
[Satu hari yang lalu, tempat latihan rahasia milik Selena]
Setelah melepaskan sihir pedang es, Luminas jatuh berbaring di lantai. Sambil melihat langit-langit ruangan, ia tenggelam dalam pikirannya.
‘Jika menggunakan aura dan pedang sihir secara bersamaan memungkinkan... Lalu apakah mungkin menggunakan mantra lain ketika sedang menggunakan sebuah mantra?’
Luminas kemudian bangkit dan berdiri. Ia kemudian ingin mencoba sesuatu yang terbesit di kepalanya.
“”[Ice Blade]””
Sebuah pedang es terbentuk di tangan Luminas.
“”[Wind Step]””
Ketika mengatakan hal tersebut Luminas merasakan kakinya melayang di udara.
‘Lalu...’
“”[Wind Cutter]””
Setelah mengucapkan mantra terakhir, Luminas langsung melesat ke arah depan dan bergerak dengan sangat cepat dan tanpa suara mengelilingi ruang latihan tersebut.
Angin-angin tampak berkumpul dan bergemuruh di pedang es yang ia buat. Ia kemudian menebaskan pedang esnya ke udara kosong.
*SLASHSLASHSLASH!
Ketika ia mengayunkan pedangnya, angin-angin tajam terbentuk dari pedang ia tebaskan di udara. Angin-angin tersebut tampak seperti sebuah lengkungan tajam yang dapat memotong apa pun yang dilaluinya. Angin-angin tajam tersebut ikut berembus setiap kali Luminas mengayunkan pedang esnya.
Setelah melihat hasilnya, Luminas menghentikan semua mantra miliknya, termasuk pedang es yang ia pegang ikut menghilang. Luminas lalu berbaring kembali di lantai, sambil menatap langit ia tersenyum. Ia merasa senang ketika rencananya berhasil dengan sukses
.
.
Di terik matahari yang menyengat pada saat itu, terlihat Javier sedang berlari di lorong menuju tempat latihan. Pada saat itu Javier sedang bertugas untuk berpatroli di kediaman Selena.
Namun ketika ia mendengar suara sorak-sorai yang terdengar keras berasal dari tempat latihan ini, dia bersama beberapa ksatria berlari menuju tempat latihan. Ia merasa bingung ketika melihat Luminas sedang berdiri di hadapan seorang pria yang tengah terkapar dan pria tersebut terlihat familier di mata Javier.
‘... Bukankah itu Arga?’
Awalnya Javier tidak menyadari apa yang sedang terjadi, namun setelah ia menanyakannya pada salah satu orang yang berada di arena tersebut dia terkejut dan tidak bisa menutup mulutnya.
“APA?!! TUAN PUTRI BERDUEL DENGAN ARGA DAN BERHASIL MENANG DARINYA?!”
Saat mendengar hal tersebut tubuh Javier mendadak terkulai lemas dan hampir jatuh ke lantai. Ia kemudian ditopang oleh seorang ksatria yang berlari ke tempat latihan bersamanya.
“K-Kapten, kamu tidak apa-apa?!”
Para ksatria yang datang bersama Javier terlihat panik karena melihat kapten mereka yang tiba-tiba menjadi lemas.
“A-aku tidak apa-apa. Aku hanya terkejut bahwa Tuan Putri berhasil menang ketika bertanding dengan Arga,”
Javier mencoba menguasai dirinya dan mulai untuk berdiri.
‘Tuan Putri, Anda benar-benar....’
‘LUAR BIASA... SEPERTINYA ANDA MEMANG REINKARNASI DARI PERMAISURI ARIA!’
Javier menatap Luminas dengan mata yang berbinar dan penuh kekaguman, sifat sebagai penggemar berat Permaisuri Aria muncul.
Ketika sedang senang dan sibuk dengan pemikirannya mengenai Luminas yang merupakan reinkarnasi Permaisuri Aria, Javier tiba-tiba menyadari Scott yang kini berhadap-hadapan dengan Luminas.
‘Hm? Apa yang senior lakukan di situ?’
Javier kemudian bertanya kepada seseorang yang sedang berada di pinggir tempat latihan itu.
“Apa yang sedang dilakukan oleh Kapten Scott? Oh, Tuan Putri menantangnya untuk berlatih tanding dan Kapten Scott menyetujuinya,”
“Jadi, Kapten Scott akan bertarung dengan Tuan Putri,”
Javier mengangguk paham.
“A-APA?! TUAN PUTRI DAN SENIOR AKAN BERTARUNG?!”
Javier terlambat terkejut, ia secara tiba-tiba terkulai lemas lagi, dan Ksatria yang bersamanya kembali menopangnya.
Masih dalam keadaan ditopang oleh seorang ksatria Javier berpikir,
‘Apa yang sebenarnya ada di pikiran mereka berdua?!’
Javier merasa emosi, ia menjadi kesal karena semua orang kuat di kediaman ini tidak ada yang waras.
‘Dari Yang Mulia Ratu Selena, Kepala Pelayan James, sampai Senior Scott, semuanya tidak ada yang waras kecuali aku... Kenapa aku harus ditempatkan di tempat ini?!’
Javier menggaruk-garuk kepalanya karena merasa sangat frustrasi. Ia benar-benar berpikir bahwa dia adalah satu-satunya yang waras di sini. Namun ia sendiri tidak menyadari, bahwa semua orang di kediaman ini menyebut Javier seorang penggemar maniak Permaisuri Aria yang tidak waras.
Javier yang sedang merasa frustrasi terkejut, ketika secara tiba-tiba Scott menunjuk ke arahnya tanpa menengok sedikit pun. Ia merasa bingung dan tidak tahu Scott menunjuk ke arah siapa sampai Scott menyebut namanya.
“Javier, aku tahu kamu berada di situ. Jadilah wasit dalam pertarungan kali ini,”
Javier yang mendengar hal tersebut langsung berjalan menghampiri Scott.
“Senior, apa maksudmu?! Kenapa aku harus menjadi wasit dari pertarungan ini? Dan kenapa juga kau bertarung dengan Tuan Putri?! Apakah kau sudah benar-benar tidak waras?!”
Javier berteriak memprotes kepada Scott, ia merasa bahwa kejadian ini tidaklah benar. Apalagi ketika Scott memintanya untuk menjadi wasit, yang artinya ia ingin Javier terlibat dalam kekacauan yang ia buat.
“Jangan khawatir, ini merupakan permintaan dari Tuan Putri,”
“Aku tahu ini adalah permintaan Tuan Putri! Tapi sebagai seorang Ksatria Aura tingkat puncak, mengapa senior menerima duel tersebut?!”
Javier masih memprotes dan menanyakan alasan Scott menerima tantangan duel dari Luminas.
“Tidak perlu khawatir Javier, Tuan Putri saat ini sudah sangat berbeda. Ia mengalahkan Arga bukanlah sebuah kebetulan,”
“!!!”
Javier terkejut dengan perkataan Scott, ia juga mengetahui bahwa Arga merupakan seorang ksatria yang memiliki bakat hebat di kediaman ini, apalagi sekarang Arga merupakan seorang Ksatria Aura tingkat menengah. Sehingga ketika ia mendengar bahwa bukan kebetulan jika Luminas mengalahkan Arga, ia tentu sangat terkejut.
“Apakah itu berarti Tuan Putri?!”
“Ya, ia sudah menjadi seorang Ksatria Sihir sama seperti Yang Mulia Ratu,”
Mendengar hal tersebut, Javier terdiam. Ia mengepalkan tangannya erat-erat dan berpikir untuk sesaat.
“Baiklah, kalau begitu aku akan menjadi wasit dalam pertarungan ini,”
Scott yang mendengar kesediaan Javier sebagai wasit merasa senang.
“Bagus, kalau begitu Tuan Putri, apakah Anda siap? Jika belum, maka saya akan menunggu,”
Meskipun Scott mengatakannya dengan sopan, namun nada yang ia gunakan terdengar mengejek.
“Kapan pun, Kapten Scott,”
Luminas tersenyum penuh percaya diri.
‘Hm? Apakah dia tidak terprovokasi? Sangat bagus..’
Scott tersenyum lebar memikirkan Luminas sudah begitu hebat di usianya yang dini, ia tidak bisa membayangkan seperti apa dirinya ketika dewasa kelak.
“Kalian berdua, berdiri di sisi masing-masing,”
Scott dan Luminas mulai menjauh dan berdiri di sudut yang berseberangan.
“Bersiap,”
“MULAI!!!”
Saat Javier memberikan tanda, Scott langsung bergerak dengan sangat cepat.
Ia melihat Luminas yang masih berdiri diam di tempatnya dan merasa bingung dalam sejenak. Ia pun memutuskan untuk tidak memedulikan hal tersebut dan memutuskan untuk lanjut menyerang.
‘Sedikit lagi... Sedikit lagi...’
Luminas terus mengulangi kata tersebut dalam pikirannya, meski Scott semakin mendekat ia tetap tidak bergerak satu langkah pun dari tempatnya berdiri.
‘Sekarang!!’
Dalam sekejap, Luminas yang diam di tempat tiba-tiba saja berada di depan Scott. Ia mengayunkan pedang yang ia alirkan dengan aura lalu menyerang Scott dengan pedang kayunya.
Scott yang tidak melihat Luminas bergerak, tidak bisa menanggapi serangan dari Luminas dan akhirnya terkena serangan telak. Namun dalam sesaat, Scott berhasil memindahkan sedikit aura miliknya ke area yang terkena serangan dan berhasil mengurangi dampaknya.
‘Heh! Apakah dia tidak bergerak untuk menungguku masuk ke dalam jangkauan serangannya? Boleh juga!’
Scott tersenyum meskipun terkena serangan dari Luminas. Merasa serangannya telah gagal, Luminas memutuskan untuk mundur dengan cepat dan menjaga jaraknya.
Namun Scott tidak membiarkan hal tersebut terjadi, ia memusatkan aura di kakinya dan bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Dalam sekejap, jarak antara Luminas dan Scott tertutup. Scott lalu mengayunkan pedang miliknya ke arah Luminas yang sedang mundur.
Luminas dengan sigap dapat menangkis serangan tersebut, namun dampaknya menyebabkan ia terpukul mundur lebih jauh dan kehilangan keseimbangan tubuhnya.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Scott melanjutkan serangannya dan membuka teknik pedang miliknya. Sword mengubah caranya memegang pedang, ia memegangnya dengan dua tangan seperti sedang memegang sebuah kapak, dan mengayunkan pedangnya secara horizontal.
[Scott Sword Technique, Cut The Tree]
Sebuah serangan horizontal yang membentuk sebuah lintasan melengkung mendarat pada Luminas. Meski ia sempat menangkisnya dengan pedang miliknya, ia jadi terdorong ke samping dan terpental sambil berguling.
Luminas yang terpental sedang berusaha untuk menguasai dirinya untuk mengembalikan keseimbangan. Ia berguling sekali ke belakang dan melompat untuk mengembalikan posturnya yang telah rusak.
Luminas yang telah berdiri kembali melihat Scott yang sedang bergerak dengan cepat menuju ke arahnya, Scott benar-benar tidak memberikan sebuah Luminas peluang untuk menyerang.
Untuk mengantisipasi serangan dari Scott, Luminas berpikir dengan cepat, ia berusaha menemukan jalan keluar terbaik dari situasi saat ini. Hasil dari berpikir singkat tersebut adalah menyerang Scott dengan sihir dari jarak jauh.
Tanpa berlama-lama, Luminas sambil bersiaga dengan pedangnya, lalu mengulurkan satu tangannya ke arah Scott.
“”[Mound Land]””
Scott terkejut ketika secara tiba-tiba tanah tempatnya berpijak menjadi retak dan bergejolak tidak stabil. Scott yang sedang bergerak dengan cepat menjadi kehilangan keseimbangan akibat tanah yang tiba-tiba naik mengacaukan langkah kaki Scott. Ia mengembalikan keseimbangannya miliknya dan juga menghindari gundukan-gundukan tanah tersebut dengan melompat tinggi ke udara.
Melihat Scott yang sedang berada di udara, Luminas tersenyum karena rencana yang ia buat telah berhasil.
“”[Combination]””
“”[Water+Wind Arrow]””
Sekumpulan panah tiba-tiba saja muncul di sekitar Luminas. Panah tersebut tampak terbuat dari air, namun di sekitarnya terdapat angin yang memperkuat panah air tersebut.
Luminas mengulurkan tangannya ke udara, mengarah ke arah Scott berada. Dalam sekejap, panah-panah yang berada di sekitar Luminas melesat maju dengan sangat cepat menuju Scott yang masih berada di udara.
*SYUNGSYUNGSYUNG!
Puluhan panah air yang diperkuat dengan sihir angin datang menghujani Scott. Ia yang masih berada di udara tidak dapat menghindari serangan dari Luminas dan terpaksa menerimanya begitu saja.
Ia lalu menyilangkan tangannya dan membuat sebuah penghalang yang terbuat dari aura untuk membungkus dirinya seperti sebuah cangkang. Serangan sihir yang dilancarkan Luminas sangat kuat, sampai-sampai penghalang aura milik Scott tampak penuh lubang.
“Wah, apa-apaan itu sihirnya? Apakah itu sebuah mantra? Kuat sekali,”
Scott merasa kagum dan takjub, sekaligus merasa ngeri dengan Luminas. Ia melihat sekeliling penghalang yang berlubang hanya dengan satu mantra sihir dari Luminas. Penghalang yang digunakan Scott sebenarnya cukup kuat, bahkan bisa menahan satu serangan dari seorang master aura. Namun semua itu tetap dapat ditembus oleh mantra yang digunakan Luminas tadi.
Setelah tersadar dari kekagumannya Scott baru sadar, bahwa ia ketika menerima serangan tersebut terdorong semakin jauh ke atas langit. Dari jarak ini, ia merasa semakin sulit untuk turun ke daratan.
Scott kemudian terjun menukik ke bawah sambil memusatkan auranya ke arah dia menukik. Ia menggunakan aura untuk menambah berat tubuhnya dan mempercepat kecepatan turun sampai ke bawah.
Melihat hal tersebut, Luminas tiba-tiba terpikirkan tentang hal yang ia coba lakukan di tempat latihan kemarin. Luminas sekali lagi mengulurkan tangannya ke depan, dan mengeluarkan sebuah mantra yang sama.
“”[Water+Wind Arrow]””
Puluhan panah air yang diperkuat dengan sihir angin sekali lagi melesat dengan cepat ke arah Scott yang masih mencoba turun dari udara. Scott pada kali ini juga membentuk sebuah pelindung yang terbuat dari aura miliknya.
Namun ada suatu hal yang berbeda dari serangan Luminas, hal tersebut adalah arah serangan panah tersebut mengarah. Pada serangan kali ini Luminas mengendalikan puluhan panah tersebut dengan lihai, dan memusatkannya di satu titik. Dengan kata lain, seluruh serangan tersebut akan mendarat di satu titik yang sama.
Hal tersebut Luminas pelajari ketika ia sedang berlatih di ruangan rahasia tersebut. Ia berusaha melubangi batu yang berada di ruangan rahasia dengan memusatkan semua serangan sihirnya.
Pada awalnya serangan Luminas tidak benar-benar mengarah ke satu titik, namun ia terus berlatih dan mengulanginya sehingga panah-panah tersebut kini semakin akurat.
Pada awalnya Scott mengira bahwa Luminas kali ini akan menyerang dirinya dengan cara yang sama, karena ia merasa bahwa serangan ini efektif tentu saja ia akan mengulanginya jika bisa. Namun Scott mulai menyadari sesuatu ketika semua panah tersebut menghantam penghalang miliknya pada titik yang sama.
Pada awalnya ia berpikir bahwa itu adalah kebetulan dan mulai memperkuat penghalang miliknya dengan memusatkan aura miliknya ke arah serangan tersebut mengarah. Namun sebelum perisai aura tersebut benar-benar matang, perisai milik Scott ditembus dan hancur karena dihantam dengan panah sihir secara terus-menerus.
Scott sekali lagi dikejutkan oleh Luminas. Caranya dalam mengontrol sihir sungguh brilian. Di momen yang singkat ini, ia bahkan dapat menemukan cara untuk menembus penghalang yang dimiliki oleh Ksatria Aura.
Scott telah kehabisan kata-kata, kali ini ia benar-benar tidak bisa bertahan maupun menghindar. Panah-panah yang masih tersisa menghujani tubuh Scott tanpa ampun.
*BAMBAMBAM!
Panah -panah tersebut meledak menghasilkan sebuah ledakan yang diciptakan oleh kombinasi angin dan air.
Gumpalan asap uap mengepul di sekitar Scott hingga menutupi seluruh tubuhnya. Setelah beberapa saat, dari balik kumpulan uap tersebut Scott tampak compang-camping dan penuh luka jatuh dari ketinggian tanpa daya.
Sebelum serangan tersebut mengenai dirinya, dengan kekuatan yang tersisa ia membentuk sebuah tabir aura tipis yang menyelimuti tubuhnya untuk mengurangi dampak serangan. Namun hal tersebut hanya dapat meredam sedikit kerusakan yang disebabkan oleh sihir Luminas.
Namun ketika tubuh Scott hendak menyentuh tanah, ia tiba-tiba saja mengembalikan keseimbangannya dengan berputar dan menapakkan kaki miliknya ke tanah. Setelah ia mendarat dengan stabil, tanpa menunggu lama Scott langsung melesat ke arah Luminas.
Scott tidak berniat kalah begitu saja dalam pertarungan kali ini, meskipun ini hanya sebuah latih tanding, tetapi anehnya ia merasa bahwa ia tidak boleh kalah. Scott sekali lagi mengayunkan dan menyerang Luminas dengan pedang miliknya.
*WUSWUSWUS!
Serangan yang dilancarkan oleh Scott tidak lagi memiliki sebuah teknik khusus, serangan tersebut hanya berupa kekuatan dan kecepatan yang diarahkan oleh instingnya. Namun meski serangan tersebut sangat cepat dan kuat, Luminas dengan terampil masih dapat menghindari semua serangannya. Ia juga sambil beberapa kali menangkis dan menyerang balik Scott yang tampak sedang mengerahkan kekuatan terakhirnya.
Tidak ingin mengecewakannya, Luminas menerima tantangan dari Scott dan menyerang balik Scott dengan kekuatan aura miliknya. Pada awalnya Luminas dan Scott memiliki kekuatan aura yang jauh berbeda sehingga Luminas memutar otaknya untuk melawan Scott.
Namun pada saat ini Scott telah melemah, ia juga sedang dikendalikan dengan instingnya, dan tidak ada sebuah teknik khusus. Scott yang sekarang bukanlah sebuah ancaman serius untuk Luminas.
*BAMM!
Suara keras terdengar saat kedua pedang mereka yang sedang diselimuti aura saling menghantam. Aura milik mereka berdua saling berselisih dan tampak menciptakan sebuah percikan yang cukup memesona.
Angin kuat tampak berembus dari mereka berdua ketika setiap kali pedang mereka saling bertabrakan. Pedang mereka saling menghantam dan mendorong dengan kuat, aura milik mereka saling beradu dan menciptakan sebuah riak yang cukup besar di tanah.
Para penonton juga merasakan dampak dari pertarungan mereka berdua yang terus-menerus saling bertukar serangan dan beradu pedang tanpa ada yang mau mengalah. Mereka semua terkesima dengan pertunjukan adu kekuatan yang ditampilkan oleh mereka.
Mereka terus-menerus saling menghantam, tidak ada tanda-tanda dari mereka berdua untuk segera berhenti. Scott yang sudah kehilangan akalnya dan mengerahkan seluruh kekuatannya membuat Luminas ikut memanas.
Mereka berdua saling menyerang dengan ganas. Namun sayangnya waktu tidak berpihak kepada Scott, ia mulai memperlihatkan kelelahannya.
Ia merasa pandangannya mulai buram, tangannya terkulai lemas, dan tubuhnya seperti akan tumbang kapan saja. Luminas yang melihat Scott yang telah kehilangan kekuatannya, ia memusatkan seluruh kekuatannya ke kaki lalu menerjang maju ke arah Scott. Ia mengayunkan pedang miliknya dengan kuat ke arah pergelangan tangannya.
Scott yang diserang di area pergelangan tangan, tidak bisa memegang pedang miliknya lagi. Pedang tersebut terlepas dan terpental ke udara. Luminas yang melihat Scott sudah tidak memegang pedang miliknya lagi langsung menyerang tubuh Scott tanpa ampun seperti sebuah karung tinju.
Scott bertahan lebih lama dari dugaan Luminas, ia tak menyangka bahkan meskipun sudah diserang seperti ini selama beberapa waktu ia masih berdiri dan belum tumbang.
Luminas mengagumi tekad milik Scott yang mencoba terus bertahan meskipun di situasi yang putus asa. Namun sekuat apa pun tekad milik Scott, tubuhnya sudah tidak bisa berbohong lagi. Scott akhirnya tumbang setelah Luminas memukulinya sampai ia benar-benar kelelahan.
“”WAAAAAAAHHHH!!!!””
Para penonton berseru melihat duel yang sangat menakjubkan tersebut. Meskipun mereka bersorak atas kemenangan Luminas, tetapi mereka juga mengagumi dan mengapresiasi Scott yang menunjukkan tekad ksatria miliknya.
.
.