
Jin Sang yang ada di kerumunan para warga tadi sungguh takjub dengan pengaruh dari Kyung Sam. Ia tidak menyangka setiap kata yang keluar dari mulut Kyung Sam bisa membuat semua orang mematuhinya.
" Tidak salah jika julukan Panglima Naga disematkan pada pria itu. Sungguh dia benar-benar bagai seekor naga yang menghembuskan nafas apinya dengan begitu berani. Bahkan jika di medan perang, dia merupakan harimau gunung yang cakar dan taringnya sangat ditakuti oleh lawan."
Jin Sang benar-benar salah fokus dengan peristiwa yang dia lihat itu. Ia pun segera menyadarkan dirinya untuk kembali ketujuannya semula. Jin sang kemudian menuju rumah bordil. Tempat yang biasanya digunakan Sung won untuk melakukan pertemuan rahasia.
Entah keberuntungan tengah berpihak kepadanya atau bukan, sehingga ia menemukan sesuatu yang menarik di sana. Ketiga pejabat yang pernah ia temui saat rapat rahasia itu baru saja keluar dari ruang rahasia di rumah bordil tersebut. Mereka kemudian berjalan keluar bersama.
Tentu saja ini merupakan kesempatan untuk Jin Sang. Jika dia tidak bisa mendapatkan informasi dari Sung won, maka ia bisa mendapatkan informasi dari orang-orang itu.
Jin Sang menjaga jarak aman agar dia tetap bisa mengikuti ketiga pejabat itu tapi harus bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Rupanya mereka berbelok arah ke sebuah kedai makan. Ini sungguh kesempatan bagus bagi Jin Sang agar bisa lebih jelas mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
" Huh, Sung Won benar-benar kurang ajar. Bisa-bisa dia bersikap begitu kepada kita para orang tua."
Salah seorang dari mereka yang Jin Sang ketahui adalah Penasehat Negara, Byung Sun tampak menggerutu. Ia meluapkan kekesalannya kepada Sung Won.
" Iya benar, tapi apakah kita akan dima saja dinjak-injak oleh bocah ingusan iyu. Belum jadi raja saja dia berani terhadap kita, bagaimana dia nanti jadi raja."
" Tapi Menteri Anh Cen, kita tidak punya pilihan. Sung Won memiliki pasukan hantu. Dimana pasukan itu tidak kita ketahui keberadaannya tapi sewaktu-waktu bisa datang dan melumpuhkan kita. Dan jangan lupakan soal Myung Ki. Bukankah wabah ini dia yang membuatnya."
Plak
Byung Sun terlihat menepuk sedikit keras bahu Menteri Pertahanan Ling An. Mereka kemudian melihat sekeliling dan tampak menghembuskan nafas lega.
Jin Sang sungguh tidak bisa berkata-kata dengan fakta yang baru saja dia dengar. Dari semua pembicaraan ini dapat Ia simpulkan otak setiap apa yang terjadi adalah Sung Won. Pria itu merupakan inti dari semuanya.
Siapa sangka, bahwa kerusuhan yang terjadi di ibu kota juga ulah Sung Won. Bisa jelas Jin Sang dengar bahwa Menteri Ling An lah yang di suruh Sung Won mengumpulkan orang dan membayarnya untuk menyuarakan protesnya terhadap pemerintahan Raja Hyeon.
" Sial, rupanya dia hanya mau memanfaatkan ku. Keparat, berani-berani nya dia melakukan itu terhadapku. Lalu kira-kira apa lagi yang tidak ku ketahui. Apakah aku perlu menculik salah satu dari mereka agar bisa mendapatkan semua informasi yang masih tersembunyi?"
Jin Sang mulai berpikir. Ia jelas akan menolak untuk melakukan penyerangan dalam waktu dekat ini. Kenyataan bahwa Sung Won juga menginginkan tahta maka dengan itu berarti Sung Won nanti akan berkhianat pula pada nya. Bisa jadi dia pun akan dibunuh saat penyerangan terjadi.
" Aku harus bisa menghabisi dia dulu. Jika dia masih ada maka percuma saja aku melakukan penyerangan. Dia lah satu-satu nya orang yang menikmati hasilnya."
Sambil berjalan meninggalkan kedai makan itu, Jin Sang tampaknya tengah membuat rencana. Ia pun merasa tidak perlu melakukan penyelidikan terhadap Sung Won karena sudah mendapatkan banyak bukti mengenai orang itu.
🌿🌿🌿
Di Istana dingin tabib istana masih mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan Da Eun. Sudah beberapa saat Da Eun pingsan namun belum juga sadar.
Sebenarnya In Jae bukannya khawatir. Tapi di lebih ke penasaran dengan apa yang terjadi. Tabib Kwang berusaha untuk mencari asal muasal kenapa Da Eun bisa pingsan. Tetapi semuanya nihil. Ia tidak mendapatkan apapun.
" Dia tidak ada penyakit apapun In Jae. Tapi jika aku tidak salah jiwa nya tidak lagi ada dalam raganya."
" Maksud tabib bagaimana? Bukankah dia masih bernafas."
" Ya dia masih bernafas, dan jantungnya masih berdetak tapi ini semua kosong."
" Sepertinya aku harus menyimpannya untuk sementara waktu dulu. Aku yakin Mama akan segera pulang."
In Jae akhirnya mengambil sebuah keputusan. Ia pun meminta orang yang mengetahui kejadian di istana dingin tersebut agar menutup mulut mereka rapat-rapat.
Siapa sangka penyatuan raja dan ratu menimbulkan efek yang begitu besar bagi Da Eun dan Ae Ran. Ibu dan anak itu pun tidak tahu. Mantra pemikat yang dia tujukan kepada Hyeon sudah benar-benar hilang saat Hyeon menitipkan benihnya di rahim Wool. Takdir burung phoenix yang ada dalam tubuh Wool benar-benar menyelamatkan Hyeon dari pengaruh ilmu hitam yang selama ini dibawa Da Eun.
*
*
*
Menjelang Senja Myung Ki akhirnya sampai de desa Namngoel. Ia kemudian langsung menuju ke rumah sang guru. Beberapa kali mengetuk Myung Ki tidak mendapat jawaban dari Ae Ran.
Pemuda itu pun langsung menerobos masuk ke dalma rumah sambil memanggil nama sang guru.
" Ae Ran seongsaengnim (guru)!"
Nihil, tidak ada jawaban sama sekali dari Ae Ran. Akhirnya Mying Ki memutuskna untuk masuk ke kamar. Terlihat Ae Ran yang tengah tertidur tanpa pergerakan sama sekali. Tentu saja Myung Ki takut, ia berpikir terjadi apa-apa dengan gurunya itu.
" Seongsaengnim bangun! Guru bangun!"
" Tck, bocah tengik kau benar-benar mengganggu waktu istirahatku."
Myung Ki bernafas lega saat melihat Ae Ran bangun. Ia pun berkali kali mengucapkan rasa syukur melihat tidak terjadi apa-apa dengan Ae Ran.
" Kau membuatku takut guru."
" Haah, tapi untung kau datang
Malam ini bantu aku untuk menghabisi nyawa seseorang."
" Wohoo dengan senang hati. Tapi siapa orang itu?"
Ae Ran tidak menjawab. Ia hanya tersenyum simpul ke arah sang murid. Kedatangan Myung Ki tentu bisa menjadikan kekuatannya semakin bertambah. Terlebih Myung Ki bisa menggunakan ulat darah untuk mengotrol mayat-mayat hidup yang akan dia jadikan pasukan untuk melenyapkan Wool.
" Yang jelas, jika kita bisa membunuh orang ini maka Negara Mae bisa berada di bawah kendali kita."
" Apakah begitu? Waah, aku sungguh tidak sabar ingin melakukannya. Mari kita membuat negara Mae ini menjadi negara yang sesuai dengan keinginan kita."
TBC
3 bab ni buat nemenin akhir pekan readers kesayangan. Jangan lupa di sawer ya. Kalau rame ntar ditambahin lagi deh se-bab hehehe.