The Unloved Queen's Revenge

The Unloved Queen's Revenge
Queen 52. Hukuman Untuk Ratu



Suasana pagi desa Namngoel kembali seeperti biasa. Aktivitas warga terlihat sangat normal. Kejadian semalam sungguh tidak ada yang tahu atau memang mereka menutup mata dengan apa yang terjadi di desa.


Saat ini Wool tengah berbicara dengan Jong Chan si pemilik penginapan.


" Semalam aku dengar kau akan pergi meninggalkan desa ini Chan?"


" Tidak yang mulia, eh tuan. Sekarang sudah tidak apa-apa. Semuanya kembali baik-baik saja."


Jawaban yang sungguh sangat berbeda dengan apa yang dikatakan pria itu semalam. Dapat Wool lihat dan dengar dengan jelas bahwa Chan begitu ingin meninggalkan desa ini. Ketakutan itu jelas bisa dirasakan oleh Wool.


Aku merasa hal ini pun tidak beres. Sepertinya ini juga merupakan kendali dari wanita tua itu, gumam Wool dalam hati.


Ia pun hanya mengangguk kepada Chan dan membiarkan pria itu kembali melakukan pekerjaannya. Du Ho dan Yesung kemudian menghampiri Wool dan duduk di depan Wool. Mereka menanyakan bagaimana keputusan Chan dan Wool hanya menjawab dengan gelengan kepala.


" Gege!!"


Seseorang memanggil nama panggilan Gyeo Wool, dimana suara tersebut sangat tidak asing di telinga sang ratu. Wool pun menoleh ke sumber suara. Betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang berdiri di sana.


" Hyeon? Mengapa ka~"


Hyeon langsung memeluk tubuh Wool dengan erat dengan berulang kali menanyakan keadaan sang istri. Du Ho dan Yesung pun terkejut melihat sang raja di desa ini.


" Bagaimana kau bisa menemukanku?"


" Di desa ini hanya ada satu penginapan, jadi mudah saja menemukanmu. Kamu benar-benar tidak apa-apa kan?"


Wool mengerutkan kedua alisnya. Ia merasa Hyeon terlewat khawatir. Tapi Wool merasa ada sesuatu yang membuat suaminya itu khawatir.


" Sebenarnya ada apa?"


" Jangan bicara di sini."


Wool mengangguk paham. Ia pun membawa Hyeon ke kamar satunya lagi yang memang sudah ia pesan sebelumnya. Dua sejoli itu meninggalkan para pengawalnya yang masih terkejut dengan interkasi keduanya.


" Apa kau melihat bahwa mereka berdua sungguh manis?" ucap Du Ho tiba-tiba.


" Ya, dan aku belum pernah melihat ekspresi Yang Mulia Raja Hyeon seperti itu," jawan Yesung.


Kedua pengawal itu akhirnya memilih memesan makanan kepada Chan untuk mengisi perut mereka. Tak lama Kasim Ho dan Dasom turun ke lantai bawah yang memang dijadikan sebuah kedai makan oleh Chan. Kedua orang itu menanyakan keberadaan ratunya.


" Tuan ada di kamar."


Dasom yang mendapat jawaban dari Du Ho ingin menuju ke kamar Wool tapi langsung dicekal tangannya oleh Du Ho.


" Kenapa?"


" Ada yang mulia raja di sini."


Dasom menutup mulutnya dengan tangan karena saking terkejutnya. Gadis itu pun akhirnya memilih duduk di bangku itu bersama tiga pria yang ada di sana.


*


*


*


" Sekarang katakan ada apa? Kenapa kau kemari?"


Bukannya menjawab pertanyaan sang istri, Hyeon malah langsung mencium bibir Wool yang sedari tadi sudah sangat menggodanya itu. Ia merasakan rindu yang membuncah terhadap ratunya. Beberapa hari tidak melihat Wool membuat Hyeon sungguh merasa kehilangan.


Wool tadinya terkejut mendapat serangan tiba-tiba dari Hyeon. Tapi akhirnya ia pun mengikuti permainan lidah sang suami.


Bahkan kini Hyeon sudah membawa Wool ke atas ranjang. Tubuh Hyeon yang tentu lebih besar dari Wool sudah menarik sang istri dibawah kungkungan nya.


" Apa kau tahu, aku sungguh khawatir dan takut saat mengetahui bahwa kau pergi tiba-tiba? Aku sungguh merasa sangat kebingungan. Disisi lain aku ingin menyusul mu tapi disisi satunya lagi aku tidak bisa pergi."


" Maaf."


Wool tentu merasa sangat bersalah terhadap Hyeon. Tapi apa yang ia perbuat merupakan sebuah keharusan . Paling tidak itulah yang Wool rasakan sekarang.


" Baiklah, karena ratu sudah berbuat salah kepada raja, maka ratu harus dihukum"


Wool memicingkan sebelah matanya. Ia merasa ada yang salah dengan ucapan Hyeon. Suaminya itu kembali mencium bibirnya dengan sedikit menggebu, ciuman itu bahkan kini sudah merembet ke leher dengan sesekali Hyeon menyesapnya.


Nah kan, hukumannya pasti bukanlah sembarangan, batin Wool sambil menikmati sentuhan demi sentuhan yang Hyeon lakukan.


" Apa akan melakukannya disini?"


" Apa kau keberatan? Kita akan lihat apa yang dibawah sana sudah berfungsi dengan baik atau belum."


Wool tersenyum, ia tentu tahu maksud suaminya. Satu persatu baju sudah tertanggal. Wool bisa merasakan


an milik Hyeon mulai menegang sepenuhnya. Ia tentu sedikit terkejut. Sungguh ukuran itu berbeda dari waktu kapan saat ia sentuh.


" Apa itu yang waktu lalu ku pegang? Kenapa berbeda?"


Hyeon sedikit terkekeh geli melihat ekspresi Wool. Ia pun menarik tangan Wool untuk kembali menyentuh miliknya yang menegang. Ia merasakan hasratnya benar-benar naik saat mencumbu sang istri.


Mata Wool membulat sempurna saat tangannya mulai menyentuh milik Hyeon. Sedangkan Hyeon ia sudah mulai tidak tahan menghunuskan pedangnya ke sarangnya.


" Shhh, ratuku apalah kita bisa mulai sekarang?"


Wool menelan saliva nya dengan susah payah. Ia sedikit ragu apakah milik Hyeon akan muat ke dalam miliknya. Hyeon yang tahu kalau Wool sedikit gugup kembali melummat bibir sang istri akan lebih santai sambil mengarahkan miliknya ke tujuan semula.


Dirasa Wool sudah mulai terlena dengan ciumannya Hyeon pun mulai menerobos masuk ke mana seharusnya miliknya berlabuh.


Wool tersentak saat sesuatu yang besar itu menerobos dinding miliknya dibawah sana. Wool ingin berteriak namun mulutnya langsung dibungkam dengan mulut Hyeon. Terasa di punggung Hyeon kuku Wool mencengkeram dengan erat.


Penyatuan itu pun terjadi di desa Namngoel. Tanpa keduanya sadari rupanya penyatuan itu membuat Ae Ran terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.


Ae Ran yang semula masih tertidur mendadak terbangun katena terbatuk dengan tubuh yang sangat lemah.


" Apa, apa yang sebenarnya terjadi. Shhh mengapa dadaku sangat sakit. Sial jika begini nanti malam aku tidak bisa menghabisi ratu sialan itu."


Ae Ran mencoba untuk menenangkan tubuhnya. Ia duduk tegap dengan kedua kaki dilipat. Ae Ran mengalirkan tenaga dalamnya agar rasa sesak di dadanya bisa sedikit hilang.


Rupanya apa yang dirasakan Ae Ran dirasakan juga oleh Da Eun alias Han Byeol. Bahkan Da Eun juga merasakan perutnya sakit yang luar biasa hingga ia jatuh pingsan.


Boram yang tidak peduli dengan mantan tuannya itu akhirnya menatap dengan iba.


" Tolong!! Tolong, Selir Da Eun pingsan."


In Jae, mata-mata yang ditempatkan oleh Wool di istana dingin itu pun langsung datang menghampiri untuk memeriksa. In Jae kemudian meminta salah satu prajurit untuk memanggil Tabib Kwang.


" Ada apa In Jae?"


Tabib Kwang melihat Da Eun yang tak sadarkan diri pun langsung memeriksanya. Tabib istana itu mengerutkan kedua alisnya, ia meras ada yang aneh di sana.


" Ada apa tabib Kwang?"


" Tidak ada penyakit ditubuh selir Da Eun."


TBC