
[Kota London, bangunan apartemen di suatu tempat]
Di malam yang gelap gulita seperti biasanya, dengan suara hujan yang masih turun dengan deras membasahi seluruh kota. Di suatu gedung apartemen tinggi dengan banyak lantai yang terlihat cukup mahal untuk ditinggali, dan terdapat sepasang pasang jendela pada setiap unit apartemen. Dari luar apartemen, jendela-jendela tersebut sudah ditutup gorden dan dalam ruangannya pun sudah gelap gulita yang menunjukkan bahwa para penghuni apartemen tersebut sudah terlelap.
Namun dari jendela-jendela yang terlihat gelap dari luar karena sudah mematikan lampunya, terdapat sepasang jendela yang ditutupi gorden pada apartemen tersebut yang dari luar ruangannya tampak terang.
Di dalam ruangan tersebut terlihat seorang pria berambut hitam dengan kacamata tengah duduk di depan meja kerjanya. Pria tersebut adalah James Nielson atau yang biasa dipanggil dengan Tuan Nielson.
Dengan banyak dokumen yang tertumpuk di meja kerjanya, juga terdapat teh hangat di meja samping meja kerja Nielson, ia dengan teliti memeriksa dan memilah dokumen yang terdapat diatas meja kerjanya.
Meskipun jarum jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi dan semua orang telah terlelap, tetapi Nielson tetap terjaga dan tampak tengah mengerjakan sesuatu dengan tumpukan berkas yang berada di atas mejanya. Meskipun lelah karena telah beraktivitas di luar seharian dan tidak beristirahat, ia tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan ataupun kantuk karena kurang tidur. Mata Nielson masih menunjukkan fokus yang luar biasa dan ia dengan teliti memeriksa dokumen yang sepertinya berhubungan dengan pekerjaannya.
Ketika ia sedang fokus dengan pekerjaannya tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Nielson bertanya-tanya siapa yang mengetuk pintu rumahnya dini hari. Ia merasa tidak ada orang yang menghubunginya belakangan ini untuk mengunjungi kediamannya. Tidak mungkin seseorang bertamu di jam 3 pagi tanpa menghubungi atau mengabari tuan rumah.
Apalagi di luar hujan asam yang cukup deras, juga ketika di malam hari kondisi udara kota semakin memburuk. Karena itu sekarang diberlakukan jam malam karena udara malam di kota cukup berbahaya jika menghirupnya langsung tanpa memakai masker gas dengan teknologi filtrasi udara yang mampu menandingi tingkat polusi udaranya.
Setelah Nielson membuka pintu, terlihat seorang anak remaja laki-laki yang memakai topi dengan tinggi sedada Nielson. Ia memakai jaket bisbol yang di dada kirinya tertulis kata ‘Menma Kanazaki’, serta ia mengenakan celana pendek diatas lutut.
Nielson memandangi anak remaja tersebut. Ia memperhatikan wajahnya dengan saksama untuk mengenali siapa anak laki-laki yang berada di depannya. Matanya terus memindai anak laki-laki tersebut dan mengidentifikasi identitasnya. Meskipun diperhatikan dengan tajam oleh seorang pria dewasa dengan perawakan tinggi, anak laki-kaki tersebut tidak gentar, dan ia malah memandang Nielson kembali dan tersenyum.
Nielson merasa ada yang aneh dengan anak laki-laki tersebut, tatapan mata anak tersebut bukanlah seperti tatapan seorang anak yang menginjak usia remaja, tetapi tatapan yang memiliki banyak pengalaman serta cara berpikir yang luas tergambar di matanya. Di dalam tatapannya juga memiliki keangkuhan dan kebanggaan atas dirinya sendiri seperti orang yang telah mengatasi banyak masalah dan menyelesaikannya. Namun disisi lain, juga terdapat sisi kekanak-kanakan yang terlihat, sehingga membuat Nielson bingung akan identitas orang di depannya ini.
“Siapa ka—“
“Ayah!”
“!!”
Bocah laki-laki tersebut secara tiba-tiba memeluk Nielson dan memanggilnya seorang ayah. Nielson kaget akan tindakan bocah tersebut yang begitu tiba-tiba, lagi pula ia belum menikah apalagi punya anak.
“Hei, apa maksudmu?”
Nielson mendorong kedua bahu bocah tersebut menjauhi dirinya, ia memasang tatapan tajam kepada bocah tersebut.
“Aku ini sudah lama mencari-cari dirimu sedari dulu ayah! Kenapa engkau malah menanyakan hal terse—HIIII!!! Tolong, jangan pandangi aku seperti itu ayah,”
Bocah tersebut menjadi ketakutan dengan tatapan yang menusuk dari Nielson. Ia yang tadinya bersuara dengan penuh keyakinan kini suaranya menjadi gentar dan goyah.
“Hiks, tega sekali dirimu ayah. Setelah meninggalkan aku dan ibu engkau tega hidup di negeri baru dengan sejahtera. Bahkan kini engkau tidak lagi mengakui aku dan ibu sebagai keluargamu,”
Bocah tersebut mengatakannya sambil terisak-isak. Mata bocah itu berkaca-kaca dan air mata menetes ke wajahnya. Melihat bocah itu menangis, Nielson justru malah terlihat tidak peduli dan tidak merasa iba sedikitpun, bahkan wajahnya malah cenderung merendahkan hal tersebut dan mengisyaratkan agar bocah tersebut segera berhenti
“Hei, hentikanlah hal itu. Bagaimana jika ada seseorang yang mendengar hal tersebut? Reputasiku di sini akan hancur, bisa-bisa identitasku terungkap, dan lagi kau itu masih di depan pintu jadi kecilkan suaramu agar tidak membangunkan para tetangga sekitar. Bukankah kau itu pintar ‘Zeta-003’?”
Nielson memandang bocah tersebut dengan tatapan merendahkan. Di tatap seperti itu oleh Nielson, bukannya takut ia malah tersenyum.
“Wah-wah, bukankah kata-katamu terhadap bocah remaja? Tentu saja aku sudah memperkirakan hal itu, Aku ini hanya bercanda kau tahu? Ngomong-ngomong bukankah aku sudah memberi tanda pengenal di jaketku, dan juga kita ini sedang berada di luar jadi panggil aku dengan nama samaranku”
Bocah laki-laki tersebut memencet suatu tombol yang berada di jam tangannya. Keberadaan anak laki-laki tersebut menjadi kabur, menyisakan hanya bayangan-bayangan biru yang tembus pandang dan tampak seperti hologram. Di balik bayangan biru tersebut muncul sebuah siluet seorang pria dewasa dengan perawakan yang tinggi namun lebih pendek dari Nielson. Ketika bayangan biru seperti hologram tersebut hilang, keberadaan bocah tersebut menghilangkan dan digantikan oleh seorang pria dewasa dengan paras seperti orang Asia.
“Kau ini.... Bagaimana aku mengetahui nama samaranmu jika kau terus mengganti-ganti identitas?! Ditambah kau menggunakan suatu alat untuk merubah seluruh penampilanmu menjadi seorang bocah!”
Nielson membentak pria Asia di depannya. Namun pria tersebut tidak marah dan hanya menanggapinya dengan menggeleng atas bentakan dari Nielson
“Ckck, bukankah sudah menjadi tugas seseorang yang bekerja di bawah bayang-bayang dunia untuk selalu merahasiakan identitasnya. Bukankah itu merupakan hal yang diketahui semua orang agar seseorang harus selalu merahasiakan identitasnya? Bukankah kau ini pintar? Bagaimana kau bisa tidak tahu dengan hal dasar tersebut, James Nielson, atau haruskah kupanggil ‘Delta-001’?”
Pria tersebut mengatakannya dengan nada dan tatapan yang menghina. Menanggapi hinaan tersebut Nielson tidak tersinggung dan tidak memberikan respons, bahkan ekspresi wajahnya tetap datar seperti biasanya. Ia langsung menyuruhnya masuk namun wajah pria tersebut menjadi lesu dan tampak tak bersemangat karena ejekannya tidak mempan terhadap Nielson.
“Sudahlah, sudahi saja perbincangan ini. Cepat masuk ke dalam”
“Boo, kau ini memang tidak seru ya seperti kata orang-orang. Karena itu lah kau tidak punya teman di organisasi~ . Dengarkan ini, walaupun organisasi adalah organisasi suram dan tak berwarna, kita harus tetap tampak ramah terhadap semua orang agar suasana di sini menjadi hidup dan tampak tidak terlalu ma— AGHHH!”
Nielson menarik lengan pria dengan kencang sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia melanjutkannya dengan menendang pria tersebut hingga ia tersungkur ke lantai. Mendengar hal tersebut, wajah Nielson berkedut dan ekspresinya menunjukkan kesan ketidaksenangan dan tersinggung.
“Wah-wah, rupanya mulutmu tidak ada remnya ya? Bukankah organisasi kita menekankan kita agar kita selalu menutup mulut kita? Bukankah kau sudah mempelajari hal tersebut? Atau kau mau mempelajarinya lagi dariku?”
Nielson menunjukkan ekspresi tersenyum, namun raut wajahnya tetap menampilkan ekspresi dingin dan sudut wajahnya berkedut, serta menunjukkan hawa membunuh yang sangat pekat hingga membuat aura sekeliling Nielson menjadi mencekam
“HIIII!! MAAFKAN AKU, MAAFKAN AKU!”
.....
“Jadi, kau di sini karena ingin memberikan barang yang Aku pesan?”
Nielson menarik kursi dan duduk sambil menyilangkan tangannya. Ia menatap pria tersebut yang tengah berlutut di lantai atas perintah Nielson.
“Tentu saja, bukankah kita sudah sepakat aku akan mengirimkan barangnya hari ini? Atau jangan-jangan kau lupa?”
Pria tersebut mengangguk dan menyilangkan tangannya sambil berlutut. Dari suaranya terdengar meyakinkan dan ia terlihat tidak ada yang salah sama sekali.
“Kau.... Bukankah hari perjanjiannya 3 hari yang lalu?! Kenapa kau baru sampai sekarang?! Dan lagi jangan berbicara seakan-akan kau tidak membuat kesalahan!”
“Akh—“
Nielson menyentil dahi pria tersebut, sentilannya begitu kuat sampai ia tidak mampu menahan posisinya dan berguling ke belakang.
“Hehe, maafkan aku. Barangnya ternyata lebih sulit dari yang kuduga. Lagi pula sangat sulit bergerak tanpa ketahuan oleh mereka, jadi aku membuat identitas baru serta mengubah penampilanku agar bisa kesini dari Jepang!”
“Kau yakin barangnya sulit dibuat? Bukankah bukan karena dirimu yang mengacau dengan menumpahkan kopi ke tablet yang berisi cetak biru yang baru dibuat?!”
Nielson menjadi semakin jengkel, ia terus membentak pria tersebut.
“He? Kau tahu dari mana hal tersebut? Apakah si Gamma yang memberitahumu? Gamma sialan, awas saja kau, nanti akan kubala—“
Nielson mencengkram kepalanya dengan erat sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Ia mendekatkan mulutnya ke samping telinga pria tersebut dan berbicara dengan nada yang menakutkan.
“Hei hei, sudahlah jangan melampiaskan kesalahanmu ke orang lain. Kau itu yang bersalah, jangan coba-coba menyalahkannya ke Gamma,”
“HIIII!”
Pria tersebut merinding mendengar ucapan Nielson. Ia merasa bahwa di belakangnya terdapat aura membunuh yang sangat kuat hingga ia tidak berani memalingkan wajahnya ke belakang.
“Sudahi saja main-mainnya. Jadi, Menma? Sekarang, cepat berikan barang itu padaku
“Ah baik-baik. Hehe, sekarang bersiaplah~ karena barang ini akan mengejutkanmu. Karena ini adalah barang yang dibuat oleh Zeta-003 yang merupakan orang ketiga terhebat dalam bidang teknologi di organisasi~”
Pria yang dipanggil Menma tersebut membongkar tasnya dan tampak mencari-cari sesuatu. Setelah beberapa lama, ia mengeluarkan suatu liontin kecil dan juga sebuah remote yang tampaknya adalah pengendalinya.
“Saksikanlah, barang hebat buatanku. Ini dia liontin pengubah penampilan!”
“Sebuah liontin? Bukankah tadi kau menggunakan jam?”
“Khu Khu, liontin hanyalah media agar alat ini tidak terlihat mencurigakan. Alat sebenarnya berupa sebuah microchip yang berada di dalam liontin ini, dan ukurannya sangat kecil jadi tak akan ada yang bisa melihat dan menyangka bahwa ini adalah alat untuk mengubah penampilan,”
“Apakah benar-benar bisa dipakai di mana saja? Bagaimana jika kita memasuki sistem keamanan yang membutuhkan iris mata atau sidik jari?”
“Tentu saja, alat ini sangat kecil dan juga fleksibel jadi bisa dipakai di mana saja. Alat ini bukan hanya merubah penampilan luarnya saja, bahkan jika matamu dipindai atau kau disuruh memakai fingerprint, mesinnya tidak akan mampu mengidentifikasi identitas aslimu! Jangan terkejut dulu, barang ini penggunaannya sangat praktis, karena ini berbentuk liontin, kau hanya harus mengikatnya di suatu bagian tubuhnya dan menekan tombol pada remote ini! Kau tahu? Membuat teknologi tingkat ini dengan bentuk yang kecil sangat sulit, aku benar-benar berusaha keras~. Blablabla—“
Nielson mengambil sebuah liontin yang disodorkan oleh Menma. Ia mengabaikan Menma yang terus mengoceh karena ia pasti hanya menyombongkan dirinya dan Nielson malas menanggapinya.
Meskipun terlihat biasa saja, ia tampak kagum dengan karya buatan Menma. Namun, tentu saja ia tidak menunjukkan kekagumannya karena jika ia memperlihatkannya maka Menma akan semakin menyombongkan dirinya.
‘Benar-benar barang yang sangat hebat. Mampu merubah penampilan sepenuhnya bahkan dapat mengelabui mesin pemindai identitas. Seperti yang diduga dari orang ketiga terhebat dari abjad Zeta,'
‘Zeta’, merupakan salah satu kelompok yang dikhususkan dalam bidang teknologi dalam proyek ‘The Alphabet’.
Kekosongan posisi dalam Perang Dunia Ketiga, itulah tujuan mereka mengobarkan api perang yang membinasakan sebagian besar populasi manusia di bumi. Kemudian peran yang kosong dalam skala dunia diisi oleh orang-orang yang diciptakan khusus sesuai dengan peran mereka sehingga dunia dapat berjalan dengan baik dan mereka mengendalikan dunia dari balik layar.
Proyek alphabet diciptakan dari manusia-manusia yang tidak mempunyai identitas dan tempat tinggal. Mereka mengumpulkan mereka kemudian melatih, mencari kemampuannya, dan menyaring mereka hingga menjadi hanya orang-orang dengan kemampuan hebat saja yang tersisa.
Mereka mengumpulkan orang-orang dari mereka yang kehilangan identitas akibat perang. Karena perang, banyak anak-anak yang kehilangan orang tua dan tempat tinggal mereka hingga menjadi gelandangan tak beridentitas yang bertebaran dimana-mana. Orang-orang tidak akan memperhatikan gelandangan tanpa identitas yang mati ataupun hilang sehingga mengumpulkan orang demi proyek ini dapat berjalan lancar tanpa ketahuan.
Proyek ini mampu menciptakan 2400 orang dengan 100 orang di setiap abjad. Setiap abjad memiliki keahlian yang berbeda-beda seperti Delta yang memiliki kemampuan dalam bidang pemerintahan dan mereka memiliki tugas menjadi pejabat konstitusi di seluruh dunia, atau Zeta yang memiliki kemampuan di bidang teknologi dan mereka bertugas mengembangkan teknologi yang hanya akan dipakai organisasi ataupun yang siap diperkenalkan kepada dunia.
“Ngomong-ngomong Nielson, untuk apa barang ini? Apa kau ingin mengubah penampilanmu dan menyusup ke suatu tempat?”
Menma yang sudah selesai menyombongkan dirinya secara tiba-tiba ia menanyakan tujuan Nielson dengan menciptakan benda tersebut.
“Ah ini? Ini untuk persiapan pada saat pengadilan Delta nanti. Kurasa ini sudah saatnya kita melakukannya secara terang-terangan,”
“Persiapan untuk pengadilan Delta? Kuperingatkan saja jangan melakukan hal bodoh ataupun hal yang membahayakan dirimu sendiri. Karena Aku atau sekutu kita tidak dapat menolongmu,”
Mendengar ucapan Nielson, wajah Menma yang menjadi serius dan menatap Nielson dengan tajam.
“Tenang saja, Aku tidak akan membahayakan diriku ataupun sekutu kita. Ini hanyalah persiapan saja, namun aku memiliki firasat akan terjadi sesuatu besok. Jadi setidaknya persiapkan dirimu,”
Melihat Nielson yang mengabaikan peringatannya, Menma menatap Nielson sebentar dan menghela nafas. Ia merasa tidak ada gunanya berdebat dengan Nielson yang keras kepala. Namun karena perkataan Nielson, Menma merasa bahwa besok akan benar-benar terjadi sesuatu dan ia harus membantunya.
“....Tentu, aku akan bersiap,”
.....
.....
[Pengadilan Tinggi London, 30 Oktober 2097]
Di kafetaria dalam pengadilan yang ramai, Nielson terlihat sedang memeriksa dan merapikan berkas-berkasnya. Ia tengah bersiap-siap untuk pengadilan Delta yang akan dimulai sebentar lagi. Ekspresinya berat, seperti bahwa ia sudah lelah dengan segala hal yang berhubungan dengan organisasi rahasianya dan juga pengadilan tersebut.
“Tuan Nielson?”
Tiba-tiba saja Nielson mendengar suara wanita memanggil dirinya. Nielson menengok ke arahnya dan terlihat wanita dengan rambut sebahu berwarna coklat, ia adalah Gressia Gretta atau yang biasa dipanggil nona Gretta olehnya berdiri di belakangnya sambil membawa nampan berisi makanan.
“Ah Nona Gretta? Ada perlu apa denganku?”
“Ah, Aku sedang mencari tempat duduk. Aku melihat orang yang kukenal dan kursi di depannya kosong jadi Aku menghampirimu,”
“Ah, kamu ingin duduk di sini? Tentu silakan saja, kamu tidak perlu terlalu sungkan denganku,”
Nielson tersenyum kepada Gretta. Melihat senyuman Nielson ia menjadi sedikit gugup dan wajahnya tampak sedikit memerah. Ia merasa bahwa Nielson akan berpikir bahwa dirinya aneh karena di sekitar masih banyak kursi kosong dan juga Nielson bukanlah satu-satunya kenalannya, jadi tidak ada alasan untuk duduk bersamanya. Ia takut Nielson akan berpikir bahwa dirinya berusaha mendekatinya walaupun itu adalah hal yang benar.
‘Gretta, tenanglah dirimu. Tenang...’
Gretta menghembuskan nafasnya, ia menarik kursi yang berada di depan Nielson dan menaruh nampan berisi makanannya. Ia melirik ke arah tumpukan kertas pada meja di sisi Nielson. Ia merasa heran apa ia tidak lelah ataupun lapar setelah bekerja, ia hanya ditemani tehnya seperti biasa.
“Tuan Nielson, apakah dirimu tidak lapar? Kamu telah bekerja keras seharian, mengisi perut adalah hal yang penting untuk merestorasi tenaga. Berhentilah bekerja dan makan sebentar, minum teh saja tidak akan memenuhi gizi pada tubuhmu,”
“Ah, terima kasih atas perhatiannya. Tapi sebentar lagi aku ada pekerjaan, jadi aku harus mempersiapkannya sebaik mungkin,”
Mendengar perkataan Nielson, Gretta menjadi semakin khawatir. Karena ia selalu memperhatikan dirinya, ia tahu bahwa Nielson jarang sekali makan dengan benar, ia hanya terus bekerja dan minum teh sepanjang waktu. Gretta sangat khawatir dengan kondisi kesehatan Nielson.
‘Tuan Nielson adalah orang yang luar biasa...’
Gretta kagum dengan dedikasi Nielson di bidang pekerjaannya. Ia juga mendengar, bahwa sidang yang akan dilakukan Nielson selanjutnya merupakan salah satu sidang penting yang akan dijalani pengadilan. Meskipun Nielson masih muda, tetapi ia sudah menjadi orang yang memimpin persidangan tersebut, hal itu membuat Gretta sangat mengagumi Nielson. Ia merasa bahwa Nielson layak atas apa yang dicapainya karena dedikasi dan kegigihannya dalam bekerja.
Melihat perhatian dari Gretta, Nielson tersenyum tulus. Ia sangat menghargai perhatian dari Gretta, karena ia tidak pernah diberi perhatian oleh orang lain selain dari Gretta.
Nielson sebenarnya tahu jika Gretta memiliki perasaan terhadapnya. Namun ia sengaja mengabaikannya karena Gretta adalah orang yang berharga baginya dan Ia tidak ingin Gretta terlibat masalah karena dirinya. Jika saja Nielson orang biasa, mungkin ia juga memiliki perasaan yang sama dengan Gretta dan menikah dengannya.
‘Maafkan aku Nona Gretta. Kamu benar-benar orang yang sangat baik, karena itu sebaiknya kamu tidak terlibat denganku..’
*Pipipip
Bunyi dering terdengar dari jam tangan Nielson. Jarum jam telah menunjuk ke angka delapan tepat. Nielson segera merapikan dokumen yang berada di mejanya dan memasukkannya ke koper.
“Ah maafkan aku Nona Gretta, Aku harus meninggalkanmu dan pergi duluan karena tampaknya pekerjaanku sudah dimulai,”
“Ah tentu. Semoga pekerjaanmu berjalan lancar, Tuan Nielson,”
“Baiklah, Aku pergi dulu. Sampai jumpa,”
“Oh ya tuan Nielson,”
Mendengar panggilan Gretta, Nielson berhenti dan menengok ke belakang.
“Ada apa Nona Gretta?,”
“Karena kita sudah lama dekat, kenapa kamu tidak berhenti memanggilku dengan nama belakangku?”
Gretta terlihat malu-malu menyampaikan hal tersebut. Nielson yang terkejut dengan pernyataan mendadak dari Gretta, tanpa sadar dirinya tertawa kecil.
“Pft, baiklah. Tetapi bukankah kamu juga harus berhenti memanggilku dengan nama belakangku? Lagi pula usia kita tidak terpaut jauh, tidak perlu terlalu sopan denganku,”
Nielson tersenyum dan meletakkan tangannya di atas kepala Gretta.
“Hentikan itu, jangan perlakukan aku seperti anak kecil! Aku ini sudah menyentuh angka 3 tahu!”
Gretta mendengus, ia menepis tangan Nielson yang berada di kepalanya. Ia menepisnya bukan karena ia tidak suka dengan perlakuan Nielson, tapi ia takut detak jantungnya akan semakin keras hingga dapat didengar oleh Nielson.
“Hahahaha! Baiklah, kalau begitu sampai nanti, Gressia,”
Nielson tersenyum dan berbalik sambil melambai ke arah Gretta.
Wajah Gretta menjadi semakin memerah dan panas, ia merasa bahwa dirinya akan meledak kapan saja melihat Nielson yang tersenyum sambil memanggil nama depannya. Jantungnya semakin berdebar, Gretta terkalut dalam perasaannya. Namun ia menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya yang tenggelam dalam perasaannya, ia harus mengucapkan selamat jalan juga kepada Nielson.
“Sampai nanti juga, James!”
Nielson menengok sebentar ke arah Gretta yang menyebut nama depannya. Tanpa sadar dirinya menjadi tersenyum, jantungnya berdebar, dan wajahnya sedikit memerah. Namun ia dengan segera memalingkan wajahnya dari Gretta, karena jika ia terkalut dalam perasaannya maka Gretta akan semakin terlibat dengan dirinya. Semakin dalam perasaan yang dimiliki dalam hubungan, semakin sakit pula ketika mengalami perpisahan. Nielson tidak ingin Gretta menjadi sedih ketika suatu saat ia meninggalkan dirinya.
Nielson pergi meninggalkan Gretta sambil melambaikan tangannya. Melihat Nielson yang menjauh dari pandangan, hati Gretta menjadi sesak. Ia merasa ada yang aneh dengan perasaannya, seperti seakan Ia tidak ingin Nielson meninggalkannya sekarang ini.
‘Hatiku sesak, entah kenapa itu terdengar seperti Tuan Nielson tidak akan kembali lagi padaku dan meninggalkanku selamanya. Tuan Nielson, kumohon.... Jangan tinggalkan Aku’
.....
Pengadilan Delta, adalah pengadilan yang bertujuan untuk mengadili seseorang yang dianggap membahayakan organisasi. Pengadilan Delta, walaupun namanya terdengar tidak biasa, sebenarnya itu adalah pengadilan yang menjalani proses pengadilan biasa dan di tempat yang sama, yang berbeda hanya tujuan diadakannya pengadilan tersebut dan juga orang-orang yang mengisinya. Pengadilan yang dilakukan demi menjaga kerahasiaan organisasi yang menaungi Nielson.
Berbeda dengan pengadilan lain, suasana di pengadilan ini sangat tenang. Yang tegang hanyalah Nielson sendiri. Walaupun Nielson merasa tegang, namun ekspresinya masih sama seperti sebelumnya. Keheningan menyelimuti seluruh pengadilan, bahkan tidak ada yang berbicara ataupun menoleh sedikit pun, seakan mereka semua hanyalah boneka yang dibuat demi memenuhi ruangan atau mengawasi Nielson yang menjalankan pengadilan.
Nielson duduk di kursi tengah sebagai hakim ketua sidang, serta terdapat orang yang duduk di samping kiri dan kanan Nielson. Semua yang berada di sidang itu bertugas untuk mengawasinya jika ia melakukan kesalahan atau lalai dalam menjalankan tugasnya.
“Terdakwa, Alice Malten dan Penuntut, Richard Desmond memasuki ruangan”
Terdakwa bersama penuntut memasuki ruangan, namun terdakwa tidak ditemani pengacara pembela dan hanya penuntut yang membawa pengacara. Nielson membaca berkasnya, Ia melihat bahwa terdakwa dan penuntut adalah seorang mahasiswa. Nielson menjadi tegang, namun dia harus menjaga ketenangannya, ia berusaha agar ketegangannya tidak terlihat oleh orang lain dan tidak membuat orang-orang sekitarnya curiga.
Nielson awalnya hanya akan mengikuti pengadilan ini dengan tenang dan menghukum terdakwa sesuai skenario yang dibuat. Namun mendengar apa yang terjadi pada gadis itu membuat perasaan Nielson yang telah hilang mengenai keadilan muncul kembali.
Nielson sekarang harus memilih apakah ia akan mengikuti akal sehatnya yakni menghukumnya sesuai keinginan mereka dan dapat hidup dengan tenang, atau mengikuti nurani dan idealismenya yang bertentangan dengan keinginan mereka tetapi harus kehilangan hidupnya. Ini adalah keputusan terpenting yang menentukan hidupnya dan nasib gadis tersebut.