
Dae Jung sudah berada di Bimil Jangso tempat dimana pasukan khusus Dogsuli Budag milik Hyeon berada. Ia mengumpulkan seluruh orang di sana untuk memberikan instruksi mengenai apa yang harus dilakukan saat ini.
" Dengarkan semuanya. Malam ini juga kita akan menuju ke istana. Sebagian dari kalian akan menjaga istana dan sebagian lagi ada di ibu kota. Kita berdoa saja semoga Yang Mulia Raja Hyeon segera kembali."
Dae Jung juga meminta seseorang yang sudah ia kirim untuk mengawasi Sung Won waktu itu menceritakan hasil temuannya. Dae Jung sebenarnya tidak terkejut dengan isi laporan tersebut. Ia hanya kecewa, bagaimana rekan seperjuangannya itu tega mengkhianati Raja Hyeon. Dimana mereka sudah sering bersama-sama. Rasa sedih bercampur marah dirasakan oleh pria itu. Tapi sebagai seorang ksatria dia tidak boleh lemah dengan perasaannya.
" Baiklah semua sudah mengerti bukan? Aku harap di Bimil Jangso ini tidak ada yang berkhianat kepada raja. Mari kita bergerak untuk melindungi raja dan negara ini dari tangan-tangan pengkhianat yang penuh dengan keserakahan."
" Hidup Negara Mae!"
" Hidup Raja Hyeon!"
" Hidup Ratu Gyeo Wool!"
*
*
*
Tidak hanya Dae Jung yang bersiap. Kyung Sam yang merasa begitu terganggu pikirannya itu pun menyiapkan seluruh prajurit untuk bersiap melindungi istana. Sebagai seorang panglima perang Kyung Sam tentu merasakan sebuah firasat yang buruk.
Jae Hwan pun tidak jadi memulangkan warga yang terlanjur berada di kamp pengungsian atas perintah Kyung Sam. Dengan alasan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan, warga pun percaya dan tetap memilih tinggal.
" Aku harap jangan ada dulu kalian yang keluar dari kamp ini. Ini semua untuk kebaikan kalian. Aku tidak akan mengambil tanggung jawab terhadap orang yang keluar dari kamp ini tanpa seizin ku."
Jelas saja mereka sedikit takut dengan ultimatum yang disampaikan oleh Jae Hwan. Bagaimanapun juga mereka tahu bagaimana rasa sakit yang sudah mereka derita kemarin.
Saat Jae Hwan keluar dari kamp tersebut, tampak beberapa prajurit yang menjaga kamp dengan ketat. Warga adalah prioritas utama saat akan terjadinya perang. Jangan sampai mereka terkena imbasnya apalagi sampai meregang nyawa.
" Hyung, lalu bagaimana warga yang masih tersebar di kota. Apa yang harus kita lakukan jika penyerangan itu benar-benar terjadi?"
Kyung Sam tampak berpikir setelah mendengarkan pertanyaan dari sang adik. Dan dia mendapatkan sebuah gagasan bagus.
" Aku akan mengumpulkan prajurit dan meminta mereka menyampaikan sebuah kabar kepada mereka dari pintu ke pintu. Kabar itu berisi bahwa akan ada serangan wabah lagi. Tapi kali ini tidak melalui air tapi melalui udara jadi warga tidak boleh keluar rumah dan diharapakan mereka mencari tempat persembunyian di rumah masih-masing."
" Apalah itu tidak menimbulkan kekacauan Hyung, misalanya mereka memilih pergi meninggalkan rumah saat ini juga."
" Tidak, aku yakin mereka tidak akan berani. Apa yang terjadi kemarin sudah membuat mereka ketakutan. Mereka tidak akan berani mengambil resiko untuk lari."
Jae Hwan akhirnya pun mengerti dan setuju dengan gagasan yang diutarakan sang kakak. Kyung Sam kemudian menjalankan apa yang sudah jadi gagasan. Hari menunjukkan masih malam. Langit tentu masih sangat gelap. Namun menurut insting Kyung Sam rumor itu harus dilakukan sesegera mungkin agar saat matahari terbit tidak ada warga ibu kota yang keluar rumah.
Tok tok tok
Satu persatu prajurit istana memberitahukan hal tersebut kepada warga. Mereka pun langsung menutup pintu rapat-rapat dan mencari tempat perlindungan yang mereka rasa aman di rumah mereka masing-masing. Benar apa yang dikatakan Kyung Sam, tidak ada yang berani keluar rumah.
" Maaf tuan, lalu apa yang saat ini terjadi di Ibu Kota."
" Huuft,rupanya Sung Won menipuku. Dia hanya ingin memanfaatkan ku untuk keuntungannya sendiri."
" Maksud Tuan Jin?"
Jin Sang kemudian menceritakan semua yang ia dengar dan ia ketahui saat melakukan penyelidikan. Sung Im sungguh terkejut saat mendengar hal tersebut. Ia tidak menyangka bahwa sekutu yang mereka harapkan bisa membantu untuk mencapai kejayaan rupanya hanya sebatas omong kosong belaka.
" Lalu bagaimana sekarang tuan, apakah kita tetap akan ikut menyerang istana?"
" Entahlah, aku masih bingung akan hal ini. Aku masih merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Aku merasa bahwa Sung Won yang memanfaatkan ku itu masih menyimpan sebuah hal besar yang belum ku ketahui."
" Lalu apa yang akan kita lakukan."
Jin Sang masih belum tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Apakah akan ikut menyerang Istana atau tidak. Tapi akhirnya ia membuat sebuah keputusan.
" Kita akan berangkat nanti sebelum fajar. Tapi kita tidak akan melakukan apapun. Maksudku, kita hanya akan mengamati dengan apa yang akan terjadi. Kita akan mengambil celah saat pasukan Sung Won lengah."
Sung Im paham. Ia pun langsung undur diri untuk mengumpulkan seluruh orang yang ada di lembah Gwisin. Setidaknya ada sekitar 100 orang terlatih di sana. Memang jumlahnya kecil dibandingkan tentara prajurit yang dimiliki negara Mae. Tapi tentu mereka punya taktik dan strategi untuk mengalahkan lawan.
Salah satunya dengan tidak menyerang secara terbuka. Mereka memilih startegi penyerangan sembunyi-sembunyi di malam hari.
" Apakah sudah terkumpul semua?"
" Sudah Tuan Sung!!!"
" Jika begitu semua dengarkan aku baik-baik. Sebelum fajar nanti sesuai perintah pimpinan kita akan berangkat ke ibu kota. Tapi kita tidak akan menyerang. Kita hanya akan mengamati terlebih dulu dan menunggu perintah pimpinan. Sekarang kalian siapkan perbekalan untuk kita berangkat nanti. Apa kalian mengerti?"
Semua orang di lembah Gwisin berteriak dengan lantang bahwa mereka mengerti apa yang diperintahkan oleh Sung Im. Mereka pun langsung menyebar untuk mempersiapkan perbekalan. Mulai dari perbekalan senjata sampai perbekalan makanan. Mereka juga menyiapkan tenda-tenda yang akan mereka dirikan untuk bernaung.
Ada beberapa kereta kuda yang siap membawa barang-barang itu. Beberapa orang juga sudah memasukkan apa yang mereka telah siapkan ke kereta kuda.
" Ingat jangan sampai ada yang terlewat!"
Sung Im rupanya mengawasi mereka. Alih-alih kembali mengistirahatkan tubuhnya, Sung Im memilih untuk memastikan bahwa persiapan berjalan dengan lancar.
Lain Sung Im lain lagi Jin Sang. Mendadak ia ragu dengan apa yang akan dia lakukan. Ia merasa ada sesuatu di dalam dirinya yang mengatakan bahwa ia tidak boleh ikut menyerang istana. Hal ini tentu sungguh sangat bertolak belakang dengan apa yang jadi ambisinya selama ini.
" Sebenarnya apa yang terjadi pada diriku. Mengapa aku tiba-tiba merasa ragu dan, semua ini salah."
TBC