sejak lama.


“Mulai!!!”


*Batssss


Setelah Scott memberikan aba-aba mulai, mereka berdua langsung melesat dari posisi masing-masing secara bersamaan


*Bam!!!


Kedua pedang kayu saling berbenturan, suara yang keras terdengar dari pedang mereka yang saling menghantam.


Dorothy yang memiliki tubuh lebih besar dan terlatih, berhasil sedikit demi sedikit mendorong Luminas.


‘Ukhh, kuat sekali!!’


Luminas yang terdorong sedikit demi sedikit mengetahui bahwa konfrontasi langsung akan sangat merugikannya. Ia memutuskan untuk mengendurkan pedangnya yang saling mendorong dengan Dorothy dan mengambil langkah mundur menjaga jarak dari Dorothy.


Melihat Luminas mundur, Dorothy merasa bahwa ia akan menghilangkan salah satu keunggulannya yakni kekuatan dan tenaga yang lebih besar dari Luminas.


Ketika Luminas yang tengah berupaya menjaga jarak darinya, Dorothy langsung bergerak dan mempersempit jarak tersebut. Ia tidak akan membiarkan Luminas menjauh dan mendominasinya dengan kekuatan yang dimiliki olehnya.


*Taktaktak!


Dorothy langsung menyerangnya secara ganas. Luminas yang tengah berupaya mundur kini terus-menerus terdesak dengan serangan Dorothy yang tidak memberinya kesempatan untuk menjaga jarak dan mengatur ritme serangan.


‘Kalau mundur tidak bekerja, maka aku harus...’


Luminas yang tengah terdesak oleh serangan bertubi-tubi Dorothy mengambil langkah lain. Ia mengambil satu langkah ke depan dan memilih untuk menerima serangan kuat yang dilancarkan Dorothy.


Ketika Dorothy melihat Luminas yang menyerah untuk mundur dan lebih memilih konfrontasi langsung, ia langsung menggandakan kekuatan serangannya. Sebuah tebasan lurus diayunkan oleh Dorothy dengan sangat kuat.


Namun....


“!!!!”


Dorothy terkejut, alih-alih menangkisnya dengan sekuat tenaga, Luminas malah mengendurkan pedangnya yang berbenturan dengan serangan lurus Dorothy. Sehingga serangan tersebut meluncur dengan cepat ke bawah tanpa ada yang menghalanginya.


Luminas tak mau menyia-nyiakan celah dari serangan Dorothy, ia langsung menunduk dan menendang perut Dorothy menggunakan tumit kakinya dengan kuat.


*Bughh!


“Ukh!!”


Dorothy tak bisa memprediksi serangan tersebut dan terkena serangan telak. Serangan tersebut cukup kuat sehingga Dorothy terpental mundur beberapa langkah. Dorothy kehilangan keseimbangannya dan posisinya hancur.


Melihat peluang tersebut Luminas langsung mempersempit jarak dengan langkah kakinya yang cepat. Ia kemudian mengayunkan pedangnya dan menyerang Dorothy secara bertubi-tubi.


Dorothy yang tidak bisa menangkis serangan tersebut karena posisinya yang hancur, ia menyilangkan kedua tangannya untuk menahan serangan tersebut menggunakan tubuhnya.


*Bambambam!


Luminas menyerang Dorothy dengan semakin ganas, ia tidak berhenti melancarkan serangan sampai ia melihat tanda-tanda Dorothy akan kalah.


Namun...


Luminas terkejut, bukannya malah melemah, Dorothy malah bertahan dengan kuat. Luminas menatap Dorothy yang terus-menerus menahan serangannya meskipun serangan yang dilancarkan olehnya cukup kuat.


‘Apa ini? Apakah ia bertahan dan menunggu sebuah peluang?’


Tebakan Luminas tepat, ketika ia memperhatikan Dorothy lebih dekat, tatapan matanya tidak mengendur sedikit pun. Seakan ia tidak kehilangan fokus meski tengah dihujani serangan.


‘Pancaran matanya itu ....’


Sebuah senyuman ter pancarkan dari wajah Luminas. Ia merasa bahwa sorot mata Dorothy mengatakan ia tidak akan runtuh meskipun dihujani serangan sekuat apa pun. Ia tetap akan menggali celah dan mendapatkan peluang untuk menyerang.


Merasa bahwa akan sia-sia jika menyerang Dorothy terus-menerus seperti sekarang, Luminas memutuskan untuk mencari rute serangan lain.


‘Jika ia bersikeras untuk bertahan, maka akan berbahaya untukku,'


Karena kesenjangan fisik yang dimiliki oleh mereka, Luminas berpikir itu berbahaya jika menyerang Dorothy yang tengah mencari kesempatan untuk membalikkan keadaan.


‘Perbedaan fisik bukanlah sesuatu hal yang bisa diselesaikan hanya dengan bakat belaka. Aku perlu mencari celah lain,'


Sambil mempertahankan ritmenya dalam menyerang Dorothy, Luminas memindai sekitar apakah ada celah lain yang bisa ia gunakan untuk menjadi rute serangan.


Dorothy merasa fokusnya Luminas telah teralihkan ke sesuatu yang lain, Dorothy merasa bahwa dirinya punya kesempatan. Ia langsung memperkuat pijakannya dan menangkap pedang Luminas dengan tangan kosong,


‘Ughhh’


Serangan Luminas yang terkena tangan Dorothy tidaklah lemah. Serangan tersebut menyebabkan titik yang terkena serangan Luminas membiru. Namun Dorothy mengabaikannya, dan menggenggam pedang tersebut dengan sangat erat sehingga Luminas tidak akan bisa lagi mengayunkan pedangnya.


Ketika pedang Luminas terpental ke arah lain, Dorothy yang telah memantapkan kuda-kudanya melalui pijakannya, Dorothy mengayunkan pedangnya dari atas dengan sangat kuat.


Sebuah garis lurus terlihat ketika Dorothy mengayunkan pedangnya. Garis lurus tersebut tampak mengenai Luminas dengan sangat telak. Ia merasa bahwa dengan serangan ini ia akan mengakhiri pertandingan ini dengan kemenangannya.


‘Selesai!!’


*SLASHHH!


Tetapi...


Serangan kuat yang dilancarkan Dorothy hanya mengenai udara kosong. Luminas menekuk tubuhnya ke belakangan dengan ekstrim demi menghindari serangannya.


‘Mustahil!!!’


Karena ia terkejut dan sedikit putus asa, tangan yang memegang pedang Luminas mulai mengendur. Tanpa berbasa-basi Luminas langsung mengayunkan pedangnya dengan kuat untuk melepaskan pedangnya dari genggaman Dorothy.


Merasa peluang sekali lagi datang padanya, Luminas langsung menghunuskan pedangnya dengan cepat dan kuat.


*BUGG!!


Serangan yang dilancarkan oleh Luminas tampak sangat kuat sehingga menghasilkan sebuah pusaran angin yang membuat Dorothy terdorong mundur ke belakang,


Melihat Dorothy yang terpental jauh ke belakang, Luminas tanpa berbasa-basi langsung melesat ke arahnya. Ia mengangkat pedangnya lalu melancarkan sebuah serangan bertubi-tubi yang cepat dan kuat.


Dorothy yang diserang dari jarak yang sangat dekat tersebut tak sempat bereaksi, seluruh serangan tersebut mendarat dengan telak karena ia tak bisa memasang postur pertahanan seperti tadi.


“Aghhhh!”


*BUGBUGBUG!


Luminas tanpa henti terus melancarkan serangan terhadap Dorothy. Sampai ia melihat tanda-tanda menyerah, ia tidak akan berhenti melancarkan serangan.


Namun Luminas merasa ada yang aneh. Meskipun ia terus menyerang Dorothy dengan telak, ia tidak sedikit pun menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan tumbang, melainkan ia tetap menerima serangan cepat dan kuat yang mendarat telak di tubuhnya.


Seperti sebuah benteng besar yang dengan kuat dan kokoh menahan segala serangan musuh, Dorothy juga tanpa pertahanan apa pun menahan segala serangan dari Luminas.


Menghiraukan segala rasa sakitnya, Dorothy dengan tegas mengambil sebuah langkah yang besar ke depan. Seperti sebuah benteng berjalan, ia tampak tidak goyah meski dihujani serangan dari Luminas. Ia mengangkat kedua tangannya yang menggenggam pedang tinggi-tinggi ke atas.


“Fuhhh...”


Dorothy menghembuskan sebuah nafas panjang yang tampak seperti uap keluar dari mulutnya.


“TERIMA INI!!!”


“!!!!”


Dorothy mengayunkan pedangnya ke depan dengan sangat kuat. Bahkan angin ikut berembus ketika Dorothy mengayunkan pedangnya tersebut ke arah Luminas.


Sebuah serangan terfokus datang dari ayunan pedang Dorothy. Luminas merasakan bahaya dari serangan yang akan datang. Ia tidak menyangka bahwa Dorothy bisa menyerang balik ketika ia sedang dipukuli olehnya. Bahkan ia menghiraukan segala serangan yang dilancarkan padanya dan tetap fokus melancarkan serangannya.


‘Berbahaya!!!’


Sebuah serangan yang terfokus adalah serangan yang sangat berbahaya. Karena ia menghimpun semua kekuatan dan tenaganya yang tersisa untuk serangan tersebut, sehingga serangan yang dilancarkan Dorothy memiliki seluruh kekuatan yang telah ia latih selama ini.


Jarak antara Luminas dan Dorothy sangat dekat. Karena Luminas harus mempertahankan jarak yang dekat jika ia ingin menyerang Dorothy dengan cepat dan kuat, ia tadinya tidak berniat untuk mengambil langkah mundur karena ingin mengakhiri pertandingan ini dengan serangan bertubi-tubi tadi.


Namun itu malah menjadi bumerang baginya. Jarak antara dirinya dengan Dorothy sangat dekat, sehingga jika Dorothy menyerang balik maka serangan tersebut pasti akan mengenainya.


Luminas tentu telah memperhitungkan segalanya ketika ia menyerang Dorothy tanpa ampun. Ia bertaruh entah Dorothy yang akan tumbang terlebih dahulu atau dirinya yang akan tumbang dari satu serangan balik Dorothy. Sepertinya ia kalah dengan pertaruhan itu dan menempatkan dirinya dalam bahaya.


*BAMMMM!!!


Serangan tersebut sangat kuat, hingga terdengar suara yang memekakkan telinga ketika serangan tersebut mengenai lawannya. Namun...


Serangan tersebut tidak mengenai Luminas, tetapi Luminas masih sempat untuk menangkis serangan tersebut dengan seluruh tenaganya.


“!!!”


Dorothy cukup terkejut melihat serangan penyelesaiannya lagi-lagi tidak berhasil.


Tetapi serangan tersebut tidak sepenuhnya berhasil ditahan. Serangan Dorothy memiliki kekuatan yang sangat kuat, sehingga meskipun itu ditangkis dengan sekuat tenaga tetap memiliki dampak yang hebat. Kedua yang digunakan Luminas untuk menangkis serangan Dorothy menggunakan pedang cedera.


*Tak!


Kedua tangannya gemetar hebat, pedang yang ia genggam jatuh ke lantai.


“Ukhhhh!”


Luminas jatuh dan berlutut ke tanah. Ia merasakan rasa sakit pada kedua tangannya, bahkan sampai-sampai ia tidak sanggup untuk menggenggam pedangnya lagi. Ia melihat kedua tangannya yang bergetar, itu tampak membengkak dan dilumuri oleh darah karena menahan serangan dari Dorothy.


Alih-alih bukannya marah karena diberikan cedera yang cukup serius dari pelayannya, Luminas malah tersenyum. Ia mengakui kekuatan dan kegigihan yang dimiliki oleh Dorothy.


‘Hah...Hah.... Hebat... Meskipun menghadapi situasi putus asa ia masih bisa membalikkan alur pertarungan. Dari bertahan dengan gigih sampai mencurahkan segalanya dalam satu serangan... Kamu benar-benar hebat, Dorothy,'


Namun kondisi juga sama untuk Dorothy, karena ia melepaskan tenaga melebihi kapasitasnya, ia sudah tidak memiliki tenaga untuk berdiri lagi. Apalagi dengan semua kerusakan yang ia tahan dari serangan bertubi-tubi Luminas, tentunya kerusakan tersebut lama-kelamaan akan terakumulasi dan menjadi semakin buruk.


Ia tumbang dengan nafas tersengal-sengal, namun ia tidak menampilkan ekspresi kesedihan, sambil menatap langit ia mengeluarkan ekspresi seakan ia puas dengan hasilnya.


‘Seperti yang diduga dari Tuan Putri, kuat sekali!’


Melihat keduanya telah tumbang sambil terengah-engah, Scott berjalan mendekati mereka berdua.


‘Pertandingan berlangsung selama 5 menit 29 detik...'


“Pertandingan dihentikan!! Hasil dari pertandingan ini adalah.... SERI!!!!”


“WAHHHHH!!”


Seruan keras menggema di seluruh tempat latihan. Ternyata bukan hanya Scott dan Javis saja yang menonton pertandingan ini, melainkan seisi tempat latihan juga ikut menontonnya. Mereka semua bersorak dengan keras setelah melihat hasil dari pertarungan luar biasa yang Luminas dan Dorothy lakukan.


Mereka sangat kagum dengan pertandingan yang dilakukan oleh Luminas dan Dorothy. Mereka menganggap bahwa pertandingan itu luar biasa, melihat dari usia mereka. Bahkan pertarungan yang dilakukan oleh mereka berdua tampak lebih baik dari pertarungan sebagian ksatria biasa yang tengah berlatih di tempat ini.


‘Tuan Putri sangat luar biasa....’


Scott dan Javis—tidak, mereka semua yang melihat itu merasa bahwa Luminas sangat luar biasa. Mereka menganggap meskipun Tuan Putri mereka sangat berbakat, namun ia baru belajar menggunakan pedang 30 menit yang lalu, namun ia bisa setara dengan Dorothy yang memiliki bakat bertarung dan telah belajar selama bertahun-tahun.


‘Dorothy adalah gadis yang memiliki bakat cemerlang di bidang pertarungan. Selain itu, dia juga berdedikasi dan tidak pernah malas-malasan selama berlatih, tetapi...’


Scott melirik ke arah Luminas.


‘Memiliki pijakan setara dengan orang berbakat yang berdedikasi.... Monster... Dia bukan sekedar genius melainkan monster... Jika ditambahkan dengan bakat sihirnya dan berhasil menjadi seorang ksatria sihir, maka....’


Scott merasakan merinding di sekujur tubuhnya. Luminas berhasil setara dengan Dorothy hanya dengan berlatih pedang selama 30 menit dan tidak memiliki fisik yang cocok untuk berpedang. Scott tidak bisa membayangkan sekuat apa jadinya Luminas nanti yang didukung oleh waktu.


.


.