
Jin Sang bersama pasukannya mulai memasuki istana. Namun dia sedikit heran, pasalnya Istana sangat sepi. Tidak ada satupun prajurit yang menjaga.
Tak mau banyak berpikir Jin Sang tetap menerobos istana sesuai rencana semula. Ia mengabaikan perasaannya yang merasa aneh dengan situasi malam ini. Istana seakan-akan sedang menyambutnya.
Jin sang menuju ruang pengadilan, dimana tahta istana Negara Mae berada. Entah mengapa Jin Sang sangat ingin melihat tahta tersebut.
Kleeek
Pintu itu ia buka dengan perlahan. Tapi meskipun begitu suara decitan masih saja terdengar. Suasana malam yang memang gelap membuat ruangan itu pun tidak terlihat apa-apa. Apalagi tidak ada lilin yang menyala disana. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela yang dibiarkan terbuka.
" Selamat datang Pangeran Jin Sang. Selamat datang Jin Sang Hyungnim, lama tidak bertemu."
Jin Sang terperanjat mendengar suara seseorang disana. Ia mengabil sikap waspada dengan menarik pedangnya dan mengaacungkanya ke sumber suara.
" Siapa kau."
" Aku Hyeon hyung. Apa kau tidak ingat aku, aah iya, kau meninggalkan istana saat masih kecil. Kau pasti lupa kebersamaan kita dulu. Sebenarnya aku pun begitu. Aku sudah lupa. Apakah kita tidak bisa mengulang masa itu kembali."
" Omong kosong."
Terdengar suara yang bergetar dari Jin Sang. Bukan karena takut tapi karena marah. Ya, Jin Sang sungguh merasa marah dengan ucapan Hyeon tersebut.
" Hyung, aku mohon kembalikan istriku. Aku tahu kau membawa Gege bukan?"
Nada keputusasaan dapat didengar dari Hyeon. Jin Sang merasa sedikit aneh, bukankah Gyeo Wool adalah ratu yang tidak diinginkan? Tapi sepertinya tidak demikian. Dari suara Hyeon yang terdengar sedikit kesakitan bisa Jin Sang ketahui kalau Hyeon begitu mencintai istrinya.
" Heh, tidak semudah itu. Bukankah kau tidak mencintai istrimu?"
" Tidak hyung, itu tidak benar. Aku sangat mencintainya. Bahkan aku mencintainya lebih dari apapun di dunia ini. Aku mohon kembalikan Gege kepadaku. Kau boleh mengambil apapun dariku asalkan istriku kembali."
" Termasuk tahtamu? Termasuk kerajaan ini?"
" Ambillah hyung, aku tidak membutuhkan semua itu."
Ucapan Hyeon terlihat sangat serius. Tidak ada kebohongan di sana. Jin Sang melihat Hyeon bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri. Tapi baru dua langkah Hyeon jatuh tak sadarkan diri.
" Hyeon!!! Hyeon, kau kenapa?"
Mendengar teriakan Jin Sang, Sung Im yang menunggu di depan pintu pun masuk. Tak lama Jae Hwan dan Kyung Sam pun masuk.
Jae Hwan langsung memeriksa keadaan Hyeon. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pil obat tadi hanya bertahan beberapa saat dan setelahnya malah memperburuk kondisi tubuh Hyeon.
Jin Sang tentu terkejut mendengar pernyataan Jae Hwan. Kyung Sam yang hendak mengangkat Hyeon dihadang oleh Jin Sang. Pada akhirnya Jin Sang yang menggendong Hyeon menuju ke kamarnya.
" Sung Im, jemput Ratu Gueo Wool kemari."
" Baik Tuan Jin."
Sung Im melaksanakan perintah Jin Sang tanpa banyak bertanya lagi. Sedangkan Jin Sang dia duduk di sebelah Hyeon dibaringkan.
" Apa Pangeran Jin benar ingin mengambil tahta. Jika benar, bahkan besok kita bisa melakukan penobatan Anda."
" Sebenarnya apa yang terjadi? Apa kalian sudah tahu bahwa aku akan datang malam ini?"
Kyung Sam mengangguk. Ia kemudian menjelaskan semua yang Hyeon lakukan. Menarik mundur semua prajurit, dan membiarkan istana tanpa penjagaan.
" Apa yang menjadikan Anda ingin merebut tahta Yang Mulia Raja Hyeon?"
" Ayahku, ayahku telah diperlakukan tidak adil oleh ayah Hyeon. Hanyeol dengan sengaja menggulingkan ayahku."
" Baiklah kalau itu menurut pandangan Anda. Jika hamba yang menjelaskan hamba yakin Anda tidak akan percaya. Dae Jung, Du Ho!"
Dae Jung dan Du Ho yang dipanggil namanya oleh Kyung Sam langsung mengerti. Kedua orang tersebut langsung pergi dan tak lama kemudian mereka kembali. Dae Jung membawa Menteri Ling Anh dan Du Ho membawa Penasehat Byung Sun.
Jin Sang mengerutkan kedua alisnya saat kedua orang itu di dorong ke depan Jin Sang. Kedua orang yang sudah tidak muda itu bergetar ketakutan. Mereka seperti ayam yang dimasukan ke kandang harimau.
" Kami mohon ampun Pangeran Jin Sang. Kami hanya diminta oleh Sung Won. Semua cerita itu pun Sung Won yang membuatnya."
" Apa maksudmu?"
Ling Anh dan Byung Sun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di puluhan tahun silam itu. Jin Sang bahkan berkali-kali menggelengkan kepalanya karena saking tidak percayanya dengan apa yang disampaikan oleh kedua orang itu.
" Tidak, itu tidak benar kan?"
" Maaf Pangeran Jin, tapi apa yang dikatakan dua pengkhianat adalah benar adanya. Tapi pangeran, yang mulia mengatakan akan menyerahkan tahta tersebut jika memang Anda menginginkannya."
Jin Sang masih mencerna semua yang masuk ke telinga dan pikirannya. Ia tentu tidak serta merta percaya. Hingga Jae Hwan menjelaskan mengenai Wool yang hampir terbunuh karena dendam salah seorang yang keluarganya dihabisi oleh Hansoe.
" Tidak, itu tidak mungkin. Mana bisa seperti itu."
" Semuanya benar Tuan Jin atau saya harus memanggil Anda kakak ipar. Semua yang terjadi adalah benar. Entah siapa yang mencuci otak Anda hingga membuat Anda begitu membenci Hyeon. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah benar adanya."
Jin Sang mencengkeram erat rambutnya, ia meremassnya dengan sangat erat. Hidupnya dipenuhi dengan dendam selama ini. Dimana dendam itu adalah salah. Dendam yang salah sasaran. Ucapan Wool benar-benar membuat Jin Sang tidak bisa berkata apapun.
" Oh tidak, yeobo, kau kenapa. Kak Hwan apa yang terjadi dengan Hyeon?"
Jae Hwan menceritakan semuanya. Air mata Wool pun pecah. Terdengar tangisan pilu dari bibir wanita itu.
" Maafkan aku, maafkan aku suamiku. Jika aku menurutimu untuk tetap tinggal di kediaman maka kau tidak akan begini."
" Sudah jangan menyalahkan dirimu sendiri. Tidak akan lama lagi pasti dia akan bangun."
Ucapan Jae Hwan membuat mereka setidaknya menjadi lega. Terutama Wool. Dia meraih tangan sang suami lalu menggenggamnya dengan erat. Jae Hwan kemudian membawa semua orang keluar dari sana dan meninggalkan Wool berdua saja dengan Hyeon.
Jin Sang berjalan sendiri menuju ruang pengadilan. Dia berjalan naik ke tahta. Menyentuh dan mengusap kursi kebesaran tersebut. Kursi yang mungkin jadi miliknya jika sang ayah adalah pria yang baik. Kursi yang jadi obsesinya karena ketidaktahuannya.
Sekarang Jin Sang mencoba duduk di sana. Matanya menatap lurus ke depan. Kehidupannya selama ini tidaklah mudah bukan karena salah siapa-siapa. Bukan salah Hyeon ataupun ayah Hyeon. Juga bukan salah negara yang ia anggap telah membuangnya.
Jin Sang menutup wajahnya sendiri, ia menangis disana. Di tahta yang ia impikan sejak lama, ia tersedu. Sebuah pertanyaan hinggap di hatinya, apakah dia pantas untuk duduk disana? Seberapa pantaskah ia memimpin negara ini?
TBC