Themis, The Flower of Justice

Themis, The Flower of Justice
Chapter 8 — Keputusan sulit(4)



‘Pria Delta ini... Apa dia meniruku?’


Merasa ada yang janggal, pria eksekutor tersebut berniat menjaga jarak dan mengamati musuhnya terlebih dahulu. Namun Nielson tidak membiarkan pria tersebut menjaga jarak begitu saja. Ketika pria itu mulai menjaga jarak dari dirinya, Nielson langsung memotong jarak dan tidak memberi kesempatan dirinya untuk mundur.


Menanggapi Nielson yang terus mendekat, pria eksekutor tersebut malah menerobos serangan Nielson dan melakukan serangan balasan. Dari jarak yang sangat dekat ia melakukan ancang-ancang dan melancarkan tendangan tinggi yang tampak seperti bulan sabit mengenai wajah Nielson.


‘Crescent Moon Kick!’


Meskipun tubuhnya ramping, kekuatan dari serangan tersebut tidak kalah hebat dari orang-orang bertubuh besar yang dihadapi Nielson sebelumnya. Nielson yang terkena serangan tersebut kehilangan keseimbangannya sesaat dan hendak terjatuh. Kekuatan dari tendangan tersebut cukup kuat untuk menerbangkan Nielson, namun Nielson menahannya dan menguatkan posturnya. Ia memberikan tumpuan kuat pada kakinya seperti hendak menendang dari posisi tersebut.


Nielson kemudian mengeluarkan tendangan yang sama persis dengan yang dikeluarkan pria eksekutor tersebut. Pria tersebut terkejut, meskipun ia sudah mengira Nielson sedang menirunya, tapi melihat yang terjadi tepat di depan matanya membuat dirinya tak percaya. Dirinya yang tidak mengira akan diberi serangan balasan oleh Nielson, terkena serangan telak yang benar-benar membuatnya jatuh ke tanah.


‘Apa-apaan itu?! Aku tahu bahwa dia sedang meniruku, tapi serangan balasan tiruan dari posisi seperti itu? Apa dia ini monster?!’


Pria tersebut masih berusaha menyangkal adegan yang terjadi tepat di depan matanya. Ia masih tertegun dengan Nielson yang mendaratkan serangan balasan dalam posisi yang hampir mustahil untuk melancarkan serangan balasan.


Tanpa sadar, pria tersebut tersenyum. Ia merasa bahwa Nielson adalah lawan yang menyenangkan untuk dihadapi. Mengingat bahwa dirinya selalu dikekang oleh aturan yang menurutnya menyebalkan, ia telah menemukan suatu pertarungan yang berharga setelah sekian lama. Ia menjadi sangat bersemangat dalam menghadapi Nielson dan melawannya dengan segenap kemampuannya.


Nielson tidak menyia-nyiakan kesempatan ketika musuhnya sedang bingung akan dirinya, ia langsung melanjutkannya dengan tendangan lurus kuat yang mengarah ke wajah pria tersebut ketika sedang tersungkur di tanah.


Namun serangan Nielson kali ini masih dapat ditahan oleh pria tersebut. Pria tersebut terpental dan berguling ke belakang untuk mendapatkan kembali keseimbangannya karena serangan kuat yang dilancarkan oleh Nielson. Dia melihat kedua telapak tangannya yang ia buat untuk menahan serangan Nielson, tangannya terlihat berdarah dan luka-luka akibat menangkis tendangan langsung dari Nielson.


‘Tak bisa kupercaya, apa dia ini tidak kelelahan setelah semua pertarungan sebelum ini?’


Melihat tangannya yang berdarah karena menahan serangan Nielson, rasa takut dan senang bercampur menjadi satu di dalam hatinya. Di satu sisi dia senang bahwa Nielson sangat kuat untuk memberinya pertarungan yang layak, namun di sisi lain ia juga takut bahwa dirinya akan kalah karena Nielson lebih kuat darinya. Pria tersebut menarik nafas panjang. Ia harus mengembalikan ketenangannya yang hilang akibat semua kejutan dari Nielson.


Nielson tidak tinggal diam melihat lawannya yang tengah mengembalikan ketenangannya dan berusaha membalikkan alur pertarungan. Ia langsung melesat ke depan dan melancarkan serangan dadakan. Nielson melayangkan tinju-tinju cepat dan kuatnya ke arah pria tersebut.


‘Ini... Teknik yang digunakan oleh pria Beta tadi untuk menghadapinya kan? Ringan namun cepat... Tapi entah kenapa serangannya terasa lebih sempurna ketimbang pria Beta sebelumnya...’


Pria tersebut menghindari semua tinjuan cepat yang dilayangkan oleh Nielson, ia menghindari sambil menganalisis serangannya dan menunggu celah untuk menyerang balik. Nielson yang tahu pria tersebut menunggu celah, tidak membiarkan dirinya menyerang balik. Ia mengganti serangan tinjunya dengan sekejap dan melakukan tendangan crescent moon kick milik pria tersebut.


Kombinasi serangan aneh Nielson berhasil membuat pria tersebut terkena serangan telak. Pria eksekutor tersebut kehilangan keseimbangannya, Nielson melanjutkannya dengan melakukan serangan horizontal dari bawah. Ia meninju pinggang samping pria tersebut dengan keras hingga terdengar suara tulang yang patah.


‘Uwrgh, tulang rusukku!’


Pria eksekutor tersebut memuntahkan darah yang cukup banyak akibat tulang rusuknya yang patah. Ia kehilangan kekuatannya untuk menjaga posturnya, Nielson melihat itu sebagai peluang dan melancarkan serangan kuat bertubi-tubi. Nielson meninju seluruh tubuh pria tersebut dengan lebih kuat dan cepat hingga membuat pria tersebut tampak seperti karung tinju yang tidak bisa menghindari serangan.


Ia kewalahan dengan serangan kuat yang dilancarkan Nielson. Ia sudah tidak bisa menghindar dari semua serangan Nielson dan tampak sudah dipastikan kalah. Pria tersebut kemudian bergegas mengambil jarak dan mengorek-ngorek sesuatu dari balik jasnya. Melihat pria tersebut mengambil jarak, Nielson tidak membiarkannya. Ia langsung memotong jarak dan hendak kembali melancarkan serangan-serangannya. Namun—


*BANG


Terdengar bunyi tembakan, darah mengalir dari bahu Nielson. Ekspresinya tampak sangat terkejut akan tembakan yang tak dirinya sangka.


“UGHHH!”


Nielson langsung berlutut dan mengerang kesakitan. Ia berusaha menahan teriakkannya akibat rasa sakit peluru yang bersarang di bahunya.


“Haha, sayang sekali. Aku berniat menembak jantungmu, namun sepertinya kau menyadarinya dan segera berusaha menghindarinya~ “


Pria tersebut meledek Nielson sambil menampilkan seringannya yang keji. Ia tampak sangat puas dengan ekspresi terkejut dan kesakitan yang ditampilkan di wajah Nielson.


Nielson menatap tajam pria tersebut.


“Hahaha! Tak usah menatapku seperti itu! Kita bukan berada di ring, kau tahu? Di sini kita bebas menggunakan segalanya! Kau juga harusnya bangga dengan dirimu, kau berhasil menghindari serangan vital dari peluru yang ditembakkan padamu! Ahahaha!”


Pria tersebut mengeluarkan tawa kejinya. Nielson mengepalkan tangannya dengan erat, ia merasa bahwa dirinya sangat naif karena mengira bahwa pria tersebut akan terus menggunakan tangan kosong meskipun sudah terpojok.


‘Haah-haah, aku tenggelam dalam suasana dan terlalu fokus bertarung hingga melupakan sesuatu yang dasar. Ini murni kesalahan fatal akibat kecerobohanku,'


Nafasnya tersengal, akibat tertembak nafas Nielson menjadi kasar dan tak beraturan. Nielson berusaha mengembalikan ketenangannya dengan menarik nafas dalam-dalam. Ia harus tetap bersiaga jika pria tersebut ingin menembak dirinya lagi.


“Aku rasa kau harusnya tahu bahwa seorang eksekutor tidak mungkin ditemani oleh senjata lusuh seperti ini,”


Ia mengorek sisi jas yang satunya, ia mengeluarkan sebuah pistol namun tampak tidak seperti pistol biasa. Pistol tersebut jauh lebih besar dari kebanyakan pistol, bahkan tampak seperti senapan mesin. Tampilannya berwarna hitam, dengan garis biru-biru menyala yang tampak seperti energi listrik yang mengalir di dalamnya.


Mata Nielson terbelalak melihat pistol tersebut yang dikeluarkan pria tersebut.


‘Itu adalah sebuah.... Eliminator!’


Eliminator, sebuah senjata yang sangat kuat dari perang dunia ketiga. Senjata tersebut menggunakan listrik sebagai sumber tenaganya lalu menembakkan gelombang elektrik dengan voltase yang sangat tinggi. Bahkan ketika sebuah kereta baja ditembakkan eliminator kereta tersebut langsung hancur.


Pasca perang dunia ketiga, semua senjata tersebut disita karena dinilai terlalu berbahaya. Namun tampaknya organisasi Nielson mampu mendapatkannya dan memproduksi massal senjata berbahaya tersebut.


“Dari reaksimu tampaknya kau tahu bahwa senjata ini adalah eliminator, aku rasa nasibmu sudah jelas ketika aku mengeluarkannya. Bagaimana jika kau menyerahkan dirimu? Aku berubah pikiran ketika melihat kemampuanmu. Dengan kemampuanmu aku rasa kau tidak kurang dari 10 besar Alpha. Paling kau hanya dicuci otak dan dipasang bom nano di jantungmu, tapi lebih baik daripada mati kan?”


“Dari ekspresimu aku rasa kau setuju? Jika kau setuju maka jabat tanganku,”


Melihat ekspresi Nielson yang terdistorsi, wajah pria tersebut tersenyum sangat lebar, ia merasa bahwa Nielson tidak akan menolak tawarannya dan kembali bergabung dengan mereka. Jika Nielson yang memiliki kemampuan sangat hebat kembali bergabung karenanya, maka organisasi pasti akan menganugerahkan dirinya dengan hadiah yang luar biasa. Memikirkan apa yang akan diterimanya, pria tersebut tidak bisa menahan senyum lebarnya.


Pria tersebut berjalan ke arah Nielson yang tampak murung sambil menjulurkan tangannya, namun tangan satu lagi masih menodong eliminator ke arah Nielson.


Nielson tampak ingin menjabat tangan pria tersebut dan mengulurkan tangannya, namun—


“Makan kotoran saja sana! Aku tak sudi kembali ke neraka itu bahkan jika aku harus mati,”


Nielson mengacungkan jari tengahnya.


Melihat jari tengah Nielson, pria tersebut menjadi terdiam. Ia menghela nafas, wajahnya menampilkan kekecewaan ketika ia mengira Nielson akan menerima tawarannya namun malah menolaknya.


“Jadi begitu, aku pikir pria pintar sepertimu akan lebih memilih hidup. Yah, aku cuma merasa sayang bahwa kami akan kehilangan orang sehebat dirimu. Tapi mau bagaimana lagi, KAU SUDAH TAK BISA DISELAMATKAN LAGI,”


Ekspresi pria tersebut berubah seketika, sekarang ia tampak ingin membunuh Nielson berulang kali. Ia kesal bukan karena organisasi kehilangan orang yang luar biasa berbakat seperti Nielson, tetapi karena dirinya telah kehilangan kesempatan emas yang ia nanti-nantikan seumur hidupnya, juga karena Nielson sudah menghina dirinya ketika ia mengira bahwa Nielson akan menerima tawaran tersebut. Pria itu menodongkan eliminator ke arah Nielson. Memikirkan bahwa kesempatan emas yang ia nantikan telah hilang, pria tersebut semakin kesal dan dengan kasar menekan pelatuk eliminator tersebut.


*BZZZT


Eliminator sedang mengisi dayanya, sebelum eliminator sempat menembak, Nielson memanfaatkan momen yang sangat singkat itu dengan melesat ke depan pria tersebut dan menendang eliminator untuk mengubah arah tembakannya.


*BAM


Eliminator menembakkan gelombang elektriknya. Meskipun Nielson berhasil mengubah arah serangan, serangan tersebut tetap mengenai Nielson dan membuat tangan serta seluruh tubuh bagian kiri Nielson hancur lebur. Darah mengalir deras ke lantai. Nielson mengerang dan berteriak dengan keras, rasa sakit kali ini berada di level berbeda dengan tembakan sebelumnya.


“Hmmm, aku tak menyangka bahwa kau akan menyerangku dan berhasil mengubah arah serangannya. Yah walaupun itu sia-sia, dengan kondisi tersebut kau tidak akan mampu bertahan hidup lebih dari 1 jam,”


Nielson menatap tajam ke arah pria tersebut sambil menahan rasa sakit yang dialaminya karena kehilangan tubuh bagian kiri. Namun—


Nielson tersenyum. Pria eksekutor tersebut terkejut, ia merasa heran kenapa Nielson berekspresi seperti itu ketika dia sudah diambang kematiannya. Dia kemudian membidikkan eliminatornya ke arah Nielson kembali.


“Yah, terserahlah. Kurasa dia sudah gila karena rasa sakit yang dialaminya. Kalau begitu, selamat tingga—“


*BANG


Suara tembakkan terdengar, darah mengalir ke tanah. Namun itu bukanlah darah Nielson, melainkan darah pria eksekutor tersebut yang terkena tembakkan di jantungnya.


“Kau benar, aku tidak mungkin bertahan hidup lebih dari satu jam. Tapi satu jam adalah waktu yang cukup untuk menyeretmu ke neraka bersamaku,”


*BANG BANG BANG BANG


Nielson menembak pria tersebut bertubi-tubi hingga amunisi senjata yang dia gunakan habis. Pria tersebut tidak sempat menghindar, semua tembakkan Nielson dengan akurat mengenai seluruh titik vitalnya. Karena peluru yang bersarang di seluruh tubuhnya, pria tersebut langsung jatuh ke tanah dan tewas seketika.


Nielson membuang senjata yang sudah tidak berisi peluru tersebut ke lantai dan mengambil eliminator yang ia genggam.


“Kau pikir aku bodoh akan mengulangi kesalahan yang sama dan menyerang secara gegabah? Ketika aku menerobos ke arahmu itu tidak untuk mengubah serangan eliminator semata, tetapi juga untuk mengambil pistol yang tersangkut disakumu. Yah, aku tidak menyalahkanmu yang terlalu fokus dengan diriku yang terluka,”


Nielson berbicara kepada tubuh pria tersebut yang sudah tak bisa menjawab dan menjelaskan bagaimana ia bisa menggunakan pistol tersebut. Ia kemudian memeriksa eliminator di tangannya, namun Eliminator tersebut menolak Nielson karena dirinya tidak memiliki akses untuk menggunakan eliminator sehingga tersebut menjadi tidak berguna dan tidak lebih dari seonggok besi berat. Ia membuang eliminator ke tanah dan berjalan terseok-seok meninggalkan medan berdarah tersebut.


“Hahh, firasat burukku benar. Aku sekarat,”


Nielson yang keadaannya sudah compang-camping, tersungkur duduk ke tanah. Ia menghembuskan nafasnya yang panjang, seperti menggambarkan semua kelelahan yang ia alami hari ini.


Melihat apa yang dialami Nielson hari ini, kelelahan mental maupun fisik pasti menumpuk pada diri Nielson. Dari persidangan yang menguras mental Nielson, sampai pertarungan hidup dan mati yang ia alami sepanjang perjalanan sampai kesini, itu semua membuat Nielson kelelahan secara mental dan fisik. Keletihan yang luar biasa sehingga ia merasa bahwa tidak ada orang mana pun yang mengalami kelelahan seperti ini.


Nielson duduk termenung dan menatapi langit, ia terlihat seperti orang yang sedang menunggu ajalnya yang bisa datang kapan saja menghampirinya. Ia melirik ke arah lukanya yang sangat parah tersebut. Melihat luka yang tak mungkin bisa disembuhkan tersebut, Nielson menjadi putus asa, dan merasa bahwa dirinya tidak mungkin memiliki kesempatan hidup.


‘Yah, tidak buruk menghadapi kematian seperti ini. Memperjuangkan keadilan bahkan hingga akhir hidupku... Aku cukup puas dengan kematian seperti ini,'


Mata Nielson terpejam, ia sudah pasrah menghadapi kematiannya. Namun tetesan hujan asam yang jatuh ke lukanya menarik kembali kesadaran Nielson. Hujan asam yang cukup tinggi membuat luka Nielson semakin parah dan rasa sakit tersebut menyadarkan dirinya bahwa masih ada hal tersisa sebelum ia menghadapi kematiannya.


‘Benar, masih ada hal yang tersisa. Aku harus berusaha menepati janjiku dan menemuinya. Meskipun aku akan mati pada saat itu...’


Ekspresi Nielson yang tadinya tampak putus asa, mendapatkan kembali semangat hidupnya. Ia tampak telah membulatkan tekadnya untuk menepati janjinya dengan menemui Alice meskipun ia akan mengalami kematian yang menyakitkan.


‘Aku harus cepat, melihat seorang eksekutor di sini aku menjadi khawatir apa yang terjadi pada Alice meskipun ia melewati jalan rahasia,'


Nielson bergegas dan mempercepat langkahnya, ia berbalik arah menuju ke arah lorong rahasia untuk menyusul Alice. Intuisinya mengatakan bahwa Alice tidak akan baik-baik saja. Dengan adanya eksekutor di sini, Alice bisa menghadapi siapa saja. Meskipun Zeta-003 menunggu diujung lorong, Nielson tetap merasa khawatir karena ia tidak tahu bahwa organisasi akan mengirimkan apa lagi kepadanya, ia takut bahwa pelarian Alice akan terendus dan membuatnya terancam bahaya.


.....


.....