
29 Oktober, tahun 2097 [Pukul 19.00]
[Kota London, Inggris]
Pada suatu tempat di kota London, terlihat sebuah gudang terbengkalai dengan dua buah truk dan satu mobil pribadi terparkir di depannya. Gudang tersebut sangat kumuh dan bobrok, terlihat seperti akan runtuh kapan saja. Keberadaan mobil-mobil tersebut yang ganjil karena suasana yang sepi dan tidak ada satu pun kendaraan berada di sana. Ditambah dengan gudang kumuh yang mustahil untuk dijadikan tempat bekerja karena masalah keamanan, tentu saja itu menambah keganjilan mengapa mobil tersebut berada di sana.
Di dalam gudang terdapat 2 orang sedang berjaga di pintu masuk dan beberapa orang duduk melingkar seperti tengah mendiskusikan sesuatu. Bagian dalam gudang tersebut sangatlah gelap, hanya diterangi oleh cahaya kilat dari luar yang bergemuruh sehingga wajah orang-orang tersebut tidak dapat terlihat dengan jelas. Suasana gudang tersebut juga hening, namun keheningan seluruh ruangan dapat ditutupi oleh suara keras hujan yang menimpa langit-langit bangunan.
“Apakah persiapan sudah selesai?”
Seorang pria dengan suara berat dan bergema memulai percakapan
“Tentu saja, bukankah kita sudah mempersiapkan mereka dengan baik?”
Ucap seorang pria lain dengan suara tinggi yang tidak enak di dengar.
“Huhuhu, karena kita sudah mempersiapkan panggung untuk mereka, tentu mereka harus bekerja keras~ “ ejek seorang pria dengan suara serak
Kilat menyambar keras. Cahaya dari balik jendela kecil memasuki gudang dan menyinari seluruh ruangan dan memperlihatkan penampilan mereka. Terlihat 3 orang yang tengah berdiskusi dan 2 orang yang tampak sudah berumur mengenakan kemeja putih serta jas abu-abu dan yang satunya mengenakan topi fedora dan mantel berwarna hitam yang tengah mengamati mereka bertiga. Pria tua yang mengenakan topi fedora merapikan topinya dan kilat menyambar keras, menerangi wajah keriputnya yang dihiasi dengan seringai keji, menciptakan pemandangan yang cukup mengerikan
“Mari kita mulai”
*GLARRR
.......
.......
[Pengadilan Tinggi London]
29 Oktober 2097 [Pukul 21.30]
“Kerja bagus Tuan Nielson, Anda telah bekerja keras,”
Ucap seorang wanita berpakaian jaksa dengan sedikit menunduk.
“Ah begitu juga Anda, terima kasih atas kerja kerasnya, Nona Gretta”
Seorang pria berkacamata dengan rambut hitam membalas wanita yang dipanggil Gretta tersebut sambil menunduk juga.
“Ah, kalau begitu hati-hati di jalan. Semoga Anda nyaman dengan perjalanan pulang Anda,”
Gadis bernama Gretta itu tersenyum sambil sedikit menunduk dan menyelipkan rambut depan ke atas telinganya. Wajahnya tampak sedikit merah dan malu-malu.
“Ah tentu saja. Aku sudah bekerja keras, sudah semestinya aku menikmati perjalanan pulangku dengan nyaman~” ucap pria itu dengan nada sepele sambil mengibaskan tangannya
“Nona Gretta, ini sudah di luar jam kerja. Jadi berhenti bersikap formal” lanjut pria itu.
“Oh iya, hahaha. Sepertinya aku masih terbawa suasana sidang yang menegangkan tadi”
Wanita tersebut tertawa ringan sambil mengusap bagian belakang kepalanya.
“Hahaha, suasana sidang tadi memang cukup menegangkan jadi tak heran kalau terbawa suasana sampai sekarang,”
Mereka berbincang dan tertawa bersama. Melihat pemandangan tersebut, mereka lebih tampak seperti teman yang sangat akrab dibanding hanya sekedar rekan kerja.
“Nona Gretta, kurasa aku harus pamit sekarang. Ada seseorang yang menungguku, aku tidak ingin ia mengeluh padaku karena terlambat, Hahaha!”
“Ah iya, maafkan aku! Sepertinya aku terlalu banyak menyita waktumu. Hati-hati di jalan,”
Gelagatnya merapikan rambut yang diterpa angin ditambah senyuman lembut itu, membuat dirinya terlihat sangat cantik.
“Tidak apa-apa, sampai jumpa kembali,”
Pria berkacamata yang dipanggil Tuan Nielson tersebut melambai sambil masuk ke dalam mobilnya. Kemudian ia menyalakan mobilnya dan tersenyum sebelum ia meninggalkan wanita yang dipanggil Gretta tersebut.
Melihat mobil Tuan Nielson yang menjauh dari pandangan, pandangan Gretta menjadi layu dan senyumnya seketika pudar dari wajahnya. Gretta mencari sesuatu dari balik jubah jaksanya.
Ia mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya, itu adalah sebuah liontin berwarna biru. Ia menatapnya selama beberapa waktu lalu mendekap liontin tersebut sambil menggenggamnya erat-erat.
‘Tuan Nielson, apakah dia sudah punya pacar? Padahal aku menunggunya dan tidak menikah meski sudah menginjak angka 3, tapi dia....’
.....
Pria yang dipanggil Nielson ini mengendarai mobilnya dengan pelan, meskipun jalanan tampak sepi, ia tetap melaju dengan perlahan. Jalanan yang sepi di kota London memperlihatkan pemandangan yang indah sekaligus suasana yang menenangkan.
Jalan dan bangunan yang basah, serta suara air hujan yang jatuh, membuat suasana hati menjadi tenteram. Lampu jalanan dengan model klasik menerangi jalan, juga tidak ada seorang pun yang lalu lalang di pinggir jalan membuat suasana menjadi hening dan memberikan kesan sepi.
‘Jalanan sepi sekali....’
Sangat mengherankan, biasanya kota London yang ramai, kini menjadi seperti kota tanpa penghuni. Lagi pula saat ini belum terlalu larut, harusnya banyak orang masih beraktivitas, terutama jalan ini selalu ramai orang yang berlalu lalang di jalanan. Meskipun hujan, sangat aneh melihat kota yang biasanya ramai menjadi hening dan sepi.
‘Apakah hujan asam yang cukup deras yang membuat kota tampak sepi? Tidak, bukan itu...
Mungkin penyebab sebenarnya adalah—‘
‘Perang dunia ketiga'
Perang dunia ketiga, yang terjadi pada tahun 2075, alias 22 tahun dahulu, perang yang terjadi selama 3 tahun merenggut banyak hal dari umat manusia. Perang itu menyebabkan banyak sekali kerugian bagi dunia, dari hilangnya 60% populasi manusia hingga musnahnya suatu daratan ataupun tanah yang tidak bisa dihuni lagi karena radiasi yang mematikan.
Perang dahsyat yang melibatkan senjata nuklir, sungguh suatu hal yang di luar akal sehat. Bahkan negara superpower seperti Amerika Serikat berubah dalam sekejap menjadi hamparan gurun luas yang tak bisa dihuni. Daratan Siberia Rusia yang dingin menjadi hampir tak pernah mengalami musim dingin lagi. Karena perang tersebut itulah peradaban manusia juga mundur beberapa puluh tahun ke belakang.
Radiasi nuklir yang merembes ke tanah menyebabkan tanah menjadi gersang dan tidak mampu dibuat untuk menumbuhkan tumbuhan lagi. Radiasi yang mengalir ke laut menyebabkan laut tercemar dan banyak ikan mati ataupun berevolusi menjadi makhluk yang mengerikan, bahkan sampai sekarang laut menjadi zona terlarang karena sangat berbahaya dan teknologi yang tak menyanggupi untuk keamanan eksplorasi lautan.
Bukan hanya karena nuklir, tetapi karena setiap negara berlomba untuk memajukan teknologi mereka demi perang, mereka berlomba-lomba untuk membuat senjata yang dahsyat namun tidak memperhatikan lingkungan sekitar. Asap industri yang berlebih menyebabkan polusi udara yang buruk.
Ganasnya asap dari produksi yang berlebih, belum lagi akibat senjata-senjata mematikan yang dilancarkan selama perang, mengakibatkan pencemaran udara yang sangat parah hingga mengendap di langit yang bahkan sinar matahari tidak mampu menembusnya, dan kabut asap yang cukup beracun tersebar di seluruh udara sehingga semua orang di era ini harus memakai gas masker khusus yang telah ditentukan. Bahkan ketika setiap hujan, air yang turun mengandung tingkat keasaman yang sangat tinggi hingga cukup untuk semakin merusak lingkungan serta membuat orang yang terkena paparan langsung akan jatuh sakit
Langit yang tertutup asap hingga tak ada sinar matahari, namun seluruh bumi tetap terkena paparan radiasi matahari ke tingkat yang berbahaya. Sistem ozon di atmosfer yang rusak menyebabkan radiasi dari sinar matahari menjadi tak terbendung, yang menyebabkan orang di era ini ketika keluar rumah di siang hari juga harus memakai pakaian khusus yang ditentukan.
Serta tanah dan udara yang tercemar mengakibatkan orang-orang kesulitan untuk menanam tumbuhan entah itu untuk oksigen ataupun untuk bahan makanan. Karena tidak ada tumbuhan hewan-hewan pemakan tumbuhan menjadi kelaparan dan mati sehingga hewan predator pun kehilangan makanannya, menyebabkan kepunahan hewan secara massal. Itu juga mengakibatkan manusia kekurangan bahan makanan sehingga penyebab kematian meningkat bukan hanya disebabkan oleh perang tetapi juga karena menipisnya pasokan makanan.
‘itu semua karena orang-orang itu...
Demi keserakahan, mereka—‘
Mengingat apa yang terjadi dalam perang serta penyebabnya, pandangan Nielson menjadi dingin. Ia mengisyaratkan bahwa perang dunia ketiga itu disebabkan oleh orang tertentu. Hal yang wajar Nielson berpikir seperti itu, karena jika terjadi perang maka itu hal yang biasa untuk seorang kepala negara mati begitu saja dan kursinya yang kosong diambil alih seseorang. Lagi pula, Nielson merupakan salah satu ciptaan mereka.
Nielson tiba-tiba memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia memberhentikan mobilnya di depan sebuah toko barang bekas, yang mana toko tersebut merupakan satu-satunya toko yang buka di sepanjang jalan. Merupakan hal yang aneh jika seorang pejabat konstitusi mengunjungi toko barang bekas, pastinya ia bisa menyuruh seseorang menggantikannya untuk mengunjungi toko tersebut daripada mengunjunginya secara langsung.
Dari luar tampilan toko tersebut tidak ada yang aneh, bahkan ketika Nielson masuk ke dalam, tidak ada pemandangan aneh satu pun dari toko tersebut. Hanya ada barang-barang usang yang kebanyakan sudah rusak seperti bagaimana mestinya toko barang bekas.
Nielson terus berjalan ke dalam hingga bertemu dengan seseorang pria paruh baya yang duduk di depan meja sambil membaca koran. Ia berpenampilan seperti pria berumur 40 tahun, dengan kumis tebal dan wajahnya sedikit tertutup karena memakai topi. Merupakan hal yang aneh untuk memakai topi seperti itu di dalam ruangan. Jika ia memakai topi di sebuah toko atau tempat berdagang, hal tersebut bukanlah hal yang aneh, namun tempat tersebut sudah kumuh dan dipastikan tidak ada pembeli satu pun, jadi tidak ada fungsional khusus untuk alasan ia memakai topi.
Nielson mengetuk mejanya untuk mengisyaratkan kepada penjaga toko tersebut bahwa ada seorang pelanggan di depannya. Penjaga toko tersebut menurunkan korannya dan hanya melirik ke arah Nielson.
“Ada yang bisa aku bantu tuan?”
Pria tersebut hanya melirik sebentar ke arah Nielson, tapi ia tidak memalingkan wajahnya dari korannya. Nielson tidak tersinggung meskipun mendapatkan perlakuan tidak sopan dan tetap langsung mengatakan keperluannya.
“Aku ingin dokumennya”
“Dokumen? Dokumen apa? Tuan ini sepertinya merupakan pejabat pemerintah yang terhormat. Apa Anda salah alamat? Di sini hanyalah toko barang bekas, dokumen apa yang anda bicarakan~ “
Pria tersebut meletakkan korannya dan berbicara dengan nada sarkastik. Kali ini ia berbicara sambil memandang Nielson namun masih menunjukkan ekspresi yang tidak ramah.
“Berhenti mengatakan omong kosong, berikan saja D-001”
Setelah mengatakan hal tersebut, penjaga tersebut menjadi diam dan menatap Nielson selama beberapa saat. Kemudian ia mengambil suatu buku dari beberapa buku yang tersusun di mejanya, dari buku tersebut ia mengambil sebuah penanda buku yang bertuliskan Delta. Lalu ia seperti meletakkan penanda buku tersebut ke arah cermin kecil yang berada di mejanya. Saat penanda tersebut di dekatkan, cermin tersebut mulai mengeluarkan cahaya seperti sedang memindai sesuatu. Bunyi *BIPP pun terdengar, tiba-tiba saja meja yang tidak tampak ada lacinya terbuka mengeluarkan sebuah laci, dan terdapat tumpukan kertas yang merupakan isi laci tersebut.
Pria berkumis tersebut mengeluarkan beberapa dokumen dan memilahnya sebelum diberikan kepada Nielson. Nielson melihatnya sebentar, ia membolak-balik dokumen tersebut dan memeriksanya. Setelah mengeceknya, Nielson mengeluarkan sebuah pin dan meletakkan diatas mejanya kemudian meninggalkan pria tersebut tanpa sepatah kata pun.
“Yo! Selamat berbelanja kembali”
Pria tersebut tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Nielson namun Nielson mengabaikannya dan tidak menoleh sedikitpun. Ketika sudah berada di luar Nielson mengeceknya sekali lagi dan ia menghembuskan nafas panjang.
‘Daftar orang yang harus diadili di pengadilan'
Melihat judul dokumen tersebut, Nielson tenggelam dalam pikirannya. Dari judul tersebut memang tampak tidak ada masalah yang berarti, namun itu bagi Nielson itu merupakan suatu masalah, karena pengadilan yang dimaksud oleh dokumen tersebut bukanlah pengadilan yang biasa.
Pengadilan Delta, Nielson menyebutnya seperti itu. Pengadilan Delta adalah pengadilan yang tidak biasa, pengadilan ini hanya berisi kasus-kasus tertentu seperti yang berkaitan dengan organisasi rahasia yang dinaungi Nielson. Ketidakadilan yang terjadi di pengadilan Delta, menyiksa batin Nielson setiap kali ia menangani kasus di pengadilan tersebut. Apapun kasusnya, bukti, atau siapa yang bersalah tidaklah berarti di pengadilan Delta.
Tetesan hujan asam menjatuhi wajah Nielson dan menariknya dari pikirannya. Emosinya melonjak seketika, dengan cepat ia berusaha untuk mendinginkan kepalanya dan menenangkan dirinya. Meskipun emosinya naik, namun raut wajah Nielson tidak berubah.
‘Benar, aku harus tenang... Jika aku menentang mereka dengan gegabah, maka hidupku adalah taruhannya. Lagi pula aku sudah sering melakukan ini, jadi apa salahnya melakukannya lagi?’
Meskipun Nielson berpikir seperti itu, rasa takut akan hal tersebut masih menghantui dirinya. Ia mengatakan hal tersebut hanyalah untuk menghibur dirinya sendiri. Nielson sama sekali tidak bisa meninggalkan keadilan yang dijunjung olehnya meski dirinya juga sudah sering melakukan ketidakadilan atas perintah mereka.
Nielson yang sudah mendapatkan kembali ketenangannya, ia bergegas dan langsung memasuki mobilnya. Nielson kali ini menginjak pedal gas dengan keras dan mobil melaju cepat meninggalkan toko tersebut.
Meskipun sudah merasa tenang, memikirkan hal yang berada di pengadilan Delta membuat ekspresi Nielson menjadi gelap. Ia meremas dokumen tersebut dengan kuat lalu menghantam tangannya ke dashboard dengan keras. Dashboard mobilnya pecah, darah mengalir di tangannya, namun Nielson tidak mengendurkan kepalan tangannya sedikitpun.
Yang membuat Nielson menjadi emosional bukanlah karena ia merasa bersalah akan para terdakwa yang di bungkam di pengadilan delta. Tetapi yang membuatnya emosional adalah ia tidak merasakan emosi apa pun ketika menghukum mereka yang tidak bersalah.
Meskipun ia menjunjung tinggi keadilan, ia tidak merasakan apa-apa ketika menjalankan perintah mereka dan menghukum para terdakwa. Seperti emosinya telah hilang akan hal tersebut dan menyisakan perasaan muak akan dirinya yang seperti ini. Rasa muak tersebut telah memenuhi dirinya sejak lama namun ia tidak bisa berhenti menjalankan tugas dari mereka, bahkan ia tidak diizinkan untuk merasakan emosi yang bertentangan dengan tugasnya meskipun itu berlawanan dengan nurani dan ideologinya.
....
....