Themis, The Flower of Justice

Themis, The Flower of Justice
Chapter 16 — Pedang dan Sihir(2)



Tiga tahun telah berlalu begitu cepat. Setelah Luminas membulatkan tekadnya, selama tiga tahun belakangan ia dengan sungguh-sungguh mempelajari sihir dari ibunya, Selena.


Kini Luminas telah berusia enam tahun, fisiknya Luminas telah cukup berkembang dibandingkan dengan tiga tahun sebelumnya. Selama tiga tahun, Luminas hanya belajar sihir secara intensif. Selena tidak pernah memaksakan Luminas untuk belajar sihir seperti yang diharapkan semua orang, namun Luminas tetap mempelajari sihir bukan hanya karena harapan orang-orang kepadanya, tetapi juga untuk dirinya sendiri.


Demi mencari keadilan yang diinginkannya di dunia ini, Luminas sadar bahwa ia butuh kekuatan untuk mewujudkannya. Sehingga ia tidak bisa berdiam diri begitu saja ketika ia dianugerahi dengan bakat sihir yang sangat hebat, ia tidak ingin menyia-nyiakan bakat tersebut.


Luminas juga sering melatih fisiknya untuk menjaga kebugaran dan juga untuk semacam ‘asuransi’, jika ia mengalami kejadian hal yang sulit dan tidak disangka dalam pertarungan.


Setelah melatih sihir dan fisiknya secara rutin, tiga tahun belakangan ini fisik Luminas tumbuh berkembang dengan sangat baik. Ia merasa bahwa tubuhnya adalah tubuh paling ideal untuk seorang gadis kecil berusia enam tahun.


Dengan fisiknya yang ideal, Luminas merasa bahwa ia saat ini sanggup untuk belajar berpedang dari Scott. Ia merasa bahwa berlatih pedang adalah sebuah keharusan. Karena jika ia mengalami pertarungan jarak dekat, maka itu akan menjadi lebih mudah.


“Kalau begitu, mari kita mulai latihannya,”


Luminas menurunkan pedangnya dengan anggun.


“Baik Tuan Putri!”


Seru Scott terhadap pernyataan Luminas.


“T-tunggu dulu sebentar, yang mulia. Apakah Anda memang harus benar-benar belajar berpedang saat ini?”


Javis yang melihat kedua orang tersebut yang tampak akan memulai latihan menghentikannya.


“Tentu saja,”


Melihat mata Luminas berbinar karena antusias, ia jadi tidak bisa membantah lagi.


Javis yang tidak bisa menahan tatapan berbinar Luminas, mengalihkan pandangannya ke arah Scott.


“Senior, tapi Tuan Putri—“


“ Javis, sudah cukup. Jika Tuan Putri menginginkannya, maka kita hanya harus melakukan. Tapi Tuan Putri, sebelum saya mengajar Anda, kita memiliki sebuah masalah,”


“Masalah? Apakah ada masalah?”


Luminas terkejut ketika mendengar Scott bahwa ada masalah dalam hal ini.


“Ya, Tuan Putri. Masalah yang pertama adalah kita tidak memiliki izin untuk belajar berpedang dari Yang Mulia Ratu,”


“Apa? Apakah kita perlu izin dari ibuku hanya untuk melatihku dalam berpedang?”


“Ya, Tuan Putri,”


Menanggapi Luminas, Scott menundukkan kepalanya dengan sopan.


“Lalu yang kedua?”


“.... Saya tidak layak untuk mengajari Anda. Jika Anda ingin belajar berpedang, maka Anda harus belajar dari seseorang yang setidaknya sudah mencapai tingkat ‘master’ dalam 'aura',”


“Ah, jadi seperti itu,”


Luminas mengangguk paham.


Ia sangat mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Scott. Ia paham mengapa Scott mengatakan itu.


Luminas adalah putri dari seorang raja, tentu saja jika ia ingin mendapatkan pengajaran, maka ia harus mendapatkan yang terbaik.


Juga, dibandingkan dengan anggota keluarga kerajaan yang lain, Luminas tetap lebih superior dari anggota keluarga kerajaan yang lain, bahkan juga dari seseorang yang memiliki garis keturunan yang istimewa.


Luminas memahami bahwa Scott merasa tidak layak karena status dan juga bakat yang dimiliki oleh Luminas. Scott merasa takut bahwa mungkin ia akan mengajarkan hal yang salah kepada Luminas.


“Fuh... Tidak apa Kapten Scott. Untuk masalah izin, biarkan aku bilang pada ibu nanti, dan untuk masalah layak atau tidak layak, bukan kamu yang memutuskan. Biarkan aku memutuskan apakah kamu layak atau tidak setelah mengajariku,”


Mendengar hal tersebut, Scott menjadi terdiam sesaat.


“...Dimengerti,”


Jawaban singkat dari Scott, mengakhiri percakapan mereka.


“Bagus, kalau begitu mari kita mulai,”


“Ya!!!”


Scott dan Javis menjawabnya secara hampir bersamaan.


.


.


“Baik tuan putri, untuk pertama-tama mari kita belajar dari kuda-kuda berpedang terlebih dahulu,”


Scott pertama-tama menunjukkan bagaimana kuda-kuda berperang yang benar kepada Luminas. Scott menggeser kedua kakinya sejajar dengan bahu. Lalu kemudian ia mengarahkan dan menata Luminas dari cara memegang pedang, lekukan tangan, dan juga tinggi bahu hanya untuk mempelajari dasar dari kuda-kuda berpedang.


Scott merasa skeptis bahwa di waktu yang singkat ini Luminas dapat mempelajari sesuatu darinya. Biasanya orang-orang mempelajari dasar-dasar berpedang saja membutuhkan waktu sampai bertahun-tahun. Namun apabila waktu yang dimiliki hanya tiga puluh menit, ia merasa bahwa belajar kuda-kuda berpedang pun akan sulit di waktu yang sesingkat itu.


“Jadi seperti ini? Lalu begini,”


Luminas dengan akurat mengulangi hal yang diajarkan oleh Scott.


“!!!!”


Scott terkejut melihat Luminas yang dapat langsung mempraktikkannya dalam waktu singkat. Bukan hanya sekedar melakukan hal yang sama seperti yang diarahkan, tetapi kuda-kuda berpedang yang ditunjukkan oleh Luminas terasa sempurna. Scott cukup terkejut bahwa Luminas dapat melakukannya dengan sempurna di percobaan pertamanya.


‘Bukan hanya bakat sihir, tetapi berpedang juga?’


Scott merasa semakin kagum dengan Luminas. Ia pernah mendengar dari para pelayan yang pernah menyaksikan Luminas melakukan tes sihir. Mereka mengatakan bahwa Luminas memiliki bakat sihir yang sangat hebat.


Mendengar hal tersebut pertama kali, Scott merasa bahwa hal tersebut adalah hal yang biasa. Seperti yang semua orang tahu bahwa Luminas merupakan putri dari garis keturunan agung dewa matahari dan keluarga sihir Argaient, tentu saja Luminas memiliki bakat sihir yang luar biasa.


Namun ketika melihat Luminas yang memiliki bakat berpedang juga, Scott merasa bahwa keberadaan Luminas semakin spesial. Terdapat banyak sekali orang hebat berpedang dan menyihir, tetapi sangat jarang bahwa seseorang yang memiliki bakat sihir yang tinggi, sambil memiliki bakat berpedang yang tinggi juga.


Banyak sekali pemikiran dan opini mengenai Luminas berputar di kepalanya. Namun ia memutuskan untuk tidak terlalu memedulikannya dan fokus dalam mengajar Luminas.


“Itu tadi sangat hebat tuan putri, tidak disangka bahwa Anda dapat melakukannya secepat ini, bahkan jika orang tersebut sangat berbakat, tidak mungkin bisa secepat ini,”


Scott dengan tulus mengungkapkan kekagumannya dan memuji Luminas.


“.... Terima kasih,”


Luminas tersenyum tipis mendengar pujian yang tulus dari Scott.


“Baik untuk selanjutnya adalah cara mengayunkan pedang, perhatikan baik-baik,”


*WUSWUSWUS


Scott mengeluarkan ilmu pedangnya dengan sangat cepat, tetapi kuat dalam setiap tebasannya. Itu adalah ilmu pedang yang ia tempa selama bertahun-tahun untuk mencapai kecakapan yang seperti ini.


Luminas yang melihat hal tersebut cukup terkejut. Di kehidupan sebelumnya sebagai Nielson, ia sudah melihat berbagai orang dengan bakat yang berbeda. Salah satunya adalah bakat bertarung. Orang yang memiliki bakat petarung, maka ia bisa menjadi seorang pasukan khusus organisasi rahasia yang dinaungi oleh Nielson.


Ketika ia melihat seseorang yang memiliki bakat bertarung saling mengayunkan pisau mereka satu sama lain, itu terlihat sangat cepat dan mengagumkan. Pisau tersebut tampak seperti kilatan cahaya yang tiba-tiba memotong dan mengoyak tubuh lawannya.


Seperti ilmu pedang yang ditunjukkan oleh Scott, itu sangat cepat dan kuat seperti membelah udara. Meski hanya pedang kayu yang tumpul dan tipis, kekuatan yang dikeluarkan oleh Scott melalui pedang tersebut sangat kuat, bahkan seperti dapat memotong sebuah tembok bangunan dengan mudah.


“Jika Anda menambahkan aura, maka itu akan semakin meningkatkan kekuatan destruktif dari teknik serangan yang hamba tunjukkan tadi. Ini bukan untuk menonjolkan kekuatan aura, tetapi teknik yang ditampilkan,”


“Teknik yang ditampilkan?”


“Ya, ketika saya menebas udara tadi, itu tidak sesederhana seperti yang terlihat. Anda perlu memperhatikan bagaimana cara Anda mengayun, jangkauan serangan, bahkan langkah kaki yang Anda lakukan juga akan memengaruhi kekuatan yang Anda akan keluarkan,”


Scott mengakhiri penjelasannya.


“Baik, aku mengerti,”


Luminas mengangguk paham.


*WUSWUSWUS


Setelah memahami hal tersebut, Luminas bukan melakukan teknik yang dilakukan oleh Scott, tetapi ia malah menampilkan serangan yang berbeda, itu acak dan kuat. Itu mungkin adalah serangan acak, tetapi dari caranya mengayunkan pedangnya, perputaran tubuh, dan langkah kaki semuanya telah ia perhitungkan.


Serangan yang dilancarkan secara acak itulah yang membuat teknik pedang yang dikeluarkan Luminas membentuk sebuah lintasan yang rumit. Arah serangannya yang rumit, tampak seperti bisa datang dari segala arah.


‘Selanjutnya lebih baik dikombinasikan dengan tusukkan,’


Setelah melakukan beberapa tebasan sederhana, Luminas menggeser kakinya ke depan dengan sangat cepat. Ia memutar pinggangnya lalu ia menusuk udara dengan sangat kuat seakan ia sedang menusuk musuhnya.


*Swosshh


Angin berhembus kencang. Kekuatan yang dihasilkan dari gerakan menusuk Luminas sangat kuat, sampai-sampai menimbulkan embusan angin yang kuat.


Tidak tinggal diam, setelah gerakkan menusuk Luminas langsung mengayunkan pedangnya ke samping dengan kuat. Lalu ia melanjutkannya gerakan tebasan cepat yang tampak seperti memotong udara. Gerakan Luminas yang terus terhubung tampak seperti air yang mengalir.


Seakan setelah ia menusuk musuhnya, ia melanjutkannya dengan sayatan kuat sehingga tubuh musuhnya terkoyak lalu menebas mereka dengan kejam.


Scott melihat hal tersebut dengan mata yang terbuka lebar, ia tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya yang mulai sering datang semenjak mengajari Luminas.


‘Luar biasa...'


Menimbang Luminas yang baru memulai berlatih pedang, hal yang dilakukan Luminas adalah sesuatu yang sangat luar biasa.


‘Walaupun gerakannya sedikit lambat, tapi itu adalah gerakan yang sangat luar biasa ketika memikirkan bahwa ia baru memulai berlatih ilmu pedang...’


Scott merasa merinding di sekujur tubuhnya, selain karena Luminas melakukan hal yang mustahil di percobaan pertamanya, hal yang membuatnya takjub bahwa gerakan yang dilakukan Luminas adalah gerakan yang hanya bisa dilakukan ketika seseorang memiliki banyak pengalaman bertarung menggunakan pedang.


Scott merasa takjub, karena hal yang dilakukan Luminas adalah gerakan yang memperhitungkan setiap gerakan yang ia lakukan. Dari langkah kaki, perputaran pinggul, sudut siku, dan jangkauan pedang semuanya telah diperhitungkan. Juga, setiap tebasan yang ia lakukan tampak terhubung dan mengalir seperti air.


‘Hah... Tidak habis pikir... Tuan Putri baru belajar berpedang, tetapi ia sudah mampu melakukan yang seperti itu?’


Sambil menghela nafas panjang, Scott menggelengkan kepalanya.


“Aku merasa bahwa aku sudah siap,”


Luminas memutar pedangnya di udara beberapa kali lalu ia menancapkannya di tanah.


Senyum percaya diri terpampang di wajah Luminas, bahkan raut wajahnya menunjukkan kepercayaan diri, namun tidak terlihat kesombongan sedikit pun pada matanya. Hanya percikan kilauan antusiasme saja yang terlihat.


Baru lima belas menit berlalu setelah Scott mengajari Luminas. Di waktu yang singkat itu, Luminas berhasil menguasai dasar-dasar pedang yang dikuasai oleh orang lain yang membutuhkan waktu beberapa tahun latihan.


Luminas menatap Dorothy yang sedari tadi menonton Luminas dengan antusias dan bersemangat. Lalu sebuah seringan tipis terlukis di wajahnya.


“Dorothy, mari kita bertarung,”


“...Apa?”


Ketika Luminas mengatakan hal tersebut, angin berembus dengan kuat.


Dorothy terkejut dengan tantangan yang diajukan Luminas secara tiba-tiba ini.


*Deg deg


Mendengar tantangan dari Luminas, hati Dorothy berdegup kencang.


‘Apa ini? Perasaan apa yang ada di hatiku? Mengapa terasa panas?’


Dorothy merasa ada dorongan yang kuat dari dalam hatinya. Ia merasa bahwa sesuatu yang kuat tengah bergejolak di dalam hatinya. Di dalam dirinya terasa terasa panas dan sekujur tubuhnya sedikit bergetar.


Namun tubuhnya bergetar bukan karena rasa takut, melainkan karena ia merasa sangat bersemangat mendengar tantangan yang diajukan oleh Luminas.


‘Perasaan apa ini? Apakah ini yang disebut bersemangat? Kenapa aku begitu antusias ketika mendengar tantangan dari tuan putri?’


Dorothy tampaknya mendapatkan dorongan dari hatinya untuk menerima tantangan yang diajukan oleh Luminas kepadanya.


“Tuan Putri, aku meneri—“


“Tunggu dulu Tuan Putri!”


Sebelum Dorothy menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja Scott menyuruh mereka berhenti.


“Ada apa, Kapten Scott?”


Luminas yang merasa tidak senang dengan interupsi yang dilakukan oleh Scott, menampilkan ekspresi wajah yang tidak mengenakkan.


“Tuan Putri, maafkan saya telah lancang. Tetapi saya merasa bahwa latihan tanding terlalu cepat untuk saat ini,”


“Mengapa kamu mengatakan demikian?”


“Saya paham jika Tuan Putri bersemangat karena ingin menguji kekuatan Anda, tetapi lawan Anda adalah Dorothy. Ia merupakan seseorang yang memiliki bakat pertarungan yang tinggi. Dia juga sudah berlatih selama tiga tahun, sementara Anda baru berlatih selama kurang dari dua puluh menit, Anda tidak akan bisa sebanding dengannya. Saya khawatir Anda malah akan mengalami cedera,”


Scott mengatakan itu sambil berlutut dengan ekspresi khawatir, ia tampaknya dengan tulus mencemaskan Luminas.


Luminas mengerti bahwa Scott melarangnya bukan hanya takut bahwa dia akan terluka, tetapi dia juga takut bahwa kekalahan saat ini mungkin akan berdampak buruk pada mentalnya yang dapat mempengaruhi bakat berpedang yang dimiliki olehnya.


“Aku mengerti Kapten Scott, Anda mencemaskan saya. Tetapi Anda tidak perlu khawatir, Aku bisa mengatasinya,”


Luminas dengan tulus menghargai niat baik Scott, ia menundukkan tubuhnya ke tanah dan memegang kedua bahu Scott seakan memberi tahu bahwa jangan mencemaskan dirinya.


“Kapten Scott, jangan khawatir. Lagi pula aku tidak mungkin kalah dari anak bodoh sepertinya,”


Luminas melirik Dorothy dengan ekspresi yang mengejek.


Dorothy yang dilirik oleh Luminas, tiba-tiba ia merasa kesal. Walaupun Dorothy tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Luminas, namun ia merasa bahwa ia mengerti hanya dengan membaca wajahnya ketika sedang meliriknya


“Hei sepertinya kalian sedang membicarakan hal buruk tentangku!”


Dorothy berteriak sambil marah-marah.


Luminas mendengar ocehan dari Dorothy, namun ia mengacuhkannya begitu saja. Dorothy yang melihat ekspresi acuh tak acuh dari Luminas, merasa semakin kesal.


“Haha, tuan putri. Bagaimana jika kita hentikan percakapan kita dan langsung memulai pertarungan kita?”


Wajah Dorothy terlihat berkedut, seperti merasa sedang kesal.


“Sesuai keinginanmu,”


Luminas yang senang melihat ekspresi kesal Dorothy, ia memasang ekspresi yang mengejek,


“Wah, tuan putri. Karena Anda baru belajar berpedang beberapa saat yang lalu, apakah saya harus mengalah kepada Anda?”


Dorothy menanggapi Luminas dengan nada yang sarkastik, wajahnya terlihat semakin kesal.


“Tidak perlu seperti itu,”


Luminas perlahan berjalan mendekati Dorothy, dan berhenti tepat di depannya.


“Keluarkan saja seluruh kemampuanmu, aku tidak ingin kamu menghadapiku dengan setengah-setengah,”


Ia mengacungkan pedangnya tepat di depan wajah Dorothy, seakan ia sedang menantangnya.


Ekspresi bersemangat terlihat dari wajah Luminas. Meski ia tampaknya berusaha menyembunyikannya, tetapi Dorothy tetap dapat merasakan semangatnya melalui matanya.


“Sesuai keinginanmu, Tuan Putri,”


Merasa tertantang dengan Luminas yang bersemangat, hati Dorothy berdegup semakin kencang. Ia sangat menantikan duel menghadapi tuan yang ia layani.


.


.