
3 Tahun Kemudian, 27 Cancer Tahun 1344 Kalender Helios
[Ibu Kita Luminous Kerajaan Medeia]
[Kediaman Ratu Selena Argaient]
Di sebuah lorong istana Ratu Selena, terlihat sebuah rombongan tengah berbaris menuju pintu keluar istana. Di barisan paling depan dalam rombongan tersebut, terlihat seorang gadis kecil yang tampaknya tengah memimpin rombongan tersebut.
Gadis kecil yang memimpin rombongan tersebut memiliki dua orang ksatria dengan baju besi lengkap yang mengawalnya, juga beberapa orang dengan pakaian pelayan yang berjalan mengiringi mereka bertiga.
Gadis kecil yang memimpin rombongan tersebut adalah Luminas Von Medeia, seorang putri dari pemilik kediaman ini, dan juga merupakan seorang anggota keluarga kerajaan dari Kerajaan Medeia.
Luminas yang memimpin rombongan tersebut, tampak terburu-buru keluar dari istana dan menuju ke tempat latihan para ksatria.
“Tuan putri, kenapa Anda ke tempat latihan ini? Bukankah ini merupakan hari pertama Anda untuk kelas kesenian?”
Seorang ksatria yang memiliki rambut coklat terang mengajukan pertanyaan kepada Luminas.
“Javis, aku kemari hanya untuk menemui seseorang sebentar,”
Luminas membalas pertanyaan dari seorang pria berambut coklat terang yang dipanggil Javis.
“Dimengerti...”
Javis yang paham dengan siapa yang akan ditemui oleh Luminas menjawabnya dengan sopan.
Setelah berjalan beberapa saat, Luminas akhirnya sampai di sebuah pintu yang di atasnya terdapat tulisan ‘Tempat Pelatihan’, yang menunjukkan tempat apa dibalik pintu tersebut.
Ketika Luminas membuka pintu tersebut, terlihat pemandangan yang menunjukkan bagaimana tempat pelatihan para ksatria di kediaman ini.
Tempat latihan itu berada di ruang terbuka, tepatnya berada di tengah-tengah bangunan istana. Tempat latihan itu terdapat lorong yang mengitarinya, dari pintu masuk tempat latihan, sampai ke pintu keluar yang berada di seberang tempat latihan.
Luminas berjalan mendekati sekelompok orang yang tengah berlatih mengayunkan pedangnya.
Ketika Luminas menghampiri, mereka langsung menyadari keberadaan Luminas dari kejauhan dan segera menghentikan latihan mereka.
“Kemuliaan untuk tuan putri!!”
Mereka semua membungkuk dalam-dalam dan mengeluarkan suara keras secara serentak.
“Terima kasih, lanjutkan saja latihan kalian,”
“BAIK!! TUAN PUTRI,”
Mereka menjawabnya dengan tegas dan serempak.
Setelah mengatakan hal tersebut, mereka langsung bubar dan kembali ke posisi latihan yang mereka tempati sebelumnya. Luminas yang melihat hal tersebut, mengaguminya.
Melihat gerakan mereka yang serempak dan selaras, membuktikan telah betapa lamanya mereka berlatih bersama-sama. Luminas mengagumi kegigihan dan ketekunan mereka dalam berlatih. Tanpa memedulikan apa pun, entah musim panas atau musim dingin, mereka tidak pernah berhenti berlatih.
Setelah selesai dengan para penghuni tempat latihan, Luminas langsung melanjutkan tujuannya ke seberang tempat latihan, lebih tepatnya di sudut dekat pintu keluar tempat latihan.
Di tempat tersebut terlihat seorang gadis remaja berusia 11 tahun yang tengah memegang sebuah pedang kayu di tangannya, dan juga seorang pria dengan rambut hitam yang berantakan terlihat seperti sedang melatih gadis tersebut.
Gadis yang memegang pedang latihan kayu tersebut adalah Dorothy, ia tampak bersemangat dalam mengayunkan pedang kayunya.
Dorothy yang melihat Luminas tengah mendekati dirinya, ia dengan segera langsung menghentikan latihannya dan berlari menuju arah Luminas.
“Tuan putri!!!!”
Dorothy dengan asal membuang pedang kayu tersebut entah ke mana dan berlari dengan cepat menghampiri Luminas.
Luminas melihat penampilan Dorothy yang menghampirinya dengan cepat, sekilas Luminas merasakan hawa merinding merasuki tubuhnya.
Yang menjadi masalah bagi Luminas adalah penampilan Dorothy yang sehabis berlatih. Tubuhnya yang berkeringat, wajahnya yang dipenuhi oleh debu, juga rambut merah Dorothy yang acak-acakan membuat Luminas merasa sedikit tidak nyaman.
Luminas tampaknya merasa sedikit takut melihat Dorothy dengan penampilan acak-acakan dan terlihat ganas buru-buru menghampirinya, seperti melihat monster lapar yang ingin memakannya.
*BUG
“Aduh!”
Sebuah pukulan keras mendarat di belakang kepala Dorothy, ia langsung jatuh tersungkur ke tanah.
“Sudah kubilang jangan bersikap seperti itu di depan yang mulia, dan lagi... Bukankah sudah kuajarkan bahwa jangan secara tiba-tiba pergi meninggalkan latihan dan membuang senjatamu sembarangan?!”
Ksatria dengan rambut acak-acakan yang berwarna hitamlah yang memukul bagian belakang kepala Dorothy, ia memarahinya karena senjata yang dibuang Dorothy serampangan jatuh di atas kepalanya. Juga, Dorothy tidak pernah mendengarkan nasihatnya meskipun sudah diingatkan berulangkali.
“Aduh-duh. Tuan Scott, bukankah harusnya kamu mengerti? Sebagai pemuja Tuan Putri, tentu saja setelah melihatnya aku harus menyapanya! Tahukah Anda? Dari sekian banyaknya pemuja tuan putri, aku ini adalah pemuja nomor dua Putri Luminas, ku ku,”
Dorothy terkikik dan menyilangkan lengannya, seolah ia menyombongkan apa yang dikatakan olehnya.
‘Pemuja diriku? Nomor dua? Apa maksudnya? Jika Dorothy adalah nomor dua, lalu siapa nomor satunya?’
Mendengar pernyataan Dorothy, Luminas menjadi penasaran.
“Pemuja Tuan Putri? Nomor dua? Jika kamu adalah nomor dua, lalu siapa nomor satunya?”
Seolah membaca pikirannya, pria berambut hitam tersebut mengatakan hal yang sama persis dengan hal yang dipikirkan oleh Luminas.
Luminas yang setuju mengangguk dengan serangkaian pertanyaan dari pria berambut hitam tersebut.
“Bukankah hal tersebut sudah jelas? Jika aku adalah nomor duanya, maka nomor satunya adalah Yang Mulia Ratu Selena—!”
Sebelum Dorothy menyelesaikan kalimatnya, bagian belakang kepalanya dipukul lagi dengan keras, menyebabkan jatuh tersungkur ke tanah sekali lagi.
‘Ah...’
Luminas yang mendengarkan hal tersebut, langsung membayangkan wajah ibunya yang selalu berteriak dan memeluknya ketika setiap ia kali mereka bertemu. Suara ibunya yang memanggilnya ‘Lumi!!!’ terputar kembali di dalam kepalanya.
“Uhuk! Kemuliaan untuk Tuan Putri, maafkan atas ketidaksopanan hamba yang baru memberikan Anda salam,”
Seorang pria yang dipanggil Scott tersebut menunduk dan meminta maaf dengan sangat sopan.
“Tidak apa, Kapten Scott. Tampaknya kamu telah mengajari Dorothy dengan baik,”
“Suatu kehormatan dipuji oleh Anda, tetapi saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai seorang ksatria mematuhi perintah tuannya, yaitu melatih gadis itu,”
“Haha, kalau begitu, bagaimana perkembangan Dorothy selama ini?”
Luminas bertanya dengan senyum yang cerah.
“.... “
Mendengar pertanyaan Luminas, Kapten Scott terdiam. Seakan ada sesuatu yang menahannya untuk mengatakan hal tersebut kepada Luminas.
“Kapten Scott? Kenapa diam saja? Katakan, apa perkembangan Dorothy selama ini?”
Luminas mendesak Scott untuk menjawab pertanyaannya.
“Tuan putri, sebenarnya.... Dorothy tidak cocok menjadi seorang ksatria,”
“!!!!”
Luminas yang terkejut membuka matanya lebar-lebar.
“Apa? Apa maksudmu?”
“Seperti yang saya katakan, ia tidak cocok menjadi seorang ksatria,”
Kapten Scott menjawab Luminas dengan tatapan yang lurus dan meyakinkan.
Melihat tatapan yang penuh keyakinan tersebut, hati Luminas menjadi risau dan takut dengan apa yang ia katakan selanjutnya akan melukai perasaan Dorothy.
“Kapten Scott, apa yang menyebabkan ia tidak cocok? Apakah karena bakatnya sebagai ksatria kurang?”
“Tidak, bukan itu. Sejujurnya, walaupun saya enggan mengakuinya, tapi bakat yang dimiliki Dorothy dalam pertempuran sangat tinggi. Ia bahkan mampu belajar dengan cepat dan mengalahkan seorang ksatria sungguhan di usianya yang masih muda,”
“Fuhh, jika bakatnya tinggi, kenapa ia tidak cocok menjadi ksatria?”
Luminas yang mendengarkan hal tersebut menghela nafas lega.
“Seperti yang diketahui, sifat sembrono yang dimiliki oleh Dorothy menyebabkan dirinya menjadi seorang ksatria kerajaan,”
“Ahh, jadi begitu... Lalu apakah tidak bisa diubah?”
“Tentu bisa, namun itu mungkin akan merubah kepribadiannya, dan tidak akan seperti ini lagi,”
“....”
Luminas yang mendengar hal tersebut menjadi bimbang.
Di satu sisi, ia ingin Dorothy tetap menjadi seperti ini, dengan sifatnya yang konyol akan menjadi teman yang cocok bagi Luminas. Namun, ia juga menghormati keinginannya untuk menjadi lebih kuat agar menjadi seorang ksatria yang bisa melindungi dirinya.
“K-kalau begitu, aku ingin...”
Luminas mengatakan sesuatu dengan suaranya yang lirih.
“Maaf memotong perkataan Anda, Tuan Putri. Saya memang mengatakan bahwa Dorothy tidak cocok menjadi ksatria, tapi ia lebih cocok menjadi ksatria pribadi yang hanya melindungi Anda,”
“Anda mengetahui bahwa Dorothy ingin menjadi lebih kuat semata-mata hanya untuk melindungi tuan putri. Berbeda dengan seorang ksatria yang harus patuh mengikuti perintah dari kerajaan, seorang ksatria pribadi hanya harus mematuhi perintah dari orang yang ia layani. Bukankah itu juga sejalan dan cocok dengan kepribadian Dorothy?”
Scott yang menyelesaikan kalimatnya menatap Luminas dengan lurus dan tegas, seakan ia serius dengan apa yang akan dilakukan oleh Dorothy di masa depan.
“Jika begitu, maka biarkan dia berlatih dengan keras agar bisa menjadi ksatria pelindungku. Apakah kamu bisa menjalankan perintah ini?”
“Ya!!! Kapten ksatria Scott melaksanakan perintah!!”
Scott berlutut dengan satu kaki dan mendeklarasikannya dengan keras.
“Bagus, kalau begitu...”
Luminas menghampiri Dorothy yang tengah pingsan dan tersungkur di tanah. Luminas bisa melihat dua buah benjolan besar menonjol di belakang kepalanya.
“Dorothy, bangunlah,”
Luminas hanya menepuk bahu Dorothy dan berbicara tepat di samping telinganya.
Dalam sekejap, Dorothy langsung membuka matanya dan bangkit dalam sekejap seolah ia tidak apa-apa.
“Dorothy menjawab panggilan dari Tuan Putri!!”
Dorothy mengeluarkan pose yang aneh.
Luminas yang melihat pose aneh dan tidak asing yang dilakukan oleh Dorothy, Luminas memutuskan untuk mengabaikannya. Lalu ia meminta Scott untuk mengambilkan sebilah pedang kayu yang tadi diayunkan eh Dorothy.
“Kapten Scott, tolong berikan pedang itu padaku,”
“Baik, Tuan Putri,”
Scott menyerahkan dengan sopan pedang yang ia pegang sejak tadi.
Ketika Luminas hendak mengangkat pedang yang diserahkan kepadanya, tiba-tiba—
*Bam!
Sebuah suara benda berat jatuh ke tanah terdengar. Itu adalah suara dari pedang kayu yang dipegang oleh Luminas.
Pedang kayu tersebut terlepas dari tangan Luminas dan jatuh ke tanah karena bobotnya yang begitu berat.
‘Apa ini? Bukankah ini pedang yang dipakai oleh Dorothy? Mengapa sangat berat?’
“AH! Tuan Putri, mohon ampuni kesalahan saya! Saya lupa bahwa Dorothy biasanya memakai sebuah pedang latihan yang berat!”
Mengakui kesalahannya Scott langsung berlutut dan meminta pengampunan.
“Apa? Apakah Dorothy selalu memakai pedang kayu ini?”
“Ya, yang mulia,”
“Apakah ia.... Memakai pedang ini sejak pertama kali ia berlatih pedang?”
“Itu juga benar... Yang mulia,”
“Sulit dipercaya,”
Luminas tidak bisa menghentikan keterkejutannya yang datang kepadanya. Ia merasa bahwa hal yang dilakukan oleh Dorothy adalah hal yang menakjubkan. Mengangkat sebuah pedang yang sangat berat pada usia yang sangat muda? Itu adalah hal yang mengagumkan untuk didengar.
“Ya, saya merasa itu juga sulit dipercaya, tekadnya sangat luar biasa, meski saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Sejak pertama kali saya melatihnya, ia belum bisa menggenggam pedang berat tersebut dengan benar. Saya memintanya untuk mengganti pedang yang cocok untuk fisiknya, namun...”
“Namun?”
“Dia menolaknya mentah-mentah. Ia berkata, bahwa saya tidak perlu mengganti pedang yang cocok dengan fisiknya, tetapi ia perlu mencocokkan fisiknya dengan pedang yang digunakannya. Jika begini saja tidak bisa, maka ia tidak akan bisa menjadi lebih kuat dan melindungi Anda,”
Luminas tidak mempercayai apa yang barusan ia dengar. Meski ia mengenal Dorothy dan mendengarnya secara langsung, itu benar-benar luar biasa.
‘Dia bahkan rela berlatih mati-matian dan melampaui batasannya, hanya untukku...’
Melihat loyalitas Dorothy kepada dirinya, Luminas menjadi bingung. Apa yang sebenarnya ia lakukan sehingga Dorothy sampai menunjukkan loyalitas seperti itu? Pertanyaan itu terus berputar dalam kepalanya.
Namun, ketika Luminas memikirkan hal tersebut, ia semakin mensyukuri bahwa Dorothy adalah temannya. Seorang teman yang rela melakukan yang terbaik untuk membantu temannya, ia sangat bersyukur memilikinya.
“Kapten Scott, tolong ambilkan pedang yang cocok untukku... Dorothy ambil pedang itu,”
“Baik yang mulia!”
Scott dengan segera langsung melaksanakan perintahnya.
“Tuan putri, apa yang sebenarnya Anda ingin lakukan? Kenapa Anda meminta sebilah pedang kayu?”
Javis yang sejak tadi berdiri diam di sampingnya akhirnya membuka mulutnya dan hendak mengatakan sesuatu. Namun, sebelum Javis berbicara Luminas langsung memotongnya.
“Kapten Javis, aku hanya akan berlatih pedang sedikit,”
“... Apa? Mohon maaf Tuan Putri, tetapi bukankah Anda adalah seorang penyihir? Kenapa Anda melatih pedang Anda?”
Javis menjadi bingung mendengar Luminas yang mengatakan bahwa ia ingin belajar pedang ketika ia selama ini melatih sihirnya.
“Seorang penyihir bukan berarti harus selalu bertarung dari jarak jauh. Ada kalanya ketika kita bertemu dengan lawan yang hebat dalam pertempuran jarak dekat, kita harus mengerahkan segalanya untuk bisa menang darinya. Dengan refleks dan kecepatan yang dilatih, akan mengasah indra bertarungnya,”
“Perkataan Anda memang benar, tetapi sebentar lagi kelas Anda akan dimulai! Anda tidak memiliki waktu yang cukup untuk berlatih pedang,”
“Memangnya berapa lama sampai kelasku dimulai?,”
Javis mengeluarkan sebuah jam dari sakunya.
“Sekitar tiga puluh menit lagi,”
“Tiga puluh menit ya, aku rasa cukup,”
Luminas pergi menjauhi Javis sambil melakukan peregangan.
“Kalau begitu, ayo ajari aku berpedang,”
Luminas yang membelakangi Javis, menengokkan kepalanya ke belakang dan meliriknya.
“Jika itu memang keinginan Anda, baik tuan putri,”
Javis hanya bisa pasrah mengenai keputusan Luminas, karena tugas seorang ksatria adalah melaksanakan perintah dari tuannya.
“Bagus!”
Luminas yang mendengar persetujuan Javis tersenyum.
“Tuan Putri, apakah Anda akan benar-benar berlatih pedang?”
“Ya!”
Luminas menjawabnya dengan nada yang cukup bersemangat.
“Bukankah Anda selama ini hanya mempelajari sihir?”
“Ckck, Dorothy. Kamu terlalu meremehkan tuan yang kamu layani, lihat saja nanti,”
Luminas menampilkan ekspresi dengan penuh percaya diri.
Tak lama kemudian Scott yang diperintahkan untuk membawakan pedang yang cocok untuk Luminas, ia membawa banyak pedang sekaligus di pelukannya. Mungkin karena ia tidak mengetahui kriteria pedang yang cocok untuk Luminas, jadi ia membawa semua pedang yang tersedia.
“hah... hah... Aku membawakan pedangnya, tuan putri,”
Nafas Scott terdengar kasar, mungkin karena ia membawakan semua pedang ini sambil berlari secepat mungkin.
“Terima kasih atas kerja kerasmu,”
Luminas tersenyum cerah kepada Scott.
Scott yang melihat senyum dan perkataan manis Luminas, kelelahan fisiknya hilang begitu saja. Seakan nafas kasar yang ia keluarkan tadi adalah sebuah kebohongan.
Setelah berterima kasih kepada Scott, Luminas berjalan perlahan ke arah tumpukan pedang yang dibawa oleh Scott.
Luminas melihat pedang-pedang itu dengan saksama, dan terkadang beberapa kali ia mengambil pedang itu untuk menguji berat yang dimiliki pedangnya.
Beberapa saat kemudian, Luminas akhirnya telah memutuskan pedang apa yang akan digunakan olehnya.
Luminas mengambil sebuah pedang kayu yang panjang dan cukup tipis, itu tampak tidak terlalu berat jika dibandingkan dengan pedang yang dipakai oleh Dorothy.
Ia menimbang pedang tersebut dengan mengayunkannya beberapa kali di udara. Tidak terlalu ringan dan tidak terlalu berat, itu merupakan pedang yang dipakai oleh Luminas. Pedang itu seakan dibuat hanya untuk obsesi para pengrajin terhadap keseimbangan.
‘Pedang yang nyaman, ini cocok untukku’
Luminas mengayunkan pedangnya sekali, lalu dilanjutkan dengan mengayunkannya lebih cepat sebanyak tiga kali. Lalu ia menggeser kakinya ke depan dan mengayunkan pedangnya dengan kuat seakan ia menebas sesuatu.
“Kalau begitu, kita mulai saja latihan berpedangnya,”
.
.