The Unloved Queen's Revenge

The Unloved Queen's Revenge
Queen 64. Aku Mencintaimu Ratuku ( END)



Sung Won beserta para anteknya mendapat hukuman yang setimpal. Di sebuah padang tepatnya di pinggiran kota, Sung Won dibawa bersama semua yang berkhianat ke sana dan siap menerima hukuman.


Seorang algojo dnegan badan besar dan kepala tertutup siap menerima perintah untuk melakukan eksekusi. Seluruh warga berkumpul menyaksikan akhir dari seorang pengkhianat dan sebuah pengkhianatan.


" Mati! Mati! Mati!"


" Habiskan pengkhianat!"


" Bumi hanguskan mereka!"


" Cih, dasar pejabat tidak tahu diri!"


" Manusia kotor, cuih!"


Para warga sungguh merasa geram dengan ulah Sung Won dan sekutu nya. Terlebih pejabat-pejabat itu, dimana mereka sebenarnya mengayomi dan mendukung pemerintahan, ini malah membuat rakyat menderita.


Jin Sang yang mengetahui dan mengerti cerita sebenarnya pun begitu membenci Sung Won. Dia merasa sudah ditipu dengan cerita menyesatkan dan hampir saja dia membunuh saudaranya sendiri yang sama sekali tidak bersalah.


Hari ini Jin Sang lah yang akan memimpin eksekusi terhadap Sung Won dan antek-anteknya. Bersama dengan Kyung Sam dan Dae Jung, mereka akan menyaksikan bagaimana pengkhianat itu akan di hukum mati.


" Wahai semua rakyat negara Mae, ini adalah bukti nyata bagaimana akhir dari sebuah pengkhianatan. Algojo, lakukan eksekusinya sekarang."


Satu


Dua


Tiga


Semua ditebas lehernya oleh si algojo. Mati, sudah pasti itu terjadi. Semua orang yang melihat tidak merasa ngeri sama sekali. Mereka semua bersorak. Meskipun demikian kesedihan masih meliputi negara ini karena raja mereka masih terbaring sakit. Sudah satu pekan ini Hyeon belum juga sadar. Makanan yang masuk ke tubuhnya hanya berupa pil dan minumnya harus dibantu oleh Wool.


Awal mula Wool menangis setiap kali melihat kondisi Hyeon yang tak kunjung pulih. Namun semangatnya yang tinggi dan kepercayaannya yang besar bahwa Hyeon akan kembali bangun membuat Wool tak lagi menangis. Ia merawat sang suami sendiri dengan sepenuh hati. Tentunya didampingi oleh Jae Hwan.


🌿🌿🌿


Negara Mae kembali dalam kondisi yang stabil. Semua warga melanjutkan kegiatannya dengan normal. Pasukan Jin Sang bergabung dengan prajurit milik Kyung Sam dibawah komando Kyung Sam .


Saat ini Jin Sang berada di pengadilan, memimpin jalannya rapat bersama para menteri. Setelah kejadian pembelotan kemarin, semua benar-benar di rombak. Tidak ada lagi mereka yang berani berkhianat. Negara Mae benar-benar bersih dari hal itu.


" Baiklah semuanya cukup sampai di sini. Permasalahan yang ada di wilayah-wilayah kecil negara ini jangan sampai terlewat. Kita harus segera bisa menyelesaikannya."


" Baik yang mulia."


Jin Sang keluar dari pengadilan diikuti oleh Sung Im. Sung Im menjadi pengawal pribadinya seperti sebelumnya.


" Apakah Anda?"


" Ya, kau tahu itu Im."


Sung Im mengangguk, 2 bulan ini Jin Sang selalu menuju ke sana. Dalam satu hari Jin Snag pasti akan menyempatkan mengunjungi sang adik.


" Kak,"


" Bagaimana dia hmm?"


" Seperti yang kakak lihat. Entah dia marah kepadaku atau apa. Dia sangat suka sekali tidur."


Jin Sang mendengar rengekan Wool. Pria itu membuang nafasnya kasar. Hyeon sudah 2 bulan ini tidak juga bangun, sungguh membuatnya kerepotan. Jin Sang merasa memimpin negara bukanlah jalan hidupnya. Dia lebih memilih bersama Kyung Sam berada di medan perang.


Ya selama Hyeon belum juga bangun, Jin Sang mengambil alih sementara semua urusan negara. Dia menggantikan Hyeon untuk sesaat. Awalnya Jin Sang tidak mau, dia merasa tidak pantas. Tapi mau bagaimanapun Jin Sang harus mau, pasalnya Hyeon dalam kondisi seperti itu. Negara akan gonjang-ganjing jika tidak ada yang memimpin.


" Baiklah, jika kau tak juga bangun. Akan ku ambil istrimu. Apa kau tahu, istrimu sedang mengandung. Aku akan menjadikannya anakku jika kau tidak juga bangun."


Jin Sang berbisik tepat ditelinga Hyeon. Ia tersenyum saat melihat jari-jari Hyeon mulia bergerak. Mengetahui respon Hyeon yang seperti itu, Jin Sang terus memprovokasi sang adik.


" Kau jangan macam-macam."


Semua orang terkejut mendengar suara itu, meskipun dengan terbata. Terlebih Wool, sudah dua purnama berlalu dia tidak mendengar suara milik pria yang dicintainya.


Bruuk


Wool langsung memeluk sang suami. Tangisnya pecah sambil. Ia tergugu di disana. Jae Hwan yang memang berjaga di kamar Hyeon langsung memeriksa. Tampak rona kelegaan di wajahnya saat dia mengetahui bahwa semua baik-baik saja.


" Huh tau gitu dari kemarin-kemarin aku komporin. Dan Hwan tidak perlu repot kesana-kemari untuk membuat obat agar kau bangun. Dah bangun, dan pimpin negaramu kembali."


" Hyung."


" Aku tidak cocok berdiri di sana, cuma ngomong sana ngomong sini. Aku lebih suka memegang pedang dari pada memegang kuas untuk menulis. Selamat kembali adikku Yang Mulia Raja Negara Mae."


Jin Sang memeluk Hyeon, begitu juga sebaliknya. Dia senang kembali menemukan keluarga tapi rupanya takdir raja memang bukan untuknya dari dulu.


" Maafkan aku."


" Kau sungguh menyebalkan. Apa kau tidak tahu betapa takutnya aku. Bahkan aku hampir menyerah."


Hyeon membawa Wool berbaring di sebelahnya. Keduanya hanya berdua di kamar itu. Semua orang membiarkan keduanya melepas rindu . Hyeon mengusap perut sang istri menanyakan apakah Wool benar-benar hamil dan wanita itu mengangguk. Hyeon tentu senang, apa yang ia harapkan akhirnya menjadi kenyataan.


" Sebenarnya apa yang terjadi."


" Entah, aku sendiri tidak tahu. Tapi selama aku tidur, aku merasa ada kepulan asap hitam yang membelengguku. Aku berkali-kali melihatmu dan memanggilmu. Tapi lidahku begitu kelu. Aku sudah berteriak tapi suaraku tidak keluar."


Wool kemudian bangkit dari posisi tidurnya. Ia kembali memeriksa sang suami. Wool merasa ada sesuatu yang aneh. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah titik hitam tepat berada di sebelah jantung Hyeon.


" Sial, aku melewatkan sesuatu. Dia, orang itu mengenai satu titik dalam dirimu. Sepertinya saat kau menyerangnya dia berhasil melukaimu, tapi kita tidak sadar. Dan apa yang ditanamkan di dalam dirimu itu bekerja saat kau merasa putus asa. Maafkan aku."


Wool sungguh merasa sedih karena terlambat mengetahui hal tersebut. Ia kemudian merapalkan mantra dan menekan dada Hyeon. Hyeon sedikit terjingkat hingga ia terbatuk dan darah hitam keluar dari mulutnya.


" Semuanya sudah berakhir. Terimakasih sudah menungguku istriku, ibu dari anak-anakku. Maafkan aku jika dulu berbuat kasar kepadamu."


" Sudahlah, itu bukan dirimu. Kau dibawah pengaruh ilmu jahat. Yang terpenting saat ini kita baik-baik saja."


Hyeon mencium bibir Wool dengan lembut. Mereka saling menyesap untuk sesaat. Hyeon membelai lembut wajah sang istri. Betapa bersyukurnya dia mendapatkan Wool sebagai istrinya. Dalam hati dia berjanji tidak akan pernah membuat sang istri merasa sedih ataupun kecewa.


" Aku mencintaimu ratuku."


" Aku juga mencintaimu."


...~SELESAI~...


Akhirnya selesai juga ya. Hehehe. Kalo ada yang tanya, kok nggak sampai lahiran sih tor? Nah itulah author, rata-rata emang cuma sampai hamidun doang 😁.


Terimakasih readers yang sudah mengikuti Wool dan Hyeon sampai akhir. Ada rencana sih pengen buat cerita tentang anak mereka. Tapi belum tahu kapan.


Terimakasih semuanya, matursuwun, gumawo. Sampai berjumpa di karya-karya othor yang lain.


...Salam sayang...


...Author IAS...