
Suasana menjadi beku, mereka semua masih terkejut dengan apa yang terjadi di depan mereka. Di dalam suasana pesta yang kacau, semua tatapan menuju ke arah Luminas. Mereka tidak percaya bahwa seorang putri yang lembut dan cantik seperti Luminas membunuh banyak orang sekaligus. Ia menghabisi 15 orang ksatria pembunuh seorang diri, itu bahkan terjadi begitu cepat. Seakan aliran waktu terhenti, mereka semua mati dalam sekejap. Seluruh penghuni istana terkejut melihat betapa kuatnya Luminas.
Darah berceceran di lantai, cipratan darah melumuri tembok indah aula mansion Medeia. Begitu pula Luminas, wajahnya dipenuhi oleh darah dari orang yang dia bunuh, serta gaun putihnya yang indah kini berwarna merah darah. Karena ganasnya serangan Luminas, anggota tubuh serta organ dalam mereka menjadi berserakan.
Penampilan Luminas cukup mengerikan, wajahnya yang tanpa ekspresi, ditambah dengan lumuran darah yang menghias wajahnya. Gaun berwarna putih yang berubah menjadi merah darah karena penuh akan noda darah, dan dengan pedang berlumuran darah yang dipegangnya membuat Luminas seperti seorang pembunuh berantai.
‘Ah, apa aku berlebihan?’
Luminas merasa dirinya telah melakukan hal yang berlebihan. Membunuh 15 orang Ksatria Aura yang berpengalaman sebagai pembunuh, bahkan Luminas terlihat membunuh mereka tanpa kesulitan. Tentu saja menunjukkan kekuatannya sekarang hanya akan mengundang masalah dan membuatnya semakin diincar oleh banyak orang.
‘Tidak baik untuk menunjukkan kekuatanku sekarang
*Klontang
Pedang terjatuh dari tangan Luminas, ia jatuh tersungkur. Wajahnya dipenuhi oleh keringat, badannya gemetaran, seakan ia sangat ketakutan. Para penghuni istana terkejut dengan Luminas yang terjatuh, mereka semua berlarian ke arah Luminas. Pangeran Dustin yang berada di dekat Luminas bergegas pergi ke arah Luminas.
“Putri Luminas!”
“Tuan putri!”
Pangeran Dustin menyangga tubuh Luminas. Ia masih sadar, namun tubuhnya gemetar hebat dan keringat mengalir deras di wajahnya.
‘Aku tak menyangka putri Luminas akan sekuat itu. Tapi sepertinya ia sudah memaksakan dirinya melawan mereka semua.. demi aku?!!’
Disaat masih menyangga Luminas, pangeran Dustin tenggelam dalam delusinya
‘Tentu saja membunuh adalah hal yang berat bagi siapa aja, apalagi bagi Putri Luminas yang sebaik malaikat ini~’
“-tin..”
“Dustin..”
“Pangeran Dustin”
Mendengar suara lirih Luminas, Dustin langsung tersadar dari ilusinya. Ia merasa malu bahwa ia masih sempat memikirkan hal tersebut ketika Luminas dalam keadaan tidak baik
“Ah, iya tuan putri. Apa yang bisa saya lakukan untuk anda?”
“Pangeran Dustin, tolong bawa saya ke ruang istirahat. Ah dan juga tolong panggilkan seorang pelayan bernama Dorothy”
“Ahh baiklah putri Luminas!”
Mendengar perkataan Luminas, Dustin langsung bergegas melaksanakan perintahnya. Tanpa sepatah kata pun, Dustin langsung mengangkat tubuh Luminas dan membopongnya ke ruang istirahat sesuai keinginannya.
Melihat Luminas yang dibopong Dustin, Agnes mendecakkan lidahnya. Ia berpaling dan langsung pergi tanpa sepatah kata pun dengan beberapa prajurit yang mengikutinya.
.....
Tiba-tiba saja seorang gadis dengan pakaian pelayan dengan potongan rambut sebahu berwarna merah menggebrak pintu di kamar tempat Luminas beristirahat. Dengan penampilan acak-acakannya ia memasuki ruangan Luminas dengan memegang sebuah kapak besar di tangannya. Ia memegang kapak tersebut dengan satu tangan seperti itu bukanlah apa-apa baginya. Seluruh pengawal berusaha menahannya namun tampaknya ia berhasil menerobos masuk.
“Tuan putri Luminas!”
Gadis berpakaian pelayan tersebut meneriakkan nama Putri Luminas dengan suara yang berat. Semua orang di ruangan pun menjadi waspada. Mereka mengambil sikap untuk bertarung, terutama pangeran Dustin ia tampak tegang namun juga dipenuhi tekad untuk bertarung sekuat tenaga.
‘Putri Luminas telah menyelamatkan aku, tentu saja aku harus membalasnya. Dalam kondisi lemahnya tuan putri tak berdaya, aku harus melindunginya'
Dengan tekad bertarung untuk melindungi Luminas, Dustin mengambil tongkat sihirnya di sebuah tas kecil yang tergantung di celananya.
“minggir”
Gadis berpakaian pelayan tersebut menyuruh mereka menepi dengan suara yang sangat dingin.
“Tidak akan”
Dustin membalas perkataan gadis tersebut tanpa basa-basi. Meskipun Dustin terintimidasi dengan tatapan ganas yang dipancarkan gadis tersebut, Dustin masih berusaha menahannya.
“Aku sudah memperingatkanmu, jangan salahkan aku jika kamu terbunuh”
Gadis berpakaian pelayan itu bersiap untuk mengayunkan kapak besarnya. Disisi lain Dustin dan beberapa ksatria yang menemaninya juga bersiaga dalam kondisi bertarung.
“Berhenti...”
Di tengah mencekamnya suasana, suara lirihan dari Luminas memecah ketegangan antara kedua sisi.
“Putri! Anda sudah tersadar!”
Dustin terkejut dengan Luminas yang sudah terbangun. Ia langsung menyuruh ksatrianya untuk memanggil seorang Priest untuk memeriksa keadaan Luminas.
“Tuan putri!”
Gadis berpakaian pelayan itu berteriak dan bergegas langsung menuju Luminas. Dustin yang masih dalam keadaan waspada mencegat gadis yang berpakaian pelayan sekaligus memegang kapak besar untuk mendekati Luminas.
Dihentikan oleh Dustin, gadis yang tengah memegang kapak besar tersebut memberikan tatapan yang menusuk, seakan memberi tahu jika ia tidak minggir maka kepalanya akan langsung melayang. Diberi tatapan setajam itu, Dustin menjadi gentar. Namun itu saja tidak menyurutkan tekad Dustin untuk melindungi Luminas.
“Hentikan itu pangeran Dustin, tidak perlu memasang sikap waspada. Gadis itu adalah pelayanku sekaligus teman dekatku, Dorothy”
“Eh?”
Mendengar perkataan Luminas, pangeran Dustin menjadi bingung.
“Dan juga kau Dorothy, jangan terlalu tidak sopan terhadap pangeran dari kekaisaran Selene”
“Eh?
Eh?!!!”
Ternyata gadis berpakaian pelayan yang tengah memegang kapak besar adalah Dorothy, maid pribadi Luminas dan juga teman masa kecilnya. Mendengar perkataan Luminas, mereka berdua menjadi bingung. Dihadapkan dengan situasi yang membingungkan kapak Dorothy terjatuh dan suaranya menggema di seluruh ruangan. Mereka saling bertukar pandangan selama beberapa detik, raut wajah mereka menjadi berkerut.
‘Jadi dia adalah pangeran kekaisaran Selene?! Habislah aku, jika ia tersinggung atas tindakanku, maka kepalaku pasti melayang!’
‘Jadi dia adalah teman dekatnya putri Luminas! Bagaimana jika ia tersinggung atas tindakanku? Semuanya pasti menjadi berantakan dan ia tidak akan merestuiku dengan putri Luminas!’
Ekspresi mereka berdua menjadi gelap. Meskipun mereka tidak mengatakan apa pun namun raut wajah mereka mengatakan segalanya.
“Maafkan aku atas ketidaksopananku pangeran!”
“Maaf atas perilaku tercelaku nona Dorothy!”
Mereka berdua menunduk dan mengatakan hal tersebut secara bersamaan.
Luminas yang melihat hal tersebut menganggap hal ini lucu dan mengeluarkan tawa kecil. Mendengar tawa Luminas, wajah mereka berdua memerah dan menengok ke arah Luminas secara bersamaan lagi.
“Apanya yang lucu!”
Mereka berdua juga membentak Luminas secara bersamaan
Melihat hal tersebut, tawa Luminas menjadi semakin kencang. Mereka berdua terkejut melihat Luminas tertawa lepas seperti ini. Secara tak sadar, wajah Dustin semakin memerah
‘Ugh, putri Luminas benar benar seperti malaikat. Tawa yang begitu menyilaukan!’
Kali ini, Dustin tak berlama-lama kalut dalam khayalannya, ia langsung tersadar seketika karena ia harus menjaga image di depan mereka berdua.
“Ehem, maafkan perilaku diriku sebelumnya Nona Dorothy. Dengan penampilan seperti itu, aku tak menyangka bahwa nona adalah pelayan sekaligus temannya putri Luminas”
Dustin sedikit menunduk di hadapan Dorothy. Meskipun ia minta maaf karena ada Luminas, permintaannya cukup tulus kepada Dorothy. Sepertinya ia benar-benar merasa bersalah karena telah salah paham terhadap Dorothy.
Tentu saja siapa yang tidak salah paham, dengan penampilan Dorothy yang acak-acakan, serta ekspresi tegangnya yang terlihat seperti ingin membunuh seseorang, ditambah dengan membawa kapak besar menuju ke ruangan seorang putri, semua orang pasti akan salah paham dan mengira Dorothy adalah seorang pembunuh sinting yang mencoba membunuh seorang putri di siang bolong dengan keamanan ketat.
“Ah pangeran Dustin, tidak perlu meminta maaf kepada saya! Saya hanyalah seorang pelayan rendahan. Pangeran dari kekaisaran tidak pantas untuk menunduk dan meminta maaf kepada saya. Justru sayalah yang harus meminta maaf karena telah bertindak tidak sopan terhadap anda, pangeran!”
Merespons permintaan maaf Dustin, Dorothy agak gugup dan bingung bagaimana untuk menanggapinya. Karena ia tidak pernah bermimpi untuk menyaksikan pemandangan seperti ini. Seorang pangeran dari kekaisaran yang terhormat menunduk meminta maaf kepada seorang pelayan? Tentu saja itu terjadi karena tuannya yang ia layani, Luminas Von Medeia.
Dustin mencuri pandang ke arah Luminas. Kemudian ia menatap balik Dorothy sambil tersenyum.
“Ah tidak apa-apa nona Dorothy, perilaku tidak sopan Anda barusan dikarenakan Anda khawatir terhadap putri Luminas. Tentu saja saya mengerti hal itu”
“Tapi pangeran, meskipun anda memaafkan saya, tindakan saya bukanlah sesuatu yang bisa dimaafkan begitu saja!”
Melihat Dorothy yang bersikeras ingin meminta maaf, Dustin menghela nafas dan membalas Dorothy dengan senyum ramah.
“Baiklah. Jika Anda bersikeras ingin meminta maaf, bagaimana jika kita menganggap semua ini impas? Anda bertindak tidak sopan terhadap saya, dan begitu pula sebaliknya. Bukankah berarti itu semua sudah terbalas dan terselesaikan? Jadi mari kita akhiri di sini saja”
“Ah jika anda memang berkata demikian, maka saya akan menerima keputusan Anda”
Mereka bercakap-cakap lumayan lama. Luminas terheran, mereka terlihat cukup akrab meskipun ini pertama kali mereka bertemu. Luminas penasaran dengan apa yang mereka bahas, namun sepertinya ia bisa menebak bahwa mereka tengah membahas tentang dirinya. Menilik semua tingkah laku mereka, bukanlah hal yang aneh ketika dua orang penggemar Luminas berbincang mengenai idola mereka. Setelah percakapan yang lumayan panjang tersebut, Luminas menyela percakapan mereka
“Ah baiklah pangeran Dustin, sepertinya Anda sudah meluangkan waktu Anda yang berharga begitu banyak kepada saya. Bagaimana jika meninggalkan saya dan menyerahkan semuanya kepada Dorothy? Lagi pula tidak pantas bagi seorang pangeran kekaisaran harus mengurus hal sepele seperti ini”
Meskipun pilihan katanya seakan mengusir Dustin, Luminas mengatakannya dengan nada yang lembut sambil menyatukan kedua tangannya. Melihat Luminas yang seperti memohon, Dustin tidak ada pilihan lain selain memenuhi permintaan Luminas.
“Oh! Baik-baik, sepertinya saya mengganggu waktu istirahat putri. Tapi setidaknya izinkan saya untuk memastikan keadaan putri sebelum saya pergi, karena saya juga telah memanggil seorang Priest untuk kemari. Saya tidak bisa membiarkan seseorang yang menyelamatkan nyawa saya mengalami keadaan berbahaya”
Meskipun Dustin setuju dengan permintaan Luminas, Dustin meminta Luminas agar ia setidaknya telah memastikan keadaan Luminas sudah aman. Namun Luminas menggeleng dan menolaknya secara halus.
“Tidak apa-apa pangeran. Keadaan saya sudah membaik, saya dalam keadaan baik baik saja. Dan juga, menyelamatkan Anda adalah kewajiban saya sebagai bagian dari kerajaan Medeia. Kerajaan Medeia harus mampu menjamu dan melindungi tamunya, lagi pula jika Anda berada dalam masalah maka akan merumitkan hubungan antara kerajaan dan kekaisaran. Jadi Anda tidak perlu merasa berhutang akan kejadian ini”
“Tapi...”
“Ah jika Anda tetap bersikeras untuk berada di sini, Anda akan membuat saya merasa bersalah karena sebagai tuan rumah tidak mampu untuk memperlakukan tamu dengan baik dan sebaliknya malah membuang waktu mereka”
Melihat Luminas yang begitu bersikeras, Dustin tidak ada pilihan lain selain mengalah. Dustin memberi aba-aba kepada para kesatrianya untuk meninggalkan ruangan. Namun sebelum Dustin meninggalkan ruangan, Luminas menyelanya.
“Ah, ada yang bisa saya bantu lagi putri?”
Dustin terheran mengapa Luminas menghentikannya pergi
‘Oh! Setelah menyuruhku untuk pergi, apakah ia akhirnya menyadari bahwa ia ingin menarik keputusannya kembali dan memintaku untuk menemaninya?’
Dustin tenggelam dalam khayalannya lagi. Namun sepenggal kalimat dari Luminas mematahkan semua khayalannya.
“Tolong katakan pada Priest bahwa aku baik-baik saja, sehingga ia tidak perlu kemari”
Luminas mengatakannya dengan mata berbinar. Melihat Luminas yang seperti itu, Dustin langsung terpana dan segera melaksanakan permintaan Luminas
“Ah, baik-baik. Apakah ada yang anda perlukan lagi putri?”
“Segitu saja, terima kasih pangeran. Maaf sudah merepotkan Anda”
Luminas terlihat seperti tidak enak terhadap pangeran Dustin, ia mengatakannya sambil menunduk.
“Tidak apa-apa, anda telah menyelamatkan nyawa saya. Begini saja tidak sepadan dengan jasa yang Anda lakukan. Jika anda perlu bantuan lagi sekarang atau di masa depan, katakan saja kepada saya. Saya akan membantu Anda semaksimal mungkin.”
“Terima kasih atas kebaikan anda, pangeran”
Luminas menundukkan kepalanya sekali lagi
Lalu Dustin pergi meninggalkan ruangan Luminas sambil melambaikan tangannya. Beberapa saat setelah Dustin pergi, Luminas menghela nafasnya.
“Haah”
“Apakah anda benar-benar tidak apa-apa tuan putri?”
Dorothy bertanya khawatir
“Tentu saja tidak apa-apa, kamu pikir Ksatria Aura rendahan seperti mereka dapat menyulitkanku?”
Luminas mengatakannya sambil menunjukkan seringainya yang mengejek.
“Ah! Ternyata seperti itu. Aku berpikir mereka cukup kuat sehingga bisa melukai Anda. Ahahaha, tanpa pikir panjang saya jadinya bergegas dan membawa sejata saya kesini”
Dorothy tertawa sambil mengusap belakang kepalanya
“Humph, tentu saja tidak. Memangnya kamu sudah mengenalku berapa lama? Aku ini sangat kuat tahu, bukankah aku ini tuan yang sangat kamu kagumi?”
Luminas mendengus sombong.
Tentu saja Dorothy memahami kesombongan Luminas, di usia muda ia sudah menjadi seorang Ksatria Sihir tingkat tinggi. Ketika orang lain baru mencapai Ksatria Aura tingkat tinggi di usia 21, bahkan itu sudah termasuk yang tercepat. Sementara Luminas mampu menjadi seorang Ksatria Sihir tingkat tinggi di usia 15 tahun, yang mana meningkatkan kekuatan Ksatria Sihir jauh lebih sulit ketimbang Ksatria Aura biasa.
“Iya-iya. Siapa juga yang bisa menyaingi kehebatan tuan putri yang aku layani”
Dorothy mengatakannya sambil mengangkat kedua tangannya.
“Hehe”
Mendengar pujian dari Dorothy, Luminas tersenyum cerah. Ia tampak seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah dari orang tuanya.
“Ngomong-ngomong siapa yang berani menyerang pangeran di kediaman Medeia? Idiot mana yang berani untuk memprovokasi dua kekuatan terkuat di benua? Sekuat apa mereka memangnya?”
“Mereka semua cukup kuat dan aku akan kesulitan jika mereka sungguh-sungguh menghadapiku sejak awal. Lagi pula kekuatanku adalah variabel yang tak disangka oleh musuh sehingga musuh tidak siap menghadapiku sejak awal”
Luminas mengangkat kedua bahunya.
“Berbicara persoalan siapa yang mengirim mereka, aku memiliki asumsi bahwa mereka adalah suruhan orang dalam kerajaan. Seperti katamu, orang mana yang berani untuk memprovokasi kita? Tentu saja selain orang dalam yang dapat memasukkan mereka tanpa masalah dan ingin merusak hubungan kedua kerajaan, setelah itu mereka akan mengambinghitamkan seseorang agar kerajaan kehilangan orang yang berguna dan mereka dapat meraih tujuan mereka”
Membicarakan soal ada pengkhianat di kerajaan, ekspresi wajah Luminas menjadi dingin. Dorothy memperhatikan perubahan tiba-tiba dari ekspresi Luminas, yang tadinya cerah menjadi gelap.
Dorothy tahu bahwa sifat sebenarnya Luminas adalah seseorang yang lembut dan berhati hangat, namun karena ia berada di sisi Luminas sejak lama ia menyadari bahwa kepribadian Luminas yang sebenarnya juga adalah orang yang berhati dingin dan tanpa emosi apapun bahkan ketika ia melakukan sebuah perbuatan yang mengerikan. Seolah-olah Luminas dapat mengontrol emosinya dengan baik dan menggunakannya sesuai keadaan.
Bagi orang lain mungkin itu adalah sesuatu yang mengerikan, mampu mengubah emosi sesuai keinginan berarti dapat memanipulasi segala keadaan yang dapat menguntungkannya. Namun bagi Dorothy, yang mengenal Luminas sejak lama, ia tahu bahwa tuannya terobsesi dengan keadilan sejati. Dorothy menanggap bahwa orang yang berjalan di jalan keadilan adalah ia yang mampu mengendalikan emosinya sesuai situasi, ada dikala ia menggunakan akalnya untuk menilai situasi, ada kalanya ia menggunakan empatinya untuk memahami situasi. Dorothy sangat memahami hal itu.
“Ada pengkhianat dalam kerajaan? Apakah Anda memiliki dugaan siapa yang berani mengkhianati kerajaan Medeia?”
“Aku memiliki asumsi bahwa pelakunya adalah Agnes, kakakku. Karena ia terlihat mencurigakan ketika sedang pesta berlangsung, namun...”
‘Aku pikir ini tidak sesederhana itu’
Luminas tenggelam dalam pikirannya. Tentu saja orang yang mencurigakan adalah tersangka utama, tetapi Luminas merasa bahwa Agnes tidak mungkin memiliki kekuatan untuk memanipulasi keadaan sejauh itu.
“Kurasa Agnes hanya dikendalikan” Gumam Luminas
Melihat Luminas yang bergumam sendiri, Dorothy mengira bahwa Luminas sedang tenggelam dalam pikirannya lagi. Ia merasa bahwa berpikir terlalu rumit sekarang hanya akan mempersulit diri sendiri, ia memecahkan keheningan suasana dengan berseru
“Yah! Tidak ada gunanya memikirkan hal ini sekarang. Tapi mengapa Anda berperilaku pura-pura lemah? Bukankah dengan menunjukkan kekuatan akan memberikan anda kekuasaan, seperti para bangsawan yang akan mendukung Anda karena memiliki potensi?”
Menanggapi Dorothy, Luminas bangkit dari tempat tidurnya dan menuju ke sebuah lukisan di dinding dan menyilangkan tangannya
“Tentu saja bahwa menunjukkan kekuatan akan mendapatkan banyak manfaat, namun disisi lain jika menunjukkannya sekarang hanya akan menimbulkan banyak kerugian dibanding manfaatnya. Jika aku menunjukkan kekuatanku sekarang, maka para bangsawan hanya akan terpecah-pecah. Faksi kakakku, Leonard sang putra mahkota akan melemah. Yang hubungan kami tadinya baik-baik saja, ia akan mulai mengincarku, dan itu hanya akan menguntungkan sang pengkhianat karena kerajaan akan terpecah sesuai dengan keinginannya”
Menanggapi pernyataan Luminas, Dorothy berseru dengan penuh semangat
“Ah! Jadi seperti itu. Sudah kuduga Anda memang luar biasa, mampu berpikir dengan luas dan jauh ke depan!”
Luminas mengangguk dengan respons Dorothy. Luminas menuangkan segelas air ke gelas dari teko di atas meja samping tempat tidurnya. Ketika ia sedang meminumnya Dorothy secara tiba-tiba melontarkan sebuah pertanyaan
“Ah ngomong-ngomong apakah Anda benar-benar akan menjalani hubungan dengan pangeran Dustin dari kekaisaran?!”
“Puffff”
Luminas menyemburkan minuman dari mulutnya dan terbatuk-batuk ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Dorothy. Melihat mata Dorothy berbinar ketika ia menanyakan hal tersebut, Luminas menjadi bingung bagaimana harus menganggapinya
“Ah? Umm.. itu... Yah sepertinya begitu. Kurasa ayahanda akan mengumumkan hal tersebut esok hari..”
Luminas mengatakannya dengan murung. Namun respon Dorothy malah sebaliknya, ia malah semakin bersemangat. Semuanya tergambarkan dengan jelas di matanya yang semakin berbinar.
“Apa? Benarkah??? Kalau begitu apa pendapat tuan putri mengenai pangeran Dustin? Bukankah dia laki-laki yang sempurna??”
“Yah, sepertinya begitu. Menurutku dia adalah lelaki yang pantas, selain menjadi pangeran dari kekaisaran ia juga merupakan murid langsung dari master dari menara sihir. Kurasa menjalin hubungan dengannya tidaklah buruk mengingat akan mempererat hubungan antara kerajaan dan kekaisaran, begitu pula kerajaan dengan menara sihir”
Mendengar pendapat Luminas, Dorothy menjadi cemberut
“Ah bukan seperti itu maksudnya! Maksudku adalah pendapat dia sebagai seorang laki-laki di mata anda!”
‘Tak kusangka tuan putriku yang aneh akan menjalin hubungan dengan seorang laki-laki’
“Jika itu pendapat pribadiku mengenai dirinya, maka aku tak dapat memberikan banyak tanggapan. Menurutku jika itu memungkinkan untuk memberikan keuntungan mengenai kerajaan maka aku tak keberatan. Namun jika aku harus berkomentar mengenai dirinya... Kurasa dia adalah lelaki memiliki kepribadian yang baik”
Luminas mengatakan pendapatnya dengan tegas, kecuali untuk yang terakhir, ia terlihat sedikit malu-malu memberikan pendapat pribadinya tentang sang pangeran.
‘Aku tak menyangka Dorothy menyukai hal seperti ini, yah aku harus memberikan pendapatku serasional mungkin dan memberikan tambahan akting seperti itu agar dia senang’
“Kyaaa! Kalau begitu selamat tuan putri, sepertinya Anda akan menemukan cinta sejati Anda”
Dorothy berteriak dan melompat kegirangan mendengar pendapat Luminas, karena ia tak menyangka bahwa tuan putrinya yang aneh telah jatuh cinta oleh seorang pria.
“Ehem, bukan seperti itu. Jika aku menjalani hubungannya dengannya maka itu hanya untuk kepentingan kerajaan, tidak lebih”
“Fufu, Anda mungkin berkata seperti itu. Namun saya dapat sepenuhnya memahami anda~”
‘Tampaknya aku harus membakar semua buku romansa di kamarnya’
“Tapi, terdapat satu masalah”
Karena Luminas mengatakannya dengan ekspresi tegang, maka Dorothy khawatir bahwa itu adalah masalah besar.
“Tidak mungkin, masalah apa itu?”
Dorothy memasang wajah khawatir ketika mendengar pernyataan Luminas
“Ah, tidak. Tidak apa-apa. Lupakan saja”
Luminas menutup mulutnya dan berbalik arah memunggungi Dorothy.
“Ehhh???? Tolong katakan padaku tuan putri”
Dorothy memohon dengan memasang ekspresi memelas. Ia mengguncangkan tubuh Luminas sambil berusaha membujuknya.
“Tidak Dorothy, lupakan saja ucapanku ini”
‘Masalah besarnya adalah...’
“Tidak mungkin apakah masalahnya memang sebesar itu?”
Luminas mengangguk
‘Tuan putri... apakah ia ingin mengemban semua masalah sendirian mengingat rumitnya masalah yang ia pikirkan? Betapa luar biasa, ia rela mengorbankan diri demi kerajaan. Bahkan jika tuan putri tidak ingin memberi tahuku, maka aku akan tetap membantunya dengan seluruh kemampuanku!’
Mata Dorothy berbinar melihat Luminas. Tetapi Luminas menghindari tatapan Dorothy.
‘Sepertinya ia salah paham. Memang, terdapat masalah besar. Yakni...
Aku ini laki-laki '