Themis, The Flower of Justice

Themis, The Flower of Justice
Chapter 23 — Berlatih Aura (End)



Setelah menyelesaikan urusan singkatnya dengan para ksatria dari istana kerajaan, Selena lanjut berjalan kembali ke kamar pribadinya yang juga merupakan tempat Luminas sedang berlatih.


Ketika ia sedang melewati lorong menuju ke kamar pribadinya, seorang pria dengan pakaian pelayan sedang berdiri tegap di sisi pintu masuk lorong.


“Jika Ordo Ksatria Silver Snow Wolf telah datang, suruh mereka menunggu selama dua hari,”


Selena berbisik ke telinga pelayan tersebut ketika ia sedang melewatinya.


“Sesuai keinginanmu, Yang Mulia,”


.


.


Luminas tetap menstabilkan aura miliknya meskipun Selena telah pergi meninggalkannya. Tentu Luminas tidak sadar akan ketidakhadiran Selena karena ia terlalu fokus dengan auranya.


Waktu demi waktu telah berlalu, Luminas yang terlalu fokus dengan pelatihannya, tidak sadar berapa banyak waktu yang dilaluinya.


Pada suatu titik aura yang berada di jantung Luminas telah menjadi padat dan Luminas pun berhenti menyerap mana sekitar.


Meskipun aura Luminas telah menjadi padat, namun itu belum mencapai titik harmoni yang sempurna. Seperti itu berada di tempat yang sama, namun saling memusuhi satu sama lain.


Aura dan energi sihir tersebut terus berbentrokan, Luminas merasakan rasa nyeri dari jantungnya. Dengan mata terpejam, Luminas menampilkan ekspresi kesakitan. Suara erangan terdengar dari mulutnya dan keringat mengucur deras dari dahinya. Rasa sakit tersebut tampak sangat menyakitkan hingga Luminas seperti dapat kehilangan kesadaran kapan saja, namun sampai saat ini ia dapat menahannya dengan baik.


“Uwarghh”


Luminas berteriak dengan keras. Aura dan mana yang berada di sekitar tubuh Luminas bergetar dengan kuat. Jantung Luminas sekali lagi bersinar dengan sangat terang. Tampaknya energi yang sedang berkumpul di tubuhnya sedang berbentrokan kembali.


Namun pada bentrokan kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Dari kejauhan, tampak aura yang berwarna biru putih dan juga mana murni sedang berusaha menyatu. Luminas tampaknya sedang berusaha membentuk harmoni agar kedua energi tersebut dapat berdampingan.


Percikan energi sihir terlintas di udara. Seluruh ruangan tersebut kini tersebar energi yang sangat dingin. Dinding-dinding ruangan tersebut tertutupi oleh es yang tipis.


Tidak menyadari suasana sekitar yang menjadi riuh karena dirinya, Luminas tetap melanjutkan usahanya dalam menyatukan aura dan energi sihirnya.


“HIYAAH!”


*SIINGG!


Luminas berseru dengan keras. Sekali lagi energi sihir di udara bergetar dengan kuat. Cahaya yang terpancar dari jantung Luminas bersinar semakin terang. Di udara tampak aura dan energi sihir bergejolak dan berusaha menyatu. Hingga sampai —


*KRAAKK


*BAMM!


Cahaya yang bersinar di jantung Luminas mulai retak dan pecah. Sinar cahaya tersebut merambat ke seluruh tubuh Luminas seperti sedang menyelimuti dirinya. Hingga tubuh Luminas kini tertutup oleh cahaya terang tersebut seluruhnya.


Setelah beberapa saat cahaya terang terpancar dari tubuh Luminas, cahaya tersebut mulai redup. Menampilkan pemandangan Luminas yang dikelilingi oleh cahaya biru sedang melayang di udara.


Luminas membuka matanya perlahan. Setelah ia membuka matanya, cahaya biru yang menyelimuti seluruh tubuh Luminas mulai menghilang, dan Luminas pun berhenti melayang di udara.


Luminas tampak stabil saat turun dari udara dan dapat mendarat dengan aman. Penglihatannya tampak buram, untuk sesaat Luminas tidak bisa melihat apa-apa. Hingga penglihatannya kembali secara perlahan dan ia menengok ke arah sekitar.


Saat ia menengok ke arah pintu masuk, ia melihat Selena sedang bersandar di dinding tepat di samping pintu masuk.


“Ibu?”


Ketika Luminas memanggilnya, Selena bertepuk tangan sambil berjalan menghampiri dirinya. Luminas yang melihat Selena tengah berjalan menuju dirinya juga menghampirinya.


“Lumiiii!!!”


Selena secara mendadak lari ke arah Luminas dan memeluknya dengan sangat erat. Luminas dipeluk dengan kuat hingga tubuhnya terangkat dari tanah dan diputar-putar oleh Selena.


“Lumi!!! Apa kamu tahu betapa khawatirnya ibumu ini?!”


“Aaaaah, Ibu! Kumohon berhenti!”


Luminas merasa pusing ketika tubuhnya diputar-putar oleh Selena.


“Ah! Maafkan aku Lumi!!”


Selena langsung menghentikan tindakannya dan meletakkan Luminas kembali di tanah, lalu ia memeluknya kembali dengan sangat erat.


“I-ibu, sudahlah. Hentikan ini,”


Kini Luminas merasa tercekik karena pelukan dari Selena terlalu erat.


“Ah, iya! UHUK! Ngomong-ngomong, bagaimana perasaanmu, Lumi?”


Selena melepaskan pelukan dari Luminas dan terbatuk seolah seperti menjaga kesan sebagai ibu yang berwibawa.


“Ah, iya. Tadi aku merasa sedikit pusing, tapi sekarang sudah tidak apa-apa,”


“Fuh, baguslah,”


Selena mengelus dadanya dan menghela nafas lega.


“Ibu, sudah berapa lama waktu berlalu semenjak aku latihan di sini?”


Luminas baru menyadarinya, bahwa selama ini ia terlalu fokus dengan latihannya dan tidak memperhatikan waktu. Luminas berpikir bahwa mungkin baru berlalu beberapa jam melihat ibunya masih berada di sini dan belum berangkat ke medan perang.


“Hm? Sudah dua hari telah berlalu sejak saat itu,”


“Apa?! Dua hari?!”


“Iya, kenapa memangnya?”


Selena bingung dengan reaksi Luminas yang sangat terkejut seperti itu.


“Bukankah ibu akan berangkat menuju medan perang?! Ini kan sudah dua hari?!”


Luminas membentak Selena. Ia beranggapan bahwa Selena sedang terlalu asyik ketika dirinya melihat Luminas yang sedang berlatih. Ia khawatir bahwa dengan ketidakhadiran ibunya di medan perang, maka akan menciptakan malapetaka di garis depan. Jika itu terjadi, ia merasa bahwa itu semua adalah salahnya sehingga Selena menjadi teralihkan.


“Ah, itu? Tenang saja, ibumu ini sudah mengatasinya! Dan aku masih punya dua jam lagi sebelum berangkat ke medan perang,”


Selena mengatakan hal tersebut seakan-akan semua itu bukan apa-apa baginya.


“Dua jam?”


“Ya! Dengan begitu kita bisa—“


Luminas memperhatikan sebuah senyuman tersungging di wajah Selena. Ia merasakan firasat buruk dari itu, dan benar saja. Sebelum Selena menyelesaikan kalimatnya ia dengan cepat melesat ke arah Luminas dan melayangkan sebuah pukulan padanya.


Luminas yang terkejut dengan serangan mendadak tersebut, ia tidak bisa menghindarinya. Meskipun ia bisa melihat serangannya, ia merasa bahwa tubuh kecilnya ini tidak bisa menangkisnya pula karena reaksi tubuhnya terlalu lambat. Namun....


*BUUGH!!


Luminas terpental akibat pukulan dari Selena. Namun ia tidak terkena pukulan tersebut secara telak, ia berhasil menahannya dengan menyilangkan kedua lengannya. Ia juga merasa bahwa dirinya terpental tidak begitu jauh yang tidak sesuai dengan bayangannya.


‘... Apa ini?’


“Seperti yang kuharapkan dari Putriku. Kamu selalu luar biasa~”


Selena tersenyum lebar ketika melihat Luminas yang bingung.


“Apa maksudnya, ibu?”


“Kamu berhasil menangkis seranganku yang diperkuat dengan aura. Yang artinya kamu sudah bisa menggunakan aura dengan baik meskipun belum pernah mencobanya,”


“!!!!”


Luminas tidak bisa menyembunyikan ekspresi keterkejutannya.


‘Aku? Sejak kapan aku menggunakan aura?’


“Sepertinya kamu belum menyadarinya ya? Kalau begitu rasakan dan pelajari,”


Setelah mengatakan hal tersebut, Selena kembali melesat menuju arah Luminas. Kini Luminas yang bisa memperkirakan serangan Selena jadi bisa bersiap terlebih dahulu.


Namun meskipun Luminas bisa memperkirakan bahwa Selena akan menyerang, ia masih kesulitan dalam menangkis serangan dari Selena. Hal itu dikarenakan Selena tampaknya memakai kecepatan dua kali lipat lebih cepat dari sebelumnya.


Luminas dapat melihat serangan Selena, namun kali ini ia tidak bisa menangkisnya karena respons tubuhnya terlalu lambat.


*BUUGH!


Pukulan Selena dengan telak mendarat di wajah Luminas, dan kali ini Luminas terpental sampai hampir menyentuh dinding ruangan. Ia bingung harus bereaksi seperti apa dalam menanggapi serangan dari Selena.


‘Rasakan dan pelajari? Apa maksudnya?’


Tanpa memberikan waktu untuk berpikir, Selena kembali menerjang dan mengeluarkan tendangan melayang yang mengarah ke wajahnya. Luminas yang merasa terancam dapat dengan cepat bereaksi dalam menghindari serangan tersebut.


Luminas masih bingung dengan maksud Selena. Namun ia lebih bingung dengan reaksi tubuhnya yang tiba-tiba menjadi semakin cepat dan mampu mengimbangi kecepatan Selena.


*WOSWOSWOS!


Selena mengeluarkan pukulan bertubi-tubi dengan kecepatan tinggi. Diserang oleh serangan yang sangat cepat, Luminas merasa kesulitan dalam menghindarinya. Mata Luminas tampak mengikuti arah ke mana pukulan tersebut melayang, dan tubuhnya dapat mengikuti kemauannya dalam menghindar.


Dari serangan tersebut, Luminas menyadari sesuatu. Ia dengan cepat menghindari semua serangan tersebut dan mengambil jarak untuk berpikir.


‘Apakah tubuhku mengeluarkan aura secara tidak sadar karena merasakan ancaman dari serangan ibu?’


Luminas menyadari bahwa ia bisa menghindari dan menangkis sebagian besar serangan Selena dikarenakan tubuhnya mengingat bagaimana cara menggunakan aura. Ketika Luminas merasakan ancaman serangan, tubuhnya menanggapinya dengan mengeluarkan kekuatan aura.


‘Bagaimana cara sebenarnya untuk menggunakan aura? Apa perbedaannya dengan menggunakan sihir biasa?’


Berbagai pertanyaan terlintas di kepala Luminas, namun sayangnya ibunya tidak membiarkan dia berpikir terlalu lama. Selang beberapa saat Luminas menjaga jarak, ibunya dengan sigap langsung memotongnya.


Ketika Selena sudah mencapai jarak yang cukup untuk menyerang Luminas, ia mengentakkan kakinya di tanah dan mengeluarkan sebuah tendangan yang mengarah ke perut Luminas.


Luminas yang sedang mundur dan berusaha menjaga jarak tidak bisa menanggapi serangan tersebut dengan benar, sehingga serangan tersebut hanya ditangkis menggunakan satu tangan miliknya.


Ia terlempar jauh dan kehilangan keseimbangannya. Ia terus berguling-guling sampai dinding ruangan menghentikan dirinya.


“Ukhhh,”


Luminas melirik tangan yang ia gunakan untuk menangkis serangan tadi. Serangan tersebut sangat kuat, namun lengannya hanya menderita sedikit cedera. Hal ini membuat Luminas sadar, bahwa sesaat tadi ia merasakan bahwa ia memindahkan aura dari jantungnya mengalir ke seluruh tubuhnya.


‘Apakah... Seperti itu? Kalau begitu—‘


Setelah merasa memahami sesuatu Luminas memandangi Selena yang hendak mendekat lagi ke arahnya. Ia tampak tidak memberi Luminas kesempatan untuk bernafas sedikit pun dan terus menyerangnya.


Selena merasa ada yang berbeda dari Luminas, ia mendadak merasa ragu untuk menyerang Luminas karena perasaannya mengatakan bahwa kali ini akan berbahaya.


Namun Selena mendengus dan menghilangkan keraguannya dengan cepat. Ia berpendapat bahwa jika memang ada sesuatu yang berbeda tentang Luminas maka biarkan itu terjadi.


Selena mempercepat kecepatannya, ia bergerak secara vertikal hingga aura yang dia keluarkan membentuk sebuah garis lurus. Selena berniat memanfaatkan kecepatannya untuk melancarkan serangan garis lurus yang cepat dan kuat.


*BAAMM!!


Serangan Selena kali ini terasa sangat kuat. Bahkan kali ini ia memusatkan auranya di serangan tinju miliknya. Namun apa yang dilihat Selena selanjutnya mengejutkan dirinya. Luminas masih berdiri tegap sambil menyilangkan kedua tangannya. Ia bahkan hanya bergeser sejauh beberapa sentimeter dari tempat ia berdiri sebelumnya.


Selena yang terkejut hendak menjaga jarak dari Luminas, namun sayangnya tangan yang ia gunakan untuk memukul telah terjerat dan terkunci di tangan Luminas.


Sebelum Selena mengeluarkan kekuatan yang lebih besar dari dirinya, Luminas menarik Selena dan memusatkan kekuatan auranya di kepalan tangannya. Ia melayangkan tinju auranya tepat ke arah wajah Selena. Tetapi—


*BAAMM!!


Serangan tinju yang dilancarkan oleh Luminas tidak kalah kuat dari Selena. Ia berhasil mendaratkan sebuah serangan ke Selena setelah sejak tadi dihajar oleh Selena, Luminas tersenyum puas. Namun hal yang ia lihat selanjutnya membuat senyumnya menjadi pudar.


Terlihat sebuah objek logam cair yang berada di tempat Luminas memukul. Objek logam cair tersebut menggeliat dan bergerak sendiri di udara. Ketika Luminas hendak menarik tangannya dari objek logam tersebut, objek logam tersebut bergerak secara mendadak dan menyelimuti tubuh Luminas mulai dari tangannya.


Logam cair tersebut bergerak merambat terus ke seluruh tubuh hingga tubuh yang diselimuti oleh logam cair tersebut tidak dapat bergerak. Dari balik asap, siluet Selena terlihat, ia tampak sedang mengayun-ayunkan tangannya dengan santai.


“Hebat sekali, putriku. Di waktu yang singkat ini kamu menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa. Namun Lumi, seorang ksatria sihir tidaklah hanya berfokus pada penggunaan aura juga,”


“Karena keunggulan seorang ksatria sihir adalah mereka bisa bertarung seperti seorang ksatria aura, namun mereka juga bisa merapal sihir untuk menyerang musuh yang sedang menjaga jarak,”


Setelah mengatakan hal tersebut Selena maju dengan cepat menuju arah Luminas. Ia mengepalkan tinjunya dengan erat dan memusatkan kekuatannya di kepalan tangannya.


Melihat tinju Selena yang mendekat, Luminas menutup matanya rapat-rapat.


*BAAMM!!


“???”


Luminas tidak merasakan apa pun atau sesuatu yang menyentuh wajahnya. Lalu ia mengintip sedikit untuk melihat apa yang sedang terjadi.


Selena meninju udara kosong. Ia tampak sengaja agar Luminas tidak terkena serangan miliknya. Selena lalu mengulurkan salah satu tangannya, dan logam cair yang melilit tubuh Luminas langsung terlepas jatuh ke tanah dan menghilang seperti asap.


“Jadi Putriku, apakah kamu sudah paham mengenai apa yang kusampaikan tadi?”


Luminas mengangguk atas pertanyaan dari Selena.


“Bagus, kalau begitu latihan untuk kali ini selesai. Ayo naik ke atas, karena ibu akan bersiap untuk berangkat,”


Ketika mendengar pernyataan dari ibunya, Luminas menelan ludah.


.


.


Dua jam telah berlalu selepas dari latihan tersebut. Luminas menatap Selena yang mengenakan baju pertempuran khas miliknya.


Ia mengenakan baju kulit ketat berwarna hitam, dengan beberapa bagian yang ditutupi oleh perak. Baju pertempuran yang Selena kenakan terlihat sangat cocok dengan dirinya, dipadukan dengan rambut peraknya yang berkilau sedang terikat, Luminas merasa bahwa ibunya terlihat sangat cantik.


Ketika ia sedang melihat ibunya, seketika ia terlintas julukan yang dimiliki oleh ibunya tampak sangat cocok dengannya, Silver Queen.


Saat ini Selena telah berada di luar kediaman dan ia sedang berdiri di hadapan ribuan prajurit dengan baju besi perak mereka yang mengkilap. Selena dengan percaya diri berdiri di hadapan mereka semua, sementara Luminas meringkuk bersembunyi dibalik kaki ibunya seperti gadis yang penakut.


“Wah~ master, anakmu terlihat sangat imut,”


Seorang wanita berambut pirang dengan baju khas penyihir abad pertengahan berjalan menghampiri Luminas yang berada di balik kaki Selena. Ia adalah salah satu ajudan Selena, yaitu Marina.


“Jangan takut ya, kami semua ini adalah prajurit pribadi milik ibumu tersayang itu~”


Wanita berambut pirang tersebut menunduk dan mengelus kepala Luminas.


Luminas yang sedang mengintip dari balik kaki ibunya terlihat sangat menggemaskan, ia terlihat seperti anak kucing yang ketakutan. Bahkan Selena pun hampir hilang kendali ketika melihat hal tersebut. Namun ia masih harus menjaga wibawanya sebagai seorang pemimpin dan juga seorang ibu. Ia juga ingin terlihat keren di depan putrinya yang tercinta.


‘Tapi... Ada apa dengan Lumi? Apakah ia ketakutan karena berdiri di depan prajurit sebanyak ini? Memang wajar sih bagi gadis seusianya untuk takut.... Dan lagi dia terlihat sangat menggemaskan <3’


Selena mengepalkan tangannya erat-erat dan menahan diri untuk tidak mengeluarkan sifatnya yang itu. Namun disisi lain Luminas...


‘Harus terlihat seperti anak normal.... Harus terlihat seperti anak normal.... Harus terlihat seperti anak normal.... Harus terlihat seperti anak normal.... Harus terlihat seperti anak normal....’


Luminas sedang berusaha keras agar menjadi seorang gadis kecil yang normal menurut versinya.


Saat semua orang sedang tenggelam dalam pikirannya masing-masing, seorang wanita berkulit gelap dan rambut putih keabu-abuan dengan panjang seleher berjalan mendekati Selena.


“Komandan, seluruh pasukan telah siap. Silakan beri perintah kapan pun Anda inginkan,'


Wanita berkulit gelap dengan rambut putih keabu-abuan adalah salah satu ajudan milik Selena, yakni Rufus.


“Bagus, kalau begitu—“


“PRAJURIT!”


Selena berteriak dengan nada tinggi, tampaknya ia menggunakan sihirnya untuk memperluas jangkauan suara miliknya.


“”YAAA!!””


Mereka semua menjawab panggilan Selena dengan bersemangat sambil mengentakkan kaki secara serentak.


“SIAPA KALIAN??!”


“”SILVER SNOW WOLF KNIGHT ORDER!!!””


Suara mereka semua terdengar menggema meskipun mereka berada di ruangan terbuka.


“APA YANG MENJADI TUJUAN KITA?!”


“”KITA AKAN MENCABIK-CABIK TUBUH MEREKA!!”


“LALU??”


““DAN PULANG MERAIH KEMENANGAN!!!””


“”UWAAHHHH””


Ketika mengatakan hal tersebut para prajurit mengentakkan kakinya sekali lagi dan membuat bumi bergetar. Mereka semua berseru dengan penuh semangat.


Selena yang melihat prajurit miliknya bersemangat dan penuh moral siap bertempur, tersenyum lebar.


Luminas termenung kagum melihat para prajurit tersebut. Mereka yang penuh moral untuk bertempur, mereka tampak tak terkalahkan. Luminas semakin yakin bahwa hanya kemenangan saja yang menanti kepulangan ibunya.


.


.