Themis, The Flower of Justice

Themis, The Flower of Justice
Chapter 6 — Keputusan sulit(2)



Di sebuah ruang tunggu di pengadilan, seorang gadis muda yang baru berusia awal 20an duduk di kursi dekat pojok ruangan ditemani dengan beberapa pria bertubuh besar yang tampak menyeramkan. Gadis itu tampak babak belur dan ia sangat ketakutan karena ia diborgol juga dijaga ketat oleh orang-orang yang menyeramkan.


Air mata mengalir dari matanya, dia menangis tapi dia tidak bisa bersuara karena ia mengira akan dipukul lagi seperti sebelumnya karena dianggap bertindak mencurigakan. Penampilannya sangat lusuh dan matanya tampak bengkak karena terlalu banyak menangis. Ia beberapa kali menggumamkan sesuatu dan menyebut tentang ibunya.


“Hei Alice sayang, berhentilah menangis. Wajahmu menjadi jelek kalau menangis~. Bukankah satu-satunya yang bagus adalah wajahmu? Hahaha,”


Seorang pemuda yang duduk di kursi seberang ruangan memecah keheningan ruangan. Ia meledek gadis tersebut dan menertawakannya. Meskipun diledek seperti itu, gadis tersebut tidak menanggapinya dan tetap bergumam sambil menangis seakan saking ketakutannya dia suara dari sekelilingnya sudah hampir tak terdengar


“Hahaha, bukankah sudah kubilang diam dan menurut saja? Aku hanya menyentuhmu sedikit tetapi reaksimu terlalu berlebihan. Jadi aku terpaksa melakukan ini, jangan salahkan aku, salahkan saja dirimu yang berusaha melaporkan hal ini,”


Mendengar hal tersebut, emosi gadis itu melonjak. Matanya terbelalak kemudian ia bangkit dari kursinya dan ia meneriaki pria di seberangnya.


“K-KAU!! KAU MELECEHKAN DIRIKU APA AKU HARUS—“


*PLAKK


Suara tamparan terdengar, sebelum ia menyelesaikan kalimatnya gadis tersebut di tampar oleh pria bertubuh besar di sampingnya. Karena tubuhnya yang besar, tenaga yang digunakan untuk menampar juga besar sehingga gadis yang bertubuh lemah dan juga tidak dalam kondisi baik langsung tersungkur ke tanah hanya dengan satu tamparan.


“Diam, kau tidak memiliki hak untuk berbicara,”


Pria bertubuh besar itu mengeluarkan suara dan tatapan yang menakutkan. Alice yang mendengar hal tersebut semakin ketakutan dan air matanya mengalir semakin deras. Ia tidak berdaya dan juga ia hanya bisa pasrah akan situasi ini. Ia selalu memikirkan apa yang sudah ia lakukan sehingga ia diberikan hukuman seperti ini.


“Terdakwa Alice Malten dan Penuntut Richard Desmond silahkan memasuki ruangan,”


Seseorang pria dengan jas memasuki ruang tunggu dan menyuruh mereka masuk. Alice yang masih tersungkur di tanah ditarik dan dipaksa bangun oleh pria bertubuh besar yang memukulnya tadi.


Setelah terkena pukulan tadi, tatapan Alice menjadi seperti ikan mati, ia tidak berdaya dan sudah tidak memiliki harapan hidup lagi. Ia hanya pasrah ketika dua orang bertubuh besar memegang lengannya dengan erat dan membawanya masuk dengan paksa. Ia juga sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk melawan dan menerima nasibnya disini.


Pemuda yang duduk di seberangnya tadi berjalan melewatinya, ia mendekati telinga gadis tersebut dan berbisik


“Hei, sekarang aku mungkin tidak dapat menyelamatkanmu lagi. Tapi aku tidak keberatan jika kamu ingin melakukannya denganku sekali sebagai permintaan maafmu padaku sebelum hidupmu berakhir, hahaha!”


Pemuda tersebut tertawa dengan keras. Alice yang sudah dalam kondisi buruk tersebut, tidak memiliki keinginan untuk membalas perkataan pemuda itu. Ia hanya berharap bahwa hidupnya berakhir di sini dan semua penderitaannya terselesaikan. Namun meskipun ia berpikir seperti itu, gadis tersebut masih memiliki keinginan hidup yang kuat dan ia tidak henti-hentinya berdoa dan terjadi keajaiban yang menyelamatkan hidupnya.


“Terdakwa Alice Malten dan Penuntut Richard Desmond memasuki ruangan!”


Seseorang mengumumkan kedatangan mereka, gadis itu memerhatikan pemasangan sekitarnya. Ia sudah melihat pengadilan beberapa kali, namun ia tidak pernah melihat pengadilan yang begitu hening seperti ini, bahkan penghuninya tidak bergeming dan hanya meliriknya ketika ia memasuki ruangan.


Gadis yang dipanggil Alice itu melihat ke arah meja hakim. Ia melihat para hakim yang akan mengadilinya, mereka semua terlihat sama, namun ada satu orang yang berbeda, Ia adalah satu-satunya yang terlihat memiliki emosi dan mengarahkan tatapan kasihan kepada Alice sehingga pandangan Alice tidak bisa lepas darinya. Perhatiannya teralihkan kepada seorang pria dengan rambut hitam yang mengenakan kacamata, kemudian Ia melirik ke arah papan nama yang berada di mejanya.


‘James Nielson...’


Alice merasa pernah melihat pria tersebut di suatu tempat dan bahkan ia juga pernah mendengar namanya. Alice berusaha mengingatnya, namun ia membutuhkan waktu untuk mengingatnya.


Alice teringat bahwa seorang hakim dengan nama tersebut pernah mengunjungi kampusnya dahulu. Hakim tersebut adalah hakim hebat dan terkenal karena sudah mengadili kasus-kasus yang sangat penting.


Ia merasa kehadiran hakim tersebut cukup berkesan sehingga Alice mengingatnya. Ia ingat bahwa Ia menjadi pembicara saat itu dan Ia membicarakan suatu tentang keadilan baginya. Ketika ia sedang berbicara tentang keadilan di kampus saat itu, ekspresinya menjadi pahit sehingga Alice merasa bahwa hakim tersebut sudah sering melihat kasus ketidakadilan dan ia sudah muak akan hal tersebut.


Alice terkesan dengan hakim tersebut karena ia adalah seseorang dengan jiwa keadilan tinggi juga berdedikasi dengan pekerjaannya. Walau pekerjaannya menentang idealismenya dan membuatnya muak, ia tetap menjalani pekerjaannya dan tidak berniat untuk berhenti.


Alice merasa alasan pria itu tidak berhenti dari pekerjaannya adalah karena ia berharap suatu hari keadilan di negeri ini akan bangkit dan ia berusaha untuk menanamkannya sedikit demi sedikit meskipun itu melukai nuraninya, ia merasa kagum dengan hakim tersebut dengan dedikasinya atas keadilan.


Sekarang hakim tersebut berada di depannya. Hakim yang terkenal karena telah mengadili kasus hebat dengan sempurna, juga hakim yang dikaguminya karena keadilannya, mau tak mau Alice menjadi menaruh harapan akan keajaiban yang terjadi di depannya. Ia merasa bahwa mungkin saja Ia akan selamat jika Ia melakukannya dengan baik, walau Alice tidak punya pengacara Ia harus mengatakannya dengan baik agar hakim tersebut dapat memberikan dirinya keadilan.


Melihat Alice yang kembali mendapat harapan, Richard Desmond tersenyum. Ia merasa bahwa Alice telah mengharapkan hal yang sia-sia dari pengadilan ini. Karena Richard tahu bahwa pengadilan ini bukan pengadilan biasa, melainkan pengadilan yang dikhususkan untuk organisasinya jadi Ia tidak merasa khawatir jika Alice akan dinyatakan tidak bersalah.


Alasan sebenarnya Richard tidak khawatir adalah karena Ia adalah seorang anak dari salah satu eksekutif organisasi rahasia, Rainer Desmond. Ia sudah mengatakan pada ayahnya tentang ini dan ayahnya menyarankan bahwa Richard harus mengatakan suatu rahasia tentang organisasinya kepada gadis itu sehingga gadis tersebut dapat diadili di sini dan tidak memiliki kesempatan sedikit pun.


Richard pun mengikuti saran ayahnya dan ia mengatakan suatu hal tentang rahasia organisasinya, lalu ia melaporkan ini pada ayahnya, dan ayahnya melapor pada atasannya bahwa ada seseorang yang tidak sengaja mengetahui rahasia tentang organisasinya dan harus disingkirkan.


Memikirkan rencana tersebut, senyum Richard menjadi semakin lebar. Ia merasa bahwa rencana tersebut begitu sempurna hingga tak ada celahnya. Karena ini berkaitan dengan organisasi maka terdakwa tidak akan diberi kesempatan untuk berargumen dan selalu dicurigai sehingga Ia tidak memiliki peluang untuk mengatakan bahwa rahasianya dibocorkan oleh Richard.


“Baiklah, mari kita mulai persidangan untuk terdakwa Alice Malten. Terdakwa dan penuntut dipersilahkan untuk maju ke depan,”


Richard dan Alice pun maju ke depan. Meskipun sudah mendapatkan sedikit harapan, Alice masih merasa takut. Karena ia merasa bahwa kata-kata Richard tentang apa pun yang Ia lakukan percuma saja adalah kebenaran. Namun keberadaan Nielson memberi Alice harapan, yang ia harapkan hanyalah diberi kesempatan untuk berbicara dan memberikan bukti-buktinya.


Persidangan pun di mulai, pertama hakim membacakan agenda sidang terlebih dahulu dan membacakan tuntutan-tuntutan yang dilancarkan Richard kepada Alice. Pengacara Richard dengan gencar menyerang Alice dengan mengatakan bahwa Alice adalah seseorang yang mencemarkan nama baik orang terhormat seperti Richard. Ia juga mengatakan bahwa Alice telah memberikan laporan palsu tentang pelecehan padahal yang terjadi sebaliknya.


Alice ingin membantahnya, namun ia tidak diizinkan untuk berbicara. Tuntutan-tuntutan yang dilancarkan beserta bukti terdengar logis, sehingga membuat Alice semakin takut bahwa perkataan Richard ternyata benar, semuanya sia-sia.


“Yang mulia, berikan Saya kesempatan untuk berbicara Saya akan—“


“Nona Malten, Anda di sini belum diizinkan untuk berbicara, jadi tenanglah dahulu dan kembali ke tempat Anda dengan tenang,”


“Apa? Tapi bukankah penuntut sudah selesai menyatakan keterangannya? Bukankah ini saatnya bagi saya untuk membela diri?!”


Alice bersikeras untuk diberikan kesempatan berbicara, namun tetap saja ditolak dan Ia disuruh kembali ke tempatnya dengan tenang. Alice semakin gusar, jika ia tidak mengatakannya maka Ia akan langsung dinyatakan bersalah karena tuntutan beserta bukti palsu yang diarahkan padanya.


Melihat hal itu, nurani Nielson menjadi tersentuh. Ia merasa sesuatu yang hilang dari dirinya telah kembali lagi. Emosi tentang bagaimana ia merasakan rasa sakit karena ketidakadilan yang terjadi, rasa empati, serta rasa kasihan juga kembali ke dirinya.


Nielson merasa emosional kali ini, dan ia merasa bahwa Ia semakin kembali menjadi manusia. Nielson tidak menyia-nyiakan perasaan kali ini dan Ia lebih mengikuti nuraninya kali ini. Jika gadis itu memang memiliki bukti soal Richard lah yang membocorkan hal ini maka tuduhan akan kembali pada Richard dan alur persidangan akan terbalik sehingga mereka berdua mungkin akan selamat.


Ia bertaruh dengan kehidupannya dan hidup gadis itu kali ini. Ia berharap bahwa gadis itu benar-benar dapat membalikkan persidangan kali ini. Yang harus Ia lakukan untuk membantunya adalah dengan memberikan kesempatan berbicara pada gadis itu dan membiarkan gadis itu melakukan tugasnya.


Nielson melambaikan tangannya, mengisyaratkan kepada orang di sampingnya agar ia menghentikan ucapannya.


“Tunggu sebentar, Saya berikan kesempatan kepada Anda untuk melakukan pembelaan. Tetapi jika Anda tidak memiliki bukti yang relevan berkaitan dengan pembelaan Anda, maka persidangan ini telah selesai dan Anda dinyatakan bersalah”,


Seluruh anggota persidangan serempak menengok ke arah Nielson. Mereka semua tampak terkejut dengan perkataan Nielson yang bergerak di luar skenario sidang, namun keterkejutan itu hanya sesaat dan mereka langsung menghela nafas. Seakan mereka sudah terbiasa dengan Nielson yang bergerak di luar keinginan mereka dan hal tersebut dapat diatasi dengan berjalannya situasi.


Mendengar perkataan Nielson, mata Alice bersinar dan harapan memenuhi dirinya kembali. Dengan perkataan Nielson Ia merasa bahwa mungkin saja Ia akan selamat dan membalikkan keadaan persidangan.


Alice mengangguk sebagai tanggapan atas perkataan Nielson.


“Baik, terima kasih yang mulia telah memberikan saya kesempatan untuk berbicara. Pertama biarkan saya menjelaskan bahwa tuntutan pertama dari pihak penuntut adalah palsu, dan laporan saya adalah kebenaran,”


Alice membuka kancing bajunya, Ia memperlihatkan sebuah kalung permata yang menggantung di lehernya. Ia mencopot kalung tersebut dan memisahkannya antara pengikat dengan permatanya.


“Ini, ini adalah rekaman percakapan saya dengan Richard ketika Ia sedang melecehkan saya. Di sini terpampang jelas bahwa ia benar-benar melakukannya dan semua tuduhannya pada saya adalah tuduhan palsu,”


Alice berkata dengan penuh keyakinan dan kepercayaan diri. Mendengar perkataan dari Alice, Richard menjadi panik dan Ia harus menghentikan Alice mengatakannya lebih jauh.


“Tunggu dulu, semua rekamannya adalah palsu! Bukankah semua orang tahu jika mudah untuk menciptakan rekaman palsu yang menyerupai suara—“


“Tunggu sebentar Richard Desmond, aku belum selesai,”


“Richard Desmond, harap tenang dan silakan kembali. Alice Malten, diperkenankan untuk melanjutkan,”


Alice mengangguk atas pernyataan Nielson, ia kembali melanjutkan argumennya.


“Baiklah, mengenai rekaman selanjutnya. Rekaman selanjutnya berisi seseorang telah membocorkan ‘sesuatu’ kepada saya, saya tidak berniat mengetahui hal tersebut jika dirinya tidak memberi tahu saya, saya rasa sudah tidak perlu lagi menyebut siapa yang membocorkan hal tersebut kepada saya,”


Alice kemudian memutar rekaman kedua yang berisi tentang Richard Desmond yang secara sengaja membocorkan rahasia yang besar kepadanya agar ia ditangkap dan di sidang di sini.


“Oh ya, jika kalian meragukan kualitas rekaman ini, kalian bisa memeriksa keaslian dari rekaman ini dengan memindai dan menyamakan frekuensi suaranya. Bukankah dengan teknologi saat ini memungkinkan untuk mengetahui suara buatan atau tidak?”


Alice melanjutkan perkataannya. Mendengar pernyataan Alice, Richard yang tadinya ingin membantahnya menjadi terdiam dan tidak jadi mengemukakan keberatannya. Richard menelan ludah dan mengepalkan tangannya. Ia tidak menyangka bahwa situasi persidangan ini akan berbalik dan langsung menyerangnya.


‘Ughh, jika mereka mengetahui rahasianya bocor karena diriku, mereka tidak akan membiarkan aku dan ayahku. Aku dan ayahku akan dibuang atau lebih buruknya lagi akan dieksekusi tanpa pemakaman. Semuanya karena hakim itu, jika Ia tidak membiarkan Alice berbicara maka semua ini tidak akan terjadi,'


Alice yang melihat Richard kehilangan ketenangannya dan menjadi gusar, tanpa sadar tersenyum. Alice adalah gadis yang cerdas, dia pasti akan merekam sesuatu jika memang ia merasa ada sesuatu yang janggal. Itu semua berkat permata buatan mendiang ayahnya. Permata yang berisi perekam suara adalah perekam suara tersembunyi canggih yang diciptakan, karena ayahnya Alice adalah seorang pengembang teknologi yang cerdas, dan ia memberikan kalung permata tersebut sebagai hadiah ulang tahun Alice. Alice merasa bersyukur karena ia telah diselamatkan oleh kalung permata ini, ia berpikir bahwa mendiang ayahnya telah memperhatikannya dan menolongnya dari jauh.


‘Ayah, terima kasih...’


“Sekian pembelaan dari saya, Yang Mulia,”


Alice mengakhiri argumennya dengan penuh keyakinan. Melihat Alice yang berhasil membela dirinya dan membuat situasi menjadi berbalik, Nielson tersenyum. Ia senang karena ini berjalan lancar sesuai rencananya, ternyata mempertaruhkan hidupnya demi memuaskan dirinya membuahkan hasil. Tadinya ia sangat takut karena berbagai kemungkinan bahwa Alice mungkin saja tidak memiliki bukti yang cukup membalikkan keadaan, atau mungkin Alice yang terlebih dahulu terbungkam karena merasakan tekanan yang berlebih, ternyata semua kekhawatiran Nielson sia-sia.


“Baiklah, saya rasa semuanya sudah jelas,”


Nielson menatap Alice dan tersenyum. Alice yang sadar akan tatapan Nielson juga memberikan senyumnya ke arah Nielson. Saat ini mereka merasa telah menjadi teman dengan melewati pengadilan yang mempertaruhkan hidup mereka.


“Dengan ini saya nyatakan, Alice Malten tidak bersalah!”


Alice bersorak kegirangan karena telah lolos dari situasi maut ini. Jika saja Nielson tidak menolongnya maka ia tidak akan selamat. Meskipun hanya diberikan kesempatan berbicara, namun itu benar-benar dapat merubah keseluruhan pengadilan.


‘Terima kasih, Tuan Nielson!’


“Dan, Richard Desmond akan dihukum sesuai peraturan perundangan-undangan yang ada karena telah melecehkan, memfitnah dan juga mencemarkan nama baik Alice Malten. Dengan ini sidang saya tutup,”


Walau sidang sudah selesai, suasana persidangan itu masih hening. Yang berbeda hanyalah kini mereka semua menatap Richard dan Rainer, mereka berdua kemudian dibawa dan diseret keluar. Mungkin mereka akan dihukum karena telah membahayakan organisasi, bahkan Nielson tidak bisa membayangkan apa yang akan mereka terima sebagai hukuman.


Persidangan telah selesai, para penghuni ruangan sidang meninggalkan ruangan, dan Nielson merasa lega. Ia merasa bahwa setelah ini mungkin ia akan mengajak minum Alice karena telah melewati hal yang berat, selain itu Alice juga secara tidak sadar membantu Nielson apa yang telah dicarinya sejak lama.


‘Ah mungkin aku juga harus mengajak Nona Gretta. Aku senang semuanya berjalan dengan baik,'


Pada saat orang-orang yang mengikuti sidang keluar, mereka tampak berkerumun dan kerumunan mereka melewati Alice. Saat Nielson baru merasa lega, ia merasa ada yang aneh dengan kerumunan yang mendekati Alice. Nielson merasa ada yang tidak beres dengan kerumunan tersebut. Ia kemudian menajamkan penglihatannya untuk mengawasi Alice lebih ketat.


Namun, ia juga merasa aneh dengan kedua hakim yang tadi berdiri di sampingnya, kini mereka seperti menatap Nielson lebih tajam. Mereka seperti mengeluarkan aura yang berbeda dari sebelumnya, kini Nielson menjadi sangat waspada terhadap suasana yang terasa sangat aneh ini.


‘Aku memiliki firasat buruk’


Ketika Nielson sedang mengamati kerumunan yang melewati Alice, ia dengan segera mempersiapkan kemungkinan terburuknya. Nielson dengan cepat mengotak-atik jamnya dan muncul sebuah lubang kecil di jamnya. Ternyata firasat Nielson benar, salah seorang kerumunan yang melewati Alice menyembunyikan senjata api di lengan bajunya dan berniat menyerang Alice. Nielson dengan cepat membidik ke arah orang tersebut dan keluar sebuah jarum yang sangat kecil dan tipis.


Sebelum sempat menarik pelatuk, orang yang memegang senjata api tersebut terkena serangan jarum Nielson. Karena jarum yang kecil dan tipis, orang tersebut tidak dapat melihat jarum yang melesat ke arahnya, juga berbeda dengan senjata api, jarum ini melesat tanpa menimbulkan suara sehingga orang-orang menurunkan kewaspadaannya sehingga ia bisa dengan mudah terkena serangan dari Nielson.


Pria yang berniat menembak Alice tersungkur jatuh ke tanah. Alice yang kaget langsung berteriak melihat orang yang tersungkur jatuh di depannya. Mendengar teriakan Alice, seluruh kerumunan tersebut menjadi waspada dan menunda penyerang kepada Alice. Mereka lebih memprioritaskan orang mencari siapa dibalik yang menyerang mereka.


‘Kesempatan!’


Melihat mereka yang sedang kebingungan, Nielson tidak bisa berdiam diri saja. Ia ingin segera bergegas ke Alice, namun kedua orang yang berdiri di sampingnya menariknya dan menghentikan Nielson yang berusaha pergi ke tempat Alice.


“Delta-001, apakah itu tadi perbuatanmu?”