
Setelah menemukan fakta yang menurut Wool mengejutkan mengenai siapa Da Eun. Ia pun memutuskan untuk kembali ke penginapan yang sudah didapatkan oleh ketiga orangnya yang lain.
Malam mulai datang dan benar saja, keadaan di luar begitu sangat sepi. Hal tersebut dimulai saat senja. Ketika senja sudah mulai nampak dan matahari mulai menghilang, semua orang benar-benar tidak ada yang beraktifitas. Mereka menghentikan semua kegiatannya dan langsung masuk ke rumah lalu mengunci pintu. Tidak hanya itu, bisa Wool lihat mereka bahkan langsung ke kamar masing-masing dan tidak ada yang keluar dari kamar.
Meskipun memesan 2 buah kamar besar untuk mereka tempati, tapi Wool meminta mereka semua untuk berada dalam satu kamar. Baik Du Ho maupun Yesung, keduanya tidak bisa menolak karena mungkin lebih baik seperti ini.
Hawa dingin berhembus ke dalam kamar penginapan tersebut membuat Dasom dan Kasim Ho bergidik ngeri. Namun Yesung dan Du Ho melakukan hal lain. Kedua orang tersebut menarik pedang mereka masing-masing
Sreeeeet
Du ho dan Yesung memasang kuda-kuda. Sedangkan Wool dia berusaha untuk tenang. Wool duduk bersila di bangku yang ada di dalam penginapan tersebut. Matanya terpejam. Ia sedang membuka titik-titik spiritualnya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di luar sana.
" Astaga!"
Mendengar Wool sedikit berteriak membuat Yesung dan Du Ho mendekat ke arah Wool. Begitu juga dengan Dasom dan Kasim Ho.
" Ada apa yang mulia," tanya Yesung khawatir.
" Entah apa yang dilakukan orang itu. Mengapa banyak orang yang mati di desa ini."
" Ma-maksud yang mulia ratu apa?"
Kasim Ho seketika tergagap dengan jawaban ratunya tersebut. Antara mengerti tapi juga tidak mengerti.
Wool masih diam saja, belum menjawab pertanyaan Kasim Ho. Tapi dia bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah jendela. Wool membuat sebuah lubang di sana untuk melihat apa yang terjadi di desa itu saat malam.
" Benar, itu pasti ulah wanita tua yang tempo hari."
Yesung dan Du Ho yang penasaran dengan apa yang dilihat oleh ratunya pun ikut melakukan apa yang ratunya lakukan. Keduanya pun terkejut dengan pemandangan malam di desa itu. Desa itu tampak 'ramai' di kesunyian yang mencekam. Terlihat tubuh-tubuh yabg tidak bernyawa itu berjalan kesana kemari layaknya seperti orang hidup. Kasim Ho dan Dasom pun ikut melihat dan mereka sangat terkejut dengan apa yang mata mereka lihat.
Dasom yang sensitif seketika langsung merinding bulu kuduknya saat ia merasa salah satu tubuh mati itu seperti melihat ke arahnya.
" Ma-mama, mereka sepertinya mengetahui keberadaan kita."
Ucapan Dasom tentu langsung membuat Wool waspada. Ia memeriksanya dengan kembali melihat ke arah jalanan. Dan benar, beberapa tubuh tak bernyawa itu melihat ke arah kamar penginapan mereka.
" Gawat. Mereka sepertinya menyadari keberadaan kita."
Wool kemudian meminta pedang milik Yesung dan Du Ho. Entah apa yang dilakukan Wool tapi di tangan Wool pedang kedua pengawal itu mengeluarkan cahaya putih terang namun hanya sekejap.
" Jika mereka datang kita akan melawannya," ucap Wool yang dijawab anggukan kepala oleh Yesung dan Du Ho.
Mereka berlima menunggu di kamar itu dengan sikap waspada. Hingga sebuah ketukan pintu membuat mereka semua yang ada di dalam kamar terkejut. Yesung, Du Ho, dan Wool mengeratkan tangan mereka pada pedang masing-masing. Ketiganya benar-benar siap untuk melawan.
" Tuan-tuan, apa Anda semua masih terjaga?"
Sebuah suara manusia normal membuat semua saling pandang. Namun mereka tidak serta merta percaya. Hingga orang yang ada di luar kamar itu kembali berbicara.
Yesung menurunkan pedangnya dan memasukkan kembali pedang itu ke sarungnya. Ia lalu berjalan ke arah pintu dengan hati-hati.
Sreeek
" Oh tuan pemilik penginapan, ada apa ya?"
Pria itu tampak diam saat Yesung bertanya. Terlihat gurat ketakutan di wajah pria yang usianya mungkin sekitar 40 tahunan.
Wool pun mendekat ke arah pintu. Ia melihat pria itu. Wool merasa ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh pria pemilik penginapan.
" Mari masuk tuan. Anda aman bersama kami."
Pria tersebut melihat wajah Wool dengan seksama. Dalam hatinya mengatakan bahwa apa yang dikatakan Wool bisa dipercaya.
Akhirnya pria tersebut ikut masuk ke dalam kamar Wool dan duduk setelah dipersilahkan.
" Salam yang mulia ratu, maafkan hamba yang terlambat menyadari keberadaan yang mulia.
" Kau mengenaliku?"
Kini Wool yang terkejut mendengar ucapan pemilik penginapan. Padahal Wool sudah berpakaian layaknya seorang pria tapi pria itu bisa mengenalinya.
" Maaf yang mulia. Hamba baru mengenali yang mulia tadi saat Anda makan malam. Perkenalkan hamba Jong Chan. Anda bisa memanggil hamba Chan."
" Baiklah tuan Chan, tapi panggil saya tuan saja agar semua orang tidak curiga. Oh iya apa kau mengenal Da Eun, maksudku Han Byeol?"
Sembari mengatakan nama lain Da Eun, Wool mengeluarkan lukisan yang ia buat tadi siang. Jong Chan melihat dengan seksama wanita yang ada di lukisan Wool.
" Ya tuan, saya mengenalnya. Han Byeol sering datang menemani tamu saat berada di sini. Tapi hanya dilakukan di siang hari. Jika malam hari ~"
Chan, pemilik penginapan itu menghentikan ucapannya. Ia melihat sekeliling, seakan-akan takut jik aada yang mendengarkan pembicaraan mereka.
" Tidka perlu diteruskan. Aku mengerti apa yang kau maksud. Lalu apakah kalian tidak tahu kemana Byeol pergi."
" Tidak, kami tidak pernah tahu kemana wanita itu pergi. Yang kami tahu dia pergi bersama pria tua. Katanya sih itu ayahnya."
Wool dan yang lainnya saling pandang. Mereka tentu tahu bahwa Da Eun dibawa ke istana oleh Hyeon, raja mereka. Jadi mana mungkin Da Eun pergi dengan seorang pria tua.
Tak mau banyak bicara mengenai Da Eun, akhirnya Wool menanyakan hal lain. Yakni hal yang terjadi di desa itu. Chan pun menjelaskan apa yang dia tahu. Tak lama Jong Chan pun keluar meninggalkan Wool dan yang lainnya.
" Aku rasa ini sedikit aneh. Apakah mata para warga ini ditutup atau ditipu saat Da Eun atau Han Byeol dijemput?"
" Bisa jadi yang mulia. Biar yang mulia raja tidak tahu fakta bahwa Da Eun adalah seorang gisaeng."
Wool mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Dasom. Jika begitu selama ini Hyeon sudah ditipu oleh Da Eun. Bisa juga ketertarikan Hyeon kepada Da Eun juga merupakan rekayasa semata.
Saat mereka tengah mencoba memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi tiba-tiba terdengar suara teriakan di luar kamar. Semuanya langsung berlari keluar kamar.
" Tolong!!!"
" Lepaskan Jong Chan, lawan mu bukan dia tapi aku!"
TBC