
Eksploitasi, Perampokan, Penggelapan Uang, Pembunuhan dan Penyiksaan orang tak bersalah, serta masih banyak ketidakadilan yang tak bisa disebutkan.
Di era ini —tidak, di semua zaman mana pun ketidakadilan sering terjadi di semua tempat. Dari rakyat jelata hingga para penguasa, semua orang menjadi terbiasa dengan ketidakadilan. Lalu,
Apakah keadilan itu? Apa arti dari keadilan?
Jika di dunia ini tidak ada keadilan, maka-
Aku akan menjadi keadilan itu sendiri
33 Aquarius, tahun 1353 Kalender Helios
[Kerajaan Medeia]
Pagi yang cerah, dengan langit biru serta angin lembut yang menerpa masuk melalui jendela kamar, terlihat seorang gadis berambut perak dengan pakaian mewah terlihat duduk sambil minum teh. Dengan anggun ia mengangkat cangkirnya dan menyesap sembari menikmati tehnya dengan perlahan.
Mata birunya yang indah seperti permata menatap langit di luar jendela seakan kesadarannya melayang bebas diterpa angin, dengan bibir tipis nan cantik menyentuh cangkir teh yang mewah, sungguh sebuah pemandangan yang menawan.
Saat Ia sedang menikmati teh tersebut, terdengar suara riuh dari balik pintu kamarnya. Tiba-tiba seorang gadis dengan pakaian pelayan membuka pintu dengan keras.
“Tuan putri, ada keadaan genting!”
Gadis dengan pakaian pelayan itu berteriak dengan nada gugup. Wajahnya yang dipenuhi keringat, serta nafasnya yang tersengal-sengal membuktikan seberapa genting berita yang dibawanya itu.
“Hal apa yang membuatmu panik seperti itu Dorothy?”
Gadis berambut perak yang dipanggil seorang putri itu meletakkan cangkirnya ke atas meja dan membalas dengan tenang, seperti dia sudah terbiasa dengan situasi tersebut.
“Berita genting tuan putri! Pangeran dari Kekaisaran Selene sudah tiba!”
Gadis berpakaian pelayan yang bernama Dorothy itu berteriak dengan panik sambil menunjuk ke arah belakang yang mengisyaratkan bahwa pangeran dari Kekaisaran Selene sudah tiba dan tuan putri harus menyambutnya.
Putri tersebut mengambil cangkir tehnya kembali dan dengan tenang merespon
“Ah hanya itu? Bukankah sudah kubilang berkali-kali, jangan panik hanya dengan hal sepele,”
Ia mengatakannya sambil meminum tehnya
“Hal sepele?!! Hari ini adalah hari ulang tahun yang mulia raja! Sang pangeran sudah datang sebagai utusan dari kekaisaran! Orang kerajaan ini tau jika pangeran tersebut menyukai anda Tuan Putri, jadi anda diperintahkan oleh yang mulia untuk segera menyambutnya! Lagipula bukankah menyambut orang dari kekaisaran itu adalah hal yang sangat penting?!! “
Mendengar bentakan dari Dorothy, wajah putri menjadi lesu. Meskipun perilaku Dorothy seperti perilaku tidak sopan dari seorang pelayan kepada tuannya, namun Sang Putri tidak tersinggung. Karena Dorothy adalah pelayan sekaligus teman masa kecilnya yang menemaninya sejak dulu karena Sang Putri merupakan anak bungsu dan tidak memiliki saudara kandung, sehingga ia sejak kecil tidak mempunyai siapa pun yang dekat dengannya untuk berbagi cerita selain Dorothy.
“Ah baik-baik, Aku akan bersiap-siap nanti. Lagipula pakaian ini sudah bagus, aku tidak perlu bersiap-siap apapun lagi. Sekarang biarkan aku menikmati tehku yang berharga,”
Sang putri melambaikan tangannya sambil meminum tehnya dengan satu tangan, seperti perilaku anggunnya hilang dalam sekejap.
Wajah Dorothy semakin berkedut, melihat Tuan Putrinya yang anggun bersikap seperti ini, dia sangat kesal.
“AH, CEPATLAH BERSIAP. SUDAH TIDAK ADA WAKTU LAGI!”
Dorothy menarik lengan sang putri, sang putri memberontak tak berdaya dari jeratan tangan Dorothy. Karena selain menjadi pelayan, Dorothy adalah seorang ksatria yang berlatih dengan keras hanya demi melindungi tuan putrinya. Sehingga jelas bahwa sang putri tidak mampu mengatasi genggaman tangan Dorothy yang memiliki fisik lebih bagus dari kebanyakan ksatria.
“Ah tidak, tidak mau! Biarkan aku menikmati waktu tehku yang berharga! Kumohon Dorothy, kumohon, Ahhhh!”
Dorothy menghiraukan perkataan sang putri dan tetap menyeretnya ke kamar ganti pakaian.
.....
.....
Di aula kerajaan Medeia, suasananya sangat ramai dan meriah. Dengan interior yang sudah sangat mewah dan indah dari awal, semakin mewah karena perayaan ulang tahun sang raja dan banyak utusan dari kerajaan lain datang ke istana. Demi menghormati para utusan, ruang tahta dihias sedemikian rupa dengan beberapa hiasan berbentuk matahari yang melambangkan kerajaan Medeia serta terdapat banyak bendera dari kerajaan lain, terutama bendera berlambang bulan dari kekaisaran Selene yang sudah menjalin hubungan diplomatis sejak lama dengan kerajaan Medeia. Bahkan ada beberapa keturunan kekaisaran Selene memiliki darah keluarga kerajaan Medeia.
Seorang pria berambut pirang yang memiliki penampilan seperti pria berumur 30 tahunan dengan wajah putih namun tegas serta janggut berwarna pirang bercampur putih yang membuktikan ‘pengalaman’ pria tersebut, berdiri bersama beberapa ksatria dan seorang gadis cantik berambut perak. Pria berambut pirang tersebut adalah raja kerajaan Medeia —Elios Von Medeia dan gadis berambut perak yang merupakan putri bungsu sang raja —Luminas Von Medeia.
Sang raja berdiri tegap dengan tongkat kerajaan yang melambangkan kerajaan Medeia, serta mengenakan pakaian mewah dengan beberapa sulaman berpola matahari di pakaiannya khas kerajaan Medeia dengan pedang yang tersematkan di pinggangnya. Serta sang putri, ditemani oleh beberapa bangsawan, menteri, dan beberapa ksatria menunggu di ruang tahta bersiap menyambut kedatangan para utusan dari kerajaan lain.
Tak lama kemudian, seseorang mengumumkan kedatangan sang pangeran kekaisaran.
“Pangeran dari kerajaan Selene, Yang mulia Dustin Von Selene memasuki ruangan!”
Trompet kerajaan berbunyi, sang pangeran masuk dan disambut dengan meriah. Para penghuni istana mulai berteriak musik dimainkan, dan para penari mulai menari mengiringi rombongan sang pangeran. Bunga-bunga bertebaran sembari pangeran berjalan di ruang tahta mendekati singgasana. Rombongan pangeran Dustin terdiri dari hanya beberapa bangsawan dan dengan ksatria yang lebih banyak.
Pangeran Dustin Selene, memiliki wajah tampan yang lembut dengan rambut hitam legam serta warna mata kuning yang mencolok. Pangeran Dustin digadang-gadang sebagai keturunan kerajaan paling tampan sepanjang sejarah Selene. Ia mengenakan pakaian mewah berwarna hitam yang memberikan kesan intelektual.
Pangeran Dustin melambai kepada penghuni istana sambil tersenyum. Kemudian ia mendekati singgasana bersama rombongannya. Setelah maju beberapa langkah, ia berhenti di depan singgasana raja dan membungkuk memberikan hormat kepada sang raja.
“Dustin Von Selene dari kekaisaran Selene menyapa yang mulia sang matahari Medeia”
Pangeran tersebut bersama rombongannya membungkuk dengan hormat di hadapan sang raja
Tak lama setelah pangeran dari kekaisaran datang, utusan-utusan dari kerajaan lain pun memasuki aula kerajaan. Para utusan disambut sama meriahnya dengan pangeran dari kekaisaran. Meskipun dinilai dari status kerajaannya mereka lebih rendah dari kekaisaran, namun kerajaan Medeia menyambut mereka dengan setara. Karena itu banyak kerajaan yang menyukai kerajaan Medeia, meskipun banyak kerajaan juga yang memusuhi karena perlakuan itu. Mereka menganggap diri mereka lebih superior dibanding kerajaan lain sehingga mereka merasa perlu diperlakukan lebih layak dibandingkan dengan kerajaan lain.
Setelah menyambut para utusan, rombongan sang raja kembali ke singgasana di aula tahta. Sebelum sang raja duduk di singgasana, seluruh penghuni istana menunduk dan memberikan penghormatan kepada sang raja.
“Kemuliaan untuk sang matahari kerajaan!”
“Semoga kerajaan berjaya selalu!”
Semua orang yang hadir menyerukan pujian untuk kerajaan Medeia. Aula kerajaan menjadi riuh, kata-kata pujian menggema di seluruh kerajaan Medeia. Sang raja melambaikan tangannya kepada para penghuni istana mengisyaratkan untuk berhenti, kemudian ia duduk diatas singgasananya. Di samping singgasana sang raja, berjejer 8 singgasana untuk anggota keluarga kerajaan yang lain. Dari 8 singgasana tersebut, hanya 5 singgasana yang terisi. Selain sang raja, yang menghadiri acara ini hanyalah para wanita dari keluarga kerajaan karena para pria dari keluarga kerajaan Medeia sedang ditugaskan diluar kerajaan.
Milik sang ratu dari kerajaan Medeia [Regina Wornburg]
Selir, sang istri kedua dari sang raja [Gregoria Dynema]
Anak kedua dari sang raja, Putri [Eira Von Medeia]
Anak ketiga dari sang raja, Putri [Agnes Von Medeia]
Anak kelima(bungsu) dari sang raja, Putri [Luminas Von Medeia]
Kecuali Luminas, para putri serta pangeran kerajaan Medeia memiliki warna rambut pirang keemasan seperti ayah mereka. Meskipun Luminas sering dicemooh karena tidak memiliki warna rambut pirang keemasan yang melambangkan matahari kerajaan Medeia, Luminas tak pernah sedih karena rambut putih perak tersebut merupakan warisan dari ibundanya yang telah tiada.
Masing-masing dari para utusan menyapa seluruh anggota kerajaan dan memberikan ucapan selamat kepada sang raja. Mereka semua memuji sang raja karena di usianya yang genap 90 tahun tapi penampilannya masih tegas seperti usia 30 tahun dan mengatakan betapa luar biasanya sang raja.
Raja kerajaan Medeia ke 18, Elios Von Medeia dibandingkan generasi raja yang lalu Raja Elios merupakan raja yang paling hebat dibandingkan generasi sebelumnya. Bahkan di usianya yang sudah melewati masa kejayaannya ia masih mampu menunjukkan performanya yang luar biasa. Meskipun semenjak 6 tahun terakhir pemerintahannya menurun drastis, dari seorang raja bijaksana dengan pendirian tak tergoyahkan menjadi raja yang pasif dan kebanyakan keputusannya sekarang merupakan keputusan dari para bangsawan.
Mendengar semua pujian dari para utusan kerajaan lain, sang raja tersenyum dan membalasnya dengan pujian juga. Mereka semua bertukar pujian cukup lama hingga membuat Luminas merasa muak dengan semua sanjungan palsu ini. Luminas mencuri pandang dan memperhatikan wajah ayahnya diam-diam. Meskipun ayahnya memperlihatkan wajahnya yang tegas dengan ekspresi tersenyum bahagia, namun Luminas dapat mengetahui perasaan pahit dibalik ekspresi senyumnya. Luminas merasa bahwa ayahnya yang dulu bersinar dengan sangat terang bagai matahari, kini hanya seperti lilin yang redup. Seperti singa tua yang kehilangan kekuatannya, tatapannya sungguh pilu seakan menjelaskan bahwa ia sudah lelah dengan segala hal di dunia.
Luminas tahu apa yang menyebabkan keadaan sang raja menjadi seperti ini. Hal yang menyebabkan kemampuan sang raja menurun drastis sejak 6 tahun lalu, adalah-
Kematian istrinya yang terakhir, [Selena Argaient]
Yang merupakan ibu dari Luminas
Meskipun Luminas simpatik dengan ayahnya, namun Luminas juga menyimpan perasaan tidak senang kepada ayahnya. Karena ayahnya meskipun tau dalang dari semua kejadian ini, dia tidak berbuat apapun. Meskipun dia mau, tapi dia tidak bisa.
Luminas paham akan keadaan ayahnya yang tidak bisa berbuat apapun karena menyangkut masalah kesatuan kerajaan. Pada akhirnya seorang raja harus membuat keputusan penting antara kerajaan dan perasaan pribadi, Luminas paham betul akan hal itu. Tetapi-
Itu tetaplah ketidakadilan. Orang-orang harus menuai apa yang mereka tabur.
Luminas selalu berpikir seperti itu, jika seseorang membuat kebaikan maka perlu diapresiasi, tetapi jika berbuat kesalahan dan tak mau berubah maka ia harus dihukum. Bahkan jika dia adalah seorang yang tak bisa dihukum karena hukumannya menyebabkan pertaruhan nasib kerajaan.
Itulah keadilan sejati, keadilan yang tak memandang status maupun kedudukan seseorang.
Bahkan jika itu keputusan yang mempertaruhkan kehidupan banyak orang.
Walau tidak bisa dihukum sekarang, maka harus dihukum nanti. Mengumpulkan segala bukti yang mampu mengungkapkan kejahatan seseorang agar mereka tak mampu melawan keputusan dan tak menyebabkan kesulitan kepada seluruh kerajaan.
Itulah yang Luminas pikirkan, tentang Keadilan sejati