The Unloved Queen's Revenge

The Unloved Queen's Revenge
Queen 36. Pertikaian



Wool mengernyitkan keningnya, ia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Hyeon. Wool hanya menatap Hyeon dengan rasa bingungnya.


Sedangkan Hyeon menepuk keningnya pelan melihat ekspresi Wool yang tampak bingung. Hyeon mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan.


" Apa kau benar-benar tidak tahu apa yang ku maksud?"


Wool menggeleng.


" Baiklah dengarkan aku baik-baik. Orang yang sudah menikah pasti akan melakukan malam pertama. Nah kita juga tapi maaf waktu itu aku malah meninggalkanmu?"


" Tidak usah diingat. Lanjutkan."


" Nah saat ini milikku ini tidak bisa bangun. Jika tidak bisa bangun maka kita tidak bisa mendapatkan keturunan."


Wool mengangguk paham. Jadi itulah makna sebenarnya. Wool pun tiba-tiba mengulurkan tangannya ke arah Hyeon dan memegang milik Hyeon. Terang saja Hyeon begitu terkejut dengan apa yang dilakukan ratunya.


" Iya, tidak berdiri. Dan mengapa lembek begitu serta sedikit panjang."


Hyeon benar-benar kehilangan akal melihat Wool melakukan hal tersebut. Ia kemudian mencengkeram tangan Wool dan menatap mata istrinya itu dengan lekat.


" Kau benar-benar ingin mencobanya. Aku sungguh tidak bisa melakukannya. Aku akan mengumumkan kepada seluruh rakyat akan ketidakmampuanku ini."


" Jangan, jangan kau lakukan itu. Jika kau melakukan itu maka aku yakin banyak yang akan melakukan kudeta. Banyak yang akan menjatuhkan mu."


Hyeon terdiam, apa yang dikatakan Wool tentu benar adanya. Tapi dia juga tidak ingin omongan buruk menimpa Wool. Keduanya saling melihat. Satu sama lain saling menyelami hati masing-masing.


" Itu kita pikirkan nanti. Mari mengobatinya. Lagi pula pernikahan kita juga baru seumur jagung jadi tidak usah terlalu memikirkan hal itu."


Hyeon setuju dengan apa yang dikatakan Wool. Ia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Wool dan mendaratkan ciuman itu. Perlahan tapi pasti ia mulai melummaat bibir sang istri. Wool pun mulai mengikuti permainan Hyeon. Meskipun ini adalah hal baru baginya tapi Wool mengikuti instingnya. Ia juga mengalungkan kedua tangannya di leher Hyeon.


Ciuman itu lambat laun mulai mulai memanas hingga sebagian hanbook Wool bagian atas sudah mulai sedikit terbuka. Leher Wool mulai diciumi bahkan disesap oleh Hyeon. Tapi tiba-tiba Hyeon berhenti saat miliknya dibawah sana tidak bereaksi apapun. Ia pun memundurkan dirinya dan bangkit berdiri.


" Maafkan aku, aku sungguh suami yang buruk."


Wool pun ikut berdiri. Sambil merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan karena ulah Hyeon, Wool mengusap punggung Hyeon. Ia tersenyum ke arah pria yang merupakan suami sekaligus raja negara ini.


" Jangan berkecil hati. Coba nanti kita tanya kepada kakak kedua. Siapa tahu dia bisa membantumu."


Hyeon meninggalkan kediaman Wool dan menuju ke ruang baca miliknya. Ia kembali membuka buku mengenai kesehatan alat reproduksi. Ia bahkan tidak memejamkan mata semalaman.


🌿🌿🌿


Di istana dingin Da Eun begitu marah kepada Boram. Ia menyalahkan Boram atas apa yang terjadi. Jika Boram tidak mengatakan bahwa Dasom itu adalah seorang pembangkang, maka tidak mungkin dia akan berada di tempat ini saat sekarang.


Awalnya Boram akan ditempatkan di penjara oleh Hyeon tapi Wool meminta Hyeon untuk menempatkan Boram terus berada di sisi Da Eun. Tentu saja semuanya ada maksud tersendiri. Slaah satunya seperti saat ini. Da Eun benar-benar marah kepada Boram.


" Dasar bedebah. Semua gara-gara dayang sialan. Boram sungguh kau tidka berguna!"


Boram hanya memutar matanya jengah. Tidak ada lagi rasa hormat dalam diri dayang tersebut kepada Da Eun. Boram sendiri merasa kini kedudukan mereka sama. Terlebih Da Eun sudah diturunkan statusnya menjadi selir yang paling bawah. Dengan kata lain Da Eun sudah tidak ada harapan untuk kembali ke istana. Bahkan untuk bertemu dengan yang mulia raja tidak akan pernah bisa.


Selir dengan tingkatan paling bawah biasanya akan menjadi selir pekerja. Yakni mereka akan menjadi pesuruh untuk selir-selir lainnya.


Da Eun terus mengumpat, marah, dan bahkan melempar semua benda yang bisa ia raih. Rasa sakit atas luka-luka hukuman pukul papan itu semakin membuatnya menjadi-jadi.


Sedangkan Boram, dia sedang berusaha mencari orang yang waktu itu memberinya pesan. Ia berharap bisa meminta bantuan agar bisa keluar dari istana. Tidak peduli kehidupan apa yang akan dia miliki nanti yang jelas dia ingin bisa segera keluar dari ruangan yang sama dengan Da Eun. Semkain lama bersama Da Eun maka semakin sesak saja sepertinya dadanya.


" Tck, selir bodoh. Percuma kamu berteriak memaki begitu terhadapku. Tidak akan ada yang berubah. Kau tidak akan pernah bisa kembali ke posisimu. Dan raja juga tidak akan mau lagi dengan mu. Apa kau tidak mendengar rumor yang beredar bahwa raja terlihat begitu mencintai ratu. Tck dasar. Selingan tetap saja selingan. Bagaimanapun ratu adalah yang utama, selir tak ubahnya sebagai sebuah selingan saat raja menginginkan sensasi yang berbeda. Ia akan kembali pada rumah yang sesungguhnya setelah ia bosan dengan kalian-kalian ini."


" Dasar tidak sopan. Berani-berani nya kau berkata begitu kepada majikan mu?" Da Eun berteriak marah. Sungguh jika bisa ingin sekali Da Eun menyumpal mulut Boram dengan kotoran.


" Tck, majikan? Coba deh kamu bercermin. Majikan dari mana. Kita ini sama ya. Sama-sama diasingkan dan sama-sama dibuang. Toh akhirnya kau juga hanya akan jadi pelayan. Ingan statusmu itu sangat jauh dibawah para selir yang ada di istana," Jawab Boram sambil memutar bola matanya jengah dengan semua teriakan Da Eun.


Adu mulut Da Eun dan Boram tersebut tentu menjadi hiburan tersendiri bagi para prajurit penjaga dan pelayan yang disiapkan Wool di sana. Sebenarnya pelayang itu bukna sembarang pelayang. In Jae ditempatkan Wool di sana untuk mengawasi keduanya. Wool yakin satu diantara kedua orang itu tidak beres.


" Dasar wanita-wanita bodoh. Sudah tahu salah tapi masih saja saling hina dan saling menyalahkan. Selir itu benar-benar tidak sadar jika dirinya salah."


In Jae menggelengkan kepala saking herannya melihat kelakuan dua orang tersebut. Sedangkan para prajurit penjaga mereka tentu terkekeh geli. Tapi sejujurnya mereka pun puas Da Eun dan Boram diasingkan.


Da Eun memanglah terlihat anggun dan lembut dihadapan Hyeon tapi dia sering semena-mena terhadap para prajurit dan dayang lainnya.Dan, tentu saja mereka tidka berani berbuat apa-apa karena mereka tahu saat itu Da Eun adalah selir kesayangan raja.


TBC