The Unloved Queen's Revenge

The Unloved Queen's Revenge
Queen 39. Mencari Cara Menguak Tabir



Tampaknya telur ulat darah itu berkembang lebih cepat dari perkiraan. Bahkan Myung Ki pun sedikit terkejut dengan kabar yang beredar. Terdeteksi beberapa warga miskin di ibu kota mengalami pingsan bersama dan tubuh yang mulai membiru.


Prediksi Myung Ki adalah telur ulat darah yang ia tanam dalam tubuh para warga itu langsung menetas saat berada dalam perut dan langsung menghisap darah inangnya. Tapi satu hal yang membuat Myung Ki sedih. Ulat darah itu akan mati jika inangnya mati.


Sampai saat ini Myung Ki masih mengembangkan ulat darah miliknya itu. Myung Ki berharap ulat darahnya akan tetap hidup meskipun tubuh yang dihinggapi telah mati.


🌿🌿🌿


Wajah Hyeon menampilkan kekesalan saat Kasim Nam menghadap. Bahkan Kasim Nam merasa nyawanya sudah berada di ujung pedang saat ini. Hawa dingin tiba-tiba menyeruak membuat bulu kuduk Kasim Nam berdiri.


Wool menyentuh lembut tangan Hyeon agar suaminya itu meredakan amarahnya. Wool pun mendekatkan bibirnya ke telinga Hyeon, " Kita masih punya banyak waktu nanti."


Hyeon pun mengangguk dan tersenyum. Senyum yang jarang sekali Kasim Nam lihat.


" Katakan ada apa?"


Kasim Nam kemudian menjelaskan apa yang terjadi di ibu kota. Tapi Hyeon tidak terkejut. Bagaimanapun ia sudah memprediksi hal tersebut.


" Dae Jung ada di luar kan, Suruh ia masuk."


Kasim Nam mengangguk lalu memanggil Dae Jung sesuai perintah Hyeon.


" Hormat yang mulia raja dan ratu."


" Sudah-sudah tidak perlu mengucapkan salam. Ada keadaan lebih genting. Kau pasti sudah tahu bukan. Sekarang langkah pertama, cari bangunan yang lebih luas. Atau bangun sebuah bangunan sementara di pinggir ibu kota untuk menampung semuanya. Aku yakin ini adalah ulah orang yang sama. Biarkan nanti Tabib Jae Hwan yang memeriksanya. Aku akan menyusul kesana."


" Baik yang mulia, hamba permisi."


Dae Jung segera meninggalkan kediaman Raja Hyeon dan melaksanakan apa yang sudah diperintahkan. Pun dengan Hyeon, ia bergegas menemui Dae Jung stelah berpamitan dengan ratunya.


Setelah Hyeon pergi tak lama kemudian In Jae, mata-mata yang ia tempatkan di istana dingin pun datang menghadap untuk memberikan laporan.


" Apakah ada sesuatu yang menarik?" tanya Wool langsung saat In Jae muncul di hadapannya.


" Ia yang mulia ratu. Tadi pagi hamba melihat Boram berbicara dengan seseorang. Setelah hamba cari tahu orang tersebut ternyata seorang pemasok sayuran."


" Kenapa bisa Boram keluar dari istana dingin?"


" Pemasok sayuran tersebut berdalih tersesat. Hamba membiarkan orang tersebut lolos karena hamba yakin ada sesuatu yang mencurigakan. Hamba sudah meminta seseorang untuk mengikuti pemasok sayur tersebut."


Wool mengerti, sepertinya dugaannya benar bahwa Boram ini tidak sesederhana kelihatannya. Wool pun meminta In Jae untuk terus mengawasi dna berhati-hati.


" Oh iya In Jae, aaah tidak jadi. Aku akan meminta Kasim Ho saja untuk melakukan ini. Kau kembalilah ke tempatmu dan hati-hati."


Setelah memberi hormat In Jae pun pergi meninggalkan kediaman yang mulia Ratu Wool. Ya setelah Hyeon pergi Wool kembali ke kediaman pribadinya. Dan saat ini ia sudah meminta Kasim Ho dan Dasom untuk masuk ke kamarnya.


Dasom berangsur pulih dengan baik. Sebenarnya Wool meminta Dasom untuk istirahat lebih lama lagi tapi Dasom menolak. Ia merasa bosan jika tidak melakukan apapun sehingga ia saat ini sudah ada di kediaman Wool untuk melayani ratunya tersebut.


" Jika mereka tidak mau memberikannya yang mulia."


Wool mengeluarkan sebuah token miliknya. Dimana dengan token itu tidak akan ada yang berani menentang perintah yang diberikan. Kasim Ho langsung tersenyum lebar, ia pun mohon pamit dan bergegas menuju tempat dimana dia seharusnya berada.


Kasim Ho memperlihatkan token dari sang ratu. Sebuah papan logam sebesar telapak tangan berlapiskan emas dengan lambang burung elang. Di ujungnya terdapat tali benang sutra berwarna merah. Semua orang penduduk istana tentu tahu apa itu.


" Berikan data pribadi mengenai Boram dan Selir Da Eun!"


Kasim Ho berinisitif untuk mencari tahu mengenai selir Da Eun. Padahal ratu tidak memintanya, namun entah mengapa Kasim Ho merasa dia perlu melakukan itu.


" Ini Kasim Ho, semuanya sudah tertulis di sini."


" Apa kau yakin semua itu adalah asli?"


Petugas administrasi tersebut mengangguk mantab. Ia yakin data itu asli, karena setiap ada orang yang masuk ke istana maka orang tersebut wajib menuliskan semua yang berhubungan tentang dirinya. Dan jika ketahuan berbohong atau memanipulasi data maka akan ada hukuman berat yang menimpa.


Kasim Ho kemudian kembali ke kediaman ratu dengan membawa laporan yang didinginkan Wool.


" Yang mulia, hamba mendapatkannya. Tapi hamba belum membacanya. Silahkan yang mulia membacanya sendiri agar lebih yakin."


" Terimakasih Kasim Ho."


Wool pun satu persatu membaca apa yang tertulis di sana. Rupanya Dasom dan Kasim Ho pun diminta ikut membaca. Sesama dayang pasti Dasom juga tahu mengenai rekan kerjanya tersebut.


Hal yang membuat Wool sedikit bertanya adalah status Boram yang yatim piatu. Ternyata Boram hidup dengan sang kakek. Dan kakeknya meninggal saat ia masuk ke istana. Hal ini tentu berbeda dari apa yang Wool dengar.


" Berarti besar kemungkinan gadis itu bohong saat mengatakan bahwa dia hendak menemui ayahnya yang sedang sakit malam itu. Ini ada yang tidak beres."


Ya, Wool tahu saat Boram keluar dari istana saat malam hari itu. Ia meminta prajurit penjaga untuk melaporkan siapa saja penghuni istana yang keluar masuk, dan penjaga itu mengatakan bahwa ada seorang dayang yang beberapa kali keluar saat malam hari. Dimana alasan yang digunakan selalu sama yakni untuk menjenguk ayahnya yang sedang sakit. Bahkan untuk memuluskan aksinya ia juga membawa beberapa obat dari dalam istana.


" Sungguh gadis yang cerdik."


Wool bergumam pelan. Caranya sudah benar untuk meminta In Jae mengawasi Boram. Dasom dan Kasim Ho yang membaca data pribadi milik Da Eun menemukan sesuatu yang aneh di sana.


" Yang Mulia Ratu, coba Anda lihat ini. Ini adalah tulisan mengenai selir Da Eun," ucap Dasom sambil menunjukan tulisan yang dia baca.


" Eeh, kasim Ho. Kau mengambil milik Da Eun juga?" tanya Wool sambil melihat tulisan yang ditunjukkan oleh Dasom. Sedangkan Kasim Ho hanya tersenyum simpul.


Wool lalu membacanya dengan teliti. Ia menarik sudut bibirnya saat membaca semuanya mengenai Da Eun.


" Ini benar-benar menarik. Kalian berdua bersiaplah berganti pakaian. Aku akan membawa kalian berjalan-jalan. Dasom, panggil Du Ho kemari. Dia juga harus ikut serta."


Kasim Ho dan Dasom saling pandang. Keduanya lalu membuang nafasnya kasar. Kali ini apalagi yang akan ratunya perbuat.


TBC