Themis, The Flower of Justice

Themis, The Flower of Justice
Chapter 19 — Permulaan Perang



[Dua tahun kemudian, Hutan 'Nema', Kerajaan Medeia]


Di kegelapan malam hutan Nema, dari kejauhan terlihat sebuah rombongan prajurit yang tengah melintasi hutan melalui sebuah jalan setapak. Para prajurit tersebut mengenakan baju besi lengkap yang berwarna hitam legam, dibalut kegelapan malam, mereka semua tampak menyeramkan.


Di belakang rombongan, beberapa prajurit infanteri memegang bendera dengan simbol jaguar hitam, dan juga sebuah bendera berwarna merah dengan simbol matahari berwarna emas di tengahnya, itu adalah lambang kerajaan Medeia.


Di tengah rombongan tersebut terdapat sebuah kereta kuda berwarna merah tua dengan corak emas dan beberapa simbol matahari. Beberapa kavaleri tampak mengelilingi kereta tersebut seolah mereka melindunginya.


Dan di depan rombongan terdapat seorang pria bertubuh besar dengan otot-otot yang mencuat meski ditutupi oleh baju besi, ia juga mengendarai seekor kuda hitam besar yang tampak selaras dengan pria yang menungganginya.


Pria tersebut diiringi oleh beberapa ksatria yang menunggangi kuda, mereka semua tampak berjalan selaras dengan kecepatan pria bertubuh besar tersebut dan tidak melewatinya.


“Yang Mulia Duke,”


Seorang ksatria yang memiliki rambut coklat terang datang menghampiri pria tersebut.


“Ada apa Chris?”


“Setelah melewati hutan Nema, kita akan sampai di kota terdekat dari ibu kota, Kota Golda. Mungkin jika kita terus berjalan dengan kecepatan ini dan singgah sebentar, maka kita akan sampai di ibu kota saat fajar,”


“Hmmm...”


Pria bertubuh besar yang dipanggil Duke oleh Chris menatap lurus ke depan sambil mengelus dagunya.


“Percepat kecepatan, kita akan melewati Kota Golda,”


“Apa? Tapi Yang Mulia, bukankah kita akan ke ibu kota? Mengapa kita tidak singgah di Kota Golda terlebih dahulu?”


Ksatria yang dipanggil Chris tersebut memprotes.


“Kita memang akan ke ibu kota, tapi kita akan ke sebelah selatan ibu kota,”


“Sebelah selatan ibu kota? Kalau begitu....”


“Ya, kita akan menuju ke kediaman Ratu Selena,”


.


.


[Kediaman Selena, Ibu Kota Kerajaan Medeia]


Dua tahun telah berlalu semenjak duel antara Luminas dan Dorothy. Kini Luminas berusia delapan tahun.


Sehari setelah Luminas dan Dorothy berduel, Selena memutuskan untuk membolehkan Luminas belajar berpedang, dan orang yang bertanggung jawab atas melatih Luminas dalam berpedang adamah adalah orang kepercayaan Ratu Selena, Kapten Ksatria Scott.


Mendengar pengumuman tersebut, seisi kediaman menjadi gaduh. Hal tersebut dikarenakan mereka tak menyangka bahwa Selena akan membuat putrinya sama seperti dirinya, seorang Ksatria Sihir.


Mereka memang menduga bahwa Putri Luminas sangat berbakat dalam bidang sihir, namun mereka tidak menyangka bahwa bakat Luminas akan diarahkan ke dalam bidang Ksatria Sihir. Mereka tidak tahu apakah keputusan ratu mereka mengenai hal tersebut benar atau salah.


Tentu saja hal tersebut masih di rahasiakan di sekitar kediaman Selena dan belum disampaikan ke istana kerajaan. Jika mereka mendengar hal tersebut mungkin mereka akan menentang Selena dan menyuruh Luminas untuk berfokus dalam bidang sihir. Mereka akan membuat Medeia melahirkan penyihir terkuat seperti pemimpin Menara Sihir.


Tentunya orang yang bersangkutan juga merasa tidak senang akan hal tersebut. Namun hal yang membuatnya tidak senang bukanlah mengenai hal tersebut, tetapi mengenai bahwa jadwalnya akan semakin sibuk.


“Haah.... Dua tahun terakhir sulit sekali... Siapa yang menyangka bahwa kehidupan seorang gadis kecil akan sesibuk ini?”


Luminas menghela nafas panjang.


‘Aku tidak mengerti mengapa semua orang heboh mengenai perihal Ksatria Sihir...’


Luminas tengah duduk di tepi kolam besar sambil menatap ke langit dan menggoyangkan kedua kakinya.


Dalam dua tahun terakhir Luminas mengalami kehidupan yang sangat sibuk, selepas pengumuman tersebut Luminas memiliki jadwal yang padat, dan waktu istirahatnya pun berkurang.


‘Sudah delapan tahun aku di dunia ini... Sungguh kehidupan yang damai,'


Luminas tersenyum tipis sambil memandang bayangan dirinya yang terpantul di air.


‘Sungguh tidak bisa dibandingkan dengan kehidupanku yang sebelumnya'


Mengingat kehidupannya yang dulu, ekspresi Luminas menjadi berat. Perang yang dialaminya semasa kecil, ditambah menjadi boneka dari organisasi yang telah menaunginya, ia telah dibuat sangat menderita.


Namun saat ini kehidupannya telah berubah. Ia telah mati saat itu dan terlahir kembali sebagai seorang putri raja, kehidupannya sangat berbanding terbalik dibanding kehidupannya yang lalu. Saat ini ia merasa cukup bahagia, dengan seorang ibu yang penyayang, ditambah dengan seorang teman yang ceria, telah mewarnai jiwanya yang muram.


Menjalani kehidupan seperti ini, ia selalu bertanya-tanya, apakah ia layak menerima kehidupan yang seperti ini? Apakah ini bayaran atas penderitaan yang dialaminya di kehidupannya yang sebelumnya? Atau mungkin apakah ada tujuan tersembunyi dibalik kelahirannya di dunia ini?


Awalnya ia merasa ragu, namun setelah peristiwa yang dialaminya belakangan ini, tekadnya menjadi semakin bulat. Ia memutuskan bahwa dirinya akan melindungi kehidupannya di dunia ini.


‘Jika memang kehidupanku di dunia ini terdapat ada yang harus ia lakukan, maka apa pun itu akan kulakukan. Demi orang-orang yang kusayangi di sini, demi kehidupan damai yang hampir tak pernah kurasakan, aku akan melindungi semuanya. meskipun harus ...’


“Tuan Putri!!”


Ketika Luminas tenggelam dalam pikirannya, terdengar suara seorang gadis memanggilnya.


Seorang gadis remaja dengan rambut merah panjang yang tergerai tengah berlari ke arah Luminas terlihat, ia adalah Dorothy.


Setelah kekalahannya dari Luminas, Dorothy berlatih dengan sangat keras. Ia terus-menerus melatih fisik dan tekniknya tanpa mengenal waktu, entah itu musim panas atau hujan, musim dingin atau musim semi, ia tak pernah sekalipun berhenti berlatih.


Namun berkat hal tersebut, perkembangan fisik Dorothy menjadi lebih baik. Otot di tubuhnya menjadi padat, yang menyebabkan jalur aura di tubuhnya terbuka sedikit demi sedikit. Sehingga mungkin dalam beberapa tahun, ia sudah diperbolehkan untuk belajar menyerap dan mengendalikan aura.


Selain itu, penampilannya juga menjadi lebih cantik. Tubuhnya menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan kebanyakan wanita pada umumnya..


“Tuan Putri!!!”


Melihat Luminas yang menengok ke arahnya, ekspresi Dorothy menjadi cerah. Sifatnya sangat sederhana, hanya dengan melihat Putri Luminas yang ia layani, ia menjadi senang.


Dorothy kemudian mempercepat kecepatan berlarinya dan jatuh tersandung sebuah batu.


“Aduh!!”


Melihat kecerobohan Dorothy, Luminas menggelengkan kepalanya. Meskipun penampilan Dorothy menjadi lebih dewasa, namun sifat kekanak-kanakannya masih tidak berubah.


Sebuah senyuman tipis terlukiskan di wajahnya, ia juga senang melihat sifat Dorothy yang tak pernah berubah dari semenjak mereka pertama kali bertemu.


Luminas menghampiri Dorothy yang tengah terjatuh, lalu ia mengulurkan tangannya.


“Kau tidak apa-apa Dorothy?”


“Ah!”


Dalam sekejap Dorothy langsung bangkit berdiri seperti semula, seakan-akan ia tidak pernah jatuh sedikit pun.


“.... Dorothy,”


“Ya, Tuan Putri!”


“Apakah kamu mengabaikan pertolonganku?”


Luminas melirik ke arah tangannya yang masih terulur untuk menolong Dorothy.


“Ah! Maafkan saya Tuan Putri, tapi saya tidak layak untuk menerima pertolongan Anda! Lagi pula, saya juga tidak ingin mengotori tangan Anda yang lembut itu!”


‘.... Tangan lembut?’


“Ah.. begitu?”


“Ah! Maafkan perilaku tidak sopan saya! Kalau begitu biar saya mengulangi kejadian saya jatuh sehingga Anda bisa—“


Dorothy membungkukkan tubuhnya berulang-kali, ia juga berniat untuk mengulang adegan ketika dia jatuh.


“B-benarkah? Kalau begitu—“


“Ya, Dorothy. Kalau begitu, ada keperluan apa yang membuatmu begitu tergesa-gesa untuk menemuiku?”


“Oh! Tuan Putri, Yang Mulia Ratu Selena memanggil Anda,”


“Memanggilku?”


“Ya, tampaknya beliau memiliki hal penting untuk dibicarakan kepada Anda,”


‘.... Hal penting?’


“Kalau begitu, apakah kamu tahu apa yang akan disampaikan oleh ibuku?”


“Maafkan saya Tuan Putri, tetapi saya tidak mengetahui hal tersebut,”


“..... Begitu”


Luminas sedikit menunduk dan mengelus dagunya.


“Oh ya, Tuan Putri, aku tidak tahu apakah ini ada hubungannya atau tidak dengan hal tersebut, tetapi saya melihat gerombolan orang datang dari istana kerajaan”


“Istana kerajaan?”


“Ya, saya tidak mengerti tentang hal tersebut namun tampaknya yang datang adalah salah satu orang penting dari istana, mengingat banyaknya prajurit yang mengiringinya,”


“.... Apakah kamu mengetahui identitas orang istana kerajaan tersebut,”


“Saya tidak terlalu mengerti, namun tampaknya orang tersebut dipanggil Duke Ludwig Dynema?”


.


.


Di kediaman Selena Argaient yang damai, matahari menyingsing, menandakan pagi hari datang dan berakhirnya tugas para prajurit yang berjaga pada malam hari. Para prajurit yang bertugas di malam hari tersebut menguap lalu ia meregangkan tubuhnya.


“Bang Berry!”


Seorang prajurit datang dari tembok kastil, tampaknya ia adalah seorang prajurit yang bertugas saat ini menggantikan prajurit yang bertugas di malam hari.


“Ah, Ary. Rupanya kali ini giliranmu ya!”


“Kerja bagus karena telah menjaga kediaman ini di malam hari, Bang!”


“Hahaha, apa maksudmu? Meskipun kediaman ini berada di luar ibu kota, tetapi kediaman ini sangat damai tahu! Hahaha!


Prajurit yang dipanggil Berry tersebut tertawa keras.


Kediaman Selena, termasuk dalam wilayah ibu kota, tetapi letaknya cukup jauh dari tembok yang mengelilingi ibu kota. Kediaman Selena berada di sebelah selatan ibu kota, berseberangan dengan hutan yang mengarah ke perbatasan dengan kerajaan suci.


Di tembok yang menghadap Hutan Nema, kediaman Selena berhadapan dengan perbatasan yang mengarah ke Kerajaan Lyberion. Namun di seberang Hutan Nema terdapat Dukedom Dynema yang memiliki banyak kota militer, juga ada kota industri Golda.


“Kalau begitu Ary, selamat menjalankan tugas ya! Abang pergi dulu!”


“Ya, Bang! Hati-hati!”


Sebelum prajurit yang dipanggil Berry itu pergi, ia merasakan tanah tempatnya berpijak sedikit bergetar.


“Ary, apakah kau merasakan bahwa tanah sedikit bergetar?”


“Bergetar? Tidak tuh?”


Ketika mereka berdua saling berbicara, tiba-tiba saja seorang prajurit berteriak dengan keras sambil menunjuk ke arah hutan.


“Lihat! Lihat ke arah hutan!”


Dari arah hutan terlihat kepulan asap yang naik ke langit. Ketika kepulan asap tersebut semakin mendekat, suara kaki kuda terdengar, dan getaran di tanah terasa semakin kuat.


“B-bang Ber, a-apa itu?”


“A-aku juga tidak tahu,”


Ketika suara dan getaran tersebut semakin mendekat, dari kejauhan terlihat rombongan ksatria berbaju besi lengkap berwarna hitam tengah mengendarai kuda menuju ke kediaman Medeia.


Para prajurit yang melihat ksatria berkuda tersebut ketakutan, para ksatria tersebut tampak mengenakan perlengkapan yang lengkap seolah-olah mereka sedang menuju medan perang.


Namun setelah mendekat beberapa saat, para prajurit yang memegang bendera yang berlambang serigala dan matahari terlihat. Para prajurit merasa lega mengetahui bahwa prajurit tersebut adalah ‘Ordo Ksatria Black Panther’, Ordo Ksatria terkuat setelah Ordo Ksatria Istana Golden Sun.


“I-itu adalah—“


“”Duke Ludwig Dynema!!!””


Mereka semua berseru ketika melihat seorang pria bertubuh besar yang memimpin ordo ksatria tersebut. Duke Ludwig Dynema adalah seorang ksatria terkuat kedua setelah Raja Elios Von Medeia. Dia adalah seorang ksatria yang memimpin para prajuritnya menghadapi Kerajaan Lyberion dengan luar biasa.


Ketika para prajurit di atas dinding sedang mengagumi pemandangan Black Panther Knight Order, sekelibat helaian rambut putih perak terlihat di depan mata mereka.


““Y-Y-YANG MULIA RATU!!””


Ketika mereka menyadari identitas rambut perak yang lewat, mereka berseru. Mereka terkejut ketika melihat ratu mereka sedang berdiri di depan mereka tanpa mereka sadari sambil memandangi Ordo Ksatria Black Panther.


Selena yang mendengar teriakan para prajuritnya berbalik ke arah mereka dan tersenyum. Lalu ia berbalik ke depan dan turun dari atas dinding kastel.


Ludwig Dynema yang melihat Selena dari kejauhan menyeringai.


Ia tiba-tiba saja menghilang dari atas kudanya dan melesat sendirian ke arah Selena.


Selena yang melihat Ludwig yang mendekat tersenyum lebar dan ikut melesat ke arah Ludwig.


Mereka berdua sangat cepat, jalur yang dilalui mereka berdua penuh dengan asap debu, dan di tanah tempat mereka berpijak terlihat jejak kaki yang dalam dan penuh retakan.


“SELENA!!!”


“PAK TUA!!!”


Mereka berdua memusatkan kekuatan aura di kepalan tinju mereka dan—


*BAMMMM


Ketika tinju mereka berbenturan, angin kuat berhembus dari arah mereka. Riak besar di tanah tercetak hanya dengan gelombang aura dari pukulan mereka berdua. Walau para prajurit berada cukup jauh dari mereka berdua, namun para prajurit tetap merasakan dampak angin kuat yang mendorong mereka ke belakang.


Setelah mereka selesai bertukar satu pukulan, mereka berdua langsung melompat dan menjaga jarak.


“Sudah lama, Pak Tua,”


“Haha, kau ini semakin tidak sopan saja. Apakah bertambahnya usiamu membuatmu semakin banyak bicara seperti kebanyakan wanita tua?”


“Ha, sepertinya kau mau mati,”


Meskipun mereka saling tertawa, wajah mereka mengatakan yang sebaliknya. Dan juga meski mereka saling mengejek tentang wajah tua, tidak satu pun dari mereka yang memiliki wajah tua. Sebaliknya, masing-masing mereka masih memiliki wajah seperti di awal 20 dan juga 30.


“Simpan ejekanmu, aku kemari sebagai Duke Dynema dan juga utusan Yang Mulia Raja,”


Ketika Duke Ludwig mengatakan hal tersebut, ekspresi mereka berdua berubah. Seakan ejekan dan wajah sarkastis mereka tadi tidak pernah ada.


.


.