
Lain Hyeon lain pula Hwol. Sesuai apa yang ratu tersebut perintahkan kini dia, Kasim Nam dan Dasom sudah berpakaian seperti orang biasa. Tentu saja Wool dan Dasom berdandan seperti laki-laki.
Du Ho yang tadinya menolak keras kini mau tidak mau ikut dalam permainan sang ratu.
Biarlah aku mati nanti dari padamati sekarang, gumam Du Ho dalam hati.
Pengawal pribadi ratu tersebut tentu snagat ingat bagaimana tatapan membunuh sang raja saat mengetahui ratunya mesyusul ke kabupaten Ding waktu lalu. Sungguh Du Ho tidak ingin ditatap begitu. Tapi sepertinya nanti dia tidka akan hanya sekedar ditatap melainkan dikuliti hidup-hidup oleh snag raja. Apalagi sekarang raja begitu menyayangi ratu.
Anda benar-benar menempatkan hamba di tebih sebiah jurang yang dibawahnya terdapat bebatuan runcing yang mulia ratu, gumam Du Ho lagi.
Kalian bisa bayangkan bagaimana tertekannya wajah Du Ho saat ini. Benar-benar di sisi ratunya membuat Du Ho selalu was-was.
" Tck, Du Ho!! Jangan banyak melamun. Kau nanti bisa mati muda. Ayo cepat jalan!"
" Tidak lama lagi juga saya akan mati yang mulia."
Kasim Ho yang mendengar jawaban Du Ho terhadap teriakan Wool pun terkekeh geli. Kasim Ho baru kali ini melihat wajah pengawal yang berbadan tinggi nan tegap itu sangat pias.
" Jangan menertawaiku, nasibmu tidak akan jauh dariku."
Glek
Kasim Ho menelan saliva nya dengan susah payah. Apa yang dikatakan Du Ho tentu saja benar adanya.
Saat ini mereka bertiga mengikuti Wool keluar istana. Yang mereka tahu Wool ingin mendatangi kampung halaman Da Eun. Jika di data diri Da Eun tertulis dia berasal dari desa Namngoel, dan di sana tertulis juga Da Eun hanya tinggal bersama sang ibu. Tapi anehnya Da Eun tidak pernah menemui ibu nya sama sekali setelah diangkat menjadi selir Hyeon.
Wool tentu bingung, masa ada anak yang sudah 2 tahun pergi meninggalkan rumah tapi sama sekali tidak mengunjungi ibunya. Apakah tidak rindu?
Pertanyaan itu yang terngiang dipikiran Wool. Maka dari itu Wool nekat untuk pergi ke Namngoel. Padahal perjalanan yang mereka butuhkan paling tidak seharian. Jika mereka berangkat siang ini maka tengah malam nanti mereka baru akan tiba. Sungguh ini membuat Du Ho ketar ketir.
" Yang mulia, bagaimana jika yang mulia raja nanti mencari Anda?"
" Ya biarkan saja dia mencariku. Bagus malah. Aku juga sudah meninggalkan surat untuknya."
Mereka bertiga benar-benar tak habis pikir dengan ulah sang ratu. Bagaimana bisa dia dengan santainya berbicara seolah-olah raja tidak akan marah nanti. Tapi akhirnya Kasim Ho, Dasom, dan Du Ho diam saja. Mereka hanya akan mengikuti apa yang ratunya lakukan. Percuma saja protes karena sang ratu pasti tidak akan mendengarkan jika sudah memutuskan sesuatu.
Tuplak ... Tuplak ... Tuplak ...
Suara kereta kuda yang di kusiri oleh Du Ho membelah malam. Ya mereka sudah menempuh separuh perjalanan. Du Ho menyarankan kepada Wool untuk beristirahat di sebuah kota yang mereka lalui barang semalam. Tapi Wool menolak. Keinginannya untuk cepat sampai di desa Namngoel sungguh sangat besar. Wool merasa dia tidka boleh membuang banyak waktu.
Du Ho pun lagi-lagi pasrah. Dengan di temani Kasim Ho disebelahnya membuat Du Ho merasa lebih tenang, karena jika dia mengantuk ada kasim Ho yang diajak berbicara.
*
*
*
" Apa semua terkendali Dae Jung?"
" Sementara ini aman yang mulia. Tapi sungguh kasian, mereka tidak bisa bangkit dari tidurnya. Ini lah yang jadi pekerjaan rumah bagi kita. Bagaimana mereka buang air?"
Hyeon terdiam. Ini sungguh sulit. Mereka harus mengumpulkan tabib di seluruh negri untuk membantu Jae Hwan merawat para warga.
" Umumkan ke seluruh rakyat, kita akan merekrut tabib dan barang siapa yang mau mereka akan mendapatkan bayaran yang tinggi. Satu lagi semua yang ada di sini hanya boleh makan dan minum dari bahan yang disediakan istana."
Semua mengerti, hal tersebut rupanya sudah diperhitungkan oleh Jae Hwan. Mereka harus menanggulangi akan adanya serangan kedua. Jae Hwan juga akan membuat rumuan yang banyak untuk dibagikan kepada warga bahkan yang belum terjangkit sekalian.
Keadaan ibu kota tentu sangat tidak terkendali. Mereka ketakutan luar biasa akan kabar ulat darah tersebut.
Hyeon akhirnya mengeluarkan pengumuman bahwa ibu kota dalam status siaga wabah. Semua orang dihimbau untuk tidak makan dan minum sembaragan. Hyeon juga menekankan bahwa mereka tidak boleh menerima makanan ataupun minuman dari orang lain.
" Yang mulia saya mendengar kabar kemunculan wabah ini akhirnya memunculkan gagasan dari beberapa orang untuk mendemo yang mulia."
" Biarkan, aku sudah menduganya. Hal seperti ini pasti akan ditunggangi oleh politik. Menjadikan kesempatan bagi mereka yang tidak puas denganku dan berusaha menggulingkan ku."
Sung Won yang memberikan kabar itu terlihat sangat cemas. Hyeon pun menepuk bahu Sung Won pelan. Ia tahu salah satu orangnya itu begitu mengkhawatirkannya. Tanpa Hyeon tahu dia lah sebenarnya otak dibalik apa yang terjadi. Bahkan saat ini Dung Won menyeringai saat Hyeon berbalik dan melenggang pergi dari samping Sung Won.
" Dasar raja bodoh. Kau benar-benar tidak tahu siapa orang yang di sampingmu. Baguslah, dengan begini akan mudah bagiku untuk membuatmu turun dari tahta," gumam Sung Won lirih.
Ya, Sung Won buru-buru menyusul Hyeon ke kamp penampungan agar dia tetap terlihat. Sebenarnya Sung won sangat malas, tapi hal ini harus ia lakukan untuk membuktikan bahwa dia setia. Terlebih dengan dia datang maka ia akan tahu apa rencana Hyeon selanjutnya.
Dengan melihat semua yang dilakukan Hyeon maka Sung Won pun memutuskan untuk menggunakan Jin Sang. Dalam situasi yang saat ini rakyat begitu ketakutan maka kemunculan Jin Sang akan membuat rakyat menilai dna membandingkan.
" Aku harus segera memanggil oramg bodoh itu ke ibu kot aagar bisa menyusun rencana selanjutnya."
Sung Won berjalan pelan mengendap-endap keluar dari kamp tersebut. Ia akan membuat pertemuan dengan kelompoknya. Ia menamai kelompoknya Sae Peiji yang berarti lembaran baru.
Kesibukan dan fokusnya Hyeon kepada warga yang terkena ulat darah merupakan kesempatan dan celah yang bagus untuk Sung Won leluasa dalam mengumpulkan orang-orangnya. Dia pun bisa beralasan memantau keadaan para pengunjuk rasa. Intinya Sung Won tidak ingin berada di tempat itu lebih lama.
Baginya sungguh buang waktu. Ua ingin segera membuat perencanaan untuk mengkudeta istana.
TBC