
“”WAAAAAAAHHHH!!!!””
Para penonton berseru melihat duel yang sangat menakjubkan tersebut. Mereka semua terkesima dengan kekuatan yang ditunjukkan oleh Luminas, karena ia telah mengalahkan salah satu ksatria paling dihormati di kediaman ini.
‘Meski usianya masih muda, kekuatan yang ditunjukkan Tuan Putri Luminas luar biasa!’
‘Jadi ini generasi penerus dari Kerajaan Medeia? Sungguh, dengan keberadaan Tuan Putri di kerajaan ini, merupakan sebuah berkah!’
Mereka semua sangat gembira melihat potensi yang ditunjukkan oleh Luminas. Mereka beranggapan bahwa Luminas akan menjadi orang terkuat di kerajaan, tidak di seluruh dunia. Hanya masalah waktu sebelum Luminas menjadi yang terkuat.
Ketika mereka semua sedang terpaku dengan pemikiran mereka mengenai Luminas, dari kejauhan tubuh Luminas terlihat sedikit goyah. Namun tidak ada yang menyadari hal tersebut, bahkan termasuk Javier yang sedang berada di dekatnya.
Luminas merasa bahwa kini pandangannya mulai menjadi gelap, ia merasa tubuhnya kini tak bertenaga lagi. Merasa sudah tidak kuat menopang tubuhnya, Luminas langsung ambruk ke tanah.
“Tuan Putri?!”
“Tuan Putri, bangunlah!”
‘Aku.... Terlalu banyak memakai... Energi sihir...’
Sebelum ia benar-benar kehilangan kesadarannya, Luminas melihat orang-orang yang sedang menghampirinya terlihat panik. Namun sekeras apa pun mereka berteriak, Luminas tidak dapat mendengarnya. Kesadaran miliknya semakin buram, lalu ia terlelap.
.
.
[6 Hari Kemudian Setelah Selena Meninggalkan Kediamannya]
[Kastel Windsor]
Kastel Windsor merupakan sebuah istana besar, yang menjadi pertahanan garis kedua Medeia. Setelah Kota Arland, untuk melanjutkan penaklukannya Chronos harus menduduki Kastel Windsor terlebih dahulu.
Berbeda dengan Kota Arland, Kastel Windsor adalah sebuah benteng yang dikhususkan untuk menghadang serangan musuh. Di sekitar Kastel Windsor terdapat banyak benteng militer yang selalu bersedia mengirimkan bala bantuan ke Windsor.
Begitu juga kota di belakang Windsor adalah sebuah kota yang merupakan bagian dari Dukedom Argaient. Para penyihir dan juga prajurit dari Keluarga Argaient siap dikerahkan kapan pun menuju Kastel Windsor.
Sehingga menaklukkan Kastel Windsor bukanlah hal yang mudah bagi pasukan Chronos. Sebelum mereka menguasai Windsor, mereka harus terlebih dahulu menaklukkan seluruh benteng yang berada di sekitar Windsor, untuk menghindari gangguan yang akan disebabkan oleh benteng-benteng tersebut ketika sedang berusaha menaklukkan Windsor.
Selama enam hari belakangan, para pasukan Chronos telah bergerak menyerang benteng-benteng sekitar, dari 6 benteng yang berada di sekitar Windsor, 4 di antaranya sudah hangus menjadi abu.
Meski pertahanan Windsor kuat dan membentuk sebuah formasi dengan benteng-benteng sekitarnya, para pasukan Chronos sangat perkasa sehingga hal tersebut merupakan hal sepele bagi mereka.
Situasi dari Kerajaan Medeia tidak cukup baik, mereka menderita kerusakan yang cukup parah. Dalam proses penghancuran benteng tersebut, tidak ada satu pun prajurit yang selamat maupun dijadikan tahanan oleh pihak lawan. Mereka semua dibunuh secara keji oleh pasukan Chronos.
Kekejian para pasukan Chronos tersebut terdengar sampai ke telinga prajurit Medeia. Berita tersebut benar-benar menyulut kemarahan dari pasukan Medeia, banyak dari mereka yang bersumpah akan memusnahkan para prajurit Chronos meskipun mereka harus meregang nyawa.
Karena para prajurit yang tidak takut akan kematian, para prajurit Chronos menderita kerugian yang lebih parah dibandingkan dengan Medeia ketika sedang menaklukkan sebuah benteng. Para prajurit Medeia bertekad, meskipun mereka akan mati, setidaknya mereka harus membawa salah satu prajurit Chronos bersama mereka.
Meskipun mereka sudah bertekad untuk mati, situasi medan perang saat ini tetap tidak bagus. Di baris belakang, banyak sekali para prajurit yang terluka parah dan meninggal karena luka tersebut.
Dengan tubuh luka, mereka memandangi rekan mereka yang telah gugur lebih dahulu dari mereka dengan tatapan putus asa. Ia bahkan tidak bisa merasa bersyukur karena berhasil bertahan hidup di perang kali ini.
Di situasi perang yang suram ini dari kejauhan mereka mendengar secara samar-samar sebuah deru tapak kuda yang sedang menuju kemari. Karena suara tersebut berasal dari garis belakang, mereka tampak tenang karena akhirnya bala bantuan tiba.
Di garis depan ini selama beberapa hari terakhir ini, dikarenakan banyak sekali benteng yang hancur dalam satu waktu, Medeia cukup kesulitan dalam memberikan sumber daya. Meski sumber daya didukung oleh Dukedom Argaient, mereka tetap merasa kekurangan.
Hal tersebut dikarenakan formasi yang dibuat untuk membentuk sebuah pertahanan terhubung dari benteng-benteng sekitar memakan banyak sekali sumber daya. Mereka harus memastikan bahwa setiap benteng memiliki kekuatan militer, pangan, dan obat-obatan yang cukup dalam menghadapi pasukan Chronos.
Agar benteng tersebut tidak runtuh dengan mudah, tentu saja sumber daya akan terus dikirimkan dari Dukedom melalui Windsor. Meski begitu, keruntuhan benteng-benteng tersebut terlalu cepat sehingga Medeia juga kesulitan dalam mengelola sumber daya mereka.
Mereka memandangi kepulan asap yang dibuat oleh kuda dengan tatapan yang penuh harapan. Mereka berharap bahwa akan ada obat-obatan dan juga para prajurit yang menggantikan mereka menuju garis depan. Namun—
*DRAPDRAPDRAP!
Jika diperhatikan dengan saksama, yang muncul dari balik kepulan asap tersebut bukanlah sekutu mereka, melainkan musuh yang sedang bergerak ke arah mereka dengan sangat cepat.
Mereka semua terkejut dengan kehadiran musuh yang tiba-tiba muncul dari garis belakang. Apalagi garis belakang kini kekurangan kekuatan dikarenakan sebagian besar pasukan dikirim menuju garis depan. Kini yang tersisa di garis belakang hanya orang yang terluka atau bahkan sekarat, dan beberapa prajurit yang ditugaskan untuk menjaga yang terluka.
Mereka semua merasa putus asa ketika pasukan tersebut semakin mendekat. Apalagi jika orang yang memimpin pasukan tersebut adalah seorang pria botak dengan wajah yang menyeramkan, Farmith.
Farmith terkenal entah itu di prajurit sekutu maupun prajurit musuh. Ia dikenal sebagai anjing pemburu setia yang akan memburu mangsanya hingga mangsanya berhasil ditangkap atau mati. Meski dia hanya seorang ajudan belaka, kekuatan miliknya sangat kuat.
Kekuatan miliknya berada di atas ksatria aura tingkat puncak kebanyakan, juga ketenangan dan pertimbangan yang dimiliki oleh Farmith membuatnya dapat menyelesaikan semua tugas yang diberikan kepadanya.
“Bunuh mereka semua! Para master Medeia sedang diurus oleh para master kita digaris depan, jadi jangan khawatir dan bunuh mereka semua!”
“”WAAAA!!””
Kalimat yang diberikan oleh Farmith benar-benar menghilangkan ketakutan yang samar-samar ia rasakan dari mereka. Tentu saja mereka akan takut, karena mereka menyerang pusat kamp musuh hanya dengan prajurit yang minim. Keberadaan Farmith di pasukan tersebut membuat para prajurit miliknya terbakar dengan semangat. Kini mereka tampak seperti anjing liar kelaparan yang siap memangsa musuhnya.
Para prajurit Medeia menatap pasukan Farmith dengan tatapan putus asa. Mereka merasa bahwa kematian mereka sudah dipastikan. Yang berada di sini hanya orang terluka dan beberapa prajurit penjaga. Bahkan ksatria aura yang berada di garis belakang sangat sedikit, sehingga mustahil untuk melawan ribuan prajurit Chronos.
Di saat semua orang merasa putus asa dan tidak mampu mengangkat senjata mereka, terdapat satu orang ksatria aura yang tubuhnya penuh dengan perban sedang memegang sebilah pedang dengan satu tangannya. Tubuhnya terluka sangat parah sehingga tangan yang bisa ia gunakan sekarang hanya satu.
Tangan yang ia gunakan untuk memegang pedang bergetar hebat, ia juga merasa putus asa dengan situasi saat ini dan rasa takut akan kematian menjalar ke seluruh tubuhnya. Tetapi, meskipun demikian ia merasa bahwa dia harus berjuang dan mempertahankan tanah airnya dari penjajah. Ia lalu memejamkan matanya.
‘Alisha, maafkan kakakmu yang tidak bisa menepati janjinya untuk pulang kembali dengan selamat, tetapi....’
Ketika ia membuka matanya lagi, dalam sekejap tatapan putus darinya berubah menjadi tatapan orang yang sudah siap mati.
‘Aku tidak akan membiarkan para penjajah ini mencapai ibu kota dan melukaimu!’
“JANGANN TAKUT PARA SAUDARA SEPERJUANGAN! JANGAN PERNAH BERHENTI BERJUANG MESKI KITA MERASA PUTUS ASA! INGATLAH, BAHWA PARA PENJAHAH INI SEDANG BERUSAHA UNTUK MENGHANCURKAN KERAJAAN KITA! INGATLAH KELUARGA DAN JUGA REKAN-REKAN KITA YANG MATI DENGAN KEJAM DI TANGAN MEREKA!”
“”WAAA!!!!!””
Dengan satu kata-kata dari prajurit tersebut mengubah seluruh situasi putus asa ini menjadi penuh asa. Secercah cahaya harapan untuk hidup terlihat dari mata para prajurit Medeia.
“!!!”
‘Apa-apaan mereka itu....’
Farmith terkejut dengan perubahan atmosfer pertarungan secara tiba-tiba.
‘Beberapa saat yang lalu tatapan mereka seperti seekor ternak yang telah siap untuk dijagal... Tetapi sekarang...’
Farmith merasa bingung, apa yang membuat para prajurit Medeia kembali bersemangat di tengah situasi putus asa ini. Ia tidak mengetahuinya karena ia tidak bisa mendengar pidato dari seorang prajurit yang rela mati demi melindungi orang yang disayangi.
‘Namun.... Meski kalian saat ini terlihat siap untuk bertempur, namun situasi saat ini tidak berubah...’
Sebuah senyuman tampak tersungging di bibir Farmith. Ia merasa bahwa meski para prajurit Medeia membara sekarang, namun itu tidak mengubah banyak jalannya perang.
Pasukan Farmith jauh lebih unggul dalam hal apa pun, dibanding para prajurit Medeia yang terluka, para prajurit Farmith masih dalam kondisi primanya.
“SERANGGG!!!”
Kedua pasukan tersebut pun berbentrokan. Meski moral mereka sedang di atas angin, para prajurit Medeia dengan kondisi tubuhnya yang seperti itu tidak membawakan perbedaan. Dari atas kuda, para prajurit Farmith dengan mudahnya membantai lusinan prajurit yang tengah berjuang di situasi yang tanpa harapan ini.
“ARGHHH”
“UWAAA”
Jeritan kesakitan meletus di mana-mana. Para prajurit Medeia dapat dibantai tanpa bisa melakukan perlawanan. Bahkan para prajurit dan ksatria aura yang masih prima pun di kalahkan dengan mudah. Meski demikian, semangat bertempur yang dimiliki oleh pasukan Medeia tidak memadam.
“Ughh!”
“Argh!”
Suara jeritan juga terdengar dari arah pasukan Chronos. Para prajurit Medeia yang telah mereka bantai, tiba-tiba berdiri kembali dan menikam mereka dari belakang. Bahkan prajurit Medeia yang jantungnya telah ditusuk dengan sebuah tombak masih hidup dan mampu memegang tombak musuhnya hingga tak bisa bergerak. Ia menatap para musuhnya seperti seekor binatang buas.
“SEKARANG!!!”
“HAAAAAA!!!”
Sekumpulan prajurit yang bangkit lagi bangun dan menusuk ksatria aura yang tombaknya sedang dipegangi. Para prajurit Chronos bingung dengan apa yang tengah terjadi saat ini. Beberapa saat yang lalu mereka memastikan bahwa mereka benar-benar membunuh mereka. Namun saat ini, meski luka yang disebabkan oleh pasukan Chronos masih terlihat segar, mereka masih tampak siap bertempur.
Pemandangan para prajurit yang menolak kematian mereka membuat Farmith dan para prajuritnya merinding. Meski ia menyaksikan ini dengan kedua matanya sendiri, ia masih tak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Namun hal tersebut hanya sebatas membuat Farmith terkejut dan sedikit mengguncangnya. Seperti yang diharapkan dari seorang anjing pemburu, ia dengan cepat mengembalikan ketenangannya dan memimpin pasukannya kembali. Ia dengan tenang, tetap memerintahkan hal yang sama, yakni membunuh mereka semua.
‘Seperti yang aku duga...’
Farmith menduga bahwa ini hanya sebatas perlawanan kecil sebelum mereka benar-benar mati, dan dugaannya benar. Beberapa saat kemudian prajurit-prajurit yang telah mati tadi jatuh kembali ke tanah.
Melihat para prajurit yang hidup kembali mati sekali lagi, para prajurit Farmith tersenyum puas, mereka kembali membantai para prajurit yang tersisa seperti sebelumnya.
Namun ada beberapa prajurit yang tidak puas karena terluka oleh seonggok mayat. Para prajurit yang tidak terima tersebut menatap jasad para prajurit yang hidup kembali tersebut dengan tatapan hina. Lalu mereka menusuk-nusuk para prajurit yang sudah mati berkali-kali dan juga menginjak mereka dengan hina.
“Apa yang terjadi dengan kalian hah?! Apakah kalian tidak akan hidup kembali?”
Para prajurit tersebut benar-benar melecehkan seorang pejuang yang mati terhormat karena melindungi tanah air mereka.
Para prajurit yang masih hidup menatap dengan tatapan membunuh para prajurit dari Chronos. Meski mereka marah, mereka tidak dapat melakukan banyak hal.
‘Luka yang kuterima sangat parah, tetapi... JIKA MEMANG HARUS MATI, MAKA AKU AKAN MENYERET BAJINGAN YANG MELECEHKAN SAUDARA SEPERJUANGANKU!!’
Seorang prajurit maju dengan semangat juang untuk membunuh musuhnya yang telah menghina rekannya yang sudah tiada. Tetapi
*STAB!
Sebuah tombak menembus tubuhnya.
“ARGHHH!”
Darah menyembur dari mulut dan juga lukanya. Dengan mulut yang penuh darah, ia mengerang putus asa dengan penuh kesakitan. Prajurit tersebut langsung ambruk ke tanah karena sedari awal kondisi tubuhnya sudah buruk. Namun, saat ini dia masih bisa hidup karena ia merupakan seorang ksatria aura tingkat tinggi.
Pemandangan ksatria aura tersebut benar-benar buram dan tampak gelap. Jika ia terlelap saat ini, maka ia akan langsung mati.
‘Alisha... Kakak... Benar-benar... Minta maaf...’
“Sungguh, para prajurit Medeia benar-benar orang yang sulit untuk dibunuh ya!”
“Benar, bahkan meski nyawanya diujung tanduk, ia masih menolak untuk mati!”
Para prajurit Chronos tersebut memandang ksatria aura yang tengah sekarat dengan tatapan yang jijik.
Ksatria aura yang sekarat tersebut masih hidup hingga kini karena ia ingin bertemu dengan adiknya lagi. Ia juga ingin melihat para bajingan yang telah menghina rekan-rekannya merasakan akibatnya.
Mata ksatria aura tersebut menjadi semakin berat, dan sedikit demi sedikit mulai terpejam.
‘Haha... Semakin mendekati kematian, permintaanku semakin banyak... Namun, sepertinya tidak ada satu pun dari keinginan tersebut yang menjadi nyata...’
Ketika memikirkan hal tersebut, ia mendengar suara wanita yang seperti sedang melirik tepat di telinganya, ia mendengar suara tersebut dengan sangat jelas. Ia terdengar seperti bertanya—
“Siapa namamu, wahai prajurit pemberani?”
“Siapa... Kamu? Apakah... Kamu Dewi kematian? Namaku adalah... Allen,”
“Prajurit yang pemberani Allen, aku seumur hidup akan mengingat keberanianmu. Namamu dan semua prajurit di sini akan dikenang dalam buku sejarah dan dikenal sebagai pahlawan. Oh, dan aku bukanlah seorang Dewi kematian yang akan menjemputmu...”
Ksatria aura yang sekarat, Allen, meski ia sedang sekarat ia masih bisa mendengar suara wanita tersebut terdengar. Namun, sekarang ia merasakan sebuah energi asing tampak memasuki dirinya.
‘Apa... Ini? Rasanya hangat ....’
Ketika ia merasakan perasaan tersebut, pemandangan di depan matanya terlihat semakin jelas. Perlahan-lahan, penglihatan milik Allen kembali dengan normal.
Ia terkejut, ia yang berada diambang Kematian sebelumnya dan tidak dapat melihat lagi, kini penglihatan miliknya terasa lebih jelas dari sebelumnya.
Lalu ia melihat sekeliling, di tubuhnya tampak energi berwarna perak bersih sedang menyelimuti dirinya. Ia terus memandangi energi perak tersebut dan sedang mencari dari mana sumbernya berasal.
Ketika ia sedang mencari sumbernya, ia melihat seorang wanita berambut perak yang indah sedang melayang di udara.
“Siapa... Kamu...?”
Meskipun penglihatan miliknya telah kembali, tampaknya kondisi tubuhnya yang lain terasa seperti sebelumnya. Saat ini bahkan untuk berbicara adalah hal yang sulit bagi Allen.
“Maaf, seberapa keras pun aku mencoba, aku tidak bisa menyembuhkan dirimu dan hanya bisa menunda kematianmu,”
Wanita berambut perak yang sedang melayang itu memandang ke arah Allen.
“Tidak apa-apa... Jika memang diberi kesempatan... Aku ingin melihat akhir dari mereka yang telah... menodai kehormatan seorang.... Pejuang...”
Allen berkata dengan lirih kepada wanita tersebut.
“Jika memang begitu, aku akan mengabulkan keinginanmu,”
“Apakah... Anda benar-benar... Dewi kematian...?”
“Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku bukan Dewi kematian yang akan menjemputmu. Tetapi...”
“???”
“Aku adalah Dewi kematian yang akan mencabut nyawa musuh-musuhmu,”
Seorang wanita berambut perak yang tengah melayang tersebut adalah Ratu Selena Argaient. Setelah enam hari berlalu, akhirnya Selena bergabung ke medan perang!
.
.