
Yesung yang menangkap gelagat berbdeda dari ratunya langsung melihat ke arah dimana Wool melihat. Seorang wanita paruh baya tengah membawa beberpa sayur mayur untuk diserahkan kepada pemilik kedai makan. Mungkin wanita tersebut adalah alah satu pemasok sayuran untuk kedai tersebut.
" Apa wanita itu menganggu pikiran tuan?"
Wool hanya menjawab pertanyaan Yesung dengan anggukan kepala. Ia masih mencoba berkonsentrasi untuk melihat sesuatu yang lebih dalam lagi dari diri wanita itu.
" Ya tidak salah lagi, aura ini milik wanita itu."
Wool melihat wanita itu keluar dari kedai tidak serta merta mengejarnya. ia malah melanjutkan acara makan paginya. Yesung tentu merasa sedikit heran dengan apa yang dilakukan ratunya itu. Jika orag lain ketika barang incarannya pergi maka akan langsung mengejar tapi Wool tidak.
" Tuan, apakah tidak ingin mengejarnya?"
" Tidak perlu kita akan menemukannya nanti."
Yesung hanya mengangguk menyetujui apa pun yang dilakukan oleh sang ratu.
Di dalam tenda Dasom menggeliat pelan. Ia merasa tidurnya sangat pulas. Gadis itu pun mengerjapkan kedua matanya melihat ke sekeliling tenda. Dasom lega bahwa mereka berada dalam tenda itu bersama dan tidak ada hal aneh terjadi. Dasom berjalan pelan menghampiri Kasim HO dan Du Ho untuk membangunkan mereka berdua.
" Kasim Ho, Pengawal Du Ho bangun!"
Du Ho langsung terbangun dan duduk dengan tegap. Ia merasa sungguh aneh. Mengapa ia bisa tertidur sedangkan tadi malam ia masih duduk tegap berjaga di pintu tenda. Du Ho pun mengacak rambutnya dengan kasar. Ia merasa lalai dengan tugasnya.
Tampaknya ketiga orang tersebut belum sadar jika satu diantara mereka tidak ada di dalam tenda. Dasom sendiri masih belum menyadari bahwa saat bangun tidur tadi tidak ada ratu disampingnya.
" Sepertinya ada sesuatu yang kurang," ucap Dasom tiba-tiba.
Gadis itu kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut tenda hingg dia menyadari bahwa ratunya tidak ada.
'" Mama !!! Kasim Ho, Pengawal Du Ho, yang mulia, yang mulia ratu tidak ada."
Kasim Ho dan Du Ho sungguh terkejut. Mereka panik saat menyadari hal tersebut. Ketiganya pun langsung membuka pintu tenda berjalan ke luar. Tapi kepanikan mereka hilang sudah saat melihat sang ratu datang bersama seorang pria.
" Kalian sudah bangun?"
Dasom langsung memeluk Wool dengan erat. Sungguh gadis itu takut jika terjadi apa-apa dengan ratunya.
" Mama, kenapa mama pergi tidak memberitahu hamba. Jantung hamba hampir saja copot saat mengetahui yang mulia tidak ada di dalam."
Wool tersenyum dengan perkataan Dasom. Ia kemudian mengajak semua orang itu amsuk ke dalam tenda untuk mengatakan suatu hal.
" Maaf yang mulia ratu, hamba berhak dihukum karena lalai menjaga yang mulia."
" Tidak usah begitu sungkan. Aku memang membiarkan kalian semua untuk tidur lebih lama. Oh iya ini adalah Yesung. Dia adalah orang yang diutus Pyeha untuk membantuku di sini."
Mereka saling memberi hormat. tap sungguh Du Ho masih merasa bersalah terhadap ratunya itu.
" Baiklah, ada yang ingin aku sampaikan. Setelah ini kita akan membongkar tenda dan masuk ke desa. kita akan menginap di penginapan yang ada di desa Namngoel tersebut."
Wool yang mengerti ketakutan dan kekhawatiran Dasom pun meraih tangan gadis itu dan mengusapnya pelan. Dasom memang gadis yang kuat dan pemberani tapi untuk kondisi desa ini tentu Wool tahu bahwa gadis itu memiliki sisi sensitif di dalam tubuhnya terhadap hawa negatif.
" Tidak apa-apa. Ada aku, semua akan baik-baik saja."
Dasom mengangguk, dan semua sudah diputuskan bahwa malam ini mereka akan menginap di dalam desa. Wool sungguh tidak sabar menanti malam datang. Ia ingin melihat lebih jauh, kira-kira kejutan apa yang terdapat dalam desa terebut. Tapi yang ia tahu pasti, saat malam hari desa itu berada di bawah kendali ilmu sihir hitam.
Wool meminta Du Ho untuk membongkar tenda. Mereka akan meninggalkan kereta kuda itu di sana dan pergi ke desa dnegan cara berjalan. Pembagian tugas akan dilakukan. Du Ho, Kasim Ho, dan Dasom akan mecari penginapan dan Wool bersama Yesung akan mencari rumah milik Da Eun. Setelah mereka selesai membongkar tenda dan memberikan sarapan, Wool langsung bergerak. Mereka berpisah di jalan masuk desa dan akan berjanji bertemu di kedai makan yang sudah Wool sebutkan namanya.
Wool mulai menanyai satu persatu orang yang ada di sana mengenai rumah Da Eun, tapi anehnya tidak ada satupun orang yang mengenal Da Eun. Setidaknya sudah sekitar 20 orang yang Wool dan Yesung tanyai mengenai Da Eun tapi tidak ada yang mengenalnya. Tentu hal ini membuat Wool sedikit kebingungan. Pun dengan Yesung.
Akhirnya keduanya memutuskan untuk duduk dulu sejenak. Sudah berjalan ke sana kemari membuat Wool sedikit merasa lelah.
" Apa tuan ingin kembali lagi besok untuk mencarinya? Tampaknya tuan sudah kelelahan."
" Tidak Yesung, aku harus menemukannya hari ini juga sebelum malam."
Yesung mengangguk pasrah dengan keinginan sang Ratu. Wool kemudian bangkit dari duduknya dan kembali berjalan sambil bertanya mengenai dimana rumah Da Eun. Merasa ada yang aneh, akhirnya Wool berhenti di depan sebuah penjual kaligrafi. Ia kemudian membeli sebuah kertas dan meminjam kuas.
Yesung memperhatikan dengan seksama apa yang sedang dilakukan oleh Wool. Lagi dan lagi Yesung dibuat terkejut dengan apa yang diperbuat Wool. Ternyata Wool melukiskan wajah Da Eun. Sungguh hal yang luar biasa.
" Mengapa Anda melukisnya tuan."
" Jika mereka tidak mengenal nama maka aku yakin mereka mengenal wajah. Aku merasa Da eun mengunakan nama lain. Atau bisa dibilang Da Eun bukanlah nama yang sebenarnya."
Yesung mengangguk paham, sungguh hal tersebut tidak ada dalam pikirannya sebelumnya. Ratunya ini memiliki analisa yang cukup baik. Tidak salah dia adalah adik dari panglima perang Kyung Sam.
Setelah selesai melukiskan wajah Da Eun, Wool kembali berjalan. Ia kemudian berhenti di depan penjual kain. Ia merasa yakin bahwa penjual tersebut tahu tentang Da Eun.
" Permisi tuan, apakah Anda mengenal sorang wanita yang bernama Da Eun?"
" Da Eun? Sepertinya di sini tidak ada yang memiliki nama seperti itu."
"Oh baiklah, terimakasih tuan. Aaaah, maaf saya harus bertanya hal lain lagi. Apakah Anda sekiranya mengenal wanita dalam lukisan ini?'
Penjual kain tersebut meraih lukisan yang Wool perlihatkan. Ia mengamatinya dengan seksama hingga ekspresi penjual kai itu berubah seakan-akan mengingat sesuatu.
" Ohhh ini, ya tentu saja saya tahu. Bahkan kami di desa ini mengenalnya. Dia adalah Han Byeol. Apa Anda juga mencarinya tuan? Aah siapa yang tidak tahu Han Byeol, di adalah gisaeng yang terkenal di desa ini. Banyak pria dari luar yang menginginkannya. Tapi sayang Han Byeol pergi entah kemana kita juga tidak tahu."
Wool dan Yesung saling pandang dengan jawaban panjang dari penjual kain tersebut. Tentu keduanya terkejut, rupanya selir yang pernah di angkat menjadi selir utama Bin itu adalah seorang gisaeng. Wool kemudian mengucapkan terimakasih dan pergi dari tempat tersebut. Asal usul Da Eun sungguh mengejutkan, namun untuk Wool ia merasa ini belumlah terungkap semua. Masih banyak fakta yang tersembunyi di dalamnya.
* note : Gisaeng adalah wanita penghibur.
TBC