Themis, The Flower of Justice

Themis, The Flower of Justice
Chapter 10 — Kehidupan baru



3 tahun kemudian 12 Aries tahun 1341 kalender Helios


[Ibu kota Luminous, Kerajaan Medeia]


.


.


Di suatu tempat di ibu kota kerajaan Medeia, terdapat sebuah istana dengan ukuran besar dan halaman yang cukup luas. Dari luar istana itu terlihat sangat sibuk, banyak orang yang berlalu lalang di sana. Dari ksatria sampai pelayan, mereka semua terlihat sibuk seperti sedang mempersiapkan sesuatu.


Namun setelah masuk ke dalam, ternyata di aula istana itu mereka semua terlihat lebih sibuk, mereka tampak antusias melakukan pekerjaannya. Bahkan jika itu adalah sebuah istana, tidak mungkin para pekerja bisa sesibuk itu. Seperti ada sesuatu yang mereka persiapkan untuk hal yang sangat penting di istana itu.


Istana tersebut adalah kediaman pribadi istri ke-3 sang raja Medeia, Selena Argaient. Setiap dari istri sang raja diberikan kediaman pribadi berupa istana yang megah, menunjukkan kesan betapa makmurnya kerajaan Medeia hingga memberikan istana megah kepada setiap istri raja.


Selain itu, Selena merupakan putri sulung dari tiga bersaudara dari keluarga sihir terkuat serta pemegang otoritas militer sihir tertinggi di Medeia, Argaient. Kekuatan keluarga Argaient di bidang sihir bukan cuma terkenal di negara Medeia saja, melainkan di seluruh benua. Terutama sang kepala keluarga Argaient, kekuatannya bahkan bisa disandingkan dengan master dari Magic Tower terkuat dalam sejarah.


Selain aula, mereka semua juga sibuk berlalu lalang di depan koridor suatu kamar. Sampai tiba-tiba seorang pelayan berdiri di depan pintu kamar tersebut dan mengetuknya.


“Maaf mengganggu, Tuan Putri. Bagaimana persiapan Anda? Apakah Anda sudah siap untuk turun ke bawah?”


Pelayan tersebut membuka pintunya.


Di dalam kamar tersebut terdapat satu orang gadis kecil yang dikelilingi oleh beberapa wanita berpakaian pelayan. Gadis itu sedang duduk di depan cermin dengan ekspresi yang datar.


Gadis itu memiliki rambut perak yang berkibar karena terpaan angin dari luar jendela yang di buka. Kombinasi antara rambut perak dan wajah kecilnya yang seputih salju merupakan kombinasi yang menawan. Mata birunya yang indah menatap pantulan dirinya di cermin dengan raut wajah yang rumit.


Gadis berambut perak tersebut adalah Luminas Von Medeia, tuan putri kelima dari kerajaan Medeia, dan kamar itu adalah miliknya. Kamar itu memiliki interior yang sangat mewah, bahkan cenderung berlebihan untuk seorang gadis kecil yang baru berusia 3 tahun. Sehingga memberikan kesan bahwa kerajaan Medeia sangat kaya sehingga para keluarga kerajaan memiliki banyak barang mewah di dalamnya meskipun itu hanya kediaman pribadi seorang istri ketiga.


Di samping para pelayan yang tengah mendandani Luminas, juga terdapat beberapa pelayan pria tua yang berdiri di belakang Luminas. Mereka semua tampak sibuk meskipun hanya mendandani Luminas seorang. Para pelayan itu bingung bukan karena sulit untuk mendandani Luminas, melainkan karena mereka bingung ingin mendandani Luminas seperti apa karena ia tampak cantik memakai apapun.


Namun ekspresi Luminas aneh, ia memperlihatkan ekspresi yang tidak senang bahkan ketika ia sedang didandani dengan cantik oleh para pelayan seolah ia tidak menyukainya. Tentu saja hal tersebut adalah hal yang aneh, karena raut wajah yang diperlihatkan oleh Luminas bukanlah raut wajah seorang gadis 3 tahun yang seharusnya senang ketika ia didandani dengan cantik.


“Haah, bukankah sudah aku bilang untuk mendandani secukupnya saja? Bukankah kalian bilang aku cocok memakai apa pun? Mengapa kalian begitu sulit dalam memilihnya?”


Luminas menghela nafas, ia tampak seperti tidak suka dengan perlakuan pelayan padanya yang berlebihan.


“Tidak bisa begitu, Tuan Putri! Anda adalah seorang putri dari kerajaan Medeia, juga merupakan anak dari Yang Mulia Ratu Selena Argaient yang merupakan putri dari seorang Duke! Tentu saja Anda harus berpenampilan sangat cantik!”


Luminas memasang ekspresi cemberut mendengar perkataan para pelayannya.


Berbeda dengan harapan Luminas, ketika ia memasang ekspresi cemberut seharusnya para pelayan khawatir. Karena mereka seharusnya takut dengan tidak puasnya tuan mereka terhadap mereka. Namun reaksi mereka berkebalikan dengan harapannya, mereka malah tampak lebih bersemangat ketika melihat Luminas cemberut.


Para pelayan mungkin bersemangat karena pipi Luminas yang menggembung tanpa sadar ketika ia cemberut, tentunya itu sangat menggemaskan, dan mungkin Luminas tidak akan pernah menyadarinya.


Ketika mereka sedang sibuk mendandani Luminas, sekali lagi terdengar sebuah ketukan pintu dari luar ruangan. Pintu tersebut dibuka, seorang pria tua dengan pakaian pelayan yang berbeda dari pelayan lainnya menampakkan dirinya dari luar ruangan.


“Tuan putri, waktunya sudah tiba. Yang Mulia Ratu Selena dan juga penyihir dari istana sedang menunggu di bawah,”


Pria tersebut membungkuk di hadapan Luminas.


“Oh, kepala pelayan Steve. Baiklah, bilang pada mereka aku akan segera turun,”


“Baiklah tuan putri, saya akan sampaikan kepada mereka. Kalau begitu saya izin undur diri,”


Pria tua tersebut yang merupakan kepala pelayan memberi penghormatan dengan membungkukkan tubuhnya lalu pergi meninggalkan ruangan.


“Sudah kubilang, dandani aku secukupnya. Segera percepat hal ini, aku merasa tidak enak dengan ibunda yang menunggu di bawah,”


“BAIK TUAN PUTRI!”


Mereka semua menjawab dengan serempak atas perkataan dari Luminas.


.


.


.


Luminas berjalan menyusuri koridor sambil ditemani beberapa pelayan di belakangnya. Di sepanjang koridor berdiri para penjaga istana ini. Meskipun ini hanya sebuah kediaman pribadi, penjagaan di istana ini cukup ketat. Luminas merasa mereka berlebihan soal hal tersebut, bahkan meski dengan alasan keamanan mereka tetap berperilaku berlebihan


‘Jadi sudah 3 tahun ya, semenjak aku pindah ke dunia ini...’


Luminas berpikir bahwa dia sudah berada di dunia ini 3 tahun lalu. Setelah ia mengalami kematian mengenaskan sebagai James Nielson, namun ia kini hidup kembali sebagai keluarga kerajaan.


Ia mendapati dirinya sebagai seorang putri kerajaan bernama Luminas Von Medeia, yang merupakan putri kelima dari Elios Von Medeia sang raja Medeia, juga ibunya Selena Argaient yang merupakan seorang putri dari keluarga Duke.


Ia merasa sangat bersyukur bahwa dirinya diberikan kesempatan kedua di hidup ini. Seakan doanya pada saat terakhirnya terkabul, ia sangat senang mengetahui bahwa dirinya masih hidup.


‘Yah, meskipun awalnya tidak mudah. Tapi aku sudah cukup terbiasa...’


Pada saat Nielson berada di dunia ini, ia sedikit kesulitan beradaptasi dengan dunia ini. Terutama karena dia tiba-tiba menjadi seorang gadis, apalagi seorang putri kerajaan, tentu saja itu akan menimbulkan sedikit kesulitan padanya.


Walaupun ia merasa sedikit kesulitan pada awalnya, namun Nielson dengan cepat terbiasa. Hal ini karena dia tereinkarnasi menjadi seorang bayi kembali sehingga membuat Nielson dengan mudah beradaptasi pada segala hal baru, seperti bahasa dan gaya hidup, terutama saat ia melakukan kesalahan tidak akan ada yang merasa ada yang aneh dengan dirinya.


‘Aku telah melakukannya dengan baik... Walau aku sempat mengacaukannya...’


Ketika Nielson sudah bisa bicara pertama kalinya, ia mengucapkan beberapa kosakata aneh untuk bereksperimen mengenai dunia baru. Ia mengatakan hal-hal seperti ‘Status’ atau ‘Properties’ namun tidak ada hal apa pun yang terjadi padanya. Nielson menyimpulkan bahwa walau dirinya sudah bereinkarnasi ke dunia lain, ini bukan dunia lain seperti yang ada pada komik ataupun novel fiksi milik rekannya, Zeta.


Nielson menjadi teringat ketika ia mengatakan hal tersebut ketika ia pertama kali berbicara, para pelayan yang sedang lewat secara tidak sengaja melihatnya. Nielson mengira bahwa para pelayannya akan mengira dirinya aneh karena mengatakan hal-hal yang asing tersebut, namun malah berakhir seperti ini.


Mereka malah mengira Nielson sedang berkomunikasi dengan sebuah roh elemental di usianya yang sangat belia. Mereka mengira bahwa Nielson adalah seorang Jenius yang sangat langka hingga mampu memanggil roh elemental di usia seperti ini. Sehingga ketika ibunya Nielson atau sekarang ia bernama Luminas, memanggil penyihir istana untuk memeriksa sihirnya Nielson.


‘Zeta sialan, karena dirinya aku mengatakan hal-hal seperti ini. Karena komik dan novel yang ia berikan padaku, aku jadi mengucapkan hal aneh tersebut. Walaupun dia rekanku, aku —‘


Nielson atau Luminas terperanjat, ia menjadi diam mengingat hal terakhir yang Zeta lakukan padanya.


‘Apakah ia masih bisa dipanggil rekanku? Mengingat hal terakhir yang dia lakukan, aku—‘


Luminas menggertakkan giginya, tubuhnya bergetar, dan ia mengepalkan tangannya dengan keras. Emosi yang ia rasakan terakhir kali membanjiri dirinya. Emosi yang meluap-luap dari dirinya tanpa sadar membuat dirinya memancarkan aura membunuh.


‘Imutnya...’


Namun para pelayan malah melihatnya itu merupakan hal yang menggemaskan karena tubuh Luminas bergetar karena ia malu dan takut menghadap orang luar dari istana.


Para pelayan tersebut sudah mengasuh Luminas sejak ia masih bayi, sehingga mereka mengetahui tingkah laku tuan putri yang mereka asuh. Ketika mereka melihat Luminas, awalnya mereka mengira Luminas adalah anak yang Jenius karena ia sedari kecil menunjukkan kecerdasan intelektual maupun emosional yang luar biasa.


Luminas yang sadar bahwa ia mengeluarkan auranya yang menyeramkan, ia segera menarik dirinya ke kenyataan dan mengembalikan auranya seperti semula.


Sejak dulu Luminas selalu bersandiwara menjadi seorang anak kecil. Karena ia tidak mau dianggap aneh oleh orang lain dan mengundang hal-hal yang tidak diinginkan kepadanya. Ia selalu berpura-pura menjadi seorang gadis kecil yang baik hati, walau tidak tampak seperti itu di mata orang lain sepertinya.


Ketika Luminas sedang tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba saja seorang gadis kecil menabrak dirinya hingga mereka berdua jatuh bersamaan. Luminas yang terkejut karena ditabrak secara tiba-tiba merasa kesakitan karena terjatuh.


“Aduh.. duh..”


Luminas melirik ke depan, terlihat seorang gadis kecil dengan rambut panjang berwarna merah tengah mengerang kesakitan. Mengingat tabrakan tadi cukup keras, ia merasa wajar jika gadis tersebut merasa kesakitan, bahkan dirinya pun merasa kesakitan.


“Dorothy!!!!”


Ketika Luminas sedang mengamati gadis kecil tersebut, terdengar teriakkan seorang pria dari kejauhan meneriakkan sebuah nama. Terlihat seorang pria berpakaian pelayan sedang menuju kemari sambil tergesa-gesa.


“Putri Luminas!”


“Tuan Putri! Anda tidak apa-apa?!”


“Tuan putri! Mari saya bantu berdiri!”


Melihat Luminas yang jatuh karena tertabrak, para pelayan tersebut tidak tinggal diam. Mereka terlihat khawatir dan segera membantu Luminas berdiri serta memeriksa apakah dia terluka.


“Dorothy!! Apa yang kamu lakukan? Bukankah sudah kubilang jangan berlari di lorong?!”


“Ah ayah! Maafkan aku! A-Aku hanya—“


“DIAM”


*PLAAK


Pria berpakaian pelayan yang tampaknya adalah ayahnya menampar gadis kecil tersebut dengan keras. Alih-alih menolongnya, ayahnya justru terlihat sangat kesal dan memaksa gadis kecil tersebut bersujud hingga kepalanya membentur lantai dengan cukup kencang.


“MOHON MAAFKAN ATAS KECEROBOHAN PUTRI SAYA TUAN PUTRI! HAL ITU TIDAKLAH DISENGAJA, SAYA MOHON TUAN PUTRI BERBELAS KASIH MEMAAFKAN KECEROBOHAN PUTRI SAYA!”


Pria berpakaian pelayan tersebut bersujud dan membenturkan kepalanya dengan keras.


“JIKA MEMANG HARUS DIHUKUM, MAKA HUKUM SAJA SAYA! SAYA DISINI YANG BERSALAH KARENA TIDAK MAMPU MENJAGA PUTRI SAYA!”


Pria berpakaian pelayan tersebut membenturkan kepalanya ke lantai sekali lagi. Ia tampak sangat ketakutan karena ia takut putrinya akan dihukum karena kesalahannya menyakiti seorang putri raja.


“M-maafkan a-aku. A-Aku tidak sengaja, m-mohon jangan hukum ayahku,”


Suara gadis itu bergetar, air mata berlinang di matanya.


‘H-habislah kami, kami mendengar bahwa seorang pelayan pernah dihukum oleh seorang putri kerajaan karena melakukan kesalahan sepele. Namun kesalahan yang dilakukan putriku cukup fatal, walau aku harus dihukum setidaknya putriku tidak..’


Luminas bangkit dan menatap gadis kecil serta ayah gadis tersebut yang tengah bersujud meminta ampun di depannya. Ia berjalan dan mendekati kedua orang yang tengah bersujud tersebut. Mendengar suara langkah kaki Luminas yang mendekat, mereka berdua semakin ketakutan. Mereka membayangkan hal-hal yang menimpa mereka karena telah melakukan kesalah besar kepada seorang putri kerajaan.


Namun Luminas malah tersenyum menepuk bahu kedua orang tersebut dan menyuruh mereka bangun.


“Angkat kepalamu dan bangunlah,”


Mereka berdua menengadah ke atas melihat wajah Luminas yang tersenyum. Mereka berdua langsung sigap berdiri mendengar perintah dari Luminas. Melihat senyum Luminas, mereka berdua semakin takut. Mereka khawatir bahwa itu adalah senyum keji yang tidak akan memaafkan kesalahan mereka.


Melihat mereka berdua yang berdiri ketakutan Luminas menjadi bingung. Dirinya sudah memasang wajah tersenyum lantas mengapa mereka memasang wajah takut tersebut?


Merasa ada kesalahpahaman, Luminas menghela nafas. Meskipun ia merasa senyum itu cukup tulus, namun dalam situasi itu ia merasa bahwa senyuman itu malah menambah ketakutan dalam diri mereka, dan ia harus meluruskan kesalahpahaman tentang dirinya kepada mereka.


Luminas bergerak maju dan menggenggam kedua tangan gadis kecil tersebut. Ia memasang wajah yang seakan dirinya mengkhawatirkan gadis tersebut.


“Kamu tidak apa-apa?”


“A-aku tidak apa-apa,”


Gadis tersebut bagaimana cara menanggapi Luminas yang mengatakan hal tersebut. Ia bingung dengan reaksi Luminas yang mengkhawatirkan dirinya meski ia telah menabraknya dan menyakitinya.


“Baguslah, Aku khawatir kamu akan terluka karena tabrakannya begitu keras,”


Genggaman pada tangan gadis tersebut semakin erat, Luminas menunjukkan ekspresi kelegaannya dengan senyumnya yang menawan.


Dorothy terperangah dengan sikap yang ditunjukkan oleh Luminas. Ia mendapati bahwa tubuh Luminas lebih kecil dari dirinya, mengingat Luminas 4 tahun lebih muda dari dirinya. Tentu saja dengan tubuhnya yang lebih kecil Luminas akan merasakan dampak yang lebih besar dibandingkan dengan Dorothy.


Melihat sikap Luminas yang begitu perhatian pada dirinya, sesuatu dalam diri Dorothy menjadi bergejolak. Perasaannya menggebu-gebu dan hatinya menjadi bergejolak. Tanpa ia sadari air matanya mengalir deras ke wajahnya, ia merasakan sesuatu perasaan yang hebat tumbuh pada dirinya. Perasaan itu adalah loyalitas.


‘T-tuan putri, karena kebaikanmu aku akan melayanimu seumur hidup!’


Dorothy kemudian bangkit dari posisi berlutut ya dan berteriak dengan lantang


“A-Aku Dorothy sang pelayan, akan mengabdikan seluruh hidupku untuk melayanimu tuan putri!”


“Eh?


EH?!”


Mendengar pernyataan Dorothy yang tiba-tiba, Luminas menjadi terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Dorothy akan menyatakan akan melayaninya seumur hidupnya. Ini merupakan hal yang tidak ia sangka-sangka.


Karena Luminas memperlakukan Dorothy demikian hanya karena ia merasa tidak bisa melihat seseorang bersujud memohon ampun di depannya. Juga Luminas tidak ingin orang-orang berpikir bahwa dirinya ini kejam, dia harus mempertahankan reputasi seorang putri yang baik hati.


‘A-aku harus meluruskan kesalahpahaman ini—‘


“Dorothy tunggu seben—“


Namun melihat Dorothy mata Dorothy yang berbinar dan bersemangat, Luminas mengurungkan niatnya.


“A-ah tentu-tentu. Mohon bantuannya di masa depan ya, Dorothy,”


“BAIK! TUAN PUTRI!”


Luminas bingung bagaimana cara menanggapi Dorothy yang begitu bersemangat, ia menjadi gugup dan menampilkan senyum yang kikuk.


.


.