Themis, The Flower of Justice

Themis, The Flower of Justice
Chapter 11 — Kehidupan baru(2)



.


.


Melihat sorot mata Dorothy yang penuh dengan tekad, Luminas menjadi tidak tahan. Ia merasa ingin cepat-cepat pergi darinya.


“Ahahaha, aku merasa telah membuat ibuku lama menunggu. Kalau begitu Dorothy, sampai jumpa lagi. Teruskan pekerjaanmu,”


Dengan tawa canggung, Luminas berusaha mengganti topiknya, walau ia memang ingin pergi ke ibunya.


“Ah! Baiklah tuan putri! Maafkan aku telah mengambil banyak waktu anda!


Dengan panik, Dorothy membungkuk dan meminta maaf kepada Luminas. Karena ia merasa telah menyita banyak waktunya, Dorothy menjadi merasa bersalah.


“Kalau begitu, sampai jumpa lagi. Teruskan pekerjaanmu,”


Luminas berjalan melewati Dorothy yang membungkuk dan menepuk pundaknya yang lebih tinggi dari dirinya.


“!!”


“Tentu saja! Saya akan bekerja keras!”


Dorothy menegakkan tubuhnya dan berseru dengan suara penuh tekad.


Luminas menanggapi hal tersebut hanya dengan melambaikan tangannya tanpa menengok ke arah belakang. Dorothy yang melihat punggung kecil Luminas menjauh, merasakan sesuatu yang menyala-nyala di dalam dirinya. Ia merasa bahwa ia harus bekerja keras agar bisa membantu dirinya.


Luminas merasa Dorothy anak yang menarik, ia tanpa sadar menjadi tersenyum. Mungkin karena sudah lama ia tidak menemukan seseorang yang energik seperti itu, ia menjadi tertarik.


Sepertinya juga karena sudah lama juga ia tidak diperlakukan seperti ini semenjak di dunia ini, mereka semua memperlakukan Luminas dengan sangat hormat. Ia menjadi senang karena dapat bertemu dengan orang yang sebaya dengannya, memberikan perlakuan kepadanya layaknya teman, dan memandangnya setara, itulah yang dipikirkan Luminas.


Namun Luminas salah pada satu hal, Dorothy tidak memandang dirinya setara. Melainkan Dorothy memandangnya sangat tinggi, seperti sedang memandang langit.


Karena perbuatan kecil Luminas, Dorothy menjadi sangat terharu. Ia tidak pernah melihat seorang keluarga kerajaan yang baik seperti dirinya, ia juga tidak pernah mendengar seorang keluarga kerajaan yang memandang mereka setara sebagai manusia.


Melihat hal tersebut, tanpa ia sadari perasaan yang tadinya sebuah ketakutan berubah menjadi kekaguman. Dorothy merasa bahwa Luminas akan menjadi orang yang sangat hebat di masa depan, jika ia memimpin suatu kerajaan ia membayangkan akan semakmur apa kerajaan yang dipimpinnya jika pemimpin mereka adalah Luminas.


Memikirkan hal tersebut, jantung Dorothy menjadi berdebar. Bahkan hanya dengan memikirkan Luminas dalam pikirannya, semangat dan loyalitas semakin tumbuh dalam dirinya. Sebesar itulah dampak perbuatan kecil Luminas kepada Dorothy.


‘Ah, dia anak yang manis dan sangat baik... Mungkin aku bisa berteman dengannya...’


Sambil berjalan meninggalkan Dorothy, tanpa sadar senyum tulus terlukis di wajahnya. Para pelayan yang melihat hal tersebut menjadi terkejut, karena mereka tidak pernah melihat Luminas tersenyum seperti ini karena seseorang. Mereka tidak pernah melihat senyum Luminas yang seperti ini. Sebelumnya walaupun ia tersenyum, mereka merasa bahwa tidak ada ketulusan pada senyumnya. Pada senyumannya kali ini, mereka bisa merasakan ketulusan di dalamnya


‘Tuan putri tersenyum tulus...’


“Tuan putri, kenapa Anda tidak menghukum dirinya? Padahal gadis tersebut sudah menabrak Anda dengan keras, dan mungkin saja Anda akan terluka,”


Perkataan kepala pelayan di sampingnya menarik kembali Luminas dari pikirannya.


“Kenapa aku tidak menghukumnya? Karena ia tidak melakukan kesalahan yang mengharuskannya dihukum,”


“Tapi kan! Ia sudah menabrak Anda dengan keras hingga memungkinkan Anda terluka! Anda seharusnya tidak menyepelekan hal tersebut!”


“Bukankah itu hanya kemungkinan? Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja sekarang. Jadi tidak perlu menghukum orang dengan alasan sepele seperti itu,”


Luminas mengangkat bahu.


“Tetapi saya mendengar bahwa saudari Anda, tuan putri ketiga mengeksekusi seseorang karena pelayannya telah berbuat kesalahan—“


“Hei! Jaga perkataanmu!”


“Humpp”


Seorang pelayan wanita yang mengatakan soal tersebut langsung tutup mulut. Ia menjadi sangat ketakutan dalam sesaat. Ia takut bahwa ia akan dieksekusi langsung karena telah mengatakan sesuatu yang tidak mengenakan tentang keluarga kerajaan, apalagi di depan anggota keluarga kerajaan seperti Luminas. Perkataan itu keluar begitu saja tanpa ia sadari karena Luminas yang bersikukuh tidak akan menghukum gadis tersebut.


“Hentikan, memangnya kakak perempuanku melakukan itu? Apakah memang semua anggota keluarga kerajaan akan menghukum mereka karena tidak melayani mereka dengan benar?”


“Ya, kakak perempuan Anda melakukan hal tersebut. Namun itu merupakan hal yang wajar, karena ia merasa tidak puas dengan pelayanannya maka ia akan menghukumnya. Soal apakah anggota keluarga kerajaan lain seperti itu, jawabannya iya. Mungkin terkecuali seseorang—“


“Siapa?”


Luminas melirik ke arah kepala pelayan yang tampak akan menyebutkan seseorang, Luminas menjadi tertarik.


“Dia adalah kakak pertama Anda, sang putra mahkota dari kerajaan Medeia!”


“Kakak pertamaku?”


“Ya! Putra mahkota tidak diragukan lagi tidak akan melakukan perbuatan seperti itu. Dengan sifatnya yang sangat ksatria sejak kecil, ia tidak pernah menindas orang yang lebih lemah dari dirinya. Ia memiliki pandangan yang luas tentang masa depan dan kehidupan, sehingga ia tidak diragukan lagi kapasitasnya sebagai putra mahkota,”


Seorang pelayan mengatakan itu dengan nada yang bersemangat.


‘Ohh, menarik sekali. Aku jadi ingin tahu orang seperti apa dirinya,'


‘Tuan putri yang sangat manis, namun kadang aura yang menyeramkan terasa dari darinya. Walau biasanya ia tetap berekspresi datar, ternyata Ia dapat menampilkan senyuman seperti ini...’


‘Tuan putri tersenyum! Menggemaskan...’


“Gadis tadi anak yang baik ya,”


“Tentu, tuan putri. Dia anak yang baik, tetapi,”


“Ada apa?”


“Bukankah Anda juga merupakan anak-anak? Kenapa Anda menyebutnya ‘anak itu’, padahal dia lebih tua dari anda,”


“.....”


.


.


Di sepanjang jalan menuju aula, Luminas memikirkan perkataan pelayannya. Semenjak ia terlahir di dunia ini, ia tidak pernah sekalipun melihat saudara-saudaranya.


Meskipun kala itu Luminas masih balita, namun jiwa yang berada dalam tubuhnya merupakan jiwa seorang pria setengah baya. Sehingga bahkan ketika ia masih balita dan tidak bisa berkomunikasi dengan baik, ia masih memiliki kesadaran penuh dengan apa yang ia lakukan sehingga ingatan tentang orang-orang yang pernah ia temui masih segar.


“Saudara pertama, Leonard Von Medeia... saudari ketiga, Agnes Von Medeia...”


Luminas menggunakan dua nama tersebut berulang kali. Meskipun ia hafal dengan nama semua saudaranya tetapi ini pertama kalinya ia mendengar tentang mereka dari seorang pelayan.


Ketika ia berjalan dan terus tenggelam dalam pikirannya, tanpa ia sadari Luminas sampai ke aula.


Suara lirih seorang pria tua menyadarkan Luminas dari pikirannya.


“Penyihir istana kerajaan Medeia Yarez, menyapa tuan putri Medeia”


Pria tersebut membungkuk dan memberi salam ala bangsawan.


‘Jadi dia adalah seorang penyihir istana...’


Penyihir.


Penyihir adalah seseorang yang mampu menggunakan ‘mana’ dan mewujudkannya sesuai dengan keinginannya. Hal yang diwujudkan oleh penyihir dengan mana disebut sihir. Ini pertama kalinya Luminas menjumpai penyihir dari istana kerajaan.


‘Sampai bisa menjadi penyihir istana, dia pasti hebat...’


Meskipun Luminas tidak asing dengan kata sihir, namun ia masih sangat asing dengan konsep sihir. Dunia lama Nielson adalah sebuah dunia modern di mana tidak ada sihir ataupun fenomena ajaib, dan semuanya berdasarkan sains.


Namun di dunia baru ini, ia harus mempelajari konsep yang sangat asing baginya. Baginya dunia ini adalah dunia yang aneh, karena ia melihat berbagai hal yang berada di novel-novel fiksi benar terjadi di dunia ini, salah satu halnya adalah sihir.


Semenjak berada di dunia ini, Luminas tidak henti-hentinya belajar mengenai dunia ini, bahkan ketika ia tidak bisa menopang tubuhnya dengan kedua kakinya sendiri ia tetap membaca buku. Ia membaca dari buku yang diambilkan oleh ibunya, tentu Luminas memberi isyarat buku apa yang ingin ia baca.


Walaupun Luminas mengerti konsep sihir, ia tidak pernah benar-benar mendekati sihir meskipun ia merupakan keturunan dari keluarga sihir agung Argaient.


Namun takdir berkata lain, seperti yang tengah terjadi, seperinya Luminas memang ditakdirkan dengan sihir. Mau tidak mau karena sudah terlanjur, Ia harus melalui hal tersebut.


“Merupakan suatu kehormatan untuk bertemu salah satu penyihir istana terpercaya yang mulia,”


Luminas menundukkan tubuhnya sedikit dan mengangkat kedua sisi roknya, ia memperlihatkan etiket bangsawan yang baik.


‘Wah, walaupun masih sangat muda tetapi ia sudah memperlihatkan etiket yang baik’


Penyihir tua dari istana tersebut kagum dengan kecerdasan Luminas. Ini pertama kalinya ia melihat seorang gadis berusia tiga tahun menampilkan perilaku sopan santun bangsawan yang sempurna.


“Tuan putri terlalu berlebihan, saya hanyalah seorang penyihir biasa,”


“Tidak perlu merendah seperti itu Tuan Yarez, fakta bahwa Anda terpilih menjadi salah satu penyihir kepercayaan Yang Mulia pasti karena kehebatan Anda,”


“Terima kasih atas sanjungannya Tuan Putri, Anda sangatlah cerdas, kerajaan ini pasti sedang terberkati dengan lahirnya Anda sebagai anggota keluarga kerajaan,”


Penyihir istana tersebut membungkuk dan tersenyum ketika ia menyanjung Luminas.


Sanjungan ini mungkin terdengar klise dan palsu, namun Luminas dapat mengetahui sekiranya perkataan pria tua di depannya ini terdapat ketulusan.


Tentu saja, sanjungan yang dikeluarkan penyihir dari istana ini tulus. Karena ini pertama kalinya sejak Ia menjabat sebagai salah satu dari penyihir istana mengalami kejadian ini. Ia merasa positif dengan kejadian ini dan menyimpulkan bahwa Luminas merupakan anak yang cerdas.


Penyihir tersebut tulus mengakui bahwa Luminas merupakan genius yang langka. Ia tidak pernah mendengar bahwa seseorang entah dari kerajaan ini maupun kerajaan luar, melakukan tes sihir ketika orang tersebut baru berusia 3 tahun. Ini merupakan fenomena langka yang hampir mustahil terjadi.


Ketika biasanya orang biasa baru belajar sihir ketika usia 15 tahun, dan bangsawan paling cepat belajar sihir di usia 8 tahun, tentu saja belajar sihir di umur 3 tahun merupakan hal yang menakjubkan.


Ia merasa pesimis ketika dirinya dipanggil untuk mengunjungi kediaman Ratu Argaient dan melakukan tes sihir. Karena dia tahu bahwa putri sang Ratu baru berusia 3 tahun. Ia merasa bahwa hal ini masih terlalu terburu-buru mengingat pengalaman yang dia punya.


Penyihir tua tersebut tidak bisa berhenti berpikir negatif bahwa ini mungkin saja sia-sia dan mengecewakan. Bahkan jika anak tersebut sangat berbakat dan merupakan memiliki garis keturunan yang hebat, tetapi masih terlalu dini untuk belajar sihir.


Namun melihat perilaku dan perkataan Luminas, sepertinya penyihir tua itu menarik pemikirannya kembali. Mau tidak mau dia menjadi sedikit berekspektasi, bahwa mungkin saja gadis kecil di depannya ini benar-benar dapat membangun sihirnya di usia sebelia itu.


“Tunggu dulu, di mana ibuku berada? Bukankah seharusnya sekarang ia berada disini?”


Luminas sejak tadi memperhatikan sekeliling aula, namun ia tidak menemukan ibunya di mana pun.


“Ah, Yang Mulia Ratu pergi beberapa saat yang lalu. Ia mengatakan bahwa ia masih memiliki urusan di luar. Namun saya yakin itu hanya alasan saja,”


“Hanya alasan?”


“Benar, berdasarkan sifatnya, sepertinya ia hanya tidak tega melihat putri kesayangannya kesakitan,”


“Ah! Jadi seperti itu,”


Luminas mengangguk karena ia mengerti bagaimana sifat ibunya.


“Tunggu dulu, apa yang dimaksud dengan aku akan kesakitan?”


Luminas yang mendengar hal itu menjadi terkejut. Ia tidak pernah mendengar sedikit pun bahwa dirinya akan merasakan sakit dari hal yang akan terjadi.


“Baiklah, mari kita langsung mulai saja tes sihirnya,”


Tanpa memperhatikan perkataan Luminas, penyihir tua Yarez tersebut mengambil sesuatu dari tasnya.


Itu adalah sebuah bola kristal dan juga sebuah kristal kecil seukuran kelereng.


“Pertama-tama, izinkan saya menjelaskan tentang prosedurnya, biasanya saya akan menjelaskan ini berulang kali, tetapi karena Tuan Putri sangat cerdas sepertinya tidak perlu,”


“Tidak usah menyanjung lagi Tuan Yarez, lebih baik segera dimulai,”


“Baik, benda yang saya keluarkan ini merupakan alat untuk tes sihir yang akan kita lakukan sekarang. Yang pertama ada bola kristal, ini berfungsi untuk menunjukkan atribut apa yang kita punya untuk mempermudah kita dalam mengembangkan sihir kita,”


Setelah menjelaskan hal tersebut, penyihir tua Yarez diam beberapa saat.


Sampai Luminas memecahkan keheningan sesaat itu.


“Tuan Yarez, kenapa anda menjadi diam? Lalu apa fungsi dari kristal kecil ini?”


“Tuan putri akan melihat langsung apa yang kristal kecil ini bisa lakukan,”


Penyihir tua Yarez kemudian mengambil kristal kecil yang ia letakkan di atas meja tadi. Ia memegang kristal kecil tersebut dengan meletakkannya di atas telapak tangan yang terbuka.


Penyihir tua Yarez kemudian memejamkan matanya.


Kristal kecil yang berada di atas telapak tangan yang terbuka, menjadi terlihat lebih jelas. Bentuknya tampak seperti kristal pada umumnya, juga warnanya yang transparan namun tidak tembus pandang itu cukup indah, seperti sebuah permata.


Tidak lama setelah penyihir tua Yarez memejamkan matanya, suatu keajaiban terjadi. Kristal kecil yang memiliki warna transparan itu tiba-tiba mengeluarkan sebuah cahaya kecil.


Cahaya itu sangat kecil, dan juga berkelip-kelip sehingga sulit melihatnya secara jelas. Namun setelah beberapa saat, cahaya yang memancar dari kristal kecil tersebut berangsur-angsur menjadi lebih terang. Terus menerus semakin terang sampai-sampai cahaya yang berkelip tadi, berubah menjadi cahaya yang menyilaukan.


Melihat kristal kecil transparan yang kini bersinar terang, merupakan pemandangan yang menakjubkan. Seisi ruangan terkagum dengan cahaya yang dipancarkan hingga menyelimuti seisi aula besar, terutama orang yang tidak mengenal sihir.


Terutama bagi Luminas, ia yang tidak pernah melihat orang lain menggunakan sihir terkagum dengan pemandangan tersebut hingga matanya sedikit terbelalak.


Di kehidupan sebelumnya sebagai Nielson, ketika semua peradaban berdasarkan sains dan fisika, ia tidak pernah melihat keajaiban yang disebut sihir tersebut. Baginya sihir merupakan hal yang sangat baru dan juga asing. Sehingga ia bahkan cukup terkesan dengan aksi yang kebanyakan penyihir menganggapnya sederhana.


Ketika seisi ruangan sedang terkagum dengan pemandangan cahaya menyilaukan sederhana, penyihir tua Yarez memecahkan keheningan.


“Kristal kecil transparan ini merupakan sebuah alat yang dibuat dengan bahan khusus, untuk mengetes dan membantu seseorang yang baru belajar sihir,”


“Mengetes sihir?”


“Ya, alat ini diciptakan selain dengan bahan khusus, juga diciptakan dengan teknologi tinggi dari menara sihir. Kristal kecil ini bekerja dengan cara ketika kita meletakkan kristal di telapak tangan, kristal ini akan menyerap sihir mereka dan menunjukkan seberapa kuat potensi dan juga sihir orang tersebut,”


“Menunjukkan potensi?”


“Benar, ketika seseorang belum belajar sihir, maka energi sihir yang berada dalam tubuh tersebut belum pernah terlatih, sehingga biasanya hanya akan memunculkan kelipan cahaya,”


“Itu berarti....”


“Seperti dugaan Anda, Tuan Putri. Semakin besar sihir yang dimasukkan ke dalam kristal tersebut, kristal tersebut akan semakin terang. Yang berarti jika seseorang belum pernah melatih sihirnya dan cahaya kristal tersebut bersinar terang maka potensi orang tersebut sangat hebat,”


Ketika penyihir Yarez mengakhiri penjelasannya, kristal kecil yang berada di telapak tangannya menjadi redup, dan kemudian kembali menjadi seperti semula.


‘Alat yang menarik...’


“Kalau begitu, bagaimana kita akan mulai?”


“Pertama-tama kita akan melakukan tes atribut dengan bola kristal besar ini,”


Penyihir tua Yarez mengambil bola kristal yang ia letakkan diatas meja tadi.


Luminas mendekati Yarez dan menggenggam bola kristal tersebut dengan kedua tangannya yang mungil.


“Bagaimana caraku melakukannya?”


Luminas yang baru sadar akan ketidaktahuannya tentang cara mengalirkan sihir bertanya.


“Saya akan memandu Anda,”


Yarez menyerahkan bola kristal tersebut kepada Luminas. Setelah itu ia berpindah posisi ke belakang Luminas.


Yarez kemudian mengulurkan tangannya ke arah Luminas hingga telapak tangannya menyentuh punggung Luminas,


“Kalau begitu, mari kita mulai tesnya,”


.


.