Themis, The Flower of Justice

Themis, The Flower of Justice
Chapter 21 — Permulaan Perang (End)



“Siapa yang memimpin perang kali ini dari pihak Chronos?”


“Granger Graziette dan Marsha Benwith dari 7 Pahlawan Chronos,”


“!!!”


‘7 Pahlawan Chronos!’


Mendengar hal tersebut Luminas membelalakkan matanya, dari kelas sejarah yang ia jalani selama ini ia telah mempelajari tentang berbagai kerajaan yang ada di dunia ini. Terlebih lagi sejarah Kekaisaran Chronos, Luminas sangat tertarik mempelajarinya.


‘Di benua ini terdiri dari banyak sekali kerajaan, namun mungkin Kekaisaran Chronos adalah yang terkuat menyaingi Kekaisaran Selene...’


Di benua Helios tempat Luminas tinggal, terdapat banyak sekali kerajaan. Entah itu kerajaan besar, menengah, maupun kecil. Dari sekian banyaknya kerajaan yang ada, terdapat 7 kerajaan yang memiliki kekuatan militer maupun ekonomi yang tidak bisa dibandingkan dengan kerajaan yang lain.


Salah satu dari 7 kekuatan tersebut adalah Kekaisaran Chronos. Dibandingkan dengan kerajaan lainnya, Kekaisaran Chronos memiliki sejarah singkat tentang berdirinya negara tersebut, yakni hanya 100 tahun.


Semenjak dari berdirinya negara tersebut, sejarah singkat yang dimiliki olehnya membuktikan seberapa kuat kekuatan yang dimilikinya sehingga bisa mendominasi benua hanya dengan kurun waktu sesingkat itu.


Luminas selalu takjub ketika mendengar cerita tersebut. Medeia dulunya adalah negeri yang mendominasi hampir seluruh kerajaan di benua ini, namun suatu hari kejayaan Medeia yang termasyhur menghilang serta wilayah yang tadinya sangat luas dilepas satu persatu.


Bahkan butuh tiga dari generasi raja untuk terlepas dari malapetaka yang menimpa kerajaan serta menstabilkan seluruh wilayah yang ada. Salah satunya adalah generasi dari Raja Elios Von Medeia yang berhasil mempertahankan wilayah di pusat benua, serta berhasil membangun kekuatan militer yang sangat kuat sehingga mampu membuat negara lain gemetar ketakutan.


Semua orang di benua tersebut berpikir bahwa hanya masalah waktu agar Medeia dapat menguasai seluruh negeri di benua tersebut.


Namun ketika semua orang berpikir seperti itu muncul negara supernova yang melesat menguasai seluruh wilayah dengan cepat seperti komet, itu adalah Kekaisaran Chronos.


Ketika Raja Elios baru dilantik sebagai raja, Kerajaan Chronos mampu menguasai banyak wilayah dan mendeklarasikan dirinya menjadi sebuah kekaisaran.


Nama Kekaisaran Chronos menggema di seluruh negeri, para sejarawan yang terkejut sekaligus gembira dengan keberadaan yang membuat lembaran sejarah baru. Mereka semua berbondong-bondong pergi ke kerajaan yang kini Kekaisaran Chronos untuk pergi mewawancarai dan menulis ulang sejarah.


Kerajaan Medeia yang merasa debut kerajaan mereka telah direbut oleh kerajaan yang muncul dari antah berantah dan tiba-tiba mendeklarasikan diri mereka menjadi kekaisaran membuat mereka geram.


Pada saat itu Raja Elios Von Medeia terjun langsung seorang diri menuju Benteng Zhaksen di Lyberion seorang diri dan menghancurkannya. Lalu para ordo ksatria yang dinaungi oleh Raja Elios langsung pergi untuk merebut empat benteng sekitar agar bisa terhubung menjadi sebuah garis dan kemudian membuat wilayah Medeia menjadi semakin luas.


Insiden tersebut dinamakan ‘Kemarahan Pada Zhakzen’. Hal tersebut dicatat oleh sejarah ketika Raja Elios yang marah menghancurkan sebuah benteng perbatasan yang sangat kuat seorang diri.


Luminas berhasil mengingat semua pelajaran yang ia pelajari dengan sempurna. Kini di kepalanya berputar tentang informasi mengenai 7 Pahlawan Chronos yang membuat Chronos mampu menguasai setengah dataran benua ini dengan sangat cepat.


7 Pahlawan Chronos, sebagian besar identitas mereka dirahasiakan namun organisasi War Castle dari Central Alliance dapat mengklarifikasikan bahwa para 7 Pahlawan Chronos dapat melawan jajaran para master terkuat. Dikatakan mereka adalah prajurit terkuat yang akan membawa Chronos menuju puncak kejayaannya.


“Jika itu adalah para pahlawan terkenal dari Chronos maka perang di barat ini tidak boleh dianggap enteng,”


Selena memecahkan keheningan dan memasang ekspresi seriusnya.


“Ya, karena itulah Yang Mulia Raja memerintahkan dirimu untuk pergi ke medan perang barat,”


Ludwig mengangguk sembari menyilangkan tangannya.


“Selain Eilyan, siapa saja yang menjaga medan perang barat?”


Setelah melihat wajah serius Selena, Ludwig langsung meminta sesuatu dari Chris, dan Chris memberikan suatu gulungan kertas kepada Ludwig. Itu adalah peta terperinci dari Medeia. Semua tentang Medeia tergambar dengan jelas di peta tersebut, dari seluk beluk dan jalan rahasia Medeia, hingga kekuatan militer dan jalur pasokan makanan tertera secara rinci dalam peta tersebut.


“Saat ini yang sedang menghadang pasukan Chronos di perbatasan adalah Regu Sihir Argaient dan juga para prajurit dari masing-masing wilayah di sekitar perbatasan. Kita juga sudah mengirim Marquess Joshua Gregory menuju medan perang untuk menghadapi pasukan Chronos,”


Ludwig mengakhiri penjelasannya tentang situasi perang saat ini.


Selena kemudian maju ke depan menuju peta dan melihatnya dari dekat.


“Mempertimbangkan jarak dan banyak pasukan dari ibu kota menuju Kota Arland, mereka akan sampai ke perbatasan dalam kurun waktu sekitar 10 hari, dan kapan Chronos mulai menyerang Medeia?”


“Kita menerima surat ini satu hari yang lalu, dan penghantar pesan mengatakan pesan ini sampai menuju ibu kota dalam waktu 3 hari. Yang artinya penyerangan Chronos sekitar 4 hari yang lalu,”


Setelah mendengar penjelasan Ludwig Selena mengangguk dan mengelus dagunya.


“Hmm, menilai dari kekuatan yang dimiliki Chronos, aku rasa mereka bisa menaklukkan Kota Arland hanya dalam 1 hari, bahkan jika yang menjaga kota tersebut adalah Marquess Zagam. Mungkin kita akan segera mendapatkan berita tentang keruntuhan Kota Arland,”


Setelah menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja terdengar suara riuh dari balik pintu ruangan tempat mereka rapat. Seorang prajurit dari Ordo Ksatria Black Panther masuk ke ruangan dalam keadaan terengah-engah.


“Kabar dari ibu kota untuk Tuan Duke Ludwig dan Yang Mulia Ratu Selena! Dijelaskan bahwa, Kota Arland telah runtuh!”


“!!!!”


Mereka semua terkejut, dan persis seperti perkiraan Selena, mereka dengan segera mendapatkan kabar buruk dari istana.


“Dipastikan bahwa, Kota Arland telah hangus terbakar oleh api! Semua prajurit dan warga sipil yang tidak mengungsi telah dibantai habis oleh para pasukan Chronos, bahkan termasuk Tuan Marquess Zagam!”


Ketika membacakan berita, nada dari prajurit tersebut terdengar sedikit bergetar. Memang wajar karena berita yang dibawakan olehnya merupakan berita yang sangat buruk untuk kerajaan.


“Jadi Marquess Zagam sudah....”


“Aku tidak percaya, kupikir Marquess Zagam setidaknya akan selamat...”


Ludwig dan Selena yang mendengar berita tersebut sedikit terkejut, apalagi tentang terbantainya seluruh prajurit dan warga sipil, serta kematian dari Marquess Zagam, berita tersebut sedikit mengguncang mereka.


Namun dengan cepat Selena menenangkan dirinya dan kembali fokus melihat peta.


“Kota Arland merupakan sebuah kota krusial dari Medeia, karena semua kota penting dari Medeia dapat diakses melalui Kota Arland. Jika tujuan mereka adalah memperluas daerah dengan menaklukkan daerah di sekitar Arland, maka mereka akan mendapatkan pijakan untuk menyerang Medeia yang berarti itu merupakan berita terburuk untuk kita semua...”


Sambil melihat peta, Selena terus bergumam pada dirinya sendiri. Ia tampak serius memperhatikan segala situasi yang mungkin terjadi bahkan untuk saat ini. Di kepalanya sedang berputar ratusan simulasi jalan peperangan yang mungkin akan membawa Medeia menuju jalan kemenangan.


Luminas yang melihat ibunya serius sedikit terkejut. Ia mengetahui bahwa ia memiliki seorang ibu yang luar biasa, namun kelakuan yang dilakukannya selama ini mengubur sugesti luar biasa tersebut sehingga Luminas hanya memandang Selena sebagai ibu yang suka bercanda.


Namun ketika Selena sedang menganalisis situasi peperangan, ia terlihat sangat serius. Luminas kagum dengan sisi yang dimiliki oleh ibunya ketika sedang serius. Stigma buruk dari Luminas yang menempel pada Selena mulai terangkat seluruhnya dari kejadian ini.


‘Ibu sangat hebat....’


Luminas dapat mengetahui apa yang tengah dipikirkan oleh ibunya hanya dengan melihat wajahnya saja. Ia sangat yakin bahwa saat ini ibunya sedang menjalankan berbagai simulasi pertempuran di otaknya untuk mencapai hasil terbaik.


*BRAK!


“Aku tahu!”


Selena menggebrak mejanya dengan keras sambil berseru.


Luminas dan Ludwig yang sedang serius menontoni sisi serius Selena menjadi terkejut dengan dirinya yang secara tiba-tiba menggebrak meja.


“Duke Ludwig, berapa banyak master yang berada di perbatasan saat ini jika Marquess Gregory dihitung?”


“... Karena Zagam sudah tiada, maka hanya ada 3 orang master aura yang berada di perbatasan,”


“... Begitu,”


Selena menyilangkan tangannya dan menunduk ke arah peta selama beberapa saat.


“Baiklah, aku akan mengurus medan perang yang berada di barat,”


“!!!”


Ludwig terkejut sambil tersenyum dengan pernyataan Selena.


“Sampaikan pada yang mulia mengenai hal tersebut, dan juga bilang pada beliau bahwa aku akan meminta 3 orang master aura lagi dari Ordo Ksatria Istana,”


“Baiklah, akan kusampaikan kepadanya... Oh, Selena, jika kamu bergera, apakah...”


Sebelum Ludwig menyelesaikan kalimatnya Selena memotongnya.


“Seluruh Ordo Ksatria Silver Snow Wolf akan bergerak,”


.


.


Setelah menyelesaikan pembicaraan mengenai situasi perang, Selena menyuruh Luminas untuk menemuinya dalam dua jam di ruang latihan pribadinya.


Ketika Luminas sedang berjalan di lorong menuju tempat yang diminta Selena, segala percakapan tadi terus berputar di kepala Luminas.


Luminas tidak pernah bolos ketika ia diminta untuk belajar, terutama jika itu adalah tentang sejarah dan geografi. Ia menganggap bahwa itu adalah hal yang sangat penting untuk bertahan hidup di dunia ini.


‘Salah satu dari 7 kekuatan terkuat, Kekaisaran Chronos dari barat....’


Pada era ini, banyak sekali orang berbakat terlahir di seluruh kerajaan yang ada. Para orang berbakat itu terus mengasah diri mereka sehingga kini terkenal sebagai 7 penguasa terkuat.


Para orang berbakat tersebut kini saling bertarung dan memperebutkan kekuasaan yang dimiliki wilayah masing-masing demi membuktikan kekuatan mereka, sehingga era ini dikenal sebagai era yang penuh gejolak.


Luminas berpikir, jika yang dikatakan oleh ibunya benar, maka perang kali ini akan jadi sangat mematikan.


‘Jika dua orang dari 7 Pahlawan Chronos hadir, kemungkinan lawan akan jadi lebih kuat dari itu....’


Luminas berspekulasi bahwa jika dua orang dari 7 Pahlawan Chronos yang memiliki kedudukan setara di tempatkan di medan perang, maka itu berarti mereka berdua bukanlah panglima tertinggi dari perang tersebut.


‘Jika harus memperkirakan, panglima tertinggi mereka setidaknya harus pemimpin dari 7 Pahlawan Chronos atau orang kedua terkuat dari 7 Pahlawan Chronos...’


Ketika Luminas tengah tenggelam dalam pikirannya, keberadaan seorang wanita berambut perak yang tengah berdiri di lorong menyandarkannya, itu adalah Selena.


Selena berdiri sambil bersandar di lorong tersebut seakan sedang menunggu seseorang.


“... Ibu, kenapa ibu di sini?”


“Ibu di sini sedang menunggumu, Lumi,”


“Menungguku?”


“Yup, kemarilah, ikuti ibu,”


Selena tanpa berbasa-basi langsung berbalik dan berjalan ke depan setelah mengatakan hal tersebut. Luminas juga mengikutinya tanpa banyak bertanya.


Selena dan Luminas terus bejalan menyusuri lorong. Mereka bahkan tidak bertukar kata maupun  ketika mereka berjalan, hal ini merupakan hal yang ganjal menurut Luminas karena ibunya tampak berbeda.


‘Apakah ibu akan menunjukkan kepadaku sesuatu hal yang penting?’


Luminas secara tidak sadar menjadi bersemangat ketika memikirkan hal tersebut, ia sangat penasaran hal apa yang akan ditunjukkan oleh ibunya ketika sedang serius seperti ini.


Setelah berjalan beberapa saat mereka sampai di sebuah salah satu pintu yang berada di lorong, dan itu adalah kamar pribadi Selena.


‘Kamar ibu? Kenapa ibu membawaku ke kamarnya?’


Luminas bertanya-tanya apa yang akan dilakukan dirinya di kamar ibunya.


“Ibu, bukankah kita akan berlatih? Mengapa ibu membawaku ke kamarmu?”


“Kita akan berlatih di sini,”


Selena kemudian membuka kamarnya dengan kunci yang dia pegang. Kemudian ia berjalan menuju meja di dekat jendela tempat ia biasa duduk. Selena mengambil sebuah buku dari beberapa buku yang berada di mejanya, kemudian ia membalik halamannya dengan cepat.


Setelah membalik halamannya selama beberapa saat, Selena berhenti di suatu halaman. Kemudian ia membentuk tangannya seperti seakan sedang memegang sesuatu di udara, dan kemudian sebuah kunci muncul secara ajaib dari tangannya.


‘Sebuah kunci muncul secara tiba-tiba? Apakah itu tadi sebuah sihir ruang?’


Luminas menyimpulkan hal tersebut karena dari beberapa komik yang ia baca, biasanya orang yang berasal dari peradaban sihir bisa menggunakan sihir ruang untuk penyimpanan barang.


Namun setelah berpindah ke dunia yang penuh akan sihir ini Luminas berpikir bahwa sihir ruang adalah sihir yang tidak ada.


Karena dari hal-hal yang ia dengar bahwa para prajurit ketika sedang berperang mereka membawa banyak gerobak yang penuh akan makanan. Yang berarti mereka tidak bisa memakai sihir ruang untuk menyimpan makanan mereka dan menghemat tenaga.


Selain itu seluruh mantra yang berada di dunia ini berbasis dari suatu hal yang disebut elemental. Dari semua elemental yang tersedia tidak ada elemen ruang.


Namun semua hal yang dipelajari Luminas dari dunia ini dibantah dengan pemandangan Selena yang memunculkan sebuah kunci dari udara kosong.


Selena kemudian melanjutkannya dengan memasukkan kunci ke lubang yang terdapat di dalam buku tersebut. Setelah beberapa saat, sebuah ruangan rahasia dibalik rak-rak yang berisi buku tebal terbuka.


Luminas terkejut, ia penasaran teknologi sihir apa yang digunakan untuk membuat mekanisme seperti ini.


“Masuklah,”


Selena menengok ke arah Luminas dan menyuruhnya untuk jalan lebih dulu.


Setelah Luminas masuk terlebih dulu ke dalam ruangan rahasia, setelah beberapa saat menengok ke arah luar, Selena menutup kembali pintu tersebut dan bergerak menyusul Luminas.


Luminas berjalan menyusuri lorong dari ruangan yang terbuat dari batu dan diterangi oleh cahaya lilin yang menggantung di dinding. Setelah beberapa saat berjalan, terlihat sebuah tangga yang menurun.


Setelah turun melewati tangga, sebuah ruangan berbentuk kubus yang cukup besar terlihat. Seluruh ruangan tersebut terbuat dari batu yang terlihat sangat kokoh dan halus. Diterangi hanya dengan sebuah lilin gantung, menciptakan kesan suasana yang cukup menyeramkan.


“Ibu, apakah kita akan berlatih di sini?”


Luminas menengok ke arah belakang, setelah beberapa saat Selena terlihat sedang menuruni tangga dan memasuki ruangan kubus tersebut.


“Ya, kita akan berlatih di sini. Ruangan ini merupakan ruangan latihan pribadi yang aku buat sendiri. Bahkan Yang Mulia Raja tidak tahu akan hal ini,”


“Ayah bahkan tidak tahu hal ini?”


“Ya, ruangan ini dibuat khusus untuk mengembangkan kekuatan secara diam-diam. Ruangan ini dibuat dengan sebuah material langka yang diolah khusus dengan teknik para ‘Dwarf’, sehingga ruangan ini sangat kokoh bahkan jika diserang oleh seorang grand master aura sekalipun,”


‘!!!!’


Mendengar hal tersebut, Luminas cukup terkejut. Ia memang menyangka bahwa ruangan ini sangat kuat dan kokoh. Namun ia tidak mengira bahwa ruangan tersebut mampu menghadapi serangan seorang grand master yang dapat dikatakan sebagai yang terkuat di dunia ini.


“Hebat bukan? Karena itulah aku mengembangkan kemampuanku secara diam-diam di sini. Apakah kau tahu Lumi?”


“????”


“Kau tahu bukan, bahwa Duke Ludwig Dynema adalah seorang ksatria terkuat kedua yang dimiliki oleh Medeia?”


Mendengar pertanyaan tersebut, Luminas mengangguk.


“Meskipun Duke Ludwig Dynema memang sangat kuat sehingga dikenal sebagai terkuat kedua Medeia, tetapi kekuatan yang dimiliki oleh ibumu ini, telah jauh melampaui dirinya,”


Ketika mendengarkan hal tersebut Luminas menjadi sedikit bingung.


Melihat ekspresi bingung Luminas, Selena melangkah ke depan dan menuju tengah dari ruangan kubus tersebut.


“Lihatlah baik-baik kekuatan ibumu ini,”


Setelah mengatakan hal tersebut, tiba-tiba saja sebuah aura yang sangat kuat terpancar dari Selena. Aura tersebut sangat kuat dan mencekik, bahkan Luminas dibuat berlutut dan tidak bisa bernapas.


Ketika sedang mengeluarkan aura yang sangat kuat tersebut, Selena melangkah maju ke arah Luminas. Tanah yang dipijak oleh Selena retak berbekas jejak kaki Selena.


Luminas yang melihat hal tersebut menjadi takjub. Ia percaya dengan perkataan ibunya bahwa ruangan ini sangat kuat, bahkan bisa menahan serangan seorang grand master aura. Namun ibu kini merusaknya hanya dengan aura dan berjalan.


‘Itu berarti ibu....’


‘Sekuat, atau bahkan lebih kuat dari grand master!!’


Memikirkan hal tersebut, perasaan merinding karena takjub menjalar di seluruh tubuh Luminas. Ia terkejut ketika ibunya ternyata menyimpan kekuatan yang sangat besar.


Luminas berpikir, ketika Selena menerima permintaan untuk memimpin perang melawan dua orang dari 7 Pahlawan Chronos, serta orang yang jauh lebih kuat dari mereka berdua, ia menerimanya dengan sangat mudah. Seakan ia sudah mendapat jaminan kemenangan ketika melawan mereka.


Awalnya ia berpikir bahwa ibunya ini ceroboh dan hanya berpura-pura tenang untuk menghindari krisis di kerajaan ini, namun ternyata itu semua adalah kepercayaan diri akan kekuatannya.


‘Sepertinya Ayah dan Duke Ludwig sudah mengetahui hal tersebut,'


Setelah beberapa saat mengeluarkan aura yang menghancurkan, Selena menarik auranya kembali.


 Luminas melihat dirinya yang baik-baik saja setelah dari awal merasakan aura mencekik Selena, ia menyadari suatu hal. Bahwa Selena ternyata melindungi dirinya dengan mana sesaat setelah ia membiarkan Luminas merasakan kekuatan aura miliknya.


“Selama puluhan tahun, aku mengasah diriku di sini secara rahasia hingga menjadi sekuat ini. Kali ini giliranmu, Putriku. Pada latihan kali ini kamu akan melatih kekuatan auramu secara diam-diam, dan tidak membiarkan siapa pun tahu akan hal ini, hingga kamu dewasa kelak,”


Mendengar perkataan ibunya, Luminas tertegun sejenak lalu ia menganggukkan kepalanya.


“Baik, ibu! Kalau begitu, latihan apa yang akan kita jalani hari ini?”


Setelah mendengarkan pertanyaan Luminas, Selena tersenyum lebar.


“Kita akan membentuk ‘aura’ milikmu, dan menjadikanmu seorang ksatria aura!”


.


.