
.
.
Wajah kecil Luminas yang seputih salju basah oleh keringat karena dibanjiri rasa bersalah.
‘M-maafkan aku ibu, sebenarnya aku tidak mengerti apapun,'
“B-bagaimana tes selanjutnya?”
Luminas mengajukan pertanyaan tersebut untuk merubah suasana.
“Hmm? Tes selanjutnya? Bukankah sudah tidak perlu? Anda sudah menunjukkan sekuat apa sihir bawaan Anda, jadi saya merasa itu sudah tidak perlu,”
Yarez menjawab pertanyaan Luminas dengan sopan.
“Yarez benar, Lumi. Penampilan yang kamu tunjukkan pada saat kamu mengetes atributmu, itu sudah lebih dari cukup,”
Selena menyetujui pernyataan Yarez dan menganggukkan kepalanya.
“Ummm, jadi begitu,”
Luminas mengerti dan menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu, Lumi. Apakah kamu setuju untuk menjadi penyihir? Atau apakah kamu memiliki pikiran lain mengenai masa depanmu?”
Ekspresi wajah Selena berubah dalam sekejap ketika ia menanyakan hal tersebut. Ia mungkin memang sering menampilkan penampilan yang konyol, tetapi ia tidak pernah bermain-main untuk masa depan putrinya.
Ia menanyakan hal tersebut dalam rangka meminta pendapat putrinya. Tidak seperti orang tua lain yang langsung memutuskan masa depan putrinya begitu saja, Selena menghormati pendapat dan keinginan putrinya, bahkan jika itu menyimpang jauh dari keinginannya agar Luminas menjadi seorang ahli sihir yang sesuai dengan bakatnya.
“....”
Luminas yang mendengar pertanyaan dari ibunya menjadi diam. Semenjak datang ke dunia ini, ia tidak pernah bisa memutuskan untuk menjadi apa ke depannya nanti.
‘Hiduplah dengan bebas, dan temukan—'
Ingatan ketika ia berada di alam kematian, terlintas di benaknya. Namun ia hanya mengingatnya dengan samar. Ketika ia mendengar seorang wanita yang berbicara mengenai hal yang terjadi padanya, suara wanita itu menyuruhnya untuk hidup dengan bebas.
Luminas berusaha mengingat apa yang dikatakan oleh wanita tersebut, namun ia tidak dapat mengingatnya. Seperti bahwa ia baru saja melupakan hal yang penting yang membuat dirinya seperti ini.
‘Apa... Apa yang sebenarnya aku inginkan?’
Luminas merasa bahwa setelah kematiannya yang mengenaskan, kali ini ia harus hidup dengan tenang, dan menjalani kehidupan dengan damai sampai ia tutup usia. Tetapi ketika memikirkan hal tersebut, hatinya menjadi sakit, ia baru saja melupakan hal yang penting karena kejadian tragis yang menimpanya.
Ia juga tahu bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini, jadi ia tidak pernah berhenti berpikir bahwa ia dipanggil ke dunia ini untuk melakukan sesuatu sehingga membuat perasaannya menjadi tidak tenang.
‘A-apa yang sebenarnya harus aku.... Lakukan?’
Ketika memikirkan hal tersebut, ekspresi Luminas menjadi kusut. Wajah kecilnya menampilkan ekspresi kekhawatiran yang mendalam, ekspresi tersebut seharusnya diperlihatkan oleh seorang gadis berusia 3 tahun yang baru saja diberitahu hal yang membahagiakan.
“I-ibu... Aku....”
Melihat Luminas yang tubuhnya bergetar dan memiliki ekspresi kusut karena pertanyaan darinya, Selena membuka mulutnya.
“Tidak, tidak apa-apa Lumi. Tenanglah, ibumu ada di sini. Apapun yang kamu lakukan, ibu akan selalu mendukungmu,”
Selena memeluk tubuh kecil Luminas yang bergetar.
“Ibu...”
Merasakan kehangatan pelukan ibunya, ia tidak bisa menahan air matanya. Wajah mungilnya dibasahi oleh air matanya yang mengalir, wajahnya yang seputih salju berubah menjadi sedikit memerah karena isak tangisnya.
“Ibu... Huaa ibuuu!”
Air mata mengalir lebih deras ke wajahnya, Luminas memeluk Selena lebih erat lagi.
Seumur hidupnya, bahkan di kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah menangis. Bahkan ketika maut yang tragis menghampirinya, ia bahkan tidak menangis.
Tapi ketika ia merasakan kehangatan pelukan seorang ibu untuk pertama kalinya, ia menangis dengan sekeras seperti anak kecil. Luminas merasakan hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kehangatan seorang ibu dan dukungan orang tua, membuat Luminas menjadi semakin mensyukuri kehidupannya saat ini.
Luminas melepaskan pelukan ibunya, ia menghentikan tangisnya dan menghapus air matanya, lalu memasang ekspresi tegas.
‘Aku..... Di kehidupan saat ini... Aku...’
Ekspresi serius terlihat dari wajah Luminas, matanya yang tajam menatap lurus ke depan seakan ia telah membulatkan tekad
‘Walaupun aku harus menghadapi hal yang berbahaya... Aku harus menghadapinya jika memang itu satu-satunya cara untuk hidup di dunia ini... Jika memang takdir kejam menghampiriku... Aku akan menghadapinya dengan seluruh kekuatanku... Aku akan melindungi kehidupanku saat ini ini, dan...’
Ketika ia memikirkan hal ini lebih lanjut, Luminas kembali tersentak. Namun kali ini, ia berhasil mempertahankan ketenangannya berkat dukungan dari ibunya.
Melihat Luminas yang tampaknya sudah membaik, Selena menghela nafas lega. Di satu sisi, ia lega karena Luminas telah tenang kembali seperti semula, namun di sisi lain ia merasa bersyukur bahwa akhirnya Luminas memperlihatkan sesuatu yang sesuai umurnya.
Selena selalu memperhatikan Luminas semenjak dari ia lahir. Ia merasa bahwa Luminas adalah anak yang cerdas, namun ia tidak mengharapkan Luminas tumbuh menjadi terlalu cerdas sehingga dirinya menjadi dewasa terlalu cepat.
Selena ingin Luminas menikmati masa kanak-kanaknya seperti seorang anak kecil pada umumnya. Ia tidak ingin Luminas merasakan apa yang dialaminya ketika ia masih menjadi seorang anak-anak.
Ketika Selena masih kanak-kanak, dirinya sudah diwajibkan untuk belajar bertempur. Dikarenakan situasi pada saat itu kerajaan sangat tidak stabil, Medeia yang kekuatan tempurnya sangat kekurangan, menyebabkan para bangsawan yang memiliki kekuatan lebih besar mau tidak mau melatih anak-anak mereka bertempur sejak dini.
Namun, semenjak kerajaan memasuki generasi Raja Elios, Kerajaan Medeia mulai stabil. Medeia yang tadinya sangat kekurangan tenaga tempur, kini Medeia dipenuhi dengan orang berbakat. Raja Elios memiliki mata penilaian yang sangat bagus, sehingga ia tidak bisa melewatkan bakat yang berada di dalam kerajaannya, termasuk rakyat biasa sekalipun.
Rakyat biasa yang memiliki kemampuan diberikan perlakuan setara dengan para bangsawan. Perlakuan tersebutlah yang membuat Raja Elios dipuja oleh rakyatnya. Raja yang mencintai Rakyatnya, rakyat yang mencintai rajanya, menciptakan sebuah hubungan yang harmonis di kerajaan sehingga kerajaan Medeia kini menjadi makmur dan stabil. Rakyatnya memandang Raja Elios adalah sebuah anugerah dari surga kepada Medeia, karena telah membawa kerajaan ini menuju kemakmuran.
‘Aku tidak akan membiarkan.... Anakku mengalami hal yang sama denganku...’
.
.
Masih di hari yang sama, pada malam hari
Di malam yang dingin dan sunyi di Kediaman Ratu Argaient, angin berembus dengan cukup kencang. Suara gemeresik dari pohon yang tertiup angin membuat suasana menjadi tenang dan damai.
Di taman belakang Kediaman Argaient, terlihat seorang gadis kecil berambut perak tengah memandangi air di kolam yang dangkal.
Rambut perak gadis itu yang berkibar karena diterpa angin, sangat indah di bawah sinar rembulan. Rambut peraknya yang indah memantulkan cahaya bulan yang menyinarinya, sehingga menciptakan pemandangan yang memesona.
Namun ekspresi yang dimiliki oleh gadis itu kusut. Mata birunya yang menatap lurus ke arah air kolam terasa kosong. Seperti seakan jiwanya melayang pergi dan hanya menyisakan raganya saja.
Gadis kecil berambut perak tersebut adalah Luminas, ia berdiri di depan kolam air sambil memandangi bayangan dirinya dan juga pantulan cahaya bulan.
Luminas sedari tadi menatap air kolam dengan ekspresi kosong, ia tampak seperti tengah tenggelam dalam pikirannya.
‘Sebenarnya... Apa yang terjadi padaku?’
‘Apa yang akan.... Aku lakukan?’
‘Untuk apa aku berada di dunia ini?’
Serangkaian pertanyaan terus berputar di benak Luminas. Tampaknya pertanyaan ibunya tadi membuatnya menjadi terus kepikiran akan hal tersebut.
Luminas tadi mungkin telah membulatkan tekad untuk menghadapi masalah yang akan ia hadapi di kehidupan ini, namun ketika memikirkannya sekali lagi, ia merasa ada yang hilang.
‘Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Aku merasa ada yang hilang, tapi apa?’
Luminas benar-benar tenggelam dalam pikirannya. Ia terus mencari dalam ingatannya tentang hal yang hilang dalam dirinya, namun ia tidak menjumpai satu pun petunjuk tentang hal itu.
Itu benar-benar membuatnya frustasi, ia sampai berkali-kali menghembuskan nafas beratnya. Namun suara embusan angin yang kencang, juga suara pohon yang gemeresik tertiup angin, menyamarkan suara nafas Luminas yang berat. Andaikan cuaca malam ini tidak berangin, maka suara nafas Luminas akan membuat para pelayan kemari karena khawatir.
Tiba-tiba saja suara langkah kaki muncul. Suara langkah kaki itu kecil, namun tetap terdengar karena itu cukup dekat dan suara langkah kaki itu tampaknya sedang dipercepat, orang itu sepertinya tengah berlari mendekat.
Luminas yang tenggelam terlalu dalam pikirannya terlalu jauh, menyebabkan ia tidak memperhatikan kondisi lingkungan sekitarnya. Bahkan jika itu suara langkah kaki yang dekat dan jelas, Luminas tampaknya tidak menyadari hal tersebut.
Ketika derap langkah kaki itu semakin dekat, sebuah tangan mendarat di bahu Luminas. Ia menepuknya dengan lembut dan penuh kehati-hatian.
“Tuan putri?”
Orang yang menepuk bahu Luminas memanggilnya, namun Luminas tidak meresponsnya.
“Tuan putri?”
Ketika Luminas mengambil jarak, ia memperhatikan wajah seseorang yang tengah berdiri di belakangnya. Seorang gadis berambut merah dengan pakaian pelayan terlihat, itu adalah Dorothy.
“M-maafkan aku tuan putri! A-apa aku mengagetkanmu tuan putri?”
Dorothy yang terkejut dengan reaksi Luminas langsung menunduk dan meminta maaf.
“Tidak Dorothy, itu salahku yang tidak menyadari kehadiran dirimu,”
Luminas menggeleng dan tersenyum ramah kepada Dorothy.
“Tuan putri, sejak tadi aku memperhatikan dari jauh bahwa tuan putri sepertinya sedang memikirkan sesuatu?”
Ekspresi cemas Dorothy tampak jelas terlukiskan di wajahnya.
“.... Tidak apa, Dorothy. Aku baik-baik saja,”
Luminas menepuk bahu Dorothy yang lebih tinggi dari dirinya, dan tersenyum hangat seolah-olah ia tidak memiliki masalah.
Luminas mengerti akan perasaan cemas Dorothy. Sejujurnya ia bersyukur bahwa Dorothy dengan tulus mencemaskan dirinya, namun ia masih tidak bisa membagikan hal yang ia pikirkan kepada orang lain, bahkan ibunya sekalipun.
Dorothy yang paham bahwa Luminas sedang menyembunyikan sesuatu, merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu. Namun ia tidak bisa bertingkah tidak sopan dengan memaksanya mengatakan hal tersebut, karena itu dia berpikir keras mengenai hal tersebut.
*Cling!
Setelah beberapa saat, sesuatu terlintas di benak Dorothy. Ia dengan cepat bergegas pergi meninggalkan Luminas.
Melihat Dorothy yang mendadak pergi, Luminas menjadi bingung. Ia merasa bahwa apakah ia telah melakukan kesalahan yang membuat Dorothy tidak nyaman?
Ia lupa bahwa terkadang anak-anak sensitif terhadap perasaan orang lain, sehingga ia merasa bahwa Dorothy mungkin bisa dibodohi dengan menunjukkan senyum palsu yang biasa ia tunjukkan kepada orang lain.
Ketika Luminas yang sedang bingung memikirkan tindakan tiba-tiba yang dilakukan Dorothy, ia melihat dari kejauhan bahwa Dorothy sedang berlari menuju kemari dengan terengah-engah.
“Tuan putri!!!!”
Dorothy yang berteriak sambil berlari, telah berhenti tepat di depan Luminas.
“Tuan...*hah... Putri... *hah,”
Nafas Dorothy tersengal-sengal, mungkin karena ia berlari dengan cepat dan buru-buru kemari tanpa henti? Luminas penasaran apa yang tengah dilakukan oleh Dorothy?
“Dorothy? Kamu tidak apa-apa? Apa yang sedang kamu lakukan?”
Dorothy yang tubuhnya tertunduk karena kehabisan nafas, Luminas memegang kedua lengan Dorothy untuk membantunya berdiri tegak.
“Aku... *Hah.. tidak apa apa... *Hah .. tuan putri..”
“....”
Melihat wajah Dorothy yang dipenuhi keringat karena kelelahan, Luminas mau tidak mau semakin penasaran dengan apa yang ia lakukan sehingga ia secara tiba-tiba pergi dan kembali dengan secepat mungkin.
“Tuan putri, maafkan tindakan ketidaksopananku. Tuan putri tampaknya memiliki banyak hal untuk dipikirkan, dan aku juga tidak layak untuk mendengarkan permasalahan yang dimiliki tuan putri...”
Luminas yang mendengar hal tersebut, langsung menyangkal perkataan Dorothy.
“Dorothy, bukan begitu. Aku hanya—“
Sebelum Luminas menyelesaikan kalimatnya, Dorothy memotongnya. Ia kemudian menunjukkan lengan kirinya yang tampaknya sedari tadi ia sembunyikan di belakang punggungnya. Dorothy menggenggam setangkai bunga dan memberikannya kepada Luminas.
“Dorothy... Ini...”
Luminas memperhatikan dengan apa yang diberikan Dorothy kepadanya, itu adalah setangkai bunga dengan penampilan yang ia belum pernah lihat sebelumnya.
Bunga itu memiliki 12 kelopak, dengan setiap kelopak memiliki warna putih dan hitam yang tergradasi. Bagian tengahnya juga tampak terbagi menjadi dua warna, yakni hitam dan putih.
“Dorothy, bunga apa ini?”
Luminas yang bingung karena tidak pernah melihat bunga itu sebelumnya mengajukan pertanyaan.
“Ini adalah bunga Themis!”
“Bunga Themis?”
Luminas yang mendengarkan hal tersebut langsung terpikirkan dengan seorang Dewi yang menjadi simbol keadilan, Themis.
“Ya! Aku mendengarnya dari ayah, bahwa bunga ini memiliki arti keadilan!”
“Ah... Aku mengerti,”
Luminas berpikir, pada saat ini dunia yang ia tinggali adalah dunia di mana dunia dengan dasar dari mitologi Yunani. Pada awalnya ia tidak percaya, namun setelah melihat garis keturunannya yang nyata, dan juga bukti berupa sihir yang tidak masuk akal, mau tidak mau ia jadi mempercayai hal ini.
“Aku memberikan bunga ini pada tuan putri karena aku merasa bahwa jika bunga ini memiliki simbol, bahwa simbol itu adalah tuan putri!”
“Simbolnya adalah aku?”
“Ya! Walaupun aku tidak mengerti sepenuhnya, tapi aku yakin bahwa tuan putri adalah orang yang akan menegakkan keadilan!”
“Bagaimana kamu tahu itu jika artinya saja kamu tidak mengerti,”
“Eh?? Ummm .. hmmm... Entahlah, pokonya tuan putri sangat cocok dengan bunga ini!”
Dorothy menggaruk belakang kepalanya dengan ekspresi kebingungan.
“Pft.. hahahaha,”
Luminas yang melihat hal ini, menjadi tertawa.
“Tuan putri!! Apa ada yang lucu dari perkataanku?”
Dorothy menggembungkan pipinya.
“Tidak, tapi semua perkataanmu lucu,”
Luminas mengejek Dorothy.
“Tuan putri!!!!”
Dorothy hendak memukul Luminas, namun Luminas berhasil menghindarinya dan berlari menjauh.
“Hahaha, kamu tidak dapat memukulku”
Luminas meledek Dorothy dengan menjulurkan lidahnya.
“Humphh, awas saja tuan putri!!”
Dorothy berlari mengejar Luminas yang menjauh.
Dari kejauhan, Selena memperhatikan mereka berdua. Baginya, ini merupakan pemandangan yang menenangkan hati. Melihat dua orang gadis tengah bermain dengan saling mengejar di taman, perasaannya menjadi lega.
Dia lega karena akhirnya Luminas bisa tampak seperti anak gadis pada umumnya. Dia juga senang dengan Luminas yang mendapatkan Dorothy sebagai temannya. Ia merasa bersyukur bahwa Luminas dapat menemukan seorang teman baik yang dapat membawanya ke arah yang positif.
Luminas yang melihat tingkah polos Dorothy juga merasa tenang. Ia selalu berpikir berlebihan dan melupakan fakta bahwa dirinya masih kanak-kanak dan membutuhkan waktu untuk berkembang.
Luminas tersenyum dengan melihat tingkah polos Dorothy yang sedang mengejarnya. Ia senang bahwa ia juga dapat merasakan perasaan seperti ini. Selain itu, Luminas juga telah menemukan hal yang hilang dari dirinya.
‘Aku telah menemukan hal yang hilang itu berkat Dorothy...’
Luminas melirik bunga pemberian Dorothy yang ia genggam.
‘Bunga Themis.... Bunga keadilan...’
Luminas lupa, bahwa diambang Kematian di kehidupan lamanya ia menjadi seperti itu karena memperjuangkan keadilannya.
Begitu juga di kehidupan kali ini, Luminas telah membulatkan tekadnya bahwa kali ini ia harus menemukan makna keadilan di dunia ini.
.
.